
Seorang wanita saat ini sudah berada disebuah tempat, dimana didepannya saat ini terdapat berbagai layar yang memunculkan beberapa video yang diputar dan diambil dari beberapa kamera pengawas yang berada di pusat perbelanjaan ini.
“Kenapa kamera pengawas pada basemen bisa rusak kemarin?” tanya Santi yang melihat sebuah layar berwarna hitam karena memang gambar yang seharusnya muncul pada layar tersebut tidak ada.
“Kami juga tidak tahu Kapten Santi, tetapi entah kenapa kamera pengawas kami rusak pada saat kejadian tersebut” balas seorang pria yang menggunakan pakaian satpamnya.
“Tapi kenapa kamera itu berfungsi saat semua kejadian pembantaian pada basemen ditempat ini sudah selesai?” tanya Santi kemudian yang mulai mencurigai keikutsertaan beberapa satpam yang berada di sana atas sebuah kasus yang sedang dia selidiki saat ini.
“Kami juga tidak tahu Kapten Santi” balas Satpam itu sekali lagi.
Tadi pagi, Santi dikejutkan dengan kabar tentang ditemukannya beberapa anggota tubuh dari beberapa orang yang tercecer diberbagai tempat, yang ditemukan disebuah basemen pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar dikota Malet.
Tentu Santi langsung menuju lokasi kejadian untuk memeriksa kebenaran kabar yang didengarnya, dan betapa terkejutnya dirinya menemukan pembantaian yang sangat kejam yang terjadi pada tempat tersebut.
Walaupun dirinya bukan anggota kepolisian yang ditugaskan untuk menangani kasus tersebut, tetapi firasatnya mengatakan bahwa kasus yang terjadi pada pusat perbelanjaan tempat dirinya berada saat ini berhubungan dengan semua kasus yang sedang dia selidiki.
“Ya... aku yakin pasti pelaku yang melakukan ini semua adalah orang yang sama dengan kasus yang sedang aku selidiki” gumam Santi.
Tanpa bukti, tanpa jejak, dan tanpa petunjuk sedikitpun, membuat kasus ini sangat mirip dengan semua kasus yang sedang diselidiki oleh Santi. Namun saat ini dia masih bingung, karena seperti kasus-kasus yang sedang dia selidiki, kasus ini juga menuntunnya menuju jalan buntu.
“Tunggu...” gumam Santi setelah penglihatannya tidak sengaja melihat sebuah layar yang menunjukan beberapa orang sedang berjalan berkeliling disebuah area dari pusat perbelanjaan ini dan dirinya mengenal salah satu dari mereka.
“Mundurkan video ini” gumam Santi sambil menunjukan sebuah layar kepada satpam yang berada di sana.
“Apakah kamu menemukan sesuatu Kapten?” tanya rekan dari Santi yang setia mendampingi Santi kemanapun dirinya pergi namun Santi tidak menjawabnya dan masih fokus dengan layar yang sedang dia lihat saat ini.
Setelah video itu dimundurkan, Santi akhirnya dengan jelas melihat seorang yang dikenalnya pada layar yang sedang dia lihat itu. Pada layar yang dilihatnya, bisa dilihat seorang pria saat ini sedang berjalan bersama seorang wanita, yang dimana pria itu sedang membawa sebuah boneka.
__ADS_1
“Bisakah kamu mengikuti orang ini, dan melihat kegiatan apa yang dilakukan pria ini selama berkunjung ditempat ini” kata Santi sambil menunjuk dengan jelas siapa yang dia maksud.
Rekannya tentu saja mulai melihat siapa yang sedang ditunjuk oleh Santi, dan dirinya akhirnya memahami mengapa Kaptennya itu menyuruh satpam didepannya untuk mengawasi pria itu lebih detail, karena pria itu merupakan orang yang paling dicurigai oleh Santi.
“Hm... pria ini sempat menuju ke Bioskop, lalu menuju area permainan dan maka-” namun sebelum satpam itu menyelesaikan perkataannya, Santi langsung bergegas keluar dari sana dan mulai menuju sebuah tempat.
Tentu saja rekannya itu langsung mengikutinya dan saat ini mereka sudah menaiki eskalator untuk menuju ke area bioskop dan area permainan untuk menyelidiki kasus ini lebih detail. Setelah mendatangi area bioskop dan tidak mendapatkan informasi yang dirinya inginkan, Santi langsung bergegas menuju area permainan.
“Tentu aku mengetahuinya... pria ini kemarin melakukan taruhan dengan seseorang ditempat ini dan menjadi pusat perhatian dari beberapa pengunjung kemarin.” Balas seorang staf dari tempat tersebut.
