
Vero saat ini sedang duduk sendirian pada sebuah tempat dan sedang memikirkan sesuatu. Karena bisa dikatakan, dirinya mulai memikirkan semua perkataan dari seluruh saudari barunya disaat mereka sedang berbincang tadi dan bisa dikatakan percakapan itu sangat amat mengganggu dirinya.
Bisa dikatakan, wanita yang disebutkan oleh mereka yang diperkirakan memiliki hubungan dengan Zen tentu membuat risau Vero saat ini. Apalagi, dirinya sangat amat terganggu dengan pembicaraan yang sedang mereka bicarakan sedari tadi tentang sosok-sosok wanita tersebut.
Walaupun bisa dikatakan poligami sangat wajar di dunia ini, tetapi sepertinya dirinya tidak tahu bahwa dirinya akan siap untuk menjalani kehidupan itu atau tidak bersama Zen. Apalagi seperti yang diketahui, status Zen bisa dikatakan cukup besar dimata beberapa pihak.
Apalagi, hampir seluruh saudaranya memiliki Istri yang lebih dari satu, dan membuat dirinya mulai memikirkan berbagai hal tentang jalannya hubungan antara dirinya dengan Zen, yang saat ini belum diketahui bagaimana pria itu akan membawa hubungan mereka kedepannya.
“Ada apa kamu mencari diriku, sayang?” tanya Zen yang mulai memasuki ruangan tempat dimana Vero berada.
Zen memang diminta oleh Vero untuk menemui dirinya. Karena bisa dikatakan, Vero ingin mendengar penjelasan secara langsung dari sosok suaminya itu tentang apa yang baru saja dirinya dengar. Maka dari itu, Zen yang mendapatkan panggilan dari Istrinya langsung menghampirinya saat ini.
Namun saat Zen memasuki ruangan tempat dimana Vero berada, wanita itu saat ini seakan menunjukan raut wajah permusuhannya terhadap dirinya. Tentu melihat raut wajahnya yang seperti itu Zen cukup bingung dibuatnya, karena sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pemikiran dari Istrinya tersebut.
Tetapi Zen masih tetap bersikap santai dan mulai mendekati sosok Istrinya yang sepertinya menunjukan aura permusuhan kepada dirinya ditempat itu. Dengan duduk di samping dirinya, Zen mulai meraih tangan dari Vero dan saat ini mulai menatapnya.
“Ada apa, coba ceritakan kepadaku?” tanya Zen yang dimana Vero saat ini seakan tidak ingin menatapnya.
Namun setelah Zen berkata demikian, Vero langsung menatap Zen dengan tatapannya yang sedang melotot, seakan benar-benar merasa marah kepada dirinya karena tidak menjelaskan apapun kepada dirinya atas wanita-wanita yang pernah dirinya dekati.
Apalagi dirinya bukan mendengarkan secara langsung permasalahan tersebut dari mulut suaminya, melainkan dari seluruh keluarga baru yang dikenalkan kepada dirinya. Jadi, Vero merasa sedikit marah dengan sikap dari suaminya itu yang seakan masih banyak rahasia yang disembunyikan kepada dirinya.
“Beritahu aku, ada beberapa wanita yang mengeluarkan aura kebahagiaan untukmu?” ucap Vero yang langsung menanyakan pucuk permasalahan yang membuat dirinya sedikit kesal.
Vero tentu sudah tahu semua tentang berbagai hal tentang Zen, bahkan hingga berkah yang mengikat mereka juga sudah diketahui oleh Vero. Jadi, dipastikan dirinya sudah mengetahui cara kerjanya, dan membuatnya langsung menanyakan Zen secara langsung tentang permalasahan itu.
“Oh... jadi masalah itu yang membuatmu terlihat kesal saat ini. Maafkan aku, karena aku juga lupa memberitahukan dirimu tentang hal tersebut juga” ucap Zen yang akhirnya merasa lega karena dirinya sudah mengetahui apa yang membuat Istrinya bersikap seperti itu kepada dirinya.
Zen benar-benar lupa, bahwa dirinya belum sama sekali menjelaskan tentang beberapa wanita yang bisa dikatakan memiliki hubungan dengan dirinya. Tentu Zen bisa dikatakan akan memberitahukan semuanya kepada Vero, namun Zen benar-benar lupa untuk memberitahukan semua itu kepada dirinya.
