
Sebuah pertempuran yang membuat beberapa kekacauan saat ini bisa dilihat oleh berbagai pihak yang menyaksikannya. Cukup membuat merinding bagi semua pihak yang menyaksikan pertarungan yang terjadi itu, karena saat ini pertarungan yang terjadi merupakan pertarungan diluar nalar mereka semua.
Para Dewa yang pada awalnya bersikeras ingin ikut serta dalam pertarungan tersebut, bisa dikatakan menyesali niat mereka, bahkan mulai mengutuk diri mereka sendiri karena berani-beraninya berfikiran seperti itu. Karena memang jika mereka ada didalam kubah yang mengurung apapun yang terjadi didalamnya itu, bisa dikatakan mereka langsung tewas seketika.
Namun mereka juga tidak bisa duduk diam saja menyaksikan apa yang terjadi pada wilayah yang dipenuhi dengan kekacauan itu. Jadi, mereka saat ini memastikan apa yang terjadi didalamnya tidak bisa keluar, agar kekacauan yang terjadi ditempat ini akan menyebar dan akan menghancurkan seluruh dunia ini karena kekacauan yang terjadi itu.
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi saat ini" gumam seorang Dewa, karena dirinya sangat tidak mempercayai apa yang sebenarnya terjadi pada wilayah kubah yang terisolasi itu.
Disisi lain, Zen yang masih memegang pedang Ame no Ohabari ditangannya, saat ini langsung menebas sebuah bongkahan batu besar yang mengarah kearahnya. Dengan langsung menghancurkan menjadi abu, Zen langsung dengan bergegas mendekati sosok yang sedang mengamuk dan mengeluarkan berbagai kemampuannya untuk menyerang Zen dan Adik-adiknya.
Namun tetap saja, saat ini dirinya cukup kesusahan untuk sekedar mendekat, karena berbagai hal saat ini seakan menghalangi tindakannya tersebut. Petir, lava, api, es dan sebagainya satu persatu mulai menyerang dirinya, seakan dirinya merupakan sosok sasaran bagi mereka.
"Sial!" hingga disaat sedang asik menghalangi beberapa serangan yang mendatangi dirinya, Zen melihat Sammael, atau salah satu adiknya malah terkena sebuah serangan langsung dan langsung membuatnya terpental.
"Cih... aku harus dengan cepat membelah sosok brengsek ini" hingga begitulah ucapan Zen yang kesal, karena dirinya merasa kewalahan melawan sosok raksasa yang ada didepannya.
Zen sudah membuka segel kekuatannya sepenuhnya. Bahkan kekuatannya saat ini lebih kuat dari kekuatannya saat melawan Loki dahulu. Namun karena sosok raksasa itu yang memang dasarnya sudah kuat, lalu disatukan dengan sosok yang dahulunya merupakan sisi jahat dari Sang Pencipta, membuat sosok yang sudah bersatu itu sangatlah kuat.
"Sialan!" hingga saat ini Zen baru menyadari bahwa sebuah serangan tendangan saat ini mengarah kearahnya.
__ADS_1
Namun Zen cukup tersenyum senang melihat serangan yang mendatangi dirinya itu. Karena dirinya tidak perlu repot-repot untuk mendekat kearahnya. Jadi, melihat datangnya serangan itu, Zen langsung menancapkan pedang miliknya kebawah tanah dan mengembangkan aura hitamnya untuk menguatkan kekuatan pedang yang saat ini sudah tertancap itu.
Hingga disaat kaki itu mendekat kearah sosok Zen berada, saat ini bagian daging dari kaki yang mendekat itu seakan mulai ditebas, karena kaki raksasa itu seakan memasuki mesin potong untuk membelah bagi dua dengan mulus kaki dari raksasa itu.
Memang ukurannya cukup besar, namun Zen sudah mengembangkan pedangnya menggunakan aura hitam miliknya, sehingga saat ini pedang miliknya itu dengan mulus membelah kaki raksasa yang saat ini sedang menyerang kearah tempatnya berada.
"GRAAAAA" Dan setelah kaki dari raksasa itu mulai terluka akibat perbuatan Zen itu, intensitas kekuatan yang dirinya keluarkan mulai melemah, sehingga saat ini seluruh adik-adiknya mulai bersiap menyerang raksasa yang sedang kesakitan tersebut.
Melihat kekuatan raksasa itu mulai menurun, adik-adik Zen saat ini mulai menyerang dengan serempak kearah sosok Titan yang sedang kesakitan atas ulah dari Zen. Apalagi Zen yang saat ini berhasil membelah setengah dari kaki raksasa itu mulai mencabut pedangnya dan dengan bergegas langsung memutuskan pergelangan kaki dari raksasa tersebut.
