Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Perjalanan Bisnis


__ADS_3

Pagi yang cerah akhirnya menyambut dua orang pasangan suami istri yang sedang kerepotan mengurus barang bawaan mereka. Walaupun bisa dikatakan sang suami tidak terlalu direpotkan untuk melakukannya, berbeda dengan sang Istri yang sangat sibuk mempersiapkan barang bawaannya.


Memang rencananya mereka berdua akan pergi menuju sebuah tempat bersama. Maka dari itu mereka sudah mempersiapkan barang bawaan mereka, untuk dibawa menuju tempat mereka akan pergi nanti. Hingga akhirnya kerepotan yang mereka lakukan sedari tadi itu, akhirnya berakhir.


Dengan membawa turun barang bawaan mereka yang sudah mereka siapkan didalam koper, saat ini pasangan suami istri itu akan memulai sarapan mereka, sebelum mereka akan beranjak dari tempat tinggal mereka itu dan menuju tempat tujuan mereka nanti.


“Apakah kamu yakin, Vero?” tanya Anabelle yang saat ini ikut sarapan bersama dengan pasangan suami istri yang akan berpergian tersebut.


Pasangan suami istri, yang merupakan Zen dan Vero memang bersiap untuk menuju Jakarta, untuk mengurus permalasahan perusahaan dari Vero yang semakin memburuk. Tetapi sebelum itu, Vero menyempatkan diri untuk mendiskusikan sesuatu kepada seseorang yang sudah beberapa hari ini tinggal dikediamannya hingga saat ini.


“Ya... lagipula, dirimu belum mendapatkan tempat tinggal hingga saat ini, bukan?” tanya Vero kemudian.


Anabelle memang sudah berkeliling menuju berbagai tempat untuk mencoba setidaknya mencari tempat untuk dijadikan tempat tinggal olehnya, selama dirinya akan tinggal di kota ini untuk berkerja menggarap projek dari perusahaan milik Vero.


Namun naasnya, karena skandal palsu yang sedang dirinya alami belakangan ini, membuat dirinya tidak bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak, karena beberapa pihak dengan terang-terangan menolak keberadaannya yang mereka anggap hina tersebut.


“Tapi aku akan berusaha menemukan tempat tinggal untuk diriku sendiri, Vero. Apalagi aku tidak ingin merepotkan kalian lebih jauh” balas Anabelle, yang menolak kembali niat baik dari Vero.


“Aku tahu. Tetapi selagi kondisi tentang pemberitaan dirimu masih belum membaik, sebaiknya kamu tinggal saja dikediaman milikku ini. Apalagi Bibi Leni akan kesepian jika dirinya aku tinggal sendirian” balas Vero yang mencoba meyakinkan Anabelle sekali lagi.


Memang bisa saja Anabelle menyewa sebuah tempat tinggal sederhana di kota ini, untuk digunakannya sebagai tempat tinggal sementara. Tetapi karena pemberitaan tentang dirinya masih sangat panas, yang dirinya pikirkan saat ini adalah tentang keamanan dirinya sendiri.


Tentu dirinya harus mencari tempat yang sangat aman dan mampu melindungi keberadaannya. Apalagi beberapa penggemar dari superstar yang sedang bersinggungan dengan dirinya, sudah bertindak diluar batas kewajaran dalam menanggapi pemberitaan idola mereka.


“Benar, Nak Anabelle. Tinggallah disini sementara, sampai kasus tentang dirimu mulai mereda” Sahut Bibi Leni yang menyetujui perkataan Nona Mudanya itu.


Vero memang menawarkan temannya itu untuk tinggal pada kediamannya sementara. Namun Anabelle bersikeras menolak, karena dirinya sudah merasa sangat merepotkan orang yang sudah baik dengannya, selama dirinya berada di kota tempatnya berada saat ini.


Apalagi karena kasus yang dialami oleh Zen kemarin, yang dimana Anabelle mengira bahwa hal itu disebabkan oleh dirinya. Membuat wanita itu mulai berfikir untuk tidak merepotkan mereka kembali. Tetapi sepertinya apa yang dirinya rencanakan itu tidak berhasil.