Memang operasional dari pusat perbelanjaan ini tetap berjalan seperti semula, walaupun berita tentang pembantaian yang berada di Basemen dari pusat perbelanjaan ini sudah tersebar luas. Pihak pusat perbelanjaan memang tidak ingin merugi dengan menutup seluruh pusat perbelanjaan ini, jadi mereka terpaksa untuk membukanya.
Jadi, bisa terlihat beberapa pegawai masih bekerja seperti biasa walaupun bisa dipastikan pengunjung tempat ini sudah turun secara drastis akibat kasus yang terjadi ditempat ini.
“Bisakah anda menceritakan secara detail tentang apa yang terjadi kemarin?” tanya Santi kemudian.
Akhirnya staf wanita itu mulai menceritakan tentang permasalahan taruhan yang dilakukan oleh Zen kemarin, dan akhirnya Santi menemukan fakta bahwa Zen melakukan taruhan dengan salah satu korban yang tewas dalam pembantaian yang terjadi pada Basemen dari pusat perbelanjaan ini.
.
.
Beberapa hari kemudian.
Zen saat ini sudah menggunakan pakaian yang rapi untuk pergi menuju sebuah tempat. Namun bukan pergi menuju tempat kerja seperti kebiasannya setiap hari, tetapi kali ini dirinya akan pergi menuju kantor polisi.
Dua hari yang lalu, Zen mendapatkan surat pemanggilan saksi dari pihak kepolisian, dan tentu saja karena Zen ingin berbaur dengan manusia, maka dari itu dirinya harus menjadi warga negara yang baik dan memenuhi panggilan tersebut.
__ADS_1
“Apakah anda yakin tidak ingin ditemani Tuan?” tanya Bari yang saat ini sudah berada dikediaman dari Zen.
“Tidak perlu. Aku ingin mencoba sendiri melawan seorang yang mempunyai kepekaan tinggi” balas Zen sambil tersenyum.
Bari hanya mengangguk saja dengan perkataan tuannya dan akhirnya Zen yang sudah bersiap mulai keluar dari kediamannya menuju kearah tempat tujuannya yaitu kantor kepolisian. Seperti biasa Zen akan jalan kaki menuju ke sana karena memang dia lebih nyaman seperti itu.
Selang beberapa saat kemudian, akhirnya dirinya tiba di sana. Setelah melaporkan kehadirannya, akhirnya Zen dituntun menuju kesebuah ruangan dan disuruh untuk menunggu.
“Selamat pagi dan terima kasih telah meluangkan waktu anda hari ini Tuan Zen” kata seorang wanita yang mulai memasuki ruangan tempat Zen berada dan membawa banyak sekali berkas ditangannya.
“Sama-sama” balas Zen sambil memperhatikan wanita itu yang menaruh semua berkas yang dipegangnya di atas meja didepan Zen dan dirinya mulai duduk diseberangnya.
“Baiklah, bagaimana kabar anda hari ini Tuan Zen” tanya wanita itu yang merupakan Santi dan sedang memulai percakapan mereka dengan basa-basi terlebih dahulu.
Tentu saja Zen menjawab sapaan Santi dengan santai, dan mereka mulai berbincang ringan sebentar sebelum akhirnya Santi memulai tahap penggalian informasi dari Zen.
“Apakah anda mengenal pria ini Tuan Zen?” tanya Santi sambil menunjukan selembar foto kepada Zen.
Zen mulai memperhatikan sebuah potret pria yang ditunjukan padanya. Tentu Zen mengenal pria itu karena dirinyalah yang membunuhnya saat hendak menguji coba seluruh kekuatan yang didapatkannya dari Angel.
“Ya.. pria brengsek ini mencoba menjebak wanita yang bersamaku beberapa hari yang lalu” balas Zen.
“Lalu bagaimana dengan orang-orang ini” kata Santi kemudian yang kembali menunjukan berbagai foto kepada Zen.
Zen mulai memperhatikan kembali foto-foto tersebut dan memperhatikannya satu persatu. Namun anehnya Zen benar-benar tidak mengenali mereka, walaupun sebenarnya Zen merupakan pria yang membunuh orang-orang yang ditunjukan potretnya oleh Santi kepadanya saat ini.
“Aku tidak mengenal mereka” balas Zen jujur.
__ADS_1
Tentu saja Zen tidak mengenal mereka, karena memang Zen tidak menginginkan untuk mengenal mereka. Zen memang melakukan pembantaian dipusat perbelanjaan terbesar di kota Malet ini, namun dirinya tidak memperdulikan siapa yang dia bantai, kecuali pria yang mengumpulkan semua preman yang disewanya untuk menyerang Zen.
“Benarkah?”