
Suasana yang meriah bisa dirasakan oleh Zen saat ini. Walaupun bisa dikatakan dirinya berada pada area dibalik panggung dari sebuah konser yang akan terselenggara sebentar lagi, tetapi suasana yang sangat antusias saat ini bisa dirinya rasakan dari tempat dimana dirinya berada saat ini.
Tentu dirinya sudah memasuki Venue dari pergelaran konser akbar dari sebuah Girlband bernama STAR yang memang menjadi Girlband paling populer di dunia saat ini, dan saat ini dirinya menjadi pihak yang bisa dikatakan menjadi salah satu orang yang akan menyaksikan perhelatan terbesar dari kelompok tersebut.
Namun sebelum itu, saat ini dirinya sedang diantarkan menuju kesebuah tempat. Dengan dibimbing oleh seorang wanita yang mulai menuntunnya menuju kearah sebuah ruangan tunggu, saat ini Zen akan bertemu dengan wanita yang memang berada didalam penglihatan adiknya.
Zen mulai memperhatikan keadaan sekitarnya dan menebarkan auranya disaat mereka memasuki tempat itu semakin dalam. Apalagi dirinya ingin membuat pencegahan pada sesuatu yang mungkin terjadi ditempat ini, atas pertemuan yang akan dirinya lakukan nanti.
"Ini ruangan dari Nona Jane, Tuan Zen." Hingga seorang wanita yang memang menjemput keberadaanya tadi, mulai menghentikan langkahnya pada sebuah ruangan, yang dimana pintu ruangan tersebut bertuliskan dengan jelas nama artis yang berada didalamnya.
"Oh... kita sudah sampai rupanya." balas Zen kemudian, hingga wanita yang saat ini bersamanya itu mulai meminta izin memasuki ruangan dari wanita yang dipanggil Jane tersebut.
Bisa dikatakan suasana ditempat itu sedikit riuh jika dilihat, karena berbagai pihak sepertinya sedang melakukan tugas mereka dengan baik, karena konser yang akan diselenggarakan ditempat ini akan segera dimulai. Jadi, Zen bisa melihat beberapa pihak sedang lalu lalang untuk mempersiapkan sesuatu yang akan dimulai sebentar lagi itu.
Namun disaat dirinya memperhatikan keadaan sekitar, Zen juga bisa merasakan ada beberapa pihak yang saat ini mengawasi dirinya. Tentu Zen tidak tahu siapa mereka, tetapi dirinya akan menyelidikinya nanti disaat dirinya selesai berbincang dengan wanita yang akan dirinya temui.
"Baiklah, Nona Jane sudah menunggu anda didalam, Tuan Zen." Dan begitulah ucapan dari wanita yang bersamanya itu, setelah mereka berdua dipersilahkan memasuki ruangan dari wanita yang menjadi Penyanyi paling populer didalam kelompoknya itu.
Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataan wanita yang bersamanya dan saat ini mereka berdua mulai memasuki ruangan tersebut. Tetapi disaat keberadaannya mulai menghilang dari balik pintu ruangan yang dirinya masuki, beberapa pihak saat ini terlihat mulai keluar dari persembunyian mereka.
Pihak-pihak tersebut bisa dikatakan adalah pihak yang memang dirasakan oleh Zen dan sedang mengawasi dirinya. Apalagi setelah mereka melihat Zen memasuki ruangan dari wanita bernama Jane itu, mereka semua mulai mengambil ponsel mereka masing-masing dan seakan mulai mengirimkan sebuah pesan untuk memberitahukan apa yang sedang mereka lihat tadi.
Disisi lain, Zen saat ini sudah masuk kedalam sebuah tuang tunggu artis. Bisa dikatakan dirinya sangat terkejut melihat bahwa didalam ruangan tersebut ternyata ada banyak sekali orang didalamnya. Jadi, Zen saat ini mulai mencari pihak yang ingin dirinya temui didalam keramaian tersebut.
"Cih... kenapa bisa sangat ramai disini?" gumam Zen yang saat ini masih mengikuti wanita yang memang menjemput keberadaannya tadi.
Tentu langkahnya saat ini semakin memasuki tempat yang sangat ramai itu semakin dalam. Hingga dirinya bisa melihat sesosok wanita cantik yang memang mengenakan sebuah pakaian seksi yang mungkin akan dirinya gunakan untuk pertunjukan yang akan dirinya lakukan nanti.
Dengan beberapa pihak yang saat ini sedang merias wajahnya dan menata rambutnya yang berwarna pirang itu, wanita itu bisa dikatakan sedang tenang dalam menantikan apa yang dilakukan oleh semua pihak yang mendandaninya itu, agar selesai sepenuhnya.
Hingga pada pantulan cermin yang ditatapnya, sosok Zen yang saat ini menatap dirinya mulai dilihat oleh wanita tersebut. Tentu Zen yang masih melangkah menghindari beberapa pihak yang berada di sana, mulai menjadi perhatian utama dari wanita yang sedang didandani tersebut.