“Cih... jangan mengalihkan perhatian. Cepat jawab pertanyaan dariku itu dan berapa wanita yang mengeluarkan aura kebahagiaan untukmu?” tanya Vero yang mengulangi pertanyaannya lagi dan menuntut suaminya itu untuk segera menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
“Hm... Selain dirimu, ada empat orang lagi yang mengeluarkan aura itu kepadaku” ucap Zen dan membuat Vero langsung membulatkan matanya.
Terkejut tentu saja, karena yang dirinya tahu dari percakapan para saudarinya tadi, bisa dikatakan dirinya hanya mengetahui bahwa hanya dua orang saja yang mempunyai aura awal dari berkah sebuah ikatan tersebut, yang dimana hal itu membuktikan bahwa mereka menyukai sosok suaminya tersebut.
Namun dirinya tidak menyangka, bahwa ternyata ada empat pihak yang saat ini menjalani tahap awal dari berkah tersebut selain dirinya. Maka dari itu, tentu saja dirinya sangat amat terkejut dan ingin dengan segera memastikan siapa saja wanita-wanita tersebut.
“Siapa dua lagi, Zen? Siapa selain wanita bernama Angel dan Kana yang mengeluarkan aura tersebut kepadamu?” tanya Vero yang seakan menuntut jawaban dari suaminya itu.
“Hm... salah satunya wanita yang paling dekat denganmu, dan satunya lagi seorang dewa” ucap Zen dan perkataannya itu kembali membuat Vero sangat amat terkejut mendengarnya.
Awalnya tentu Vero sudah dapat menebak salah satu dari pihak yang disebutkan oleh Zen itu kepadanya. Maka dari itu, dirinya saat ini langsung memijit keningnya untuk meringankan rasa pusing di kepalanya saat mendapati kenyataan tersebut.
“Mengapa bisa sahabatku juga memiliki perasaan itu...” gumam Vero yang tidak tahu harus berbuat apa dengan kenyataan yang baru dirinya dengar itu.
Vero sudah menebak, bahwa Kelly mempunyai perasaan kepada suaminya. Karena hal itu sangatlah terlihat jelas dimatanya, disaat mereka berdua mulai berinteraksi satu sama lainnya. Apalagi disaat Vero menunjukan kedekatannya dengan Zen, Vero bisa melihat dengan jelas ekspresi wanita itu yang seakan menunjukan sesuatu kepada dirinya.
Sebagai seorang wanita dan sahabatnya, tentu Vero mengetahui dengan pasti arti ekspresi yang ditunjukan sahabatnya itu kepadanya. Walaupun dirinya sudah menyangkalnya, tetapi semua itu terbukti dengan perkataan suaminya tadi kepadanya yang menyatakan bahwa benar sahabatnya itu memiliki perasaan dengan suaminya.
Vero yang saat ini sedang tertunduk memikirkan kenyataan yang baru dirinya dengar itu, tentu saja langsung menatap suaminya setelah dirinya berkata seperti itu dan saat ini dirinya melihat dengan jelas bahwa suaminya itu sangat serius dengan perkataan yang baru saja dirinya lontarkan kepadanya.
“Benarkah?” tanya Vero kemudian dan mendapatkan sebuah anggukan dari Zen.
Zen tentu tidak akan mengecewakan pihak yang saat ini sudah menjadi Istrinya itu. Jadi, dirinya akan mendengarkan semua perkataannya walaupun bisa dikatakan keputusan yang mungkin akan diambilnya, bisa dikatakan tidak disenangi oleh Zen.
"Aku berjanji, aku akan selalu mengikuti perkataanmu" ucap Zen yang meyakinkan sekali lagi ucapannya itu kepada Istrinya.
Tetapi entah mengapa, bukanlah sebuah rasa yang lega yang saat ini dirasakan oleh Vero atas perkataan suaminya itu. Karena disaat dirinya mendapat penjelasan tentang berkah ikatan, dirinya juga tahu manfaat apa yang diterima oleh suaminya jika berkah itu menjadi sempurna dikuasai olehnya.
Jadi, dirinya mulai bimbang apakah dirinya harus mengambil sebuah langkah egois untuk mempertahankan Zen sendiri, atau membiarkannya memiliki wanita disekitarnya agar berkah ikatan yang dirinya dapatkan semakin banyak dan dapat membuatnya lebih kuat.
