
Hari dengan cepat berlalu. Sudah tidak terasa Zen menjalani hari-harinya menjadi Sang Pencipta dengan baik. Bahkan dengan wataknya yang bisa dikatakan malas, entah mengapa dirinya malah bisa mencari solusi yang terbaik dalam menyesuaikan kehidupan beberapa dunia yang kacau.
Dibantu dengan beberapa malaikat dan malaikat maut yang tersebar diberbagai dunia, saat ini Zen memiliki Intel yang pasti untuk mengetahui keadaan beberapa dunia yang harus dirinya perhatikan. Memang tugas dari Zen bukan hanya memastikan keadaan beberapa dunia aman, melainkan sebagai hakim apakah dunia itu masih layak untuk dipertahankan keberadaannya.
Karena seperti yang diketahui, tidak jarang kekacauan akan menyebar dan hal itu yang ingin dicegah oleh Zen yang saat ini sudah duduk di kursi teratas dari semesta yang luas ini, dalam menjalani kesehariannya menjadi seorang Sang Pencipta yang baik dan bertanggung jawab kepada semua pihak.
"Hahaha... anak ayah sudah makan?" dan begitulah ucapan Zen yang saat ini bermain dengan anak-anaknya, setelah dirinya menyelesaikan pekerjaannya yang sangat amat merepotkan itu.
Walaupun entitas dirinya berubah, sifat Zen yang pemalas tentu tidak akan hilang dari dirinya karena memang itu merupakan sifat dasarnya. Maka dari itu, Zen bisa memikirkan sesuatu yang dapat membuatnya bisa bersantai dalam menjalankan pekerjaannya dalam mengawasi seluruh semesta ini.
Tentu salah satunya adalah menyuruh beberapa malaikat dan malaikat maut yang terkoneksi dengannya untuk melaporkan berbagai hal kepadanya. Apalagi beberapa malaikat dan malaikat maut di berbagai wilayah pada setiap dunia, tindakan mereka seperti para malaikat yang sampai saat ini masih melayani dirinya dan adik-adik sepupunya dengan baik.
Seperti yang diketahui Malaikat maut yang turun pada dunia yang sama dengan Zen, mereka akan berbaur dengan kehidupan manusia di dunia tempatnya berada saat ini. Sedangkan Malaikat terus bergerak dari balik bayang untuk mengawasi seluruh wilayah dari dunia ini, kecuali mereka memang pelayan dari para Heavenly Sins.
Selain itu, hampir di seluruh dunia yang ada di semesta ini, para malaikat dan malaikat maut dipastikan akan terus bergerak dibalik bayangan untuk mengawasi keadaan dunia. Maka dari itu, pergerakan mereka dalam mengorek informasi sangat cepat, karena tugas mereka adalah hanya untuk mengawasi kehidupan para mahluk hidup saja di setiap wilayah tempat mereka berada.
"Lalu, apakah kalian akan mengunjungi nenek dan Kakek kalian?" ucap Zen kembali, kepada anak-anaknya yang menggemaskan itu.
Memang setelah Zen membuka akses sebuah portal pada Istana Kerajaannya dan dunia dari tempat orang tuanya berada, saat ini keluarganya akan menyempatkan diri mereka untuk berkunjung ke sana. Bahkan hampir setiap Minggu mereka menghabiskan waktu untuk sekedar mengunjungi kedua orangtuanya yang berada di sana.
Maka dari itu, saat ini semua keluarga dari Zen seakan sudah bersiap-siap untuk berkunjung sekali lagi, karena memang kebetulan mereka sedang libur dan ingin menghabiskan waktu pada dunia yang benar-benar membuat mereka tenang dan nyaman untuk bisa berada disana, dan bisa melupakan sejenak kepenatan yang mereka alami selama beberapa hari ke belakangan ini.
"Apakah kamu juga akan ikut dengan kami, Zen?" Hingga Vero yang sudah bersiap-siap, saat ini mulai menanyakan apakah suaminya itu akan pergi bersama dengan mereka.
"Ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu. Jadi kalian bisa pergi terlebih dahulu dan aku akan menyusul" Balas Zen yang memang harus menyelesaikan permalasahan beberapa dunia terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami berangkat terlebih dahulu" Dan begitulah ucapan pamit dari Istrinya yang akan berangkat bersama-sama.
