
Santi cukup terkejut dengan sebuah perkataan yang terlontar dari pria yang sudah menusuk dirinya menggunakan sebuah pisau. Dirinya bahkan tidak memperdulikan kondisinya saat ini dan hanya berusaha mencerna perkataan yang baru dirinya dengar itu.
Sebuah fakta yang selama ini dirinya cari kebenarannya, saat ini bisa dirinya dapatkan dengan sebuah situasi yang tidak terduga. Bahkan dirinya bingung saat ini, mengapa dirinya mendapatkan fakta tersebut setelah dia mengalami berbagai hal yang sangat menyakitkan untuk bisa mendapatkannya.
“J-Jadi benar kamu yang membunuh Faris?” ucap Santi kemudian yang pikirannya langsung kosong, mendengar perkataan pria yang baru saja menusuknya itu.
“Tentu saja aku yang melakukannya. Karena aku memang merasa kesal dengan dirinya, karena berhasil merebut hatimu itu” ucap Gio yang mencabut pisau yang menusuk tubuh dari Santi, dan mulai menjilat darah yang menempel pada pisau yang dirinya gunakan itu.
Tentu hal itu membuat darah dari Santi terus keluar dari dalam tubuhnya. Apalagi pemikiran Santi saat ini bisa dikatakan sangat kalut, sehingga dirinya tidak menghentikan pendarahan yang sedang diterimanya. Dengan perasaan emosi dan sedih, Santi akhirnya terus melemah karena darah yang dirinya keluarkan semakin banyak.
“Kalau kamu mau selamat, cepat beritahu diriku siapa sebenarnya Zen Gwillyn” ucap Gio yang saat ini sudah menempelkan ujung pisaunya tepat ditengah dada dari Santi.
Namun karena Santi saat ini masih terbawa dengan kenyataan yang dirinya dengar tadi, saat ini pikirannya mulai kosong dan tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi dengan darah yang terus keluar dari tubuhnya, membuatnya saat ini seperti seorang yang sudah pasrah menerima keadaannya.
“Hey gadis bodoh, apakah kamu ingin melihat orang ini mati?” ucap Gio kemudian yang menatap Angel, yang bisa terlihat jelas raut wajah ketakutan tergambar di wajahnya.
Tentu Santi yang mendengar bahwa saat ini wanita yang bersamanya menjadi sasaran selanjutnya, akhirnya mulai melakukan sesuatu, karena memang dirinya tidak mau ada lagi seseorang yang harus mati karena ulah yang dirinya lakukan.
Santi yang badannya mulai lemas, langsung saja menatap Angel dan menggelengkan kepalanya, agar membuat Angel tidak menuruti keinginan pria yang sedang mengancamnya. Namun Angel mulai ragu saat ini, karena dirinya juga sebenarnya tidak ingin melihat Santi mati.
Namun karena melihat ketidak pastian dari kedua wanita itu, Gio akhirnya memindahkan ujung pisau yang sebelumnya berada di dada dari Santi, menuju dada dari Angel dan bersiap menusuknya saat itu juga.
“Kalau begitu Santi, apakah kamu mau melihat gadis ini mati?” tanya Gio kemudian.
Dengan perlahan ujung pisau yang berada di dada dari Angel mulai melubangi pakaian yang dikenakannya, dan sudah melukai apa yang ada dibaliknya. Angel tentu saja semakin ketakutan, apalagi Santi yang mulai panik melihat hal tersebut.
“K-Kak Zen... Tolong aku” Gumam Angel yang langsung menutup matanya karena ketakutan, dan entah mengapa dirinya malah mengingat orang yang sangat dirinya cintai itu, bahkan malah menyebutkan namanya.
Tetapi setelah dirinya bergumam seperti itu, suara tembakan mulai terdengar dan mengenai tepat pada tangan dari Gio yang memegang pisau dan hendak menusuk dada Angel lebih dalam. Tentu peluru yang tepat sasaran itu langsung membuat pegangan pisau pada tangan Gio langsung terlepas, dan menghentikan tindakan Gio saat itu juga.
__ADS_1
“Siapa di sana?!” teriak Gio yang memegangi tangannya yang terkena serangan peluru tersebut dan terus mengeluarkan darah.
Namun perlahan tapi pasti, Gio mencoba menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan tangannya saat ini, sambil dirinya terus mencari keberadaan orang yang menembaknya tadi. Angel dan Santi tentu tidak melihat proses penyembuhan yang dilakukan Gio.
Karena Santi saat ini tubuhnya semakin melemah, dan Angel yang masih menutup matanya karena ketakutan. Namun beberapa saat kemudian, suara tembakan mulai kembali terdengar dan peluru yang melesat setelah suara tembakan yang terdengar itu, mulai mengenai tubuh dari Gio.
“Arghh... bajingan. Siapa yang melakukan semua ini?!” teriak Gio yang mencoba mencari tempat perlindungan sementara, karena dirinya mendapatkan hujanan peluru yang tidak ada habisnya menuju kearahnya.
Melihat mangsanya sudah menghilang dari pandangan dan bersembunyi, sang penembak mulai menghentikan tembakannya. Dirinya tentu langsung mendekat kearah dua orang yang sedang diculik itu dan hendak menyelamatkan mereka.
Angel juga mulai membuka matanya setelah suara tembakan itu terhenti. Namun dirinya dikejutkan dengan seseorang yang sangat dikenalnya saat ini sedang berada ditempat dirinya berada, dan sedang memegang sebuah senjata api pada tangannya.
“A-Apa yang kamu lakukan disini Amel?” tanya Angel yang terkejut melihat keberadaan teman satu kamar pada asrama yang ditinggalinya, bisa berada ditempat ini. Apalagi saat ini temannya itu seakan sedang mencoba menyelamatkannya.
