Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Berbalik


__ADS_3

Seorang pria bersama rekannya, saat ini mulai mendekat dan mengepung tempat dimana target mereka bersembunyi. Tentu awalnya mereka sangat terkejut, bahwa pria yang mereka tembak membabi-buta sedari tadi masihlah hidup.


Bahkan saat ini pria yang mereka tembak itu, berhasil membawa target yang mereka suruh tangkap, lalu membawanya kabur dan mulai bersembunyi saat ini. Tentu mereka memutuskan untuk mencari keberadaannya dan sebisa mungkin untuk cepat menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan.


“Kepung mereka, saat ini mereka sudah terhimpit di sana” ucap salah dari satu rekannya, dan membuat salah satu dari penyerang itu mulai mengangguk untuk menjawab perintahnya.


Dengan langkah perlahan, salah satu dari penyerang itu mulai mendekat kearah gundukan tempat wanita dan pria yang melarikan diri itu berada. Namun saat dirinya akan menyergap mereka, yang dirinya temukan hanya seorang wanita yang sedang gemetar ketakutan ditempatnya.


“Dimana dir-” namun sebelum penyerang itu menyelesaikan kalimatnya, pria yang harusnya dirinya incar saat ini mulai memelintir tangannya, yang sedang memegang pistol dan mulai merebutnya dari tangannya.


Tentu saat ini tangan penyerang itu sudah terpelintir dan pria yang berhasil merebut pistol dari tangannya itu langsung menembakan senjata yang berhasil dirinya rebut menuju kearah rekan-rekannya. Bahkan bisa terlihat rekan-rekannya saat ini mulai tidak berkutik, karena memang tembakan yang dilakukan oleh pria tersebut selalu tepat sasaran menuju kepala rekan-rekannya.


Apalagi bisa dikatakan kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik saja, dan saat ini tindakan dari pria itu berhasil merenggut nyawa dari keempat rekannya yang memang belum sempat bereaksi dari tindakan pria yang merebut senjata dari dirinya itu.


Bahkan dirinya juga belum sempat beraksi dengan kejadian yang baru saja terjadi. Apalagi sebuah rasa sakit akibat tangannya terpelintir, tiba-tiba saja dirinya sudah tidak merasakan lagi rasa sakitnya. karena memang, perasaan sakitnya itu langsung hilang dari tempatnya, termasuk nyawanya juga yang sudah menghilang dari dalam tubuhnya.


“Baiklah, mari kita mulai ronde kedua” ucap Zen yang saat ini mulai meraih tubuh seorang yang menyerangnya tadi dan sudah tewas ditangannya, karena kelima orang penyerang lagi mulai mendatangi dirinya kembali.


Tentu Zen menggunakan tubuh tak bernyawa itu untuk dijadikan sebuah tameng untuk melindungi dirinya. Karena memang saat ini para penyerang baru itu, tidak lagi menggunakan pistol untuk menyerangnya, karena Zen bisa merasakan bahwa peluru yang mendatangi dirinya semakin cepat itensitasnya.


"Cih... kenapa mereka mengirim banyak sekali orang untuk membunuh kami?" gumam Zen, yang merasakan beberapa pihak saat ini memang mulai mendatangi dirinya dan akan menyerangnya.


Disisi lain, Vero dengan keadaan yang sangat ketakutannya saat ini berharap bahwa keadaan Zen akan baik-baik saja. Apalagi dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa pria itu sedang bertarung dengan beberapa pihak yang menyerangnya hingga saat ini.


Tentu dirinya tidak memperhatikan jalannya pertarungan yang Zen lakukan secara keseluruhan, karena dirinya mulai menutup matanya dan membungkam telinganya menggunakan kedua tangannya, karena dirinya sangat ketakutan mendengar suara tembakan yang terus dirinya dengar sedari tadi.


Dalam kegelapan karena matanya tertutup itu, Vero hanya berharap bahwa Zen akan selamat. Bahkan dirinya berjanji, jika Zen benar-benar selamat dan mereka berdua bisa keluar dari tempat ini dengan selamat juga, dirinya akan memperlakukan pria itu dengan sangat baik.


“Cih... mengapa mereka curang sekali. Hanya untuk melenyapkan dua orang, mereka mengirim sepuluh orang dengan senjata lengkap?” ucap Zen, yang saat ini memutuskan untuk kembali menuju gundukan tempatnya berada, karena tembakan yang diterimanya semakin deras.


