Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pertemuan Lanjutan


__ADS_3

Mendengar perkataan dari Amaterasu yang akan menangani permasalahan tentang seorang Deadly Sins seorang diri, membuat beberapa pihak mulai tercengang saat ini. Karena sekali lagi, wanita itu akan mengambil sebuah keputusan yang sangat amat berbahaya bagi dirinya saat ini.


Apalagi penyerangan markas Vampire yang hampir menewaskan dirinya kemarin, merupakan keputusan sepihak darinya. Maka dari itu, beberapa dari mereka sangat tidak setuju dengan perkataan Amaterasu tersebut, karena mungkin hal itu akan kembali membuat nyawanya terancam.


“Maafkan aku Amaterasu, tetapi keputusan saat kamu akan menyerang markas Vampire di Indonesia hampir saja membunuhmu, dan kamu ingin mengatasi seseorang yang bisa membunuhmu dengan mudah?” tanya salah satu Dewa kepada Amaterasu.


“Tenanglah. Sepertinya pria yang menjadi Deadly Sins terakhir itu, tidak berfikiran sempit seperti semua Deadly Sins yang lainnya” ucap Amaterasu yang mencoba meyakinkan seluruh Dewa Shinto yang berada di sana.


Tentu pertemuan Amaterasu dengan Zen kemarin, semakin membuatnya yakin bahwa pria itu sangat tidak berbahaya jika ketenangannya tidak diganggu. Hal itu dirinya ketahui setelah dirinya mengetahui alasan yang sebenarnya dari Zen, saat dirinya membantai pihak Vampire yang dirinya musnahkan kemarin.


Walaupun apa yang dirinya lakukan bisa didefinisikan sebagai tindakan dari seorang dengan pemikiran yang sempit, tetapi Amaterasu bisa melihat bahwa pria itu tidak asal mengambil keputusan yang akan dirinya lakukan.


“Mengapa kamu seyakin itu, Putriku?” tanya Izanagi kepada putrinya.


“Pertama dirinya tidak membunuhku, padahal dirinya mempunyai Ame no Ohabari, dan kedua dirinya masih bisa diajak bernegosiasi, tidak seperti para Deadly Sins yang lainnya” balas Amaterasu.


Memang dari cerita yang didengar oleh semua pihak yang berada di sana dari Amaterasu tadi, bisa dikatakan Zen sempat mengabulkan permintaannya sebelum Zen menghancurkan markas yang akan dirinya hancurkan, untuk membuat Amaterasu bisa menyelidiki tempat tersebut lebih jauh.


Tentu jika itu Deadly Sins yang lainnya, mereka tidak akan mau melakukan apa yang dikatakan oleh Amaterasu tersebut. Apalagi pemikiran para Deadly sin yang lain atau adik-adik Zen adalah keputusan mereka tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.


Jadi, perilaku Zen menurut Amaterasu sangatlah berbeda dari seluruh Deadly Sins yang pernah mereka temui dulu, karena memang pria itu sepertinya tidak terlalu arogan dan tidak terlalu mempunyai ambisi akan sesuatu, yang membuatnya harus mewujudkan ambisi tersebut.


“Tetapi tetap saja, hal itu tidak membuat pria tersebut bisa dikatakan sangat bersahabat dengan keberadaan kita Amaterasu” ucap Tsukoyomi kemudian.


“Aku setuju dengan Tsukoyomi, Amaterasu. Perbuatannya tidak serta merta membuatnya tidak menanamkan kebencian kepada kita, atas perbuatan yang pernah kita lakukan pada saudara-saudaranya dahulu” balas seorang Dewa yang duduk di samping Tsukoyomi dan mendukung perkataannya.


“Maafkan aku, tetapi keputusanku sudah bulat. Saat ini biarkan aku sendiri yang mengurus keberadaan Deadly Sins itu, beserta senjata pemusnah Dewa yang berada ditangannya” ucap Amaterasu yang tidak memperdulikan beberapa penolakan yang diajukan oleh beberapa Dewa dalam pertemuan tersebut.


Tentu Amaterasu tetap pada pendirian dirinya, yaitu bahwa dirinya yang akan mengurus permasalahan tentang Zen. Apalagi, mungkin pria itu bisa membantunya mencari keberadaan para Vampire yang bisa Zen temukan dengan mudah, jika ingin mencari keberadaan mereka.


