
Seluruh penduduk pada sebuah kerajaan, saat ini dengan sangat antusias mulai melihat sebuah pawai keluarga kerajaan yang sedang berlangsung pada tempat dimana mereka berada. Apalagi, pawai Kerajaan dari anggota kerajaan itu sangatlah dinantikan oleh mereka.
Penjagaan yang ketat juga terjadi dibeberapa tempat yang berada di sana, untuk mencegah beberapa pihak yang bukan dari Kerajaan Gizeweith berada ditempat tersebut. Walaupun begitu, tetap saja acara dengan penjagaan ketat itu tetap saja tidak mengganggu jalannya acara yang sudah terlihat sangat meriah tersebut.
Seluruh penduduk Kerajaan Gizeweith bisa melihat secara langsung keluarga dari Raja mereka yang saat ini mulai melewati mereka sambil melambaikan tangannya kepada mereka satu persatu. Hingga akhirnya, momen yang mereka nantikan akhirnya tiba dihadapan mereka.
“Yang Mulia Zen!” teriak semua pihak yang saat ini memanggil nama Raja mereka yang saat ini melewati keberadaan mereka.
Kemunculan Zen memang langsung disambut oleh beberapa pihak yang sudah berada di sana. Maka dari itu disaat sosoknya itu sudah melewati kerumunan penduduk Kerajaan Gizeweith yang menghadiri acara pawai Kerajaan itu, kemunculannya tentu langsung membuat heboh tempat tersebut.
Zen tentu saja melambaikan tangannya kepada seluruh rakyat kerajaannya yang baru dirinya tahu, bahwa dirinya memiliki sebuah Kerajaan beberapa hari yang lalu. Jadi, dirinya saat ini terus saja melambaikan tangannya untuk menyapa seluruh rakyat kerajaannya yang menyambutnya dengan sangat hangat dan sangat antusias.
Hal ini juga berlaku pada seluruh Rakyat kerajaan Gizeweith. Karena bisa dikatakan, ini pertama kalinya mereka melihat rupa Raja mereka secara langsung, setelah Raja mereka yang sebelumnya sudah meninggal dunia dan kabarnya sudah digantikan dengan seorang Raja yang baru.
Maka dari itu, acara itu semakin menghebohkan karena ini pertama kalinya para Rakyat Kerajaan Gizeweith bisa melihat sosok Raja mereka yang baru, yang diketahui sosoknya itu disembunyikan oleh pihak Kerajaan Gizeweith dan baru muncul saat dirinya melakukan sebuah Pawai Kerajaan saat ini.
“Permaisuri Veronica!” Namun bukan Zen saja yang menghebohkan kemunculannya. Bisa dikatakan Istrinya juga sangat disambut sangat antusias oleh seluruh pihak yang menghadiri acara tersebut.
Teriakan beberapa pihak yang juga menyebutkan nama Vero yang saat ini masih duduk dengan Zen pada kereta kuda yang mereka tumpangi, juga mulai terdengar dengan lantang dipanggil namanya oleh beberapa pihak. Maka dari itu Vero juga membalas mereka dengan sebuah lambaian tangannya kepada mereka.
Apalagi melihat kedua pasangan tersebut tentu membuat seluruh pihak yang menyaksikan itu sangat bahagia. Karena seperti yang diketahui, Raja pertama mereka sama sekali tidak memiliki seorang Istri atau permaisuri yang hidup bersamanya. Maka dari itu, melihat Raja baru mereka memiliki seorang pendamping tentu saja membuat mereka sangat bahagia.
"Selamat atas pernikahan kalian!" dan begitulah teriakan-teriakan yang kembali mereka dengar, yang bisa dikatakan membuat kedua pasangan itu sangat amat berterima kasih atas sambutan yang mereka terima itu.
Dengan senyum yang terpampang pada wajahnya, Vero juga mulai melambaikan tangannya menuju para penduduk dari Kerajaan milik suaminya. Apalagi, dirinya merasa apa yang dirinya alami saat ini merupakan sebuah mimpi indah yang sedang dirinya jalani, karena dirinya harus menjalani prosesi yang sangat sakral yang sedang dirinya jalani saat ini.
