Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Kata Terpendam


__ADS_3

~ Halo Kak Zen


Jika Kakak sudah membaca surat ini, berarti aku sudah pergi meninggalkan kota ini untuk mengejar impianku. Sedih memang meninggalkan semua hal yang sudah membuatku nyaman, tetapi inilah keputusan yang aku ambil.


Tapi ada satu yang sebenarnya lebih berat dari keputusanku meninggalkan kota ini, yaitu meninggalkan seseorang yang sangat berarti bagiku dan orang tersebut merupakan keputusan terberat untuk aku pertimbangkan saat diriku akan pergi.


Orang yang selalu menghiburku, menyelamatkanku, menenangkan diriku dan masih banyak lagi yang dirinya lakukan untuk setidaknya membuatku sangat nyaman berada didekatnya. Satu hal yang membuatku menyesal, mengapa aku tidak dipertemukan dengannya lebih cepat dan bisa menghabiskan waktu dengan dirinya lebih lama.


Hebat bukan Kak, orang yang aku ceritakan itu. Tetapi apakah Kakak tahu, bahwa orang yang hebat itu adalah Kakak sendiri. Orang yang selalu ada disaat aku membutuhkan walaupun bersikap sangat cuek, tetapi entah mengapa sikap Kakak itu membuatku sangat nyaman berada didekat Kakak.


Surat ini aku tuliskan sebagai ungkapan rasa terima kasihku, karena selama ini Kakak selalu ada untuk mengangkat diriku yang sudah jatuh terpuruk, dan membuatku melihat kembali bahwa ada seseorang yang selalu menantikan diriku untuk bangkit dan melihat diriku bisa berdiri dengan tegak menghadapi semua hal yang menimpaku.


Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan kepada Kakak, namun aku tahu Kakak mungkin akan malas membaca surat dariku jika itu terlalu panjang. Jadi aku memutuskan mengakhiri surat ini dengan mengatakan dengan lantang perasaanku.


Surat ini dituliskan dari seseorang yang sangat, sangat, sangat, sangat, sangat mencintai Kakak


Angel ~


.


.


Hening, itulah suasana yang yang sedang terjadi didalam sebuah ruangan, dimana seseorang yang memegang surat yang baru saja dirinya baca sedang menatap seseorang yang mendengarkan kata demi kata yang dia ucapkan dari isi surat tersebut dan sedang duduk sambil bersandar pada sofa ditempatnya berada dan mencoba mencerna kata demi kata dari apa yang baru saja dirinya dengar.


“Sebenarnya dirinya ingin mengucapkan terima kasih atau mengucapkan dirinya mencintaiku Bari?” tanya Zen setelah selesai mendengar Bari membacakan surat yang diberikan Angel untuknya.


“Sepertinya dua-duanya tuan” balas Bari yang mulai melipat surat itu seperti semula dan memasukan kembali kedalam sebuah amplop berwarna biru yang membungkusnya tadi.


“Hahh... benarkah. Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan Bari?” tanya Zen kemudian.


“A-Aku juga tidak tahu tuan, tetapi bukankah surat seperti ini sering anda terima dulu?” tanya Bari kembali, karena memang dirinya juga tidak tahu harus melakukan apa terkait surat yang diberikan Angel kepada tuannya.


“Aku terlalu malas membaca surat-surat itu dahulu. Dan juga, bukankah kamu mempunyai seorang tunangan, setidaknya beritahu aku apa yang kamu lakukan jika dirimu menerima surat seperti ini dari tunanganmu?” tanya Zen kemudian.

__ADS_1


“Kami tidak pernah berhubungan dengan sebuah surat tuan, jadi aku juga tidak tahu harus meresponnya seperti apa” balas Bari.


Memang Zen mengetahui surat apa yang diberikan oleh Angel kepadanya. Sebuah surat yang berisi ungkapan dari perasaan seseorang yang umumnya dibuat untuk mengungkapkan rasa sayang atau cinta kepada seseorang yang sangat dikagumi, bukankah itu namanya surat Cinta.


Jadi Zen setelah mendengar penjelasan Bari tentang surat cinta yang dicarinya melalui website, akhirnya mulai mengerti dengan maksud Angel memberikan surat itu kepadanya, yaitu untuk mengungkapkan perasaan gadis tersebut kepada Zen.


“Lalu bagaimana bisa kalian bisa bertunangan? Bukankah surat cinta merupakan perantara pertama dari menyatakan sebuah perasaan kepada seseorang menurut artikel yang kamu baca tadi?” tanya Zen kemudian.


"A-Aku tidak tahu tuan. Tetapi proses hubungan kami bermula saat Kami bertemu, berinteraksi, lalu dirinya menyatakan cinta dan aku menerimanya." Balas Bari dan membuat Zen mengangguk saja mendengar jawabannya.


"Hmm... lalu apa yang harus aku lakukan?" Kata Zen yang merasa bingung dengan tindakan apa yang harus dirinya ambil saat ini.


"Lalu, bagaimana tuan bisa menikahi istri-istri Tuan dulu, apakah berawal dari sebuah surat?” tanya Bari kembali.


"Tentu saja tidak. Pokoknya dahulu Kami bertemu, berinteraksi, lalu mereka menyatakan cinta dan aku menerimanya.” Balas Zen kemudian.