__ADS_1
Dan akhirnya tatapan mata mereka mulai saling bertemu saat ini. Bisa dikatakan kehadiran dari Zen ditempat ini memang sudah dinantikan oleh wanita yang sedang dirias tersebut. Hingga akhirnya, dirinya langsung menyuruh penata riasnya menghentikan tindakan yang mereka lakukan kepada dirinya itu.
"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua ditempat ini" Dan begitulah perkataan dari wanita itu yang mulai mengucapkan sebuah perintah agar seluruh pihak yang berada di sana untuk keluar dari ruangan tempatnya berada.
Mendengar perintahnya saat ini satu persatu staf dari sosok wanita tersebut mulai keluar dari ruangan yang dimasuki oleh Zen tadi. Hingga akhirnya bisa didengar sebuah suara pintu yang tertutup yang menandakan bahwa saat ini seluruh pihak yang berada di sana sudah keluar sepenuhnya dan hanya menyisakan Zen dan wanita yang dipanggil dengan panggilan Jane tersebut.
Zen disisi lain saat ini mulai memperhatikan wanita itu dengan lekat seakan mencari sesuatu dari dirinya, setelah ruangan itu benar-benar sepi sepenuhnya. Namun anehnya, Zen tidak menemukan apapun pada diri wanita itu, yang menandakan bahwa sebuah kekacauan akan terjadi dan mungkin akan terpicu oleh dirinya.
"Hm... jadi dirimu yang dikatakan Paman Ji Shin. Lalu, apakah Paman Ji Shin sudah menjelaskan tentang semua tugasmu?" hingga ucapan dari wanita itu langsung membuat Zen menghentikan kegiatannya, dan saat ini mulai fokus untuk mencerna perkataannya.
"Tugas? Ji Shin? Apa yang sedang kamu bicarakan saat ini?" Balas Zen yang masih bingung dengan arah pembicaraan wanita itu kepadanya saat ini.
Siapa yang tidak bingung atas keadaan ini, karena memang Zen tidak mengenal wanita itu sama sekali. Namun bisa dilihat bahwa dirinya seakan mengetahui tentang dirinya. Maka dari itu, Zen saat ini dalam situasi bingung saat ini mengalami itu semua.
Bahkan Zen semakin menatap wanita itu dengan lekat untuk memastikan kembali apakah dirinya benar-benar tidak pernah bertemu dengan dirinya. Namun sayangnya, semakin Zen menatap wanita yang berpenampilan sangat sempurna itu, Zen sangat yakin bahwa dirinya tidak pernah bertemu sama sekali dengan dirinya.
"Bukankah kamu yang direkomendasikan oleh Paman Ji Shin menjadi pengawal dariku?" ucapnya sekali lagi yang membuat Zen mulai mengerutkan keningnya mendengar perkataannya itu.
Bisa dikatakan kedua pihak itu mulai saling kebingungan atas kejadian ini. Apalagi Zen yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa dirinya yang hendak mencari informasi tentang sebuah kekacauan yang terjadi. Malah memasuki sebuah percakapan yang sangat aneh dengan wanita yang terlihat mulai kesal saat ini.
Bagaimana wanita itu tidak kesal, karena Zen seakan terus membalikkan perkataan yang dirinya lontarkan kepadanya. Apalagi menurutnya Zen sudah sangat amat lancang kepada dirinya. Karena setahunya, dirinya mengundang Zen datang ketempat ini untuk menjadi bawahannya.
"Kamu tidak mengenal Paman Ji Shin? Bukankah dirinya yang merekomendasikan dirimu kepadaku, lalu mengapa kamu tidak mengenalnya? Sial.... apakah jangan-jangan aku salah mengundang orang" ucap wanita itu kembali yang saat ini memang akhirnya mulai membuat Zen juga mulai kesal dibuatnya.
Zen tidak merasakan sesuatu yang dapat menyebabkan kekacauan ditempat ini. Bahkan dari wanita yang saat ini sedang membincangkan sesuatu aneh kepada dirinya. Walaupun dirinya merasakan bahwa ada sesuatu ditubuh wanita itu, tetapi hal tersebut bisa dikatakan tidak dapat disebut sebagai penyebab kekacauan.
Apalagi sikapnya yang terlihat arogan itu, bisa dilihat dengan jelas oleh Zen yang memang tidak mendapatkan apapun dalam pertemuan ini. Maka dari itu, dirinya mulai kesal dengan keadaan ini karena percakapan mereka bisa dikatakan tidak nyambung sedari tadi.
"Tunggu... Tunggu. Sebenarnya apa yang sedang kamu ucapkan. Lalu, bagaimana dengan Loki?" tanya Zen yang saat ini ingin segera mengakhiri percakapan yang aneh ini, dengan langsung menanyakan sesuatu yang mengganggunya secara langsung.
"Loki? siapa lagi dirinya? Apakah dirinya juga akan menjadi pengawal dariku?" ucapnya yang membuat percakapan mereka semakin tidak nyambung dibuatnya.
