Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Perasaan Yang Baru


__ADS_3

Seorang wanita yang umurnya sudah memasuki kepala empat, saat ini sedang memeluk wanita yang berada dihadapannya dengan sangat erat. Tentu berita yang dirinya dengar tentang wanita yang sedang dirinya peluk itu, mampu membuat dirinya sangat khawatir mendengarnya.


Namun untung saja, wanita yang sedang dirinya peluk dengan erat saat ini, kembali dengan keadaan yang baik-baik saja. Karena memang dirinya tidak tahu apa yang harus dirinya perbuat, jika wanita yang ada berada di pelukannya saat ini sampai mengalami sesuatu yang mengenaskan.


“Aku baik-baik saja, Bibi Leni” ucap Vero kemudian, yang mencoba menenangkan wanita yang saat ini memeluknya dengan sangat erat.


“Bibi Tahu. Tetapi Bibi sangat mengkhawatirkan dirimu” ucapnya, yang saat ini mulai melepaskan pelukannya pada diri Vero, dan memperhatikan kembali seluruh tubuh dari wanita yang berada dihadapannya itu, untuk memastikan keadaannya.


Bisa terlihat dengan jelas kantung mata wanita itu yang mulai menghitam, mulai berada dibawah matanya karena dirinya sangat mengkhawatirkan kondisi dari Vero. Bahkan dirinya sudah akan nekat, untuk menyusul Vero menuju Jakarta, hanya untuk mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.


Begitulah bagaimana Bibi Leni sangat mengkhawatirkan kondisi Vero, yang dirinya dengar kabarnya mengalami sebuah kecelakaan dari berbagai media kemarin. Tentu sebagai seseorang yang sangat dekat dengan Vero, membuat Bibi Leni cukup panik mendengar kabar tersebut.


Padahal dirinya dan Vero, bisa dikatakan tidak memiliki ikatan darah pada diri mereka. Tetapi Bibi Leni sangat mengkhawatirkan keadaan dirinya sama seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Bibi Leni merasa bahwa dunianya akan hancur, disaat mendengar kabar tentang Vero mengalami sebuah kecelakaan.


“Tenanglah Bibi. Akan aku pastikan, tidak akan lagi terjadi sesuatu seperti kemarin dan diriku akan selalu berada disisi Bibi apapun yang terjadi” Kata Vero kemudian, sambil menghapus air mata yang jatuh dari mata Bibinya itu.


Hal inilah yang membuat Vero sangat menyayangi Bibi Leni. Wanita yang merawatnya sedari kecil, dan menyaksikan dirinya bertumbuh hingga saat ini. Orang terdekatnya dahulu memang sudah pergi meninggalkan Vero, tetapi Bibi Leni bahkan masih setia bersamanya hingga saat ini.


Bahkan pada awal-awal keluarga Vero mengalami sesuatu yang tragis, Bibi Leni rela merawatnya tanpa dibayar sepeserpun saat itu. Karena memang, dirinya hanya sangat amat menyayangi Vero seperti anak kandungnya sendiri, dan membuatnya rela melakukan apapun untuk melihat dirinya bahagia.


Jadi, hal itulah yang membuat Vero tidak akan melupakan jasa seorang wanita yang sudah dirinya anggap sebagai orang tua baginya. Apalagi Bibi Leni menjaga dirinya hingga saat ini, padahal dirinya bisa saja menerima seluruh harta yang pernah Vero berikan kepadanya dan pergi meninggalkan dirinya.


“L-Lalu Tuan Zen, apakah kamu juga baik-baik saja?” tanya Bibi Leni kemudian, yang saat ini langsung mendekati Zen yang sedari tadi menyaksikan interaksi mereka berdua.


“Tentu saja aku baik-baik saja, Bibi. Kalau terjadi sesuatu kepadaku, memangnya siapa lagi yang akan menghabiskan semua masakan Bibi?” Kata Zen kemudian, yang saat ini menerima pelukan hangat dari wanita tersebut.


Tentu Bibi Leni juga merasa bahagia, bahwa suami dari Vero juga kembali dengan keadaan yang baik-baik saja. Apalagi dirinya tidak akan menyangka, kesedihan seperti apa yang dialami oleh Vero jika suaminya mengalami hal yang sangat buruk.

