Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Identifikasi


__ADS_3

Seorang wanita dengan perasaan yang sedikit kesal, saat ini sedang mengunyah suapan terakhir dari makanan yang baru saja dirinya suap kedalam mulutnya. Dengan tatapan yang terlihat sangat kesal yang dirinya tunjukan itu, dirinya saat ini mulai menatap pria didepannya dengan tatapan yang cukup tajam.


Dengan suasana yang cukup sunyi, dan hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Wanita tersebut mulai menelan makanan yang berada di mulutnya, sebelum dirinya mulai mengambil segelas air dan akan meminum isinya.


“Sekarang, bisakah aku melanjutkan pekerjaanku?” tanya Vero yang baru saja menyelesaikan kegiatannya, kepada Zen yang masih menyantap makanannya dengan lahap.


Tentu mendengar perkataan Vero yang saat ini mulai memecahkan keheningan diantara mereka, Zen saat ini mulai mengecek kembali apakah benar yang dikatakan oleh wanita itu. Namun saat melihat piringnya sudah kosong, akhirnya Zen mulai mengangguk dan mempersilahkan Vero melanjutkan pekerjaannya.


Dengan tidak memperdulikan Zen yang kembali memakan makanannya kembali. Vero akhirnya mulai meminum segelas air yang berada pada genggamannya, sebelum dirinya menyeka mulutnya dan akhirnya memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih menumpuk.


“Cih... seharusnya aku sudah menyelesaikan berkas ini sedari tadi” ucap Vero yang kesal. Karena waktu yang dirinya gunakan untuk makan tadi, seharusnya bisa menyelesaikan sebuah tugas yang masih menumpuk dan harus dikerjakan olehnya saat ini.


Namun dari pada membuang waktu untuk meluapkan kekesalannya atas perbuatan Zen tadi, Vero memutuskan untuk mulai mengerjakan kembali tugas-tugas yang belum dirinya selesaikan dengan seserius mungkin, dan bertekad untuk menyelesaikan semuanya hari ini.


Hingga akhirnya waktu berlalu dengan cepat bagi dua orang yang berada di ruangan tersebut. Yang dimana saat ini akhirnya Vero mulai meregangkan seluruh otot tubuhnya, setelah menyelesaikan berbagai berkas yang harus dirinya selesaikan.


“Hahh.. jam berapa ini?” ucap Vero kemudian yang mulai melihat jam tangannya.


Memang dari penglihatannya, saat ini hari sudah mulai gelap saat dirinya menatap area luar dari gedung perusahannya. Apalagi, Vero cukup lupa waktu, disaat dirinya sedang berurusan dengan pekerjaan yang sedang dirinya tekuni, hingga dirinya tidak tahu sudah berapa lama dirinya mengerjakan semua pekerjaannya.


“Sial, sudah jam tujuh malam” gumamnya kemudian.


Dengan memastikan semua pekerjaannya sudah benar-benar selesai, akhirnya dirinya mulai merapikan semua hal yang berada di atas meja kerja miliknya. Setelah itu, Vero saat ini mulai mendekat kearah sofa tempat Zen berada dan mulai membangunkan pria itu yang terlihat sangat nyaman dalam tidurnya.


“Cih... mengapa pria ini kerjanya hanya tidur saja?” ucap Vero yang sedikit kesal dengan sifat pria itu, yang saat ini seakan sedang memakan gaji buta.


Tentu dirinya langsung membangunkan pria yang sedang terlelap dengan nyaman itu, karena dirinya akan mengajak Zen untuk langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Ibu dari Kelly. Apalagi Vero benar-benar ingin mengetahui kondisi dari Ibunya saat ini.


“Hoam.... kamu sudah selesai?” ucap Zen yang saat ini sudah terbangun dan mulai duduk pada tempat dirinya berbaring tadi.


“Hahh... bangunlah. Kita akan menuju rumah sakit” ucap Vero yang sudah malas berdebat dengan pria itu, dan lebih memilih untuk memerintahkannya untuk cepat bersiap.