“Dan juga. Aku sudah sangat kuat, jadi kamu tidak usah memikirkan apapun lagi tentang berkah tersebut apakah berpengaruh kepadaku” ucap Zen yang membuat wanita itu semakin bimbang mendengarnya.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana denganmu, apakah kamu ingin memiliki Istri yang banyak?” tanya Vero kembali kepada suaminya tersebut.
“Aku hanya akan mendengarkan perkataan darimu saja.” Balas Zen yang menjawab pertanyaannya itu.
Bohong jika Zen tidak menginginkan berkah yang sangat amat menguntungkan kepada dirinya itu tidak didapatkan olehnya. Apalagi, sosok yang bisa dikatakan haus dengan keserakahan itu dipastikan sangat menginginkan semua hal yang bisa memuaskan rasa tersebut yang terdapat didalam dirinya.
“Lalu, jika aku menyerahkan semua keputusan kepadamu, keputusan apa yang kamu ambil?” dan begitulah pertanyaan Vero kembali kepada Zen, dan saat ini dirinya mulai menatap pria tersebut dengan tatapan yang benar-benar menantikan jawabannya.
Zen tidak langsung menjawab pertanyaan Istrinya itu. Namun, dirinya juga mulai menatap Istrinya dan memberikan senyum menawannya kepadanya. Hingga akhirnya, jantung dari Vero mulai berdetak semakin kencang, karena saat ini terlihat suaminya akan menjawab pertanyaannya.
“Aku seorang Deadly Sins, Vero. Seorang Deadly Sins. Jadi, kamu tahu bukan apa keinginanku” ucap Zen yang akhirnya mulai menjelaskan jawabannya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Istrinya.
Mendengarnya Vero tentu tidak tahu harus bersikap seperti apa. Karena perkataan dari suaminya itu menjelaskan semua hal yang ingin dirinya ketahui. Maka dari itu, dirinya semakin bingung dengan keputusan apa yang harus dirinya ambil atas percakapan mereka itu.
Sudah sangat jelas pernyataan yang dilontarkan oleh pria itu kepadanya. Dan hal tersebutlah yang semakin membuat bimbang Vero dengan keputusan hubungan mereka kelak, yang dimana dirinya harus egois atau menerima semua hal yang akan terjadi.
“Hahh... aku ingin waktu untuk sendiri, Zen” Ucap Vero yang saat ini memutuskan untuk pergi dari sana dan mencoba menenangkan pikirannya yang sangat kacau saat ini.
Zen hanya mengiyakan perkataan Istrinya itu saja, karena bisa dikatakan dirinya juga bisa melihat bahwa Istrinya itu benar-benar ingin sendiri saat ini. Jadi, Zen tidak ingin menghalangi tindakannya dan memberikannya dirinya ruang untuk sendiri.
Vero juga akhirnya keluar dari ruangan tempat Zen berada. Dirinya memutuskan untuk berkeliling pada istana dari Kerajaan milik suaminya saat ini untuk meringankan beban pikirannya. Tentu karena istana itu sangat luas, Vero saat ini entah bingung sudah berada dimana.
Hingga akhirnya, perjalanannya yang bisa dikatakan sudah dirinya tempuh cukup jauh, membuatnya melihat sebuah taman yang dimana beberapa saudarinya yang baru sedang berada di sana. Maka dari itu, dirinya memutuskan untuk mendekat kearah mereka dan memutuskan untuk berkumpul dengan mereka.
Tetapi sebelum dirinya mendekati mereka, dirinya baru menyadari sesuatu saat dirinya melihat mereka. Ketiga wanita yang sepertinya sedang bercanda gurau itu, akhirnya membuat dirinya memutuskan untuk memperhatikan saja kegiatan mereka ditempat tersebut.
Dirinya cukup kebingungan mengapa mereka bisa seperti itu. Apalagi, dirinya tahu bahwa mereka bisa dikatakan mempunyai suami yang sama. Tetapi dirinya bingung, mengapa mereka bisa sangat akrab bersama-sama dan seakan tidak memiliki niat permusuhan dan saling menjatuhkan satu sama lainnya.
Dirinya terus memperhatikan mereka, hingga sepertinya apa yang dirinya lakukan itu tidak bertahan lama, karena beberapa saudari barunya saat ini juga mulai mendekat kearah dirinya. Tentu Vero yang masih memperhatikan ketiga sosok yang dirinya perhatikan itu, tidak menyadari kedatangan mereka dan terus memperhatikan mereka hingga sebuah suara mulai mengejutkan dirinya.
“Apa kamu sedang kebingungan?”
__ADS_1