Siapa yang menyangka, bahwa dirinya merupakan seorang Permaisuri dari seorang Raja dari sebuah Kerajaan yang bisa dikatakan sangat amat makmur dan sukses pada dunia ini. Maka dari itu, perasaan masih mencoba menerima semua itu masihlah dirinya rasakan hingga saat ini.
__ADS_1
Apalagi sesuatu yang selama ini dirinya hanya saksikan pada layar televisi, bisa dirinya rasakan sendiri atau bisa dikatakan dirinya sedang menjalani prosesinya. Bahkan bisa dikatakan dirinya masih tidak menyangka dan mungkin dirinya masih menganggap semua hal ini adalah sebuah mimpi indah yang sedang dirinya alami.
“Lalu, apakah kamu yakin sosok kita tidak akan tersebar dengan luas pada internet, Zen?” tanya Vero disela-sela parade yang sedang mereka lakukan.
Memang Vero tidak menyangka bahwa Rakyat kerajaan dari suaminya sangat seantusias ini. Bahkan jumlah mereka yang mengikuti acara parade itu bisa dikatakan sangatlah banyak dan membuat Vero sedikit terkejut melihatnya.
Satu hal yang menjadi permasalahan dari dirinya disambut seperti itu. Karena bisa dikatakan Zen masih bersikeras untuk menyembunyikan identitasnya dimuka umum. Namun, saat ini dirinya malah menunjukan sosoknya tepat pada Rakyatnya sendiri yang jumlahnya sangat amat banyak.
Memang dirinya pernah berkata, bahwa Rakyatnya tidak akan pernah membongkar sosok dirinya kepada dunia luar. Tetapi tetap saja, jika ada banyak pihak yang mengikuti acara ini, dipastikan pasti ada yang membuat sosok mereka akan diketahui oleh pihak luar.
“Tenanglah. Rakyat Kerajaan milikku tidak akan menyebarkan identitas kita kepada siapapun” ucap Zen menjawab perkataan Istrinya itu.
Sebagai orang yang sangat amat penting statusnya, memang beberapa pihak ingin bahwa sosoknya itu akan diketahui oleh seluruh pihak. Namun tidak dengan Vero yang merasa belum siap sepenuhnya jika identitas atau status yang dimilikinya tersebar dengan luas.
Bisa dikatakan Vero juga ingin mengikuti langkah Zen, yang tidak ingin identitasnya sebagai permaisuri Kerajaan ini akan diketahui oleh beberapa pihak terlebih dahulu. Karena memang dirinya belum sanggup menerima tekanan saat beberapa pihak akan mengetahui statusnya tersebut.
“Apa kamu yakin, Zen? Lihatlah banyak sekali orang yang hadir pada acara ini?” ucap Vero yang masih ragu dengan perkataan suaminya.
“Sudah kubilang tenang saja. Apalagi, kamu bisa lihat sendiri, apakah beberapa pihak ada yang mengeluarkan Ponsel mereka saat menyambut kedatangan kita” ucap Zen dan langsung membuat Vero menyadari sesuatu.
Tidak ada satupun seluruh pihak dari Kerajaan ini memegang sebuah alat elektronik yang dapat merekam atau menangkap gambar dari dirinya bersama Zen ditempat ini. Karena semua rakyat kerajaan ini sangat fokus dalam menyambut sosok mereka yang sedang melakukan sebuah parade kerajaan ditempat ini.
Apalagi, seluruh Rakyat Kerajaan Gizeweith seakan mempunyai sebuah peraturan tak tertulis yang akan mereka patuhi, yaitu mereka tidak akan menyebarkan sosok Raja mereka ataupun Permaisurinya karena bisa dikatakan Raja mereka tidak ingin menunjukan identitasnya kepada siapapun selain penduduknya sendiri.
Karena bisa dikatakan, setelah Raja mereka yang lalu sudah meninggal, Perdana Menteri Kerajaan mereka memutuskan untuk menyembunyikan identitas dari sosok penerus Kerajaan ini kepada siapapun, dan peraturan itu belum dicabut hingga saat ini.
Jadi, seluruh Rakyat dari Kerajaan ini akan mematuhi peraturan tersebut dan tidak akan membocorkan identitas Raja mereka yang sangat amat mereka hormati keberadaannya, kepada pihak siapapun yang bukan berasal dari Kerajaan mereka sendiri.