Vero tentu langsung menyuruh Zen untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mereka berdua saat ini mulai beranjak dari ruangan tempat mereka berada, sebelum mereka akan meninggalkan tempat ini menuju rumah sakit tempat dimana Ibu dari Kelly sedang dirawat

__ADS_1


Bisa terlihat perusahaan dari Vero bisa dikatakan sudah sangat sepi, karena memang jam kerja untuk pegawai sudah berakhir sedari tadi. Dengan keadaan yang sepi, kedua orang tersebut mulai turun kearah basemen dari perusahaan Vero, dan akan berangkat dari sana menuju rumah sakit.


“Ini bawalah” ucap Vero yang melemparkan kunci mobilnya kepada Zen.


“Memangnya kemana supir pribadimu?” tanya Zen kemudian, yang menangkap kunci mobil yang dilemparkan kepadanya oleh Vero.


“Tentu saja aku menyuruhnya kembali. Apalagi Bibi Leni harus belanja bulanan hari ini” ucap Vero yang sudah masuk kedalam mobil putih BMW I8 miliknya, setelah menjawab pertanyaan dari Zen.


Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataannya, dan akhirnya mulai mengikuti Vero untuk memasuki mobil yang sudah dinaiki oleh dirinya tadi. Namun bedanya, Zen saat ini sudah duduk di bangku kemudi dari mobil yang dinaikinya, karena memang dirinya ditugaskan untuk mengemudikan kendaraan mewah tersebut.


Apakah Zen bisa mengendarai sebuah mobil, tentu saja bisa. Hal ini dikarena dirinya sudah belajar melakukannya dari Bari sebelumnya. Tentu karena manusia menggunakan beberapa kendaraan seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, dirinya tentu ingin mempelajari cara mengemudikannya.


Bahkan, Zen bisa mengoperasikan beberapa alat berat, hingga pesawat terbang, karena dirinya sudah mempelajari cara mengemudikan semua kendaraan itu. Bukan cuma itu saja, bahkan dirinya mempunyai berbagai surat izin mengemudi untuk setiap kendaraan yang bisa dirinya kendarai.


“Kalau begitu, ayo berangkat” balas Zen yang mulai mengendarai mobil dari Vero itu, yang saat ini sudah mulai keluar dari area basemen gedung perusahaan Vero, untuk membelah padatnya jalanan malam, dari kota yang sangat modern dimana tempat mereka tinggal itu.


“Dan jangan lupa untuk singgah pada sebuah rumah makan, untuk membeli beberapa makanan, Zen. Karena aku tahu, Kelly pasti belum makan” ucap Vero kemudian, setelah mobil miliknya sudah melaju dijalan raya yang lumayan padat itu.


"Oke..." ucap Zen yang menjawab perkataan Vero dengan antusias, karena dirinya berkata sesuatu tentang makanan


“Hey... kita sudah sampai” ucap Zen kemudian, karena memang Vero tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai ditempat tujuan mereka.


Melihat mereka tiba, akhirnya Vero menghentikan kegiatannya dan mulai masuk kedalam rumah sakit tempat dirinya berada bersama Zen. Setelah menghubungi sahabatnya untuk menanyakan keberadaannya, saat ini dirinya bersama Zen mulai menuju kearah ruang tunggu dari ruang ICU dari rumah sakit ini.


“Kel...” panggil Vero saat dirinya melihat sahabatnya dengan sabar menunggu diruang tunggu dari ruangan ICU.


“Kalian sudah sampai?” tanya Kelly kemudian, yang dimana saat ini dirinya langsung dipeluk oleh sahabatnya itu.


Tentu Vero merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya saat ini. Apalagi dirinya tahu bahwa keluarga kandung yang dimiliki oleh Kelly hanya tersisa Ibunya saja. Jadi dipastikan wanita itu sangat terpuruk dengan situasi yang dialami oleh Ibunya saat ini.


“Lalu, bagaimana dengan keadaan Bibi?” tanya Vero kemudian, setelah mereka sudah melepaskan pelukan mereka.


“Dirinya sudah membaik, tetapi aku tidak tahu kapan lagi kondisinya akan menurun kembali” ucap Kelly.

__ADS_1


Memang kondisi Ibunya sering kali menurun selama beberapa bulan ini. Jadi Kelly sangat khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk dengan keadaan Ibunya. Apalagi sudah tiga kali dalam sebulan ini, kondisi Ibunya seperti itu. Bahkan saat ini Ibunya belum boleh dipindahkan dari ruangan ICU, karena kondisinya benar-benar belum stabil sepenuhnya.