Karena memang, permasalahan utama mereka saat ini adalah untuk mencari keberadaan para Vampire yang tidak bisa mereka temukan keberadaan mereka. Jadi, jika ada seseorang yang bisa membantu mereka untuk mencari keberadaan kelompok tersebut, maka Amaterasu dengan senang hati akan mencoba meminta pertolongan kepada pihak tersebut.

__ADS_1


“Tetap saja, aku tidak setuju dengan keputusanmu Amaterasu” ucap Tsukoyomi kemudian, yang kembali menolak ide yang dilontarkan oleh Amaterasu tadi.


“Aku tidak membutuhkan persetujuan darimu Tsukoyomi” balas Amaterasu tegas, kepada pria yang selalu saja menolak usulannya itu.


Tentu perkataan Amaterasu membuat Tsukoyomi semakin kesal dibuatnya. Tsukoyomi tidak menyangka bahwa wanita yang dirinya cintai itu, tidak bisa melihat ketulusan dirinya yang sangat mengkhawatirkan perbuatannya.


Bahkan dirinya rela untuk mengurus permasalahan yang sedang dialami oleh Amaterasu tentang permasalahan Zen, karena dirinya takut bahwa wanita yang dirinya cintai itu akan celaka, jika dirinya terus berurusan dengan pria yang dapat membahayakan nyawanya itu.


“Tapi Amaterasu, tetap saja keputusanmu itu mem-”


“Pahami posisimu Tsukoyomi! Apakah kamu ingin menentang keputusanku?!” Kata Amaterasu dengan nada yang terlihat cukup emosi, dan saat ini mulai menekan perkataan pria itu menggunakan status miliknya, agar pria yang membuat dirinya kesal itu mulai bungkam.


Tentu Amaterasu paham mengapa pria itu bertindak seperti itu. Namun menurutnya pria itu sudah kelewatan, karena terus mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan, seakan sedang mengekang seluruh tindakan yang akan dirinya lakukan.


Apalagi perbuatannya itu sangat membuat Amaterasu sangat tidak nyaman, dan dirinya sangat kesal dengan perilaku dari Tsukoyomi yang menurutnya sangat berlebihan kepada dirinya, dan hal itu juga yang membuat dirinya mulai muak dengan perilaku dari pria tersebut.


“Sudah hentikan perdebatan kalian!” teriak Izanagi menghentikan keributan yang sedang terjadi ditempat ini.


Mendengar perkataan pemimpin mereka, membuat ruangan tersebut mulai sunyi dan tidak ada yang berani mengucapkan satu katapun saat ini. Bahkan Tsukoyomi yang merasa emosi dan hendak membalas perkataan Amaterasu, mulai mengehentikan tindakannya itu dan mulai duduk dengan tenang ditempatnya.


Memang, Dewa Shinto sangat menjunjung tinggi dengan namanya persaudaraan. Berbeda dari dewa-dewa dari faksi yang lainnya, Dewa Shinto bisa dikatakan para Dewa yang menjunjung tinggi tali persaudaraan diantara mereka dan hubungan mereka tidak terpecah belah antara satu sama lainnya.


Apalagi, setelah mereka mengetahui tindakan Vampire yang sedang mencari salah satu putri dari salah satu Dewa Shinto, Ebisu. Tentu mendengar salah satu pemilik darah dari faksi mereka sedang diincar, mereka tidak bisa tinggal diam.


Maka dari itu, mereka sebisa mungkin mencoba mencari keberadaan dirinya yang sampai saat ini belum bisa mereka temukan, sambil menghalangi tindakan para Vampire yang saat ini pergerakan mereka semakin intens dalam mencoba menguasai dunia.


“Aku setuju dengan perkataan Suamiku. Biarkanlah Putriku saja yang mengurus permasalahan tentang Deadly Sins itu, dan kita fokus dalam menemukan keberadaan putri dari Ebisu” ucap Izanami kemudian.


Tentu mendengar titah pemimpin mereka, seluruh Dewa Shinto yang berada ditempat ini hanya menerima keputusannya saja.  Apalagi Tsukoyomi yang sebelumnya menentang dengan tegas keputusan tersebut, terpaksa harus menerimanya, walaupun ada perasaan tidak senang atas keputusan yang telah diambil dalam pertemuan ini.


