
Sebuah siluet pria mulai muncul dari balik kegelapan, yang saat ini mulai mendekat kearah seorang pria yang sedang menganiaya seorang wanita. Apalagi dirinya merasa sudah cukup puas menyaksikan sebuah drama yang sedang terjadi di sana.
Sebenarnya pria itu tidak ingin ikut campur dengan permasalahan yang terjadi ditempat tersebut. Namun saat dirinya merasakan seseorang yang memiliki darah dari ras yang sangat dibencinya, tentu membuatnya mulai bertindak saat itu juga untuk memusnahkan pihak tersebut.
“Siapa kamu? Berani-beraninya dirimu menghalangi kegiatanku?!” teriak salah satu dari kedua orang yang sedari tadi sedang melakukan sebuah drama, kepada seseorang pria yang mulai mendekati dirinya saat ini.
Namun bukan sebuah jawaban yang dirinya dapatkan saat ini. Melainkan sebuah genggaman tangan yang sudah menggapai lehernya dan langsung mencengkeramnya dengan erat. Tentu dirinya langsung terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi itu, karena saat ini memang nafas yang dirinya hirup tidak bisa menggapai paru-parunya lagi.
Apalagi saat ini dirinya sudah diangkat keatas oleh pria yang sedang menggenggam lehernya. Tentu dirinya sudah menggunakan berbagai cara untuk melepaskan genggaman dari pria tersebut, namun sayangnya apa yang dirinya lakukan itu tidak membuahkan hasil. Bahkan dirinya sudah menggunakan kekuatan miliknya, namun naas semua itu sia-sia.
“Kamu tidak perlu tahu siapa diriku, karena sebentar lagi kamu akan mengetahuinya” ucap pria yang mencengkram lehernya itu, dan langsung menggunakan aura yang dimilikinya, untuk meledakkan jantungnya dan membuat pria itu tewas seketika.
“Hm... akhirnya selesai” ucap pria itu sekali lagi, yang melepaskan cengkeramannya pada leher pria yang sudah menunjukan wujud aslinya tersebut, dan mulai menjatuhkan mayatnya kebawah tanah.
Memang setelah dirinya menjatuhkan mayat dari seorang ras yang sudah menunjukan wujud aslinya, yang merupakan seorang Vampire. Tentu pria itu harus memusnahkan mayatnya saat itu juga, menggunakan kekuatannya yang langsung membuat mayat itu sudah berubah menjadi abu.
Setelah melakukan semua hal yang sudah dirinya selesaikan itu, akhirnya tanpa pikir panjang pria itu mulai beranjak dari tempatnya dan berniat untuk kembali melanjutkan perjalananya yang akan kembali menuju kediamannya.
Namun wanita yang memang menjadi korban dari pria yang saat ini mayatnya sudah menjadi sebuah abu itu, saat ini mencoba menghentikan langkah pria yang menyelamatkan dirinya tadi, untuk sekedar meminta bantuan agar dirinya mau melindunginya
“Tunggu Tuan!” teriaknya yang mencoba menghentikan kepergian pria itu.
Wanita itu tidak memperdulikan dengan bekas lebam yang saat ini terdapat pada pipinya, dan terus berusaha mengejar dan memanggil pria tersebut agar dirinya menanggapinya. Namun karena memang pria tersebut malas meladeni wanita yang sedang memanggilnya itu, akhirnya dirinya memutuskan untuk menghiraukannya saja.
Tentu wanita itu tidak berputus asa untuk mencoba menghentikan langkah dari pria tersebut. Karena memang, menurutnya pria itu bisa melindunginya dari para orang-orang jahat, yang selama ini mengganggu kehidupannya bersama putrinya. Jadi dirinya akan menggunakan berbagai cara agar pria itu mau membantunya.
“Jika kamu tidak berhenti, aku akan menyebarkan perbuatan dirimu itu kepada semua orang. Apalagi kamu bukan seorang manusia bukan?!” teriak wanita itu kembali, yang mencoba menggunakan cara ancaman kepada pria yang tidak menyahuti panggilannya itu.
Mendengar perkataan wanita itu yang saat ini seakan sedang mengancamnya, tentu membuat pria yang sebelumnya sudah beranjak dari tempatnya, langsung mulai menghentikan langkahnya. Bukan cuma itu saja, saat ini dirinya langsung berbalik kearah wanita tersebut dan langsung beranjak dari tempatnya untuk mendekatinya.