“Tuan juga berinteraksi dengan mereka?” tanya Bari yang baru mendengar fakta tersebut dari tuannya.


Informasi dari Zen yang tidak memperdulikan semua istrinya yang jumlahnya sangat banyak memang benar. Bahkan untuk sekedar berbincang saja dengan mereka, Zen sangat malas. Jadi Bari cukup terkejut mendengar bahwa tuannya pernah berinteraksi dengan mereka.


“Tunggu, bukankah aku bisa membiarkannya saja. Mengapa aku perlu memikirkan tindakanku selanjutnya dalam merespon surat dari Angel?” ucap Zen kemudian.


Benar, Zen memutuskan untuk membiarkan saja surat itu seperti apa yang dia lakukan dulu terhadap semua istrinya. Walaupun sebenarnya Angel cukup membuatnya bersemangat menjalani kehidupannya di dunia ini, tetapi menurut Zen dirinya tidak perlu melakukan apapun untuk merespon surat yang diberikan kepadanya. Walaupun sebenarnya Angel membuat surat itu hanya untuk mengungkapkan perasaannya saja, bukan bertujuan untuk mendapatkan respon dari Zen.


“Tetapi tuan, dari artikel yang aku baca. Jika seseorang yang mengungkapkan perasaannya dan perasaannya itu tidak direspon atau dijawab, orang tersebut bisa gila dibuatnya” balas Bari sambil menunjukan sebuah artikel yang dibacanya pada sebuah website.


Memang, karena salah satu dari mereka baru mencoba untuk berbaur dengan manusia dan satunya lagi jarang berinteraksi dengan manusia, jadi mereka masih awam dengan maksud dari makna dari artikel yang mereka baca, dan mereka hanya mengartikan tulisan pada artikel tersebut secara harfiah.


“Apakah tuan ingin membuat nona Angel menjadi gila?” tanya Bari kemudian yang membuat Zen mulai berfikir kembali keputusannya.


“Hm.. sebaiknya aku meminta saran tentang permasalahan ini kepada adikku yang sudah menikah saja” gumam Zen.


Disisi lain, Seorang pria yang sedang sibuk dengan makanan yang sedang dilahapnya, saat ini mulai terganggu oleh suara telfon yang terus berdering. Sebenarnya pria itu malas mengangkatnya karena dirinya saat ini sedang menikmati waktu berdua bersama istrinya.

__ADS_1


Namun sebuah nama yang terpampang pada layar ponselnya tentu membuatnya harus mengangkatnya, karena memang jarang sekali orang yang sedang menghubunginya itu akan berhubungan dengannya.


“Halo Kak, selamat siang” balas Uriel.


“Bisakah kamu memberikan ponselmu kepada Kileni, aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya” balas Zen secara langsung.


Uriel sebenarnya bingung dengan permintaan Kakaknya, hingga akhirnya terpaksa memberikan ponselnya itu kepada istrinya yang berada dihadapannya.


“Halo Kakak Ipar” jawab Kileni setelah dirinya diberikan ponsel oleh suaminya.


Zen tanpa basa basi langsung menceritakan semua permasalahannya kepada adik iparnya itu. Bahkan perbincangan Zen itu membuat Kileni yang awalnya kebingungan mengapa Kakak iparnya menghubunginya mulai tersenyum lalu memberikan beberapa nasihat kepada Kakak iparnya tersebut tentang permasalahan yang dialaminya.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Uriel yang sudah menerima kembali ponselnya dari Istrinya, setelah melihat obrolan dirinya bersama Kakaknya itu sudah selesai.


“Kakakmu meminta saran cinta”


.


.


Disisi lain, Angel yang sudah sampai disebuah asrama yang dikhususkan untuknya, mulai merapikan barang-barangnya yang dibawanya pada kamar yang akan ditempatinya. Dengan perlahan dirinya mulai menyusun pakaiannya pada lemari yang sudah disediakan dan memastikan bahwa apa yang dia lakukan itu harus rapi.


“Angel, aku akan menuju kantin. Apakah kamu mau ikut?” tanya seorang gadis yang merupakan teman sekamar dari Angel.


“Duluan saja Mel, aku masih membereskan barang - barang milikku terlebih dahulu” balas Angel kepada teman sekamarnya itu.


“Baiklah” balas wanita bernama Amel yang langsung keluar dari kamar asramanya dan menuju kantin dari gedung asrama tempat tinggalnya ini untuk mencari makanan.


Angel masih dengan tekun membereskan barangnya, hingga akhirnya apa yang dia lakukan akan selesai. Namun saat dirinya hendak meletakan pakaian terakhirnya yang harus dia susun pada lemarinya, dirinya sangat terkejut menemukan sebuah kotak yang tidak dikenalnya.


Angel bingung mengapa kotak tersebut ada didalam kopernya, karena memang dirinya tidak mengingat pernah menaruh benda itu kedalamnya. Namun dirinya yang penasaran mulai membuka kota itu dan melihat isinya.


Setelah melihat isinya, entah mengapa Angel langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut melihat isinya. Dengan air mata yang mulai jatuh dari matanya, dirinya mulai melihat kembali isi dari kotak tersebut yang menurutnya sangat indah.

__ADS_1


“Terima kasih Kak”


__ADS_2