__ADS_1


Dirinya sudah kembali luluh dengan kebaikan yang dirinya terima, dan keadaannya yang saat ini bisa dikatakan tidak aman dari tindakan teror yang terus dirinya terima. Apalagi Vero menyetujui bahwa dirinya bisa tinggal ditempat ini hingga kondisi tentang pemberitaan dirinya mulai kembali kondusif.


“Tetapi, kenapa kalian terlalu baik kepadaku? Padahal kita baru saja saling mengenal satu sama lainnya?” tanya Anabelle yang merasa sangat bersalah, karena dirinya terus merepotkan beberapa pihak yang sangat baik dengan dirinya.


Tentu Anabelle menanyakan hal tersebut bukan untuk mencari maksud tertentu dari kebaikan yang mereka berikan kepadanya. Tetapi memang dirinya merasa bahwa perbuatan mereka saat ini bisa dikatakan terlalu dermawan untuk dirinya.


“Aku kasihan kepadamu. Lagipula, aku mengetahui bahwa dirimu tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk mendukungmu” balas Vero jujur.


Vero sebenarnya orang yang sengat baik. Hanya saja memang pembawaan dirinya yang terkesan sangat dingin. Bahkan bisa ditanyakan kepada semua karyawan yang bekerja pada perusahaannya, bahwa mereka sangat bahagia bekerja pada dirinya.


Walaupun memang kebaikan Vero akhirnya dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab pada perusahaannya. Tetapi tetap saja kebaikan dirinya itu membuat beberapa pihak cukup puas, untuk bekerja dengan wanita yang dikenal sangat dingin, oleh hampir seluruh pihak yang mengenal dirinya.


“Hahh... apakah aku memang menyedihkan ya, sehingga membuat dirimu mengasihani diriku, seperti itu?” tanya Anabelle kemudian.


“Yap... bisa dikatakan seperti itu. Apalagi kondisimu itu bisa dikatakan sama persis dengan seorang kenalanku, yang mempunyai nasib yang cukup malang. Tetapi kamu tenanglah, karena aku memang sangat tulus menanggap dirimu sebagai temanku” balas Vero kemudian.


Vero memang dengan tulus mengaggap bahwa Anabelle merupakan temannya. Karena memang entah mengapa dirinya langsung merasa prihatin dengan kondisinya saat ini. Apalagi Vero pernah mengalami hal yang bisa dikatakan mirip dengannya dahulu.


Namun berbeda dengan Anabelle, karena memang dirinya hanya seorang diri menghadapi keterpurukannya. Jadi, Vero memutuskan bahwa dirinya akan menjadi orang yang membantu wanita itu untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami olehnya.


“Terima kasih Vero, atas semua kebaikanmu. Bahkan aku tidak tahu, bagaimana diriku akan membalas semua kebaikanmu ini” kata Anabelle dengan tulus, kepada wanita yang bersedia menjadi tempat dirinya bersandar saat ini.


“Sama-sama. Tetapi untuk balasannya, bagaimana jika kamu membuatkan diriku series yang sangat bagus dan akan populer dimana-mana” Balas Vero sambil tersenyum, menanggapi perkataan dari Anabelle tadi.


Mendengar perkataannya, tentu membuat Anabelle langsung mengangguk dengan penuh tekat, untuk mewujudkan permintaan dari orang yang sudah dirinya anggap teman baiknya itu. Bahkan dirinya sudah memutuskan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mewujudkan semua itu.


“Hahh... kalian sedari tadi mengobrol, apakah tidak lapar?” Dan hadirlah perusak suasana, yang mulai ikut campur dalam obrolan mereka saat ini.


Memang Zen hanya memperhatikan percakapan mereka ditempatnya, sambil menyantap sarapan yang sedang dirinya santap sedari tadi. Masalahnya, kedua wanita yang sedang saling menguatkan itu tak kunjung memakan makan mereka, sehingga dirinya tidak bisa langsung menghabiskan semua makanan, yang berada di atas meja makan tempatnya berada saat ini.