Berbeda dengan Tsukoyomi, Amaterasu juga merasa senang karena permintaannya saat ini dikabulkan oleh pemimpin mereka yang merupakan orang tuanya. Jadi, saat ini dirinya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam melakukan tugas yang akan dirinya lakukan itu.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu mari kita bahas permasalahan selanjutnya”


.


.


Disisi lain, Zen saat ini sudah terbangun dari tidurnya setelah dirinya menyelesaikan pembantaian yang dirinya lakukan tadi malam. Dengan meregangkan tubuhnya, saat ini pria itu mulai bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap untuk memulai aktifitasnya.


Hingga selang beberapa lama kemudian, suara pintu rumah yang ditempatinya mulai terdengar suara ketukan. Tentu dengan langkahnya yang malas, Zen langsung mencari tahu siapa yang datang pada kediamannya pagi-pagi sekali itu.


Hingga akhirnya dirinya menemukan bahwa seseorang yang mengganggu aktivitas pagi harinya, merupakan seorang supir pribadi milik Vero, yang ditugaskan oleh wanita itu untuk menjemput dirinya dikediaman palsunya saat ini.


“Ah... aku lupa bahwa hari ini aku akan tinggal dengannya” gumam Zen yang mulai mengambil barang-barang yang sudah dipersiapkan oleh Bari untuknya, untuk dibawa menuju kediaman dari Vero.


Seorang wanita yang merupakan sopir yang ditugaskan oleh Vero untuk menjemput Zen, juga mulai membantu Zen untuk membawa barang bawaannya menuju bagasi dari mobil yang dibawanya, setelah Zen sudah keluar dari kediamannya.


Hingga akhirnya, Zen saat ini sudah masuk dan duduk di bangku penumpang dari mobil yang akan ditumpanginya, dan mulai menunggu supir pribadi dari Vero itu, untuk mengemudikan kendaraan yang ditumpanginya dan mulai beranjak dari sana.


“Apakah sudah semua Tuan Zen?” tanya supir pribadi dari Vero kepada Zen, untuk memastikan apakah dirinya sudah siap untuk beranjak dari sana.


“Yap...” balas Zen dan akhirnya mereka mulai beranjak dari kediaman yang dirinya gunakan sebagai kediamannya semalam.


Tidak ada yang spesial dari perjalanan yang sedang dilalui oleh Zen saat mereka sudah mulai beranjak dari kediaman tempat dirinya menginap tadi malam. Hanya saja, Zen bisa melihat beberapa perubahan pemandangan dari area luar jendela mobil yang ditumpanginya.


Pemandangan area yang termasuk kumuh dari area yang Zen tinggali semalam, sudah berubah sepenuhnya dengan pemandangan khas sebuah kota yang sangat maju, yang dimana bangunannya terlihat menjulang ke langit dan memenuhi seluruh area kota yang saat ini sedang dipandangi oleh Zen dari balik kaca mobilnya.


Hingga akhirnya, mobil tersebut tiba tepat disebuah pintu masuk sebuah komplek perumahan mewah, yang dimana kendaraan yang ditumpangi oleh Zen sedang diperiksa oleh penjaga yang bertugas untuk menjaga keamanan komplek tersebut.


“Silahkan masuk” ucap sang penjaga setelah mereka menyelesaikan tugas mereka.


Zen akhirnya sudah dibawa masuk menuju area perumahan mewah, yang dipastikan penghuni yang tinggal diarea ini bisa dikatakan sangat amat kaya. Namun saat sedang asik menikmati pemandangan perumahan mewah yang sedang dipandanginya, mobil yang ditumpanginya mulai berhenti tepat pada salah satu rumah.

__ADS_1


Tentu Zen bisa melihat Vero sudah berada tepat didepan rumah dimana mobil yang ditumpangi oleh Zen berhenti. Namun tindakan Vero itu bukanlah untuk menyambut kedatangan Zen pada kediamannya saat ini, melainkan dirinya sedang beradu argumen dengan seseorang yang juga sedang mendatangi kediamannya.


“Sepertinya Ayah tiri dari Nyonya Vero kembali membuat masalah Tuan”


__ADS_2