Tentu Zen mencium mereka satu persatu sebelum mereka berangkat. Apalagi dirinya juga tidak lupa mencium seluruh anak-anaknya yang menggemaskan termasuk Kileni, disaat mereka akan berangkat dan meninggalkan dirinya menuju kediaman orang tuanya. Dan begitulah bagaimana Zen saat ini mulai ditinggal oleh Para Istri dan anak-anaknya.
"Baiklah, kalau begitu mari bekerja dan menyelesaikan beberapa hal dengan cepat. Karena aku juga tidak sabar menghabiskan waktu dengan keluargaku" Ucap Zen yang saat ini dengan tiba-tiba saja langsung menghilang entah kemana.
Pada dunia yang sangat amat modern, saat ini bisa dilihat kehidupan pada dunia itu terlihat sangat amat makmur. Bahkan kemajuan teknologi dari dunia itu, membuat kehidupan yang terdapat didalamnya sangat amat maju dan saat ini seluruh pihak yang tinggal di dalamnya terlihat sangat amat bergantung dengan berbagai hal atas kemajuan teknologi yang ada di sana.
Dunia yang indah memang, karena walaupun dunia itu terlihat sangat amat maju dari berbagai segi, tetapi mereka juga tetap melestarikan lingkungan sekitar mereka dengan baik. Sehingga dunia ini tetap terlihat masihlah sehat dan tidak terpengaruh dengan berbagai hal yang ditakutkan dapat menyebabkan kehancuran karena majunya teknologi pada dunia tersebut.
"Tapi, sebuah kekacauan akan menghancurkan dunia yang indah ini dalam 15 tahun lagi" ucap Zen yang saat ini sudah mendarat pada sebuah dunia yang akan menjadi cikal bakal sebuah kekacauan.
Memang Zen saat ini sedang mengunjungi beberapa dunia yang mungkin akan hancur kedepannya. Apalagi pada dunia yang maju ini, keserakahan merupakan salah satu penyebab dari sebuah kekacauan dan hal ini akan terjadi beberapa tahun lagi pada dunia ini.
Maka dari itu, Zen saat ini mulai mengunjungi dunia ini untuk mencari tahu cara mencegahnya dan mungkin akan menghalangi kekacauan tersebut. Namun sayang, pastinya sosok seperti dirinya tidak boleh ikut campur secara langsung, makanya dirinya saat ini mengunjungi dunia ini untuk mencari tahu apa yang bisa dirinya lakukan untuk dapat mencegahnya.
Memang itulah bencana kekacauan yang akan terjadi di masa depan pada dunia ini, dan Zen saat ini memikirkan cara untuk bisa mencegahnya. Karena jika bencana itu sukses, bisa dipastikan dunia ini tidak lagi layak dan bisa dikatakan sudah hancur sepenuhnya karena bencana itu melenyapkan semua mahluk yang pantas tinggal pada dunia ini.
Zen bisa saja membiarkan dunia ini untuk kacau dan nantinya dirinya akan melenyapkan saja dunia yang hancur ini. Namun sebagai Sang Pencipta, Zen juga harus memikirkan seluruh mahluk hidup yang ada di dunia ini, yang mungkin akan sangat tersiksa dengan kekacauan yang terjadi itu.
Maka dari itu, dengan kebaikan hatinya yang merupakan entitas tertinggi di dunia ini, Zen akan memberikan kesempatan kepada dunia ini untuk bisa melawan kekacauan yang akan terjadi itu, sebelum nantinya dirinya akan datang dan menghakimi dunia ini dan menyatakan apakah dunia ini layak untuk dipertahankan atau tidak.
"ZEN!!!" Namun sedang asik dirinya berkeliling dan memikirkan rencana untuk membantu dunia ini pada pada sebuah area perumahan dari dunia yang dirinya kunjungi itu, saat ini Zen dikejutkan dengan suara wanita yang memanggil namanya.
Namun bukankah dirinya yang dipanggil oleh wanita itu, melainkan seorang pria yang memiliki nama yang sama dengannya dan saat ini terlihat mulai jatuh kebawah dari sebuah apartemen berlantai. Tentu kejadian itu membuat semua orang terkejut, sehingga sosok yang bernama Zen itu mulai jatuh dan terkapar bersimbah darah saat ini.
