Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Hembusan Angin Yang Berbalik


__ADS_3

Vero mulai merasa bersemangat dalam menyambut pihak yang akan datang ke acara yang sedang dihadiri oleh dirinya. Dengan sudah berdiri dan ingin mengajak suaminya untuk beranjak dari tempat mereka, saat ini Vero ingin ikut berbaris dan menyambut pihak yang sangat besar itu bersama beberapa pihak yang lainnya yang sudah berbaris rapi pada tempat mereka.


Namun anehnya, pria yang sudah dirinya nyatakan sebagai suaminya itu, malah tidak bereaksi sama seperti dirinya. Karena bisa dikatakan, dirinya tetap santai berada ditempatnya dan seperti tidak memperdulikan bahwa ada orang yang sangat penting yang akan datang ketempat ini.


Apalagi, perkataannya yang mengatakan bahwa sosok itu akan menghampiri mereka, membuat Vero mengerutkan keningnya saat mendengarnya. Tetapi anehnya, perkataan itu malah didukung oleh pihak yang duduk bersama dengan mereka dan semakin membuat Vero bingung dibuatnya.


“Tunggu... Mengapa kami harus meninggalkan acara ini?” ucap Vero yang merasa kesal, karena staf dari acara ini tiba-tiba ingin mengusir mereka dari acara yang mereka hadiri itu.


Memang sedang asik dirinya berdebat dengan Zen untuk ikut menyambut pihak yang akan datang ketempat ini, dirinya mulai dikejutkan dengan kedatangan seorang penjaga dari penyelengara acara ini dan berniat mengusir dirinya bersama suaminya dari tempat ini.


Tentu mendengar hal itu, membuat Vero langsung merasa sangat emosi dibuatnya. Karena bisa dikatakan, sosoknya seakan tidak dihormati ditempat ini. Maka dari itu, dirinya saat ini mempertanyakan keputusan yang menyuruh dirinya beserta suaminya harus meninggalkan tempat tersebut.


“Karena anda sudah membuat kegaduhan di acara ini” begitulah alasan pengusiran yang diterima oleh Vero dari acara ini, oleh sosok penjaga yang akan mengusir mereka dari tempat ini.


“Tunggu, bukankah yang membuat kegaduhan adalah Tuan Richard. Lalu mengapa harus kami yang pergi dari tempat ini?” lanjut Bram yang memang dirinya juga akan diusir dari tempat ini, dan mulai membela dirinya.


Perdebatan itu akhirnya mulai berlanjut, yang dimana sosok Vero dan Bram seakan tidak menyetujui keputusan yang dilontarkan oleh penjaga yang akan mengusir diri mereka. Bukannya mereka ingin tetap berada ditempat ini, tetapi memang permasalahan keributan yang terjadi bukanlah mereka yang menyebabkannya.


Maka dari itu, Vero dan Bram masih mempermasalahkan kejadian tersebut, dan membuat sebuah kegaduhan kembali yang dimana penjaga yang diutus oleh seorang pihak untuk mengusir mereka dari acara ini, mulai memaksa mereka untuk segera meninggalkan tempat berlangsungnya acara tersebut.


Tetapi dari kejauhan, seorang pria yang melihat kejadian itu bersama keempat istrinya, hanya tersenyum saja melihatnya. Karena bisa dikatakan semua itu dirinyalah yang rencanakan, dan membuat pihak Vero saat ini sedang berdebat dengan orang suruhannya.


Perintah yang dirinya berikan pada penjaga kediaman dirinya, tentu dirinya lakukan karena Ayahnya sepertinya tidak akan melakukan apapun dalam mengurus pihak yang sudah membuatnya tersinggung itu. Maka dari itu, dirinya ingin membereskannya sendiri permasalahan tersebut.


“Kalian kira, kalian siapa? Walaupun kalian sangat kaya, tetapi kalian bukanlah tandingan dari keluargaku” ucap Tristan yang merasa senang, karena sepertinya perdebatan yang sedang dirinya lihat semakin intens.


Bisa dikatakan, kekayaan keluarganya memanglah sangat berbanding terbalik dengan harta kepunyaan dari Vero dan Bram. Maka dari itu, Tristan dengan kekayaan orang tuanya itu, merasa paling berkuasa ditempat ini karena kekayaan yang dimiliki oleh mereka.


“Maaf Nona Vero, tetapi keputusan kami sudah bulat dan anda harus pergi dari tempat ini” ucap pria itu yang semakin bersikeras untuk menyuruh Vero pergi dari sana.