Wanita itu akhirnya merasa senang, karena ancaman yang dirinya lontarkan itu terbukti membuahkan hasil. Jadi dirinya hanya harus memastikan bahwa pria itu mau menolongnya, karena memang jika dilihat pria itu cukup mampu untuk melakukannya.
__ADS_1
“Benar, aku tidak akan memberitahukan siapapun tentang perbuatanmu itu. Apalagi tentang kebenaran tentang jati dirimu yang sebenarnya” ucap wanita itu kembali.
Wanita itu memang mengetahui identitas dari orang-orang yang selama ini mengganggu kehidupannya, termasuk pria yang sudah berubah menjadi abu tersebut. Apalagi hal tersebutlah yang membuat dirinya melarikan diri, karena menurutnya dirinya tidak akan mampu untuk melawan mereka.
Apalagi bisa dipastikan, orang yang membuat orang yang mengejarnya menjadi abu, akan bisa membantunya untuk keluar dari situasi yang dirinya alami. Tentu dirinya ingin kebebasan yang dirinya inginkan bisa kembalikan. Maka dari itu dirinya membutuhkan bantuan dari pria yang sedang berjalan mendekat kearahnya saat ini.
“Jadi bisakah kam-” namun sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya, saat ini pria itu mulai meraih lehernya dan mulai mengangkatnya keatas.
“Kamu tahu, aku benci diancam” ucap pria yang merupakan Zen, yang saat ini cukup kesal saat ada orang yang sudah dirinya selamatkan, ingin memanfaatkan dirinya kembali.
Tentu wanita itu mulai terkejut dengan perlakuan yang diterimanya dari Zen. Karena memang dirinya tidak menyangka, bahwa saat ini pria itu sudah melakukan tindakan yang hampir sama, dengan tindakan yang dirinya lakukan kepada sosok Vampire yang sudah menjadi abu tadi.
Memang wanita itu saat ini dalam kondisi setengah mabuk, jadi perkataan yang dirinya lontarkan itu tidak dirinya pikirkan secara matang, dan malah membuat dirinya menyinggung seseorang yang seharusnya dirinya tidak singgung.
“Mengapa aku tidak membunuhmu saja, agar kamu tidak menyebarkan tentang identitasku?” ucap Zen kemudian yang semakin mengeratkan genggamannya saat ini.
Memang bukan inilah yang diharapkan oleh wanita itu. Apalagi niat awalnya adalah meminta tolong secara baik-baik kepada Zen untuk menolong dirinya dan putrinya. Namun karena pria itu tidak menanggapinya, akhirnya dirinya menggunakan sebuah ancaman.
“M-Maafkan aku Tuan, tolong a-ampuni diriku” ucap wanita itu yang mulai berontak untuk bisa lepas dari genggaman dari Zen.
Tentu Zen tidak serta merta mengabulkan keinginannya saat ini. Karena memang dirinya merasa kesal dengan perbuatan wanita yang berada di genggamannya itu. Apalagi dirinya sudah menghalangi perjalanannya yang akan kembali menuju kediamannya tadi.
“Lepaskan Ibuku!” namun sedang asik melihat wanita yang berada di genggamannya meronta, Zen dikejutkan dengan seorang anak kecil yang berusia sekitar lima tahun, saat ini mulai mendekat kearahnya.
“L-Lari Kileni.... Lari!” Perintah Ibunya, yang saat ini berusaha membuat orang yang paling dirinya cintai itu untuk pergi dari sana. Apalagi dirinya tidak mau putrinya itu akan mengalami nasib yang sedang dialami olehnya saat ini.
Tentu gadis yang bernama Kileni itu tidak menghiraukan perintah yang diberikan oleh Ibunya, dan mulai meraih beberapa kerikil yang berada disekitarnya dan mulai melemparkannya kearah Zen. Tentu saja hal itu tidak membuat Zen terpengaruh sedikitpun, karena memang kekuatan lemparan gadis itu sangatlah lemah.
“Sudah kubilang lepaskan Ibuku, atau aku akan melemparkan dirimu dengan batu ini” ucap gadis kecil itu kembali, yang saat ini entah dari mana mendapatkan sebuah pecahan batu bata, yang dirinya angkat menggunakan kedua tangannya dengan bersusah payah.
“La-Larilah Putriku.... j-jangan pedulikan Ibumu” ucap wanita pada genggaman dari Zen kepada putrinya, yang mulai panik melihat tindakannya itu. Apalagi dirinya takut bahwa perbuatan putrinya itu, akan membuat orang yang sedang menggenggam lehernya itu mulai emosi.