__ADS_1
"Hmm... sepertinya aku menemukan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk membantu dunia ini" Balas Zen yang saat ini melihat kejadian itu bersama kerumunan beberapa pihak yang juga berada di sana.
Semua tentu orang panik. Bahkan saat ini beberapa pihak berbondong-bondong ingin membantu pria yang baru jatuh dari atas gedung itu, dan beberapa orang lagi tentu memanggil ambulan. Tentu karena kemajuan teknologi di dunia itu, beberapa saat kemudian sebuah mobil ambulan yang bisa terbang dengan segera muncul dan akan menyelamatkan sosok yang terlihat akan tewas tersebut.
Beberapa saat kemudian, beberapa dokter akhirnya keluar dari ambulan terbang itu dan berniat membantu sang pasien. Namun belumlah dirinya akan mengambil tindakan, tiba-tiba saja seluruh keadaan wilayah itu tiba-tiba terhenti, dan membuat semua orang tidak bergerak karena ada sebuah penghentian waktu yang sedang terjadi ditempat itu.
Namun bisa dilihat ada satu pihak yang masih bisa bergerak dengan bebas pada dunia yang berhenti bergerak itu, dan saat ini sosok tersebut mulai mendekat kearah tubuh pria yang terlihat sangat kritis keadaannya. Hingga disaat Zen mulai berjongkok di samping tubuhnya, Zen saat ini mulai menjulurkan tangannya kearah kepala dari pria tersebut.
“Datanglah atas panggilan Sang Pencipta, pada jiwamu yang akan menghilang” ucap Zen pada tubuh yang dipenuhi dengan darah tersebut.
Atas panggilan jiwa yang seakan menjemput jiwa pada tubuh tersebut untuk keluar dari raganya, saat ini sebuah bentuk jiwa manusia mulai bangkit dan meninggalkan tubuh dari sosok yang sedang sekarat itu. Hingga disaat dirinya sudah terpisah jiwanya dengan tubuhnya, waktu yang terhenti pada area sekitar akhirnya mulai berjalan kembali.
"D-dimana aku? Bukankah aku baru saja jatuh dari ketinggian?" ucap Jiwa itu yang saat ini memperhatikan keadaan sekitarnya.
Namun disaat dirinya melihat keadaan sekelilingnya, dirinya baru sadar bahwa saat ini tubuhnya mulai diangkat pada sebuah tandu dan mulai dibawa menuju sebuah ambulan. Tentu jiwa itu kebingungan melihatnya, hingga dirinya menyadari bahwa tubuhnya terlihat transparan saat ini.
"A-Apa yang ter-terjadi. Apakah aku sudah mati?" ucapnya, hingga saat ini pandangan matanya mulai melihat seorang pria bersetelan hitam mulai menatapnya.
Aneh memang tingkah pria tersebut, karena semua orang yang berkumpul disana sedang melihat kejadian jatuhnya pria dari atas gedung tadi, seakan tidak menghiraukan keberadaan jiwa yang terlihat kebingungan itu. Hingga akhirnya dirinya menyadari bahwa mungkin pria bersetelan hitam itu merupakan malaikat maut yang menjemput keberadaannya.
"A-apakah aku sudah mati, Tuan?" tanya pria itu sopan, karena tentu saja jika dirinya benar-benar mati dan pria didepannya merupakan malaikat maut, dirinya harus bersikap sopan kepadanya.
Tentu pria itu banyak memiliki dosa dalam menjalani kehidupannya di muka bumi ini. Jadi jika kesopanannya dalam memperlakukan malaikat maut yang menjemput dirinya merupakan pertimbangan untuk mengurangi hukumannya, tentu membuat pria itu saat ini langsung bersikap sebaik mungkin untuk bisa meringankan hukumannya dosa yang dirinya terima nanti.
"Tenanglah, kamu belum mati. Aku hanya ingin berbincang denganmu"
__ADS_1
Dan begitulah ucapan Zen yang saat ini mulai membawa pria tersebut terbang bersamanya, dan saat ini tanpa disadari oleh semua pihak yang masih heboh dengan keadaan yang terjadi di sana, mereka berdua tiba-tiba saja mulai menghilang dari sana.
*TAMAT*