Raksasa yang besar itu memang ingin kembali fokus, karena beberapa serangan saat ini datang kearahnya. Namun naas, semua itu terlambat karena sebuah aura suci saat ini mulai menebas bagian lehernya dan membuatnya hampir terputus dan hampir terlepas dari tubuhnya.
Hingga disaat raksasa itu fokus menyembuhkan lehernya, Zen dengan tebasan cepatnya saat ini berhasil memutuskan salah satu pergelangan kaki dari raksasa besar itu. Kali ini, tentu saja raksasa itu tidak sempat untuk menyikapi tindakan Zen, saat ini salah satu kakinya sudah congkak, karena Zen baru saja memutuskannya dan langsung melenyapkannya.
Kali ini tidak ada suara yang keluar dari raksasa itu, karena memang lehernya baru saja terputus dan bersatu kembali. Sehingga saat ini dirinya lebih memilih waspada dengan serangan yang akan mendatangi dirinya kembali. Apalagi hal fatal baru saja terjadi, karena saat ini raksasa itu sudah kehilangan beberapa bagian tubuh akibat ulah dari Zen.
Ketidak seimbangan, itulah yang terjadi pada sosok Titan itu, karena tubuh besarnya itu tidak mungkin dapat menopang bagian tubuhnya lagi karena kakinya sudah terputus. Jadi saat ini konsentrasinya mulai terbagi menjadi dua karena dirinya harus bisa menyesuaikan tubuhnya, dan saat ini menghadapi beberapa musuh yang mencoba menyerangnya.
"MAAAA-TIIIIII" hingga sebuah teriakan dan disusul sebuah anomali hitam mulai muncul didekat sosok besar tersebut.
__ADS_1
"Sialan, dirinya akan melarikan diri. Cepat cegah" Namun disaat Zen melihat tingkah dari sosok Titan tersebut, Zen langsung berteriak kepada adik-adiknya untuk mencegah tindakan raksasa itu, karena saat ini sebuah anomali hitam yang dirinya keluarkan akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang berbentuk seperti sebuah black hole.
Cukup terkejut memang Zen melihat kekuatan tersebut, karena memang dahulu dirinya bisa mengeluarkan kekuatan seperti itu, namun entah kenapa saat ini dirinya tidak bisa melakukannya. Adik-adiknya juga berperilaku yang sama, jadi mereka berusaha mencegah sosok besar itu menggunakan kekuatannya yang baru dirinya ciptakan itu untuk melarikan diri.
"Sialan, ternyata dirinya bisa membuat celah antara semesta" balas Zen dan saat ini bergegas untuk membatalkan niat sosok tersebut.
Sebuah robekan ruang berwarna hitam, saat ini mulai muncul dan membulat seperti sebuah pintu masuk yang menyedot apapun jika memasukinya. Teknik tersebut bisa dikatakan sebagai teknik perpindahan semesta atau lebih tepatnya kekuatan yang dapat membuat beberapa pihak berpindah ke dunia lain.
Dahulu, karena Zen dan adik-adiknya adalah penyeimbang semesta, dirinya juga bisa melakukan hal itu. Namun naas, saat mereka dibuang ke dunia ini karena kematian Ayah mereka, kekuatan untuk berpindah semesta itu tidak dapat lagi mereka lakukan. Jadi melihat kekuatan itu muncul, membuat Zen cukup kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Siapa bilang kamu boleh melarikan diri" hingga Mikhael yang saat ini mengeluarkan kekuatan sucinya, mulai melemparkan sinar laser putih tepat kearah dada dari sosok Titan itu.
Bukan itu saja, Rafael saat ini sudah membentuk sebuah busur dan panah cahaya, dan mengumpulkan kekuatannya pada busur tersebut sebelum melepaskannya tepat ke dada dari Titan yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya karena serangan yang diberikan oleh Mikhael tadi.
Hingga sebuah lesatan cahaya yang sangat amat cepat, mulai menembus tubuh dari sosok yang besar itu setelah Rafael melepaskan busur cahaya yang dirinya lesatkan, hingga busur tersebut dengan mulus menembus tubuh dari sosok yang sangat besar itu..
Retak, itulah yang terjadi saat panah itu mendarat tepat pada dinding pelindung yang mengisolasi tempat ini, hingga kalau dilihat dari baliknya, pada bagian punggung dari raksasa tersebut sudah berlobang karena serangan pamungkas dari salah satu adik dari Zen tersebut, hingga akhirnya sosok besar itu akhirnya tersungkur dibawah tanah akibat serangan yang dirinya terima.
"Cepat, kita habisi raksasa ini, sebelum dirinya menyembuhkan diri kembali"
__ADS_1