__ADS_1


Karena memang, Bibi Leni masih menganggap bahwa Zen dan Vero saling mencintai satu sama lainnya, dan dirinya tentu tidak ingin melihat mereka terpisah satu sama lainnya. Apalagi selain keselamatan diri Vero, saat dirinya mendengar kabarnya kemarin, Bibi Leni dengan tulus juga berharap kondisi Zen baik-baik saja.


“Bibi Tahu. Makanya Bibi sangat senang kamu kembali dengan selamat” ucap wanita itu kembali, yang semakin mengeratkan pelukannya kepada Zen.


Zen entah mengapa sangat senang mendapatkan perilaku dari wanita yang saat ini sudah berada di pelukannya itu. Entah mengapa sesuatu yang hangat mulai memasuki hatinya, karena dirinya bisa merasakan ketulusan wanita itu dalam mengkhawatirkan dirinya.


Sangat jarang memang dirinya merasakan sesuatu yang sangat tulus seperti itu bisa diterima olehnya. Karena memang, cinta yang diberikan Bibi Leni kepadanya, merupakan cinta yang sangat berbeda dari beberapa pihak yang memang memiliki perasaan tersebut kepada dirinya.


“Terima kasih, Bibi. Terima kasih atas semua kebaikan yang dirimu berikan kepadaku” ucap Zen dengan sangat tulus, yang keluar dari dalam hatinya.


Namun setelah dirinya berkata seperti itu, entah mengapa jantung dari Zen langsung berdetak dengan cepat. Tentu dirinya tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, karena ini pertama kalinya dirinya merasakan sesuatu seperti itu terhadap dirinya sendiri.


Dirinya masih termenung dengan apa yang terjadi dengan dirinya, hingga akhirnya Bibi Leni melepaskan pelukannya dan memberikan senyuman penuh kasih sayang kepada diri Zen, yang menandakan bahwa dirinya merasa bersyukur bahwa Zen dan Vero kembali dengan selamat.


Tentu senyuman itu seperti senyuman dari seorang orang tua yang sangat bersyukur, bahwa anak-anaknya bisa kembali dengan selamat menuju tempat tinggal mereka. Namun bukan hal itu yang sedang membuat Zen termenung saat ini, tetapi sebuah perasaan baru yang sangat amat membuatnya sangat bahagia.


“Ada apa, Tuan Zen? Mengapa kamu melamun?” tanya Bibi leni kemudian, yang memperhatikan ekspresi dari Zen setelah dirinya melepaskan pelukan mereka.


“A-Ah.. tidak apa-apa Bibi. Aku hanya merasa senang saja saat ini” balas Zen kemudian, yang mengeluarkan senyum penuh ketulusan kepada wanita yang mengkhawatirkan keadaannya tersebut.


Tetapi sesaat dirinya berkata seperti itu, dirinya mulai merasakan sesuatu yang aneh kembali terjadi. Aura yang dirinya tidak tahu bahwa aura tersebut berada didalam tubuhnya, saat ini perlahan mulai masuk kedalam tubuh dari Bibi Leni.


Zen memang cukup terkejut saat dirinya mengeluarkan aura tersebut. Karena memang, dirinya tidak menyangka bahwa dirinya bisa mengeluarkan aura seperti itu juga. Bahkan saat Bibi Leni yang menerima aura tersebut, seakan dirinya merasa sangat bahagia menerimanya saat ini.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa mengeluarkan aura yang biasanya dikeluarkan oleh orang-orang yang mencintai diriku?” gumam Zen didalam hatinya.


Ya, aura yang diberikan Zen kepada Bibi Leni, merupakan aura yang sama persis dirinya ambil dari Angel, Kana, dan Kelly yang bisa mengeluarkan aura tersebut, jika mereka sangat bahagia dengan perlakuan yang dilakukan oleh Zen.

__ADS_1


Namun saat ini, anehnya dirinya mengeluarkan aura tersebut, dan saat ini aura itu mulai mendiami tubuh dari Bibi Leni dan tinggal didalamnya. Bahkan Zen sempat meneliti aura tersebut sejenak, dan memastikan bahwa aura yang dirinya berikan kepada Bibi Leni itu, adalah aura yang sama yang dirinya dapatkan dari beberapa wanita yang menyukainya.


