
Sebuah kastil yang berada didalam goa, saat ini dipenuhi dengan beberapa orang yang bersiap memulai perang dengan sebuah pihak. Dengan seluruh pasukan mereka yang sudah disiagakan dan bersiap, akhirnya tempat tersebut sudah disulap menjadi sebuah medan perang.
“Cih... mengapa para Dewa Sinto sialan itu berhasil menemukan lokasi kita?” gumam salah satu dari pemimpin dari pihak yang akan diserang itu, kepada adik-adiknya yang berada disebelahnya.
Pihak yang sedang bersiap untuk peperangan yang akan terjadi itu, merupakan pihak dari kelompok Vampire. Mereka saat ini sudah mempersiapkan berbagai hal, untuk menyambut musuh yang saat ini sudah mengetahui tempat persembunyian mereka.
Tentu saja tempat tersebut merupakan sebuah goa tempat markas utama kelompok mereka pada Negara ini berada. Yang dimana kastil yang sebelumnya megah didalam goa tersebut, sudah disulap menjadi sebuah benteng pertahanan untuk peperangan yang akan terjadi ditempat ini.
“Sepertinya karena pergerakan kita yang cukup masif belakangan ini, membuat keberadaan kita mulai diketahui oleh mereka, Kak” ucap salah satu dari tiga pemimpin dari tempat ini kepada saudaranya.
Beberapa saat yang lalu, mereka mendapatkan kabar bahwa pihak Dewa Sinto sudah mengetahui keberadaan tempat ini, dan membuat mereka mulai waspada akan kabar tersebut. Tentu ketiga pemimpin Vampire yang memimpin ras mereka ditempat ini langsung bertindak dengan cepat untuk menanggapinya.
Seluruh Ras Vampire yang mendiami Negara ini, sudah disuruh untuk datang ketempat ini, untuk menjadi pasukan yang akan dikerahkan untuk melawan musuh yang mungkin akan tiba sebentar lagi, yang bertujuan akan memusnahkan ras mereka ditempat ini.
“Lalu, apakah permasalahan ini harus kita laporkan kepada Tuan Draco, Kak?” ucap salah satu dari mereka kembali.
“Tidak perlu. Pemimpin kita tidak perlu mengetahui keadaan ditempat ini. Lagipula kita mempunyai ini” ucap pria yang paling tua diantara mereka dan menunjukan sebuah pedang kepada adik-adiknya.
Tentu melihat itu mereka bertiga mulai tersenyum, karena memang senjata tersebut merupakan sebuah artefak atau senjata yang bisa membunuh para Dewa Sinto. Dengan hal itu, tentu saja membuat mereka percaya diri untuk menghalau serangan yang akan datang kepada mereka nanti.
“Hahahaha... benar Kak. Setidaknya walaupun kita kalah, tetapi kita bisa membuat seorang Dewa akan tewas ditempat ini” ucap salah satu dari mereka kembali.
"Siapa yang akan kalah adikku? bukankah kita masih memiliki senjata rahasia yang lain?" ucap salah satu dari mereka kembali.
Tentu mendengar perkataan Kakaknya, mereka berdua mulai tersenyum karena senjata rahasia yang lain itu, merupakan sebuah senjata pamungkas yang mungkin akan mengubah alur perang yang akan terjadi ditempat ini.
"Hahahaha.... aku jadi tidak sabar melihat ekspresi para Dewa yang akan kita lawan nanti" ucap seseorang kembali, namun tatapannya saat ini sudah menunjukan tekad untuk menghabisi para musuh yang akan mereka lawan nanti.
Namun disela-sela perbincangan mereka, suara terompet yang menandakan sebuah serangan akan tiba mulia terdengar. Setelah mendengar peringatan tersebut, seluruh Vampire baik yang setengah Vampire sampai Vampire Lord mulai bersiap untuk menyambut serangan yang akan tiba itu.
Perlahan sebuah portal mulai terbuka, yang dimana munculah beberapa pasukan yang dipimpin oleh seorang wanita yang sangat cantik. Dengan menaiki sebuah benda yang terbuat dari cahaya, dirinya saat ini sudah memimpin pasukannya untuk bersiap melawan para Vampire yang berada ditempat ini.
“Atas perintahku, semua pasukan serang!” teriak wanita yang baru tiba itu, dan tanpa pikir panjang langsung menyuruh seluruh pasukannya untuk menyerang.
Dengan menodongkan Pedang bernama Kusanagi kearah pasukan yang berada dihadapannya, wanita yang anggun itu mulai ikut serta dengan pasukannya untuk terjun langsung melawan para Vampire yang akan mereka lawan.
__ADS_1
“Semua pasukan bersiap” teriak pemimpin Vampire yang tempatnya sedang diserang itu, kepada anak buahnya.
