
Darah mulai keluar dari mulut Zen saat ini, setelah sebuah serangan mendadak yang membuat tubuhnya tertusuk tepat pada bagian dadanya. Tentu Zen tidak menyangka serangan mendadak yang dirinya terima, karena dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya bisa lengah dengan kejadian yang terjadi.
Bisa dikatakan sosok hitam yang melawannya itu seakan mampu menyembunyikan kekuatannya sangat amat mahir, sehingga semua pihak tidak bisa merasakan bahwa dirinya masih memiliki serangan Pamungkas untuk dapat membunuh Zen, bahkan saat ini dirinya seakan ingin mengambil alih tubuh dari Zen yang sangat amat kuat tersebut.
"Hahahaha... tubuhmu sekarang adalah milikku" balas sosok itu yang dengan cepat mengeluarkan aura hitamnya untuk membunuh sekaligus mengambil alih sosok Zen yang terlihat sudah tidak berdaya.
Disisi lain, Zen juga mulai kehilangan kesadarannya saat ini. Aneh memang, karena seharusnya dirinya bisa menghadapi apa yang sedang dirinya alami ini dengan mudah. Namun naas, dirinya seakan tidak berdaya menghadapi itu semua. Bahkan tubuhnya seakan menerima semua hal yang saya ini dirinya terima dari musuhnya tersebut.
"Kakak!" hingga begitulah suara teriakan terkahir, setelah kesadaran Zen mulai hilang sepenuhnya.
Gelap, begitulah apa yang dilihat oleh Zen saat ini. Tidak ada satu hal pun yang masuk dalam penglihatannya kecuali hanya sebuah kegelapan. Bingung, itulah yang saat ini dirasakan oleh Zen, hingga dirinya tidak tahu harus melakukan apa, karena dirinya berada pada tempat yang sangat amat gelap dan mencekam bagi dirinya.
"Cih... Keluarkan Ak-" namun belumlah dirinya meneriaki nasibnya yang seakan terkurung ini, tiba-tiba saja pandangannya mulai berubah sepenuhnya.
Hamparan rumput yang berbunga saat ini mulai memasuki pandangan Zen. Melihatnya tentu membuat Zen mengerutkan keningnya, karena saat ini dirinya tidak tahu sedang berada dimana. Pandangannya saat ini hanya memperhatikan sebuah hamparan yang luas, hingga dirinya berbalik dan mendapatkan sebuah pemandangan yang berbeda.
Pada bagian belakang tubuhnya, bisa dikatakan dirinya bisa melihat akhir dari hamparan tersebut, dan diakhiri dengan pemandangan laut yang sangat amat luas, dan dipisahkan dengan sebuah jurang yang tidak terlalu dalam, tepat dimana Zen saat ini sedang berdiri ditempatnya saat ini.
"Pulau?" gumam Zen, yang memperhatikan dimana keberadaannya saat ini.
__ADS_1
Pada kejauhan Zen tidak menemukan ada pulau yang lain pada hamparan laut yang dirinya pandang saat ini. Apalagi sepertinya pada hamparan laut yang seperti samudera ini hanya terdapat pulau yang saat ini dirinya pijak saja, dan tidak menemukan hal lain dari apa yang sedang dirinya saksikan saat ini.
Namun tentu saja dirinya ingin memeriksa kembali keberadaannya dan mulai mengeluarkan kemampuannya untuk memperhatikan keadaan sekitar. Tetapi yang lebih membuat dirinya terkejut, pada area ini dirinya tidak menemukan apapun selain pulau yang saat ini sedang dirinya pihak.
Tapi Zen langsung menyebarkan kesadarannya menuju seluruh wilayah ini, hingga dirinya dikejutkan dengan apa yang dirinya temukan. Karena saat ini dirinya seperti berada pada sebuah dunia yang dimana pulau ini hanya satu-satunya daratan pada dunia ini dan membuat Zen tentu saja langsung terkejut dengan keadaannya.
"Apakah aku berada di dunia yang berbeda? Ataukan ini dunia setelah kematian?" gumam Zen yang kebingungan dengan dimana dirinya berada saat ini. Tapi bisa dipastikan saat ini dirinya berada pada sebuah dunia yang berbeda.
Bisa dikatakan Zen saat ini sudah berpindah semesta. Namun, dirinya paham betul bahwa saat ini tubuhnya sedang sekarat, dan tidak mungkin dirinya melakukan perjalanan semesta. Apalagi semenjak dirinya berada di bumi, Zen dan adiknya sama sekali tidak bisa menggunakan kekuatan mereka untuk dapat berpindah menuju semesta lain.