__ADS_1
“Tetapi Zen, mengapa Rakyat Kerajaanmu yang kita lewati sekarang malah mengikuti Pawai kerajaan ini dan mengikuti kita dari belakang?” tanya Vero bingung, karena kerumunan yang mereka lewati tadi, mulai mengikuti langkah kereta kuda yang sedang dinaiki oleh Zen dan Vero saat ini.
Untuk permasalahan tentang tersebarnya status mereka, tentu Vero sudah merasa sedikit tenang. Namun tingkah penduduk Kerajaan suaminya saat ini mulai membingungkan dirinya, yang dimana dirinya mulai memperhatikan keberadaan mereka yang mulai mengikuti langkah kereta kuda yang ditumpangi oleh dirinya.
Bisa dikatakan area pawai yang mereka lewati tadi, membuat seluruh penduduk yang menghadirinya langsung mengikuti kereta kuda dari Zen, yang merupakan pihak terkahir yang mengikuti pawai Kerajaan tersebut. Maka dari itu, hal tersebutlah yang membuat Vero bingung dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
“Bukankah setelah pawai ini kamu akan menjalani prosesi pengangkatan statusmu yang akan menjadi permaisuri diriku?” ucap Zen yang mulai mengingatkan Istrinya akan jalannya acara ini nanti.
Bisa dikatakan, beberapa jalan sudah dikosongkan untuk pawai yang sedang dilakukan dibeberapa jalan pada Kota Kerajaan milik Zen. Bisa dikatakan, pawai itu akan dimulai dari pintu masuk Istana Kerajaan Zen yang disebut sebagai King Palace, hingga berakhir pada pintu masuk King Palace kembali.
Karena bisa dikatakan, pawai itu akan mengelilingi beberapa tempat dari sekitar area King Palace dan akan kembali menuju ke sana, dan nantinya pada area dari King Palace akan dilaksanakan sebuah prosesi pengangkatan Vero menjadi seorang Permaisuri dari Kerajaan ini.
Jadi wajar, beberapa pihak yang menyaksikan acara pawai tadi mulai bergerak mengikuti kereta kuda yang ditumpangi oleh Zen dan Vero. Karena mereka, akan langsung menuju kearah King Palace untuk menyaksikan acara penobatan dari Vero yang akan berlangsung di sana.
“Ah... aku melupakannya. Maklum Zen, aku tidak bisa tidur tadi malam” ucap Vero yang bisa dikatakan sedikit kehilangan konsentrasi karena bisa dikatakan dirinya cukup kelelahan saat ini.
Memang banyak hal yang mengganggu pemikirannya kemarin, termasuk perihal dirinya yang merupakan Istri dari Zen. Bahkan, malamnya dirinya masih ingin untuk menyendiri dan memikirkan permasalahan itu lebih lanjut tentang bagaimana hubungan suami istri mereka itu harus berjalan kedepannya.
Jadi, wajar jika dirinya kelelahan dengan semua hal yang sudah terjadi, termasuk pagi harinya dirinya sudah disibukkan dengan berbagai riasan yang dikenakan padanya pada acara yang sedang dirinya lakukan saat ini, dan membuatnya semakin merasa kelelahan.
“Lalu, apakah kamu benar-benar merasa lelah saat ini?” tanya Zen yang akhirnya mulai mengkhawatirkan keadaan Istrinya itu.
“Awalnya. Tetapi disaat melihat semua antusias dari Rakyat kerajaanmu ini, tiba-tiba saja rasa lelahku mulai menghilang sedikit demi sedikit” balas Vero.
Vero memang tidak ingin mengecewakan semua pihak yang sudah menyambut sosoknya pada pawai kerajaan yang sedang dirinya laksanakan saat ini. Jadi, dirinya berusaha untuk tetap tersenyum dan melambai kepada mereka disaat mereka meneriaki namanya dan suaminya.
Walaupun dirinya bisa dikatakan sedikit kelelahan dengan semua proses yang dirinya alami, tetapi dirinya tetap berusaha untuk tetap bersemangat dalam membalas semua sapaan yang dirinya terima dalam pawai yang sedang dirinya lakukan tersebut.
__ADS_1
“Kalau begitu, mari kita nikmati saja jalannya pawai ini, Istriku”