
Seorang pria tampan saat ini sudah duduk di atas sebuah gajah yang dia tumpangi bersama kedua keponakannya. Tentu kedua keponakannya itu sangat bahagia dengan apa yang mereka lakukan saat ini dan membuat pria yang membawa mereka itu cukup senang dengan melihat mereka yang bahagia.
“Lain kali, Paman akan mengajak kalian menunggangi seekor naga kalau begitu” ucap Zen dan membuat keponakannya kembali bersemangat mendengar perkataannya.
Sebuah atraksi yang disediakan kepada pengunjung tempat ini memang sengaja dipilih oleh Zen, karena sangat menarik mengajak kedua keponakannya itu untuk mencoba hal baru. Tentu Zen dulu bahkan menaiki seekor naga, tetapi tidak mungkin bukan dirinya mengajak keponakannya untuk mencari seekor naga sekarang.
Dan begitulah kegiatan mereka saat memasuki kebun binatang ini. Berbagai binatang sudah mereka lihat, dan berbagai atraksi sudah mereka ikuti dan membuat liburan menyenangkan itu sangat menyenangkan bagi mereka.
“Akhirnya sampai..” ucap Ana kemudian yang sudah turun dari punggung gajah yang dinaikinya.
Setelah dirinya turun, tentu malaikat penjaganya langsung mendekatinya karena memang Inez tidak ikut menaiki wahana tersebut, karena memang dirinya merasa sungkan kepada tuannya, padahal Zen sudah memaksanya untuk ikut tadi.
“Paman, Levon sudah lapar” ucap Levon kemudian setelah dirinya yang sedang digendong oleh Zen sudah turun dari gajah yang mereka tunggangi.
“Baiklah, mari kita makan siang terlebih dahulu lalu memainkan wahana yang lainnya” balas Zen, dan sudah mengajak rombongannya menuju sebuah restoran yang ada didalam kebun binatang itu.
Ana dan Levon cukup puas dengan liburan mereka bersama pamannya. Apalagi semua keinginan mereka dipenuhi oleh Zen, bahkan didalam ruang hampa milik Inez berbagai barang yang diinginkan oleh kedua anak tuannya itu memenuhi ruang hampa miliknya.
Hingga akhirnya beberapa jam sudah berlalu, yang dimana saat ini mereka sudah kelelahan dan sedang makan malam pada restoran yang ada didalam kebun binatang itu kembali. Seharian mereka beraktivitas membuat kedua anak kecil itu sudah terkuras habis energi mereka dan sudah terlihat kelelahan saat ini.
“Makanlah, baru kita pulang dan beristirahat” ucap Zen kepada kedua keponakannya itu.
Ana dan Levon yang sedang disuapi oleh Zen saat ini sedang memakan makan malam mereka dengan lahap. Walaupun mereka kelelahan, tetapi tetap saja sifat dari Zen yang suka makan ternyata turun kepada kedua keponakannya itu.
“Kamu juga makanlah Inez” ucap Zen kepada gadis malaikat yang menemani dirinya itu.
Inez yang sudah merasa tidak ketakutan lagi didekat Zen hanya menyambut perkataan tuannya itu dengan gesture yang sopan dan mulai melahap makanannya. Hingga akhirnya mereka berempat mulai menikmati makan malam mereka ditempat tersebut.
__ADS_1
“Apakah kalian benar-benar akan kembali besok?” tanya Zen kepada Inez.
“Benar Tuan. Karena Nyonya Valana dan Nyonya Aghata mempunyai urusan yang harus mereka hadiri, jadi kami akan kembali menuju kerajaan Vatikan besok” ucap Inez.
Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataan dari Inez, karena dirinya hanya memastikan kabar yang dirinya dengar dari Ana tadi. Memang kedua adik iparnya itu dan kedua keponakannya tidak bisa tinggal lama ditempat ini.
Bahkan Ana yang berinisiatif ingin bertemu Zen sehingga mereka bisa berada disini, hanya diberikan waktu sebatas tiga hari saja berada disini, karena memang Valana dan Aghata masih mempunyai kewajiban yang harus mereka lakukan.
“Lalu, apakah Paman akan ikut dengan kami?” tanya Ana kemudian.
“Hm... maafkan Paman. Tetapi Paman sepertinya tidak bisa mengikuti kalian” balas Zen.
Zen sebenarnya sangat ingin mengikuti mereka. Namun karena dirinya mempunyai sebuah urusan jadi Zen memutuskan untuk menunda keinginannya untuk mengunjungi kediaman seluruh keluarganya.