Maka dari itu, Zen mulai kebingungan bagaimana cara dirinya berpindah tempat pada dunia yang berbeda, karena setahu dirinya bahwa kemampuan itu sudah tidak bisa dirinya lakukan kembali, padahal dahulu Zen bisa dengan bebas menjelajahi seluruh semesta ciptaan Ayahnya, dan mengunjungi berbagai dunia dengan bebas.
Saat menyebarkan kesadarannya, Zen menemukan sebuah gubuk yang terletak dipusat pulau tempat dimana dirinya berada saat ini. Memang ukuran Pulau ini cukup luas, namun tetap saja ukurannya sangat kecil sebagai sebuah wilayah satu-satunya dari dunia yang sangat amat besar ini. Hingga akhirnya Zen mulai mengambil langkahnya untuk menelusuri tempat tersebut.
"Hmmm... sepertinya pulau ini mempunyai penyanggah untuk pemilik kekuatan di tempat ini" balas Zen yang memang sama sekali tidak bisa menggunakan beberapa kekuatannya ditempat ini.
Zen bisa saja terbang dan melesat menuju area yang terdapat sebuah kediaman pada pulau ini. Namun saat dirinya akan melakukannya, pulau ini seakan menolak keberadaan kekuatannya dan membuat Zen tidak bisa melakukannya.
Tentu hal itu sangat membuatnya bingung, karena walaupun otoritasnya pada semesta tidak tinggi, tetapi seluruh hukum semesta pada seluruh dunia yang ada didalamnya tidak bisa menyangkal kekuatannya seperti saat ini. Jadi, dirinya terkejut bahwa saat ini tidak bisa sama sekali menggunakan beberapa kekuatan miliknya.
__ADS_1
Maka dari itu, Zen saat ini akhirnya memutuskan untuk mengambil langkahnya satu persatu menuju area yang terdapat sebuah kediaman dari tempat ini, untuk memeriksa keadaan tempat ini dan juga untuk memeriksa dunia apa sebenarnya yang dirinya datangi saat ini.
"Siapa yang membuat peraturan pada dunia ini, kenapa aku tidak bisa membatalkannya" gumam Zen karena memang kekuasaannya seakan ditekan ditempat ini.
Walaupun memang kemampuan bawaan tubuhnya tidak dihilangkan, tetapi ada berbagai hal yang dihalangi pada wilayah ini, termasuk penggunaan beberapa kekuatan yang tidak bisa dirinya gunakan. Dan begitulah bagaimana akhirnya Zen berjalan dengan perlahan sambil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini.
"Jadi, itu dia gubuknya" Kata Zen yang saat ini dibawah bukti yang dirinya tanjaki, Zen bisa melihat sebuah kediaman sederhana yang menjadi satu-satunya kediaman pada pulau ini.
"Sial, aku bisa melihat cerobong asapnya seakan berfungsi dan mengeluarkan sebuah asap, tetapi mengapa aku tidak bisa merasakan aura kehidupan apapun dari kediaman itu?" gumam Zen yang menatap aneh pada kediaman itu.
Namun karena tempat itu yang menjadi satu-satunya petunjuk yang dirinya dapatkan dari tempat ini, mau tidak mau saat ini dirinya mulai mendekati kediaman sederhana itu dan akan mencari tahu dengan pasti apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan dirinya, yang tiba-tiba saja berada ditempat ini.
Dan akhirnya sebuah pagar kayu pendek dengan pintu pagar yang tidak terkunci mulai menyambut kedatangannya disana. Zen tentu langsung membuka pintu pagar kayu yang pendek itu, dan saat ini berjalan perlahan menuju kediaman yang sedang dirinya datangi itu. Hingga saat tiba didepannya, Zen langsung mencoba mengetuk pintu dari kediaman itu.
"Tunggu sebentar....!" namun setelah Zen mengetuk kediaman yang dirinya datangi itu, dirinya dikejutkan dengan sebuah suara wanita yang seakan berada didalamnya dan menjawab ketukan pintu yang Zen lakukan.
Aneh memang, karena Zen tidak merasakan sama sekali sebuah aura kehidupan didalam kediaman ini. Hingga bisa terdengar dengan jelas sebuah langkah kaki saat ini mulai mendekat kearah pintu kediaman itu dan tiba-tiba saja pintu itu mulai terbuka setelah suara langkah kaki itu mulai berhenti.
Seorang wanita yang sangat amat cantik, saat ini mulai memasuki pandangan Zen saat ini. Wanita yang seakan masih mengenakan celemek yang dipenuhi dengan bekas-bekas bahan masakan menempel, bisa dikatakan saat ini mulai muncul dihadapannya dan membuat Zen cukup terpana melihat sosoknya.
__ADS_1
"Siap- Zen Putraku.... akhirnya kamu datang juga kemari, Nak"