__ADS_1


Tentu semua makanan yang sudah dimasak oleh Bibi Leni yang sudah terhidang di atas meja makan, tidak bisa langsung dihabiskan oleh Zen jika beberapa pihak belum memakan makanan mereka.


Jadi, Zen cukup kesal saat mereka belum sama sekali mengambil makanan mereka dan mengakibatkan Zen menunda waktu sarapan paginya yang membahagiakan itu, karena dirinya belum menghabiskan semua makanan yang sudah tersedia dihadapannya.


“Cih... apakah dirimu hanya tahu tentang makan saja Zen? Bukankah kamu juga harus ikut perihatin dengan kondisi Ana?” Kata Vero kemudian, yang cukup jengah dengan sikap suami bayarannya itu.


“Mengapa aku harus prihatin dengannya. Aku malah prihatin dengan orang yang memfitnahnya. Karena sepandai-pandainya kecoa melompat, akhirnya akan jatuh juga” balas Zen kemudian.


Tentu mendengar perkataannya, membuat semua orang yang berada dimeja makan tempat mereka berada mulai terkejut mendengarnya. Karena memang pria yang kepribadiannya terkenal cuek itu, bisa mengatakan perkataan penyemangat seperti itu kepada mereka.


“Maaf Zen, tetapi peribahasa yang kamu lontarkan tidak seperti itu. Karena yang benar adalah, sepandai-pandainya tupai melom-”


“Aku tahu. Tetapi apakah dirinya pantas disamakan dengan tupai? Seharusnya kamu menyamakan dirinya dengan kecoa. Jadi peribahasa yang aku gunakan tadi adalah peribahasa yang tepat.” Balas Zen, yang memotong perkataan Vero yang ingin memperbaiki perkataanya tadi.


Mendengar itu, entah mengapa membuat Anabelle langsung tersenyum geli karena perkataan Zen itu cukup lucu menurutnya. Entah mengapa saat Zen menyamakan Daniel dengan kecoa, dirinya merasa sangat setuju dengan perkataannya itu.


Bahkan dirinya semakin termotivasi setelah mendengar perkataan Zen tadi, karena dirinya juga percaya bahwa suatu saat nanti kebenaran pasti akan terbongkar. Jadi, yang dirinya harus lakukan adalah untuk membuktikan bahwa dirinya memanglah tidaklah bersalah.


“Terima kasih Zen” ucap Anabelle kemudian kepada Zen, dan mendapatkan anggukan dari pria tersebut.


Akhirnya acara sarapan pagi itu mulai berlanjut, karena memang Vero dan Zen dijadwalkan untuk berangkat beberapa jam lagi menuju bandara. Maka dari itu, saat ini mereka berdua mulai sarapan sebelum mereka berangkat.


Hingga akhirnya, saat ini supir yang akan mengantarkan kepergian mereka sudah menunggu mereka didepan kediaman rumah Vero, dan bersiap mengantarkan mereka menuju bandara yang akan membawa mereka menuju Jakarta.


Tentu Vero mulai berpamitan kepada Bibinya, Anabelle dan peliharaan kesayangannya Fenrir, karena dirinya akan berangkat sekarang. Apalagi Zen saat ini sudah memasukan barang-barang yang mereka bawa pada bagasi mobil dan mulai masuk kedalam bangku penumpang dari kendaraan yang akan ditumpanginya.


“Hati-hati untuk kalian berdua. Dan ingat saling menjaga satu sama lainnya, oke..” kata Bibi Leni, sebelum melepaskan kepergian mereka.


“Baiklah Bibi. Kalau begitu kami berangkat” pamit Vero, kepada Bibi Leni dan Anabelle yang mulai melambaikan tangan mereka kearahnya.

__ADS_1


Zen juga ikut melambaikan tangannya kepada kedua wanita yang saat ini sudah melepaskan kepergian mereka. Hingga akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi sudah mulai melaju, dan mulai menghilang dari pandangan beberapa orang yang melepaskan kepergian mereka.


“Baiklah, sekarang tinggal menyelesaikan semua permasalahan dari Perusahaan milikku saja”


__ADS_2