Mendengar perintah pemimpin mereka, seluruh ras Vampire yang berada ditempat ini, mulai bersiap untuk menghalau pasukan yang saat ini mulai mendatangi arah tempat mereka berada. Dengan menunjukan tekat dan kewaspadaan penuh, saat ini mereka sudah bersiap melawan para antek Dewa yang mulai menyerang mereka.
"Ingat rencana yang telah kita susun!" teriak salah satu pemimpin mereka kembali, dan mendapatkan anggukan percaya diri dari seluruh pasukan yang sudah bersiap itu.
Disisi lain, Dewi yang terlihat sangat anggun tersebut, saat ini juga sudah memimpin pasukannya dengan semangat yang membara, dengan tujuan memusnahkan seluruh Vampire yang mendiami tempat ini. Karena memang tindakan mereka pada dunia ini, sudah tidak bisa ditoleransi lagi.
Dan begitulah pertempuran yang akan terjadi itu dimulai, yang dimana goa yang sangat luas itu saat ini akan menjadi saksi dari peperangan yang akan terjadi antara Ras Vampire yang akan melawan antek Dewa, yang saat ini dipimpin oleh seorang Dewa Cahaya dari Dewa Shinto, Dewi Amaterasu.
“Ingat, tangkap para pemimpin tempat ini, agar kita bisa mengetahui dimana markas utama mereka” ucap Dewi Amaterasu kepada anak buahnya.
Amaterasu saat ini mulai menebaskan pedangnya dengan membabi buta, karena pedang yang dirinya gunakan bisa menyesuaikan panjang dan bisa dirinya kendalikan dengan mudah. Bahkan saat ini peperangan itu mulai terlihat berat sebelah setelah sang Dewi mulai ikut turun dalam peperangan tersebut.
Mayat para Vampire satu persatu mulai jatuh, namun anehnya pria yang memimpin mereka hanya tersenyum saja melihat hal tersebut. Bahkan dirinya saat ini masih bersikap tenang dengan keadaan pasukannya, yang bisa dikatakan mulai berkurang.
Tentu Dewi Amaterasu juga melihat mimik wajah dari pemimpin tempat yang dirinya serang. Maka dari itu, dirinya semakin meningkatkan kewaspadaannya, karena dirinya merasakan ada sesuatu yang akan datang dan mungkin akan membuat dirinya kerepotan.
“Cih... mengapa perasaanku tidak enak” gumam Amaterasu, yang mulai memperhatikan seluruh medan perang tempat dirinya berada saat ini.
Namun sebelum dirinya meneliti apa yang terjadi, darah dari mayat-mayat Vampire yang dirinya bunuh, saat ini mulai bercahaya dan membuat sang Dewi sangat terkejut melihat hal tersebut.
Namun naas, apa yang dirinya lakukan itu sia-sia, karena darah yang mulai bersinar itu mulai meledakan tubuh dari Vampire-Vampire yang sudah tewas itu dan membuat tempat itu saat ini dipenuhi dengan ledakan.
Suara ledakan mulai terdengar dan membuat tempat yang sebelumnya sedikit hancur, sekarang mulai lulu-lantah. Debu dan asap bekas ledakan masih terkumpul ditempat itu dan saat debu ditempat itu mulai berkurang, muncullah sesosok wanita cantik masih berdiri tegak ditempatnya.
“Sial, aku tidak sempat memperbesar pelindungku” ucap Amaterasu yang menatap sebagian besar pasukannya sudah tewas terkena ledakan dari Vampire yang dirinya lawan.
Tentu seluruh Vampire yang sudah tewas ditangan seluruh bawahannya dan dirinya, sudah meledak dan membunuh hampir seluruh pasukan yang dibawanya, karena ledakan itu memang tidak bisa diprediksi oleh dirinya dan menyebabkan keadaan perang ini mulai berbalik.
“Hahahaha... bagaimana perkembangan kami, wahai Dewa yang selalu ingin ikut campur” ucap sang pemimpin Vampire yang saat ini mulai tertawa bahagia melihat rencana mereka berhasil.
Memang tehnik darah peledak merupakan sebuah tehnik mematikan milik para Vampire. Tentu Amaterasu dan pasukannya mengetahui tehnik tersebut, namun mereka tidak menyangka bahwa pihak Vampire berhasil meningkatkannya.
Biasanya, para Vampire yang ingin menggunakan tehnik ini, harus mengorbankan dirinya seperti bunuh diri, untuk mengaktifkannya. Namun saat ini, ternyata mayat Vampire yang sudah mereka bunuh dapat menggunakan kemampuan tersebut, dan berhasil membunuh beberapa anak buahnya.
__ADS_1
“Apakah anda baik-baik saja Dewi Amaterasu?” tanya salah satu bawahan dari Amaterasu yang selamat, karena dirinya berhasil dilindungi oleh barier yang dibuat oleh Amaterasu.
“Tenanglah, aku masih baik-baik saja” balas sang Dewi kepada bawahannya yang mengkhawatirkan keadaannya itu.