“Aku tidak mau tahu. Pokoknya panggil atasanmu, dan suruh dirinya yang mengusir kami sendiri” ucap Vero yang bersikeras tidak mau meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


Melihat wanita yang sedang melawannya sangat keras kepala, membuat pihak yang sedari bersabar menghadapi tingkahnya itu mulai kehabisan kesabarannya saat ini. Apalagi, dirinya sudah menerima sebuah perintah dan dirinya harus menyelesaikannya.


Jadi, saat ini dirinya ingin menyeret dengan paksa wanita tersebut, untuk segera meninggalkan tempat ini. Karena dirinya tidak mau, keributan yang terjadi ditempat ini akan mengganggu jalannya aktivitas yang sedang terjadi di gedung megah yang sedang menyelenggarakan sebuah acara yang bergengsi.


Tentu, tindakannya itu membuat Vero semakin murka dibuatnya. Namun ada satu pihak lagi yang lebih murka melihat kelakuan penjaga yang ingin memaksakan kehendaknya kepada Vero. Karena bisa dikatakan, penjaga itu sebenarnya sedang berurusan dengan pihak yang salah.


“Kamu ingin memaksa Istriku untuk keluar dari sini?” ucap Zen dengan nada yang tenang, namun masih bisa dirasakan bahwa pria itu sangat amat serius dengan perkataannya tersebut.


Awalnya, pria yang hendak meraih tangan dari Vero mulai memberikan senyum mengejek kepada Zen. Karena memang, dirinya hanya menganggap Zen sebagai seorang debu saja ditempat ini, dan bisa dikatakan dirinya sangat beruntung bisa menikah dengan orang yang sangat kaya.


Namun senyuman mengejek yang dirinya berikan itu, tiba-tiba saja mulai berubah disaat Zen saat ini meraih tangannya dan menggenggamnya dengan sangat kuat. Tentu siapa yang menyangka genggaman tangan Zen akan sekuat itu, hingga bisa terdengar suara sesuatu yang remuk mulai terdengar.


“Argh...” gumam pria itu, yang merasakan tulang lengannya sudah remuk pada genggaman dari Zen.


Terkejut tentu saja, karena bisa dikatakan dirinya merupakan seorang Kultivator. Namun, saat ini ada seorang pria yang dengan mudah langsung meremukkan tulang lengannya dan membuat dirinya langsung merasa tidak berdaya atas perbuatannya itu.


Memang dirinya sudah mendengar beberapa rumor tentang sosok Zen. Karena memang kaumnya saat ini sedang menyelidiki tentang dirinya. Namun dirinya yang memang pada awalnya tidak percaya dengan rumor tersebut, saat ini malah harus merasakan secara langsung kemarahan dari seorang yang sosoknya tidak boleh dirinya ganggu.


Suara sesuatu yang terbentur, sesuatu yang pecah dan sebagainya mulai terdengar. Bahkan acara yang sangat hikmat dalam menyambut seseorang yang sangat penting pada tempat ini harus terhenti sepenuhnya karena kegaduhan yang terdengar itu.


Hingga semua pihak bisa melihat, saat ini seseorang sudah terkapar dibawah lantai, dengan bekas kepalan tangan yang membekas pada wajahnya. Bahkan bisa terlihat, beberapa giginya sudah dikatakan rontok saat mereka melihat keadaannya.


“Wah... aku tidak tahu akan menjadi seperti ini” ucap Bram yang cukup terkejut dengan perilaku dari Zen, yang membalas perbuatan orang yang sudah terkapar itu kepada Istrinya.


Memang Bram sama sekali tidak mengetahui sisi Zen yang sangat beringas itu. Yang dirinya tahu, bahwa Zen merupakan sosok yang sangat kaya saja. Jadi, kejadian yang dirinya lakukan itu langsung membuat Bram terkejut saat dirinya melihatnya.


Namun dirinya memaklumi apa yang dilakukan olehnya. Karena bisa dikatakan, dirinya akan melakukan hal yang sama jika Istrinya akan diperlakukan seperti itu. Bahkan dirinya tidak peduli, bahwa pemilik acara ini merupakan sosok yang sangat amat kaya.


Apalagi, sosok Zen bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh oleh beberapa pihak. Karena bisa dikatakan, jika ada sebuah negara sedang mencari masalah dengannya saja, dipastikan negara itu akan hancur ditangannya, atas perbuatan mereka yang menyinggung dirinya.


“Apa yang kalian lakukan?” dan begitulah kelanjutan perdebatan yang terjadi di sana.