Memang dirinya sengaja untuk membiarkan para penyerang itu menghabiskan peluru yang mereka gunakan, sebelum dirinya membalas perlakuan mereka itu. Apalagi bisa dikatakan bahwa perlengkapan Zen saat ini bisa dikatakan sangat kalah jika dibandingkan dengan para penyerang itu.

__ADS_1


Tentu sebenarnya Zen bisa untuk asal langsung melakukan tindakan rambo kearah mereka. Apalagi memang dirinya akan kebal dengan peluru dan bisa membalas perlakuan mereka secara langsung. Namun hal itu dirinya urungkan karena Zen bisa merasakan sesuatu.


Saat pertarungan sedang berlangsung, Zen bisa merasakan bahwa selain beberapa pihak yang merupakan penyerang dirinya yang berada ditempat ini, dan sedang menembaki dirinya membabi buta. Ada satu pihak lagi yang mengawasi dirinya dari jarak jauh.


Karena memang, bisa terlihat dari beberapa penyerang yang menyerang Zen, bahwa mereka mengenakan sebuah kamera untuk menangkap tindakan mereka, dan saat ini apa yang sedang mereka lakukan itu sedang disaksikan oleh beberapa pihak yang berada ditempat yang sangat jauh dari tempat ini.


Jadi, melihat hal tersebut sebisa mungkin Zen mencoba untuk menahan dirinya sendiri, dan akan melawan mereka seakan seperti seorang ahli senjata yang pernah dirinya lihat dalam film yang pernah ditonton olehnya.


“Hm... baiklah saatnya” ucap Zen kemudian, yang merasakan intensitas peluru yang mendatanginya sudah mulai terhenti.


Suara orang sedang mengisi ulang peluru pada senjata mereka, mulai tergantikan dengan sebuah suara peluru yang baru saja melesat dari sebuah pistol, dan saat ini sudah mendarat dengan tepat pada arah kening dari salah satu dari mereka.


Bahkan bukan hanya itu saja, dua diantara mereka saat ini kembali menjadi korban yang dimana mereka sudah tergeletak diaspal jalan tempat mereka berada. Tentu melihat tiga orang rekan mereka sudah tewas seketika, sisa-sisa penyerang itu memutuskan untuk langsung mencari tempat berlindung, karena serangan yang mereka terima sangat amat mematikan.


Tentu Zen tidak tinggal diam, karena saat ini dirinya terus mendekat kearah para pihak yang menyerangnya, yang saat ini sudah bersembunyi dibalik kendaraan yang saling bertabrakan tadi. Bahkan dirinya terus menembakan seluruh peluru senjatanya menuju kearah tempat persembunyian mereka secara membabi buta.


Hingga akhirnya peluru pada pistol yang digunakan oleh Zen terlihat sudah habis. Tentu setelah mendengar bahwa Zen kehabisan peluru, dua orang yang sedang bersembunyi langsung keluar dari tempatnya, untuk sekedar membalas tembakan yang mereka terima sedari tadi.


Tentu rekannya juga mengalami nasib yang sama, yang dimana dirinya sudah tewas tak berdaya karena tembakan dari Zen sudah menembus bola matanya. Hingga akhirnya pertarungan senjata yang terjadi di sana dimenangkan dengan telak oleh Zen.


“Hahh... lalu mari kita lihat siapa dalangnya” ucap Zen kemudian, yang membuang senjata yang berada ditangannya, dan saat ini mendekat kearah salah satu mayat yang saat ini sudah tergeletak tak bernyawa.


Zen saat ini mulai mendekatkan dirinya kearah sebuah kamera yang terdapat pada tubuh dari penyerang yang menyerangnya. Tentu sebuah lampu berwarna merah yang menyala, menjadi bukti bahwa saat ini kamera itu sedang berfungi dan sedang mengirimkan rupanya kepada pihak yang sedang memperhatikan dirinya.


“Tunggulah. Sebentar lagi, merupakan giliran dirimu” ucap Zen, kepada kamera yang sedang merekam dirinya itu.


Zen lalu bangkit dari tempatnya dan langsung menginjak kamera yang masih menempel pada tubuh dari mayat penyerang yang menyerangnya, dan langsung menghancurkannya. Dan setelah itu, penyerangan itu bisa dikatakan sudah selesai sepenuhnya.