“Tenanglah, pasti Ibumu akan baik-baik saja” ucap Vero, yang mencoba menguatkan sahabatnya itu.


“Aku tahu. Terima kasih, Ver” balas Kelly kemudian.


Vero dan Zen akhirnya mulai ikut duduk diruang tunggu tempat dimana Kelly menunggu tadi. Zen sendiri saat ini mulai mengeluarkan makanan yang dibelinya tadi, dan langsung memberikan kepada Kelly dan Vero agar mereka menyantapnya.


Tentu Kelly juga sudah merasa lapar, apalagi dirinya lupa untuk membeli makanan, karena dirinya sangat khawatir dengan kondisi Ibunya. Jadi Saat ini dirinya mulai memakan makanan yang dibawa oleh Zen tadi dengan lahap. Tentu Vero juga ikut memakan makanannya, karena dirinya ingin menemani temannya itu untuk makan.


Dan untuk Zen, tidak usah ditanya. Karena jika Vero dan Kelly masing-masing memakan hanya satu bungkus nasi padang yang sedang mereka santap saat ini. Zen sudah menggabungkan lima bungkus nasinya dalam satu wadah dan memakannya dengan lahap.


“Hahh... sepertinya biaya makan pada kediamanku akan meningkat, akibat keberadaan dirimu Zen” balas Vero yang sudah menghabiskan makannya, dan melihat Zen yang masih lahap memakan makanannya.


“Cih... bukankah katamu dirimu kaya? Mengapa kamu protes saat membelikan diriku berbagai makanan?” tanya Zen kemudian.


Tentu Vero ingin berdebat kembali dengan Zen, namun dirinya membiarkannya saja karena tempat ini merupakan sebuah rumah sakit. Tentu dirinya tidak ingin mengganggu beberapa orang yang berada di sana, karena kegaduhan yang akan dirinya lakukan ditempat ini.


Apalagi, dirinya juga tidak ingin sering berdebat dengan Zen didepan orang-orang yang menganggap dirinya dengan Zen merupakan sepasang suami istri yang sesungguhnya. Karena memang dirinya takut beberapa dari mereka akan curiga dengan hubungannya dengan Zen. Maka dari itu dirinya memutuskan untuk menahan diri saat ini.


“Lalu, bisakah aku melihat kondisi Bibi, Kel?” tanya Vero kemudian.


“Tentu saja. Tetapi karena ruang ICU hanya memperbolehkan hanya dua orang saja yang bisa masuk kedalam, lebih baik kamu masuk kedalam bersama Suamimu” balas Kelly.


Vero hanya mengiyakan saja perkataan sahabatnya itu, dan mulai masuk kedalam ruang ICU untuk melihat kondisi dari Ibu sahabatnya itu. Tentu Zen yang baru selesai memakan makanannya juga mengikuti dirinya, karena dirinya diajak oleh Vero untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


Saat masuk, memang banyak sekali pasien didalam ruangan tersebut yang sedang dirawat. Tetapi Vero saat ini hanya fokus untuk menuntun Zen menuju kearah seorang wanita yang terlihat sangat kurus, yang dimana hidupnya sepertinya hanya dibantu oleh peralatan medis yang menempel ditubuhnya saja.


Dengan wujud yang sangat kurus dan lemah itu, saat ini Vero sedang memperhatikan Ibu dari sahabatnya yang terbaring lemas ditempatnya itu. Zen yang sudah tiba ditempatnya, juga mulai melihat kondisi dari wanita tersebut. Namun anehnya, saat dirinya menatap wanita tersebut, Zen mulai mengerutkan keningnya saat ini.


“Tunggu... bukankah tadi kamu berkata bahwa Ibu dari Kelly menderita kanker bukan?” bisik Zen kepada Vero.


Tentu Vero hanya mengangguk mendengar perkataan Zen, karena memang begitulah identifikasi yang diberikan oleh seluruh dokter yang memeriksanya. Walaupun tidak diketahui penyakit apa yang dialami oleh Ibu dari Kelly, tetapi kondisinya bisa dikatakan seperti orang-orang yang mengidap penyakit tersebut.

__ADS_1


“Hmm... Ibunya bukan terkena kanker, tetapi penyakit yang lebih berbahaya dari itu”


__ADS_2