Untung saja dirinya berhasil membuat sebuah barier untuk melindungi beberapa bawahannya. Namun sayangnya, dirinya hanya berhasil menyelamatkan sekitar 50 orang saja yang berada disekitarnya, dari ribuan pasukan yang dirinya bawa.
“Hahahaha... namaku akan semakin dikenal saat ini, karena aku pasti akan membunuhmu, wahai Dewi busuk” ucap pemimpin dari tempat ini yang sudah mulai mengeluarkan senjata yang sudah dirinya persiapkan sedari tadi.
Melihat senjata yang dikeluarkan oleh pemimpin Vampire tersebut, tentu saja membuat Amaterasu langsung terkejut. Karena dirinya tidak menyangka, senjata mematikan itu saat ini berada ditangan seorang Vampire.
“B-Bukankah itu Ame no Ohabari D-Dewi Amaterasu?” ucap bawahannya kembali, saat mengenali pedang yang dikeluarkan oleh musuhnya.
“Jadi itulah yang membuat mereka sangat percaya diri melawan pihak Dewa di tempat ini” ucap Amaterasu kemudian.
Tentu Amaterasu merasa bingung mengapa para kelompok Vampire yang keberadaannya sudah diketahui oleh pihaknya, tidak melarikan diri seperti apa yang dilakukan oleh mereka biasanya. Tetapi karena dirinya percaya diri dengan kemampuan dirinya dan pasukannya, Amaterasu tidak memikirkan permasalahan itu lebih lanjut.
Dan disinilah dirinya berada, yang dimana Amaterasu saat ini dihadapkan dengan sebuah senjata yang menjadi momok dari kaumnya beberapa ribu tahun yang lalu. Bahkan Amaterasu saat ini mulai bingung harus melakukan apa, karena keberadaan senjata itu saat ini sudah berada ditangan musuh.
Ame no Ohabari itulah nama senjata tersebut, yang merupakan pedang legenda dari Dewa Shinto, yang mempunyai kekuatan untuk melenyapkan seorang Dewa pada jamannya. Pedang dengan bilah ganda itu memang sudah menghilang beberapa ribu tahun yang lalu, namun Amaterasu tidak menyangka bahwa pedang itu bisa berada disini.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi. Cepat ungsikan Dewi Amaterasu” perintah salah satu bawahan Dewi Amaterasu kepada rekannya, setelah melihat keberadaan senjata mematikan tersebut.
Amaterasu juga terpaksa harus meninggalkan tempat ini, karena memang pedang yang sedang dipegang oleh musuhnya itu, bisa melenyapkan dirinya kapan saja. Namun naas, rencana mereka untuk kabur harus gagal, karena mereka sudah dikepung saat ini.
Sisa bawahan Dewi Amaterasu mulai menghalau para Vampire yang kembali menyerang mereka, dengan maksud untuk menghalangi mereka pergi dari tempat ini. Tentu Amaterasu juga membantu bawahannya untuk melawan mereka dan sebisa mungkin untuk mencari cara untuk mundur dari tempat ini.
Namun sedang asik menghalau serangan yang datang kearahnya, Amaterasu tidak menyadari bahwa pria yang memegang pedang mematikan itu mulai mendekat kearahnya. Salah satu bilah tajam dari pedang legenda itu, saat ini dengan mulus menebas paha dari Amaterasu dan membuatnya langsung tersungkur ditempat setelah mendapatkan serangan tersebut.
Seperti fungsinya untuk membunuh Dewa, pedang itu langsung menonaktifkan kemampuan Amaterasu untuk memulihkan dirinya menggunakan kekuatan Dewa miliknya. Dan saat ini Dewi cantik itu hanya bisa menatap musuhnya yang mulai mengeluarkan senyum penuh kemenangan kearahnya saja.
“Hahahahaha... sekarang anda mau kemana, Nona Amaterasu, sang Dewi Cahaya?” ucap seorang Vampire yang menebaskan pedang berbahaya itu tadi menuju kearah paha dari Amaterasu.
Dirinya mulai berjalan perlahan kearah Dewi cahaya itu yang mulai terduduk di tanah, yang dimana seluruh pasukannya yang tersisa saat ini mulai bersiap untuk melindunginya. Namun naas, sepertinya kematiannya sudah berada didepan mata.
Karena saat ini Vampire yang membawa pedang pusaka itu, sudah bersiap menebaskan kembali pedang itu sekali lagi dan ingin langsung melenyapkan sang Dewi Cahaya itu dari tempat ini.
__ADS_1
Namun sebelum dirinya melakukan hal tersebut, terdengar suara dua orang sedang bercakap tepat diarea peperangan itu terjadi, dan mulai mengganggu kegiatannya saat ini.
“Apakah kamu menyuruh Malaikat Maut yang lain menyerang tempat ini Bari?”