__ADS_1
Ada yang aneh saat ini. Mereka berdua bisa dikatakan tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan dibutuhkan oleh masing-masing dari mereka kepada pihak yang sedang diajak berbincang oleh mereka saat ini. Bahkan percakapan mereka itu semakin membingungkan diantara mereka, dan membuat Zen mulai frustasi dibuatnya.
Dirinya ingin menyelidiki tentang kekacauan. Bahkan dirinya sudah bertemu dengan pihak yang memang ada pada penglihatan adiknya. Tetapi mengapa semuanya ini sangat aneh menurutnya, karena situasi ditempat ini sama sekali tidaklah janggal menurut Zen.
Walaupun memang wanita yang berbincang dengannya terus saja mengatakan sesuatu yang aneh dan arah pembicaraannya sangat membincangkan bagi Zen. Tetapi tidak ada satu hal pun yang berada ditempat ini yang bisa dikatakan dapat memicu sebuah kekacauan.
"Hahh... sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini" ucap Zen yang semakin frustasi dengan apa yang terjadi dengan keadaannya.
Bukan hal inilah yang dirinya ingin dapatkan ditempat ini, disaat dirinya memang ingin bertemu untuk memecahkan dan mencari informasi tentang kekacauan dari penglihatan yang dilihat oleh Mikhael. Namun sayangnya, dirinya malah mendapatkan situasi yang aneh saat bertemu dengan wanita yang juga kebingungan dengan keberadaanya ditempat ini.
"Baiklah. Coba jelaskan, kenapa pria bernama Ji Shin itu merekomendasikan diriku menjadi pengawal untuk dirimu?" ucap Zen yang saat ini mulai memutuskan untuk memecahkan apa yang sebenarnya terjadi, atas percakapan yang dilakukan olehnya dan wanita yang berada dihadapannya.
"Cih... Semua ini membuang-buang waktuku saja." Ucap wanita bernama Jane itu sebelum menjawab perkataan dari Zen. "Pama Ji Shin berkata bahwa dirimu mampu untuk melindungi diriku dari pengejaran beberapa pihak yang ditugaskan oleh Ayahku. Jadi aku langsung mengundang dirimu ketempat ini agar langsung bisa bekerja untukku" ucapnya yang menjawab perkataan dari Zen.
Raut wajah frustasi mulai terlihat dari raut wajah wanita tersebut. Bahkan dirinya terlihat kesal dengan semua hal yang sudah terjadi. Namun karena dirinya membutuhkan seorang pengawal yang kuat, jadi dirinya berusaha untuk bersabar menghadapi sosok pria yang terlihat menanggapinya dengan ekspresi kelelahan tersebut.
Zen sendiri juga saat ini mulai duduk pada sebuah sofa dan mencoba mencerna semua hal yang saat ini dirinya dengarkan dari wanita tersebut. Apalagi dirinya juga ingin segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini, dan mencari tahu mengapa Mikhael malah melihat penglihatan yang dirinya lihat tempo hari.
Maka dari itu Zen mulai mengorek informasi dari wanita itu tentang mengapa dirinya mengenal sosok Zen, dan menggali lagi tentang percakapan aneh yang sedang mereka lakukan. Karena mungkin dalam percakapan itu, terdapat sebuah informasi yang berguna untuk dirinya.
"Lalu?" ucap Zen yang menyuruh wanita itu melanjutkan penjelasannya.
"Hahh.. Maka dari itu, dirinya menyarankan diriku untuk menghubungi dirimu. Dan disinilah dirimu berada" ucapnya yang mengakhiri perkataannya tersebut dengan nada yang terlihat jelas bahwa dirinya cukup malas menjawab perkataan dari Zen tersebut.
"Pamanmu merekomendasikan diriku kepadamu menjadi pengawal bagimu. Lalu apakah Pamanmu itu pernah bercerita dimana dirinya bertemu denganku?" tanya Zen sekali lagi, yang mencoba mengorek beberapa informasi dari wanita tersebut.
"Hahh... Katanya dirinya pernah mengawasi dirimu disebuah rumah sakit dan kamu berhasil menemukan keberadaannya. Bahkan katanya dirimu sangatlah kuat, makanya dirinya merekomendasikan dirimu kepadaku untuk dijadikan pengawal" ucapnya yang akhirnya membuat Zen berhasil menemukan sebuah benang merah dari apa yang terjadi sebenarnya.
Zen memang tidak pandai mengingat nama beberapa pihak acak yang dirinya temui. Jadi, dirinya memang tidak mengenali nama dari pihak yang yang disebutkan sedari tadi oleh wanita yang berada didepannya. Maka dari itu, percakapan mereka sedari tadi memang benar-benar tidak nyambung sedari tadi.
Namun akhirnya dirinya bisa mengetahui dengan pasti siapa yang dimaksud oleh wanita tersebut yang dirinya panggil sebagai pamannya. Maka dari itu, dengan menghela nafasnya yang terlihat frustasi itu, Zen mulai menyandarkan tubuhnya pada sofa tempatnya duduk saat ini.
__ADS_1
"Cih... seharusnya aku bunuh saja Kultivator sialan itu"