“Hahh... orang-orang yang mengawasi kediaman Vero, ternyata merupakan pembunuh bayaran ternyata” ucap Zen kemudian, yang sebenarnya sudah mengetahui siapa yang menyerang keberadaan dirinya dan Vero tadi.


Ya, orang-orang yang sudah dihabisi oleh Zen, merupakan pihak yang mengawasi kediaman Vero dari jauh beberapa hari belakangan ini. Sebenarnya Zen ingin membereskan mereka sebelumnya, tetapi sudah beberapa hari, keberadaan mereka bisa dibilang menghilang.

__ADS_1


Jadi, Zen memutuskan untuk melupakan permasalahan tersebut dan melanjutkan kegiatannya. Hingga akhirnya kejadian ini bisa terjadi, yang dimana pasti mereka sudah merencanakan untuk meringkus keberadaan Vero dan dirinya ditempat ini.


“Ck... dasar manusia.” Namun sebuah suara saat ini tiba-tiba saja mulai muncul, saat Zen masih memperhatikan keadaan disekitarnya saat ini.


“Oh... kamu sudah tiba?” tanya Zen kemudian, kepada sosok yang baru tiba ditempatnya itu.


“Iya Tuanku. Kalau begitu, aku akan melanjutkan pekerjaanku” ucap sosok tersebut yang merupakan Amelia, dan mulai membungkuk dihadapan Zen sebelum dirinya melanjutkan tugasnya dalam menjemput jiwa orang-orang yang dibunuh oleh Zen.


Zen hanya tersenyum saja untuk menjawab perkataan bawahannya itu. Apalagi masih ada satu masalah yang belum dirinya selesaikan. Maka dari itu, dengan langkahnya yang santai, saat ini dirinya mulai menghampiri tempat dimana Vero berada.


Dan tentu saja, wanita itu saat ini masih berjongkok ditempatnya dengan menutup matanya dan kedua telinganya. Bahkan Zen bisa melihat dengan jelas, bahwa Vero masih gemetar ketakutan atas apa yang sedang dirinya alami ditempat ini.


“Bukalah matamu, semuanya sudah selesai” ucap Zen, yang saat ini mulai berjongkok dihadapan Vero saat ini.


Wanita yang gemetar itu, tentu langsung terkejut mendengar suara dari Zen. Bahkan dirinya perlahan membuka kelopak matanya dan melihat dengan jelas sosok Zen sedang berada dihadapannya, sambil menunjukan senyum menenangkan untuk dirinya.


“K-Kamu tidak apa-apa, Zen? L-Lalu, dimana semua musuhnya?” tanya Vero kemudian, yang masih terlihat panik saat ini.


“Tenanglah, mereka sudah tidak akan menganggu kita lagi. Dan juga, Aku tidak apa-apa.” Ucap Zen kemudian, sambil membantu wanita itu untuk berdiri dari tempatnya.


Namun bukannya menyabut tangan Zen yang akan membantunya berdiri, Vero saat ini langsung membuang tubuhnya kearah tubuh Zen untuk memeluknya. Tentu Zen hanya membiarkan tindakan wanita itu, karena memang Zen masih bisa merasakan tubuhnya yang gemetaran akibat kejadian tadi.


Bahkan, Vero saat ini mulai memeluk dirinya sangat amat erat, sambil mencoba menenangkan dirinya yang terlihat masih sangat ketakutan dengan kejadian yang baru saja dirinya alami. Apalagi Zen saat ini memutuskan untuk membiarkan wanita itu melakukan apapun yang ingin dirinya lakukan kepada dirinya saat ini.


“A-Aku taku Zen. A-Aku takut kamu m-mati” ucapnya yang mengeratkan pelukannya pada tubuh Zen.


Zen hanya mulai menghela nafasnya saja setelah mendapatkan pelukan seperti itu. Namun aura yang dikeluarkan oleh Vero, saat ini membuat Zen mulai membulatkan matanya saat dirinya merasakannya. Bahkan dirinya tidak menyangka pemilik aura kekacauan didalam dirinya, akan mengeluarkan aura seperti itu.


Tetapi sebelum Zen bereaksi untuk memastikan aura yang dirinya terima itu kepada Vero, ternyata pelukan yang dirinya terima dari wanita tersebut mulai melemah, karena dirinya saat ini sudah tak sadarkan diri didalam pelukannya.


“Hahh... dirinya malah pingsan”

__ADS_1


__ADS_2