Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Naif


__ADS_3

Santi cukup terkejut mendengar semua jawaban yang diberikan oleh Zen kepada atasannya tadi. Semua perkataan Zen yang sudah terbukti omong kosong tersebut, bisa dia buat seakan perkataannya tersebut adalah fakta, karena Santi bisa merasakan bahwa semua perkataan yang dilontarkan Zen adalah kebenaran.


“Tentu saja karena pengalaman diriku yang sudah menjadi polisi selama ini membuat diriku bisa dengan mudah mengetahui orang berbohong atau tidak” balas Santi menjawab pertanyaan Zen sebelumnya.


“Heh... benar kataku. Wanita ini belum mengerti dengan kemampuan yang dimilikinya” kata Zen didalam hatinya yang mulai bangun dari tempat dirinya tidur itu dan mulai mendudukkan tubuhnya diatasnya.


“Lalu, apakah kamu bisa merasakan kebohongan dari pria yang baru saja menginterogasi diriku tadi?” tanya Zen sambil menatap Santi yang masih duduk ditempatnya berada.


“Apa maksudmu?” balas Santi yang sebenarnya belum mengerti arah pembicaraan dari Zen.


“Aku akan memastikan anak buahmu untuk sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi, bukankah itu perkataan Bos mu tadi?” tanya Zen yang mengulang perkataan dari orang yang menginterogasinya tadi dan dijawab dengan anggukan saja oleh Santi.


“Bukankah itu sebuah kebohongan?” lanjut Zen.


“Omong kos-” Perkataan Santi yang ingin menyangkal perkataan Zen itu mulai terhenti setelah dirinya mengingat kembali momen saat komandannya tadi berbicara dengannya.


Santi langsung membulatkan matanya karena terkejut, setelah dirinya menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Zen sebelumnya adalah benar. Walaupun dirinya menanggapi dengan tidak fokus saat atasannya itu menyemangatinya tentang bawahannya yang menjadi korban, namun saat ini Santi menyadari bahwa perkataannya tadi hanya bualan semata.


Zen hanya tersenyum saja melihat Santi akhirnya sadar, dan mulai berdiri dari tempat dirinya tadi berbaring dan bersiap untuk keluar dari sana, untuk menyelesaikan semua permasalahan yang membuatnya sangat emosi tadi.


“Kamu mau kemana?” tanya Santi yang entah mengapa saat ini mereka berdua mulai bercakap tanpa menggunakan bahasa formal dan mulai bersikap santai satu sama lainnya.


“Menyelesaikan semuanya. Aku tidak mau mereka kembali mengacaukan tempat diriku beristirahat” kata Zen yang langsung merasa kesal setelah mengucapkan perkataannya itu.

__ADS_1


Satu hal yang membuat Zen sangat kesal, baik dirinya masih di neraka hingga sudah tinggal di dunia ini. Yaitu beberapa orang dengan sengaja membuat berantakan, merusak bahkan membuat kotor tempat dirinya beristirahat.


Bagi seorang Sloth, tempat dirinya untuk beristirahat sangatlah sakral. Maka dari itu tidak semua orang boleh untuk seenaknya membuat tempat dirinya beristirahat terlihat sangat sangat kacau, apalagi dengan sengaja melakukannya.


Bari juga mengetahui hal tersebut. Bahkan saat dirinya membunuh orang-orang yang membuat kacau tempat tinggal tuannya, dirinya sengaja tidak membuat para manusia itu mengeluarkan setetes darah saja dari tubuh mereka agar kediaman tuannya tidak terkontaminasi oleh darah para manusia yang membuat murka tuannya itu.


“Tunggu, apakah kamu akan membunuh mereka?” ucap Santi yang mulai menarik tangan dari Zen dan mencegahnya untuk pergi dari sana.


Dari apa yang dia saksikan sedari tadi, sudah dipastikan Zen merupakan orang yang membantai semua korban dari kasus yang dia selidiki. Jadi, jika Zen berkata bahwa dirinya akan pergi menyelesaikan permasalahannya, pastilah dirinya akan membantai kembali beberapa orang yang membuatnya kesal.


“Tentu saja. Mereka harus musnah hari ini juga” jawab Zen yang sudah tidak menyembunyikan lagi tentang kepribadian dirinya, yang sebenarnya merupakan seorang yang suka membantai beberapa pihak yang mencari masalah dengannya.


“B-Bisakah ini diselesaikan secara hukum? L-Lebih baik dirimu membantuku mencari semua bukti dan aku akan menjerat mereka, lalu semua permasalahan tentang kasus dirimu akan aku anggap tidak ada” kata Santi yang mencoba bernegosiasi.