“Cepat selamatkan temanmu” namun wanita yang dipanggil Amel itu tidak menghiraukan pertanyaan dari Angel, dan mulai mengeluarkan pisau lalu memotong ikatan dari Angel dan Santi untuk melepaskan mereka berdua.
Tentu melihat kondisi Santi yang memprihatinkan, Angel hanya menuruti perkataan teman sekamarnya itu dan membawa Santi keluar dari ruangan itu bersamanya. Amel juga terus menjaga keberadaan mereka, hinga mereka berdua benar-benar sudah keluar dari tempat tersebut dengan aman.
Melihat kedua orang tersebut sudah beranjak dan menghilang dari pandangannya, barulah Amel menunjukan jati dirinya yang sebenarnya, dengan membuka sebuah portal kabut berwarna hitam tepat dimana dirinya berada saat ini.
“Mengapa kamu sangat lama membuka portal kabutmu Amelia?” tanya seorang pria yang keluar dari dalam portal yang dibuka oleh Amel, karena memang dirinya sudah menunggu lama agar bawahannya itu membukakan sebuah portal untuknya.
“Maafkan saya Tuan Zen. Tetapi karena keadaan sangat mendesak tadi, saya lebih memilih menyelamatkan nyonya Angel terlebih dahulu” balas Amel.
“Hahh... baiklah. Lalu dimana kecoa itu?” kata Zen kemudian.
Disisi lain, tejadi sesuatu yang aneh dari tubuh milik Gio, karena tubuhnya tidak bisa beregenerasi seperti semestinya. Cukup aneh memang, namun sebelum dirinya memikirkan mengapa bisa terjadi seperti itu, sebuah genggaman tangan langsung menggenggam lehernya.
“Jadi ini kecoanya?” ucap Zen kemudian, setelah menemukan sosok yang menjadi dalang permasalahan yang dialami oleh Angel dan Santi tadi.
__ADS_1
“Benar Tuan. Bahkan dirinya menanyakan tentang informasi Tuan kepada kedua wanita yang dirinya culik tadi” balas Amel membenarkan perkataan Tuannya.
“Benarkah? Kalau begitu apa yang kamu ingin tahu tentang diriku?” ucap Zen kemudian, sambil menunjukan senyum yang seolah-olah ramah kepada pria yang lehernya sedang dia genggam semakin erat itu.
Gio disisi lain sangat terkejut dengan kejadian yang dimana dirinya dicekik dengan sangat kuat, oleh pria yang ditugaskan oleh atasannya untuk mencari tahu identitasnya. Karena memang selama ini, beberapa Vampire yang mencoba memata-matai Zen langsung tewas saat melakukan tugas mereka.
Tentu dirinya tidak menyangka pria itu bisa berada ditempat ini, apalagi saat ini dirinya sudah menggenggam lehernya dan bisa membunuh dirinya kapan saja jika dirinya mau. Bahkan saat ini pasokan oksigen pada paru-parunya bisa dikatakan mulai menipis akibat perbuatan Zen itu.
“Hey... dimana mulutmu!” teriak Zen yang mulai kesal, karena dirinya tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan.
“Maaf Tuan, tetapi karena anda saat ini sedang menggenggam lehernya, jadi dirinya mungkin tidak bisa berbicara dan menjawab perkataan anda” balas Amel kemudian melihat tuannya sedikit emosi, karena pertanyaannya tidak kunjung dijawab.
“Cih... kalau begitu matilah” balas Zen yang langsung menusuk bagian dada dari pria yang berada di genggamannya, dan langsung menghancurkan jantungnya saat itu juga.
Melihat bahwa orang yang membuatnya kesal sudah tewas, akhirnya Zen melepaskan genggamannya dan membuat tubuh Vampire tak bernyawa itu mulai jatuh kelantai, yang dimana saat ini wujudnya sudah berubah menjadi wujud Vampire miliknya.
“Hahh... sebenarnya aku akan memusnahkan mereka semua saat semua urusanku di Bali selesai. Tetapi sepertinya mereka sudah bergerak seperti kecoa” kata Zen.
Tentu Zen sudah mengetahui markas para Vampire yang membuatnya kesal, dan hendak memusnahkan mereka saat itu juga. Namun dirinya menunda perbuatannya itu, karena dirinya sedang disibukan dengan urusannya di pulai Bali.
“Baiklah, kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya diriku, akan aku tunjukan. Dengan kekuatan kematian sendiri, aku penguasa neraka memerintahkan dirimu untuk bangkit dan meninggalkan semua yang dirimu anggap nyata dan merasa terhormat dibangkitkan oleh sang kematian” ucap Zen, yang mulai membangkitkan jiwa dari Vampire yang sudah tergeletak tak bernyawa itu.
Perlahan jiwa dari Vampire yang sudah tewas ditangan Zen mulai bangkit. Namun saat jiwanya sudah membentuk sebuah jiwa utuh, dirinya langsung terkejut karena saat ini dirinya sedang merasakan jiwanya akan dijemput dan akan diantarkan menuju akhirat.
“Sekarang, apakah kamu sudah tahu siapa diriku?” tanya Zen sambil tersenyum kearah Vampire yang sudah sepenuhnya berubah menjadi sebuah jiwa, dan sedang menatapnya ketakutan.
Namun bukannya menjawab, jiwa itu langsung berlutut dibawah kaki dari Zen. Hal itu dirinya lakukan karena dirinya merasa sangat menyesal, melakukan sebuah hal yang sepatutnya tidak dirinya lakukan.
“M-Maafkan a-aku Tuan”
__ADS_1