“Padahal Levon ingin Paman ikut kami. Lagipula Kak Gerald, Kak Mela, Kak Kesi, Gilvan, Agnes, Bela, dan Victor akan senang bertemu dengan Paman kalau Paman ikut” ucap Levon.
Walaupun perkataan Zen cukup membuat kedua keponakannya itu sedih, namun suasana kehangatan mulai kembali terjadi setelah Zen kembali mencoba bercanda gurau dengan mereka. Dan begitulah bagaimana liburan dari Paman dan keponakannya itu akan berakhir.
Disisi lain, Aghata saat ini sudah menawar sebuah kalung berlian yang bentuknya sangat indah. Namun seseorang yang duduk disebelahnya sedang menatapnya dengan tatapan kebingungan, karena memang mereka datang ketempat ini tidak berniat membeli apapun.
“Bukankah kamu tidak ingin membeli apapun tadi Aghata?” tanya Valana kemudian.
“Awalnya seperti itu Kak. Namun lihatlah” ucap Agatha yang menunjukan sebuah kartu debit kepada Valana.
“Dari mana kamu mendapatkan kartu itu?” tanya Valana kemudian.
Memang kartu yang ditunjukan oleh Aghata itu sangat berbeda dari kartu yang mereka miliki, karena warnanya tidaklah hitam. Jadi Valana cukup bingung dari mana Istri kedua suaminya itu mendapatkan kartu tersebut.
__ADS_1
“Ah... Kakak ipar memberikanku kartu debit miliknya, untuk digunakan membeli apapun yang kita mau” ucap Aghata kemudian.
“Benarkah?” ucap Valana dan mendapatkan anggukan dari Aghata kemudian.
Walaupun mereka berdua mempunyai harta yang sangat banyak, tetapi mereka sudah berjanji tidak membeli apapun pada acara pelelangan ini sebelumnya. Maka dari itu, saat mereka datang kesini semua kartu yang mereka miliki mereka titipkan kepada Inez.
Walaupun mereka melihat beberapa barang yang ingin mereka beli, tetapi mereka tetap menahannya untuk tidak tertarik. Namun berbeda saat Aghata diberikan wewenang untuk menggunakan kartu yang diberikan oleh Zen tadi untuk membeli apapun yang mereka mau.
“Sebenarnya aku sudah menolak pemberian Kakak ipar Kak, tetapi dirinya terus memaksa. Dan juga pada awalnya aku tidak berniat menggunakannya, namun karena kalung itu terlihat sangat bagus, jadi aku jadi ingin membelinya” ucap Aghata kemudian.
Perdebatan mereka cukup membuat Vero yang sebelumnya sedikit tertekan dengan fakta yang baru saja didengarnya cukup tercengang. Dirinya tidak menyangka sikap dari seorang Permaisuri seperti mereka bisa bersikap seperti itu.
Mereka saat ini terlihat seperti gadis remaja yang sangat tertarik dengan barang keluaran baru dan ingin segera memilikinya. Dan itu terlihat setelah mereka terus menawar beberapa barang yang ingin mereka beli.
“Tunggu Vero, bukankah Raja Mikhael merupakan anak pertama dari keluarga Kerajaan Gwillyn bukan?” tanya Kelly kepada sahabatnya yang duduk disebelahnya, dan sedang memperhatikan perebutan barang antara seorang Permaisuri kerajaan dengan beberapa orang.
“Tentu saja. Raja Mikhael merupakan anak tertua dari mereka” balas Vero kemudian.
“Lalu, siapa yang mereka maksud dan panggil dengan Kakak Ipar sedari tadi?” ucap Kelly kemudian.
Memang karena baru saja mendengar sebuah kenyataan yang cukup mengecewakan bagi dirinya tadi, Vero tidak fokus dalam mendengarkan keseluruhan perkataan kedua Permaisuri yang sedang berbicara sedari tadi.
Cukup aneh memang perkataan kedua permaisuri tersebut, karena dari semua sumber yang ada, Raja Mikhael merupakan putra tertua dari keluarga Gwillyn. Jadi Vero cukup bingung tentang siapa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
“Aku juga tidak tahu Kelly” balas Vero.
Memang bisa saja dirinya menanyakan tentang siapa yang dimaksud oleh mereka tentang perkataan mereka yang menyebutkan Kakak Ipar. Namun cukup sungkan juga menanyakan sesuatu yang pribadi kepada salah satu anggota kerajaan besar saat ini.
__ADS_1
“Hm... apa mungkin Raja Mikhael bukan anak Pertama?”