“Hukum? Bukankah aku melakukannya dengan cara hukum milikku?” balas Zen kemudian.


“Maksudku hukum negara ini Zen” kata Santi yang masih kekeh menghalangi Zen untuk membunuh.


“Hehh... padahal penegak hukum negaramu saja bersekongkol dengan para penjahat. Lalu apa yang bisa diharapkan oleh hukum negara ini jika penegak hukumnya saja bertindak seperti itu” balas Zen.


“Tetapi tidak semua polisi seperti itu Zen, jadi percayakan kasus ini kepadaku” Ucap Santi yang bisa terlihat dirinya benar-benar menghalangi Zen untuk melakukan apa yang dirinya mau.


“Baiklah... tapi jangan salahkan hukum yang kamu percayai itu tidak bisa mencegah kematian dari anak buahmu nanti” balas Zen yang mulai duduk kembali pada tempat dirinya berbaring tadi.

__ADS_1


Zen cukup malas untuk berdebat dengan Santi dan lebih memilih mengalah. Toh nantinya Zen akan membantai mereka juga, karena mereka berani-beraninya mengotori tempat yang sangat sakral baginya.


Santi awalnya cukup lega melihat Zen yang mendengar perkataannya dan mulai kembali duduk pada tempatnya. Namun perkataannya selanjutnya membuat Santi cukup terkejut, karena dirinya terang terangan berkata bahwa seakan bawahannya itu akan mati.


“Jaga ucapanmu itu Zen. Memang situasi kita saat ini bisa dibilang cukup baik, tetapi jika kamu terus berkata sesuatu tentang anak buahku, aku juga tidak akan segan untuk menamparmu bahkan berusaha untuk menjeratmu kedalam penjara” kata Santi yang sedikit emosi karena mendengar perkataan Zen tentang anak buahnya.


“Cih... silahkan saja. Aku penasaran bagaimana dirimu akan menjeratku.” balas Zen sambil tersenyum.


Setelah Zen berkata seperti itu, Zen mulai membaringkan tubuhnya kembali keatas tempatnya berbaring tadi, dan tidak menghiraukan Santi yang entah mengapa mulai gelisah mendengar perkataan Zen tadi.


Memang tidak dipungkiri, dirinya sangat takut tentang apa yang akan terjadi dengan para bawahannya yang susah payah dia selamatkan tadi. Dan perkataan Zen tadi tambah membuatnya khawatir.


“Kalau begitu, bantulah aku Zen dalam menyelidiki kasus ini dan berikanlah diriku semua bukti dan kesaksian darimu tentang permasalahan ini” kata Santi yang akhirnya memecahkan keheningan mereka.


“Hahh... percuma saja Nona Santi. Apa yang aku katakan saat ini hanya berupa opini yang kekuatan hukumnya menurut hukum milik negaramu sangatlah lemah bahkan tidak ada kekuatannya sama sekali untuk menjerat para bajingan tersebut.” Balas Zen.


“Aku tahu. Tetapi semua keterangan yang kamu berikan akan membuahkan beberapa titik terang dan mempermudah diriku menemukan beberapa bukti untuk menguatkan keterangan yang kamu berikan itu” jawab Santi.


“Apakah kamu sangat yakin menyelesaikan permasalahan itu? Orang yang berniat membunuhku tadi dibantu oleh pihak kepolisian Santi. Apakah kamu yakin bisa mengumpulkan bukti dengan adanya beberapa rekan kerja bahkan atasanmu yang merupakan mata-mata dari kelompok tersebut?” balas Zen kemudian.


Perkataan Zen kembali membuat Santi bungkam. Dalam penyerangan mereka tadi, dipastikan bahwa kelompok yang ingin membunuh Zen tadi pasti sudah menyuap beberapa pihak bahkan atasannya yang menurutnya sangat loyal dan bertanggung jawab melaksanakan tugas kepolisian.


Namun fakta yang dirinya temukan, atasannya itu merupakan orang yang berada di pihak mereka dan bahkan ingin membunuh dirinya dan bawahannya. Zen hanya diam saja memperhatikan tingkah Santi yang mulai bimbang saat ini. Karena memang menurut Zen, ketajaman Santi tentang menyelidiki sesuatu masihlah belum kembali karena masih terguncang dengan apa yang dialaminya tadi.

__ADS_1


“Hahh... aku tidak tahu apakah kamu memang bodoh atau dirimu masih terguncang dengan kejadian yang baru saja kamu alami”


__ADS_2