__ADS_1


Secara ringkas, pemilik acara ini tidak ingin mempermalukan dirinya dengan menunjukan kekacauan yang terjadi ditempat ini, pada sosok penting yang sedang dirinya undang. Maka dari itu, dirinya mulai bergerak dengan cepat untuk menyelesaikannya.


Termasuk saat ini, yang dimana perkataan dirinya mulai mengusir pihak yang membuat gaduh tempat itu mulai keluar dari mulutnya. Dengan dukungan dari beberapa pihak yang berada di sana, mereka mulai menuntut kelompok dari Zen untuk pergi dari tempat ini.


Namun, satu hal yang membuat pria yang akan mengusir mereka ingin sekali menarik perkataannya tadi. Karena pihak yang penting dan sedang dirinya sambut itu, ternyata mulai membela pihak yang membuat keributan itu, karena memang dirinya ingin bertemu dengan mereka.


"M-Maksud anda, Tuan?" tanya Hendra yang masih belum mengerti, bahwa sosok yang besar itu ingin bertemu dengan Vero ditempat ini.


Hendra awalnya sudah mengetahui bahwa maksud kedatangan sosok yang penting itu, ingin bertemu dengan seorang pihak yang berada ditempat ini. Tentu awalnya dirinya mengira bahwa Alfred ingin bertemu pihak pemerintahan, atau mungkin beberapa konglomerat ternama pada acaranya.


Tetapi, dirinya mulai tidak memperdulikan siapa yang ingin ditemui oleh pihak Alfred, karena selain dirinya tidak ingin memberitahukannya, yang terpenting sosok yang sangat penting itu mau menghadiri acara yang dirinya selenggarakan dan akan mengangkat reputasinya, karena berhasil mengundang sosok tersebut.


Namun naas, apa yang dirinya hiraukan itu sepertinya mulai memunculkan sebuah masalah untuknya. Bisa dilihat, Alfred merasa tidak senang dengan keputusan yang dirinya ambil tadi, dan membuat Hendra sedikit takut bahwa hal itu akan menyebabkan pihak tersebut akan tersinggung dengan sikapnya itu.


"Ya... pihak yang aku ingin temui ditempat ini, adalah Nona Veronica Safira" ucap Alfred yang langsung membuat seisi gedung ditempat itu langsung bungkam sepenuhnya.


Siapa yang menyangka, bahwa sosok seperti Alfred datang ke acara ini hanya untuk bertemu dengan sosok Vero. Mereka tahu, bahwa Vero merupakan sosok yang lumayan penting di negara ini. Tetapi, mereka masihlah tidak menyangka bahwa Vero sendirilah yang keberadaannya sedang dicari sosoknya oleh Alfred.


Karena seperti yang diketahui, undangan presiden di negara ini saja ditolak mentah-mentah oleh Alfred. Bahkan sosok yang lebih besar dari Vero juga tidak dihiraukan oleh dirinya. Maka dari itu, mereka cukup terkejut dengan semua hal yang baru saja terjadi di sana.


Apalagi, seluruh pihak yang awalnya ingin mencari muka dan berada disisi Hendra, bisa dikatakan langsung mematung ditempat mereka. Karena jika Hendra saja akan ketakutan dengan keberadaan sosok Alfred, apalagi mereka yang hanya seperti sebuah debu dimata sosok yang ketakutan tersebut.


“A-Anda ingin  bertemu dengan S-Saya, Tuan Alfred” dan begitulah perkataan Vero yang terkejut, disaat pria itu menyebutkan namanya.


Siapa yang tidak terkejut mendengar hal tersebut. Bahkan Vero yang sudah tidak berharap bahwa dirinya akan mendapatkan kesempatan menyapa pria yang mengundangnya itu, saat ini malah mendapatkan kesempatan untuk dapat berbincang secara langsung dengan dirinya.


Bahkan, sepertinya perkataan pria itu sangatlah serius dan membuat Vero semakin tidak percaya dibuatnya. Apalagi, beberapa pihak yang sedari tadi mulai mengusik dirinya saat ini bahkan lebih tidak menyangka dengan apa yang abru saja terjadi di sana.


Hendra sendiri, saat ini malah mulai merasa risau mendengar perkataan dari Alfred. Bahkan dirinya saat ini langsung menatap keberadaan putranya, yang menurutnya selalu saja mencari masalah dan mungkin bisa menghancurkan mereka atas perbuatannya yang bertindak secara asal.


“Tentu saja. Lalu, apakah anda tidak ingin berbincang dengan saya?”

__ADS_1


__ADS_2