Memang aura tersebut tidak akan seefektif jika berada ditubuh manusia, jika dibandingkan dengan Zen yang selalu menerima aura tersebut. Namun, setelah diteliti lebih lanjut oleh Zen saat itu juga, dirinya menyadari bahwa aura itu cukup menguntungkan bagi siapapun yang berhasil mendapatkannya dari dirinya.


Karena Zen bisa memastikannya dengan mata kepalanya sendiri, bahwa aura itu bisa meningkatkan seluruh hal pada tubuh manusia yang menerimanya, seakan mereka akan diubah menjadi manusia yang tingkatnya di atas manusia pada umumnya.


Apalagi, Zen bisa memastikan sendiri bahwa aura tersebut bisa mempengaruhi roda kehidupan dari seorang manusia, dan hal itu akan memastikan bahwa beberapa pihak yang menerima auranya, dipastikan akan berumur lebih panjang dan kondisi mereka lebih sehat dari pada manusia pada umumnya.


“Untung kamu baik-baik saja, Zen. Aku juga sangat mengkhawatirkan keadaanmu” ucap seorang wanita kemudian, yang membuat Zen tersadar dari lamunannya yang memikirkan tentang aura yang baru saja dirinya keluarkan tadi.


Kelly memang saat ini juga berada dikediaman dari Vero, karena memang dirinya sendirilah yang menjemput kedua pasangan suami istri itu dari bandara dan membawanya ketempat ini. Tentu dirinya melakukan itu karena ingin melihat sendiri kondisi dari mereka berdua.


Bahkan Anabelle juga berada di sana, karena dirinya juga sangat khawatir kepada orang-orang yang memperlakukan dirinya sangat baik selama berada di kota ini. Bahkan Anabelle saat ini juga mulai memeluk Vero, karena dirinya cukup takut terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.


Bahkan interaksi mereka itu, mampu membuat Zen melupakan sejenak tentang apa yang baru saja terjadi kepada dirinya, dan saat ini mulai membalas perkataan dari Kelly yang terlihat dengan jelas bahwa wanita itu sangat amat mengkhawatirkan dirinya, sama seperti Bibi Leni tadi.


“Tentu saja aku akan baik-baik saja. Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku, oke” balas Zen, kepada wanita yang saat ini sudah mengeluarkan aura yang sama yang Zen keluarkan tadi.


Kejadian haru yang terjadi ditempat itu, memang sangat amat membuat suasana di sana menjadi sangat hangat. Karena kehangatan yang tercipta itu, membuat seorang yang memiliki sesuatu yang membeku didalam hatinya mulai mencair secara perlahan.


Vero contohnya. Wanita itu tidak akan pernah bersikap seperti itu kepada siapapun. Namun entah mengapa saat dirinya berada dikediamannya sendiri, hatinya yang sedingin es itu akan perlahan menghangat, karena keberadaan orang yang sangat disayangi olehnya mencoba menghangatkannya.


Begitupula dengan Zen. Karena apa yang dirinya sudah keluarkan tadi, merupakan sebuah awal yang akan membawanya memiliki atau mencapai sesuatu yang sedari dulu dirinya inginkan, untuk dimiliki olehnya. Bahkan jika dirinya memahami arti dari aura yang dikeluarkannya, Zen dipastikan akan sangat bahagia untuk menjalani kehidupannya di dunia ini.


“Ah... maaf, itu suara ponselku” ucap Kelly, yang saat ini mulai merogoh tas yang dibawanya, karena ponselnya berbunyi dan suara berisiknya mulai mengganggu suasana yang hangat, yang terjadi ditempat itu.


Kelly sempat menjauh dari keberadaan orang-orang yang masih saling menyambut saat ini, karena dirinya tidak ingin menganggu aktivitas mereka. Apalagi, dirinya mengenal nomor yang saat ini sedang menghubunginya. Tetapi setelah dirinya menerima panggilan tersebut, entah mengapa raut wajahnya langsung berubah sepenuhnya.

__ADS_1


“I-Ibuku sudah siuman?!”


__ADS_2