__ADS_1
Namun berbeda dengan perkiraan dari wanita tersebut, Zen sendiri saat ini malah menikmati interaksi yang dilakukan oleh kedua orang Ibu dan Anak tersebut. Karena memang mereka berdua saat ini mencoba saling membela orang yang paling mereka cintai satu sama lain.
Apalagi putri dari wanita yang saat ini berada pada genggaman Zen, mulai melemparkan pecahan batu bata yang cukup besar bagi dirinya itu, tepat kearah Zen. Namun sayangnya, karena memang ukurannya cukup besar baginya, lemparan yang dirinya lakukan itu meleset dan tidak mengenai sasaran yang ingin dirinya kenai.
“Hehh... kamu ingin menyelamatkan Ibumu, tetapi melemparkan batu sebesar itu saja kamu tidak mampu?” ucap Zen kemudian, yang mencoba memanas-manasi gadis kecil tersebut.
“Jangan remehkan aku!” teriak gadis kecil itu, yang mulai mendekat kearah Zen dan saat ini mulai menggunakan kepalan tangannya yang mungil untuk memukul dirinya. Namun karena memang tinggi badannya terpaut jauh dari Zen, akhirnya pukulannya itu hanya mampu mendarat pada bagian perut dari Zen saja.
“A-Apa yang kamu lakukan Kileni, cepat lari!” teriak Ibunya, yang kembali panik atas perilaku dari putrinya tersebut.
Tentu melihat keteguhan dari seorang gadis kecil yang mencoba menyelamatkan Ibu kandungnya, Zen akhirnya mulai melepaskan genggamannya pada leher dari wanita yang saat ini berada di genggamannya. Hal tersebut tentu saja membuat wanita itu langsung terjatuh kebawah dan mulai tersungkur di tanah akibat perbuatan Zen itu.
Zen langsung mundur beberapa langkah, dan mencoba menjauh dari wanita yang sudah dirinya lepaskan itu. Apalagi setelah melihat Ibunya sudah terbebas, gadis kecil bernama Kileni itu mulai menghentikan tindakannya yang memukul Zen dan mulai mendekat kearah Ibunya.
Gadis kecil itu dengan gagah beraninya, saat ini langsung berdiri didepan Ibunya dan langsung membuat gesture seperti sedang melindungi orang yang paling dirinya cintai itu, untuk mencoba melindunginya dari Zen yang masih menatapnya saat ini.
“Uhuk... Uhuk....” Dan begitulah suara batuk yang dikeluarkan dari seorang wanita, yang sedari tadi lehernya digenggam oleh Zen dan saat ini sudah dilepaskan olehnya
Tetapi dirinya belum merasa lega saat ini. Apalagi dirinya langsung meraih tubuh putrinya dan mendorongnya tepat kearah bagian belakang tubuhnya, untuk melindungi putrinya itu dari pria yang tadi sudah melepaskan genggaman lehernya.
"M-Maafkan kami Tuan. Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang akan menyinggung dirimu lagi" ucap wanita itu, seraya memohon kepada Zen untuk memaafkan perbuatannya tadi.
“Hahh.. Berterima kasihlah kepada Putrimu. Karena tekad dirinyalah yang membuatmu masih hidup saat ini” ucap Zen kemudian, yang mulai bersiap untuk meninggalkan sepasang Ibu dan anak itu di sana.
Mendengar perkataan Zen, tentu membuat wanita itu mulai bernafas lega saat ini. Apalagi sepetinya pria itu benar-benar melepaskan dirinya saat ini. Tentu wanita itu mulai berterima kasih kepada Zen, dan kembali berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
"Ya, baiklah. Dan untukmu gadis kecil, sampai jumpa lagi" ucap Zen kemudian, yang mulai beranjak dari tempatnya untuk kembali menuju kediamannya.
Setelah dirinya berkata seperti itu, Siluet dari Zen perlahan mulai menghilang dari pandangan mereka berdua. Tentu wanita tersebut mulai merasa lega, dan saat ini langsung meraih tubuh putrinya dan memeluknya dengan erat. Apalagi saat ini sepertinya wanita itu membutuhkan sebuah kekuatan, setelah semua kekuatannya sudah terkuras habis atas teror yang diterima olehnya tadi.
“Maafkan Ibu karena membawamu pada sebuah permasalahan oke...”
__ADS_1