
Acara yang seharusnya menjadi ajang pertemuan dari beberapa pihak yang penting dalam dunia bisnis pada negara ini, entah mengapa terlihat tidak berjalan seperti semestinya. Bisa dikatakan, jalannya acara yang seharusnya sudah berlangsung sedari tadi itu, seakan tidak dilanjutkan oleh pihak penyelengara acara tersebut.
Karena bisa dikatakan, beberapa pihak yang seharusnya akan mulai saling berbincang satu sama lain dalam hal mengajak kerja sama ataupun sebagainya, saat ini bisa dikatakan mulai berubah dengan kedatangan Alfred pada acara ini.
Hal itu sudah terlihat, disaat saat ini beberapa pihak malah lebih fokus dalam menanti kemunculan sosok itu yang akan keluar dari sebuah ruangan, yang sudah disediakan pada acara ini untuk dirinya gunakan, daripada melanjutkan acara yang bisa dikatakan sudah berantakan tersebut.
“Apa yang sebenarnya mereka sedang diskusikan, sahabatku Hendra?” tanya seorang pria kepada seseorang yang bisa dianggap sahabatnya.
“Aku juga tidak tahu, Jeremy.” Balas pria bernama Hendra itu kepada sahabatnya yang baru saja menanyakan sesuatu kepadanya itu.
Memang Hendra lebih memikirkan apakah perbuatannya tidak menyinggung Alfred secara langsung tadi. Karena bisa dibilang, tindakannya tadi sangat membuat Hendra sangat takut, jikalau memang dirinya mengusir pihak yang sangat penting bagi sosok yang besar itu.
Tentu dirinya beserta semua pihak yang berada di sana kecuali Bram. Sangat penasaran apa yang sedang didiskusikan oleh sosok sebesar Alfred, dengan salah satu konglomerat dari negara ini. Maka dari itu, Hendra saat ini cuma berharap bahwa memang tidak ada sebuah hubungan yang penting terjadi antara mereka.
Karena jika memang hal itu ada, dirinya akan semakin was-was dibuatnya dikarenakan dirinya berani-beraninya mencari masalah dengan pihak yang sedang menjalin sebuah kerja sama penting, kepada pihak yang sangat besar di muka bumi ini.
“Tenanglah, sahabatku. Bukankah mungkin mereka sedang memperbincangkan tentang series yang diproduksi oleh perusahaan milik Vero?” ucap sahabatnya itu yang mencoba menenangkannya.
Semua pihak tentu sudah mengetahui bahwa Perusahaan milik Vero menjalin kerja sama dengan salah satu anak perusahaan dari Darkness Company. Maka dari itu, beberapa dari mereka mulai menghubungkan pertemuan tersebut, dengan kerja sama yang sudah mereka buat itu.
Tetapi, salah satu pihak yang berada di sana, langsung berharap bahwa pertemuan itu tidaklah sepenting yang dirinya bayangkan. Karena jika hal itu terjadi, dirinya bisa dikatakan akan terkena sebuah masalah yang sangat besar, karena menyinggung pihak yang seharusnya tidak dirinya singgung.
“Semoga saja. Karena jika mereka sedang melakukan hal yang besar, berarti aku baru saja menyinggung pihak yang salah tadi” ucap Hendra yang berusaha untuk berharap bahwa apa yang dirinya pikirkan itu tidak benar-benar terjadi.
Disisi lain, Bram yang mendengar perbincangan mereka hanya tersenyum saja disaat dirinya mendengarkannya. Apalagi dirinya dan Istrinya sudah duduk dengan tenang, dan menyantap makanan mereka dengan santai pada meja mereka.
Tentu sudah tidak ada lagi yang berani mencari masalah dengan dirinya. Karena bisa dilihat, mereka masih sangat terbawa dengan kejadian yang baru saja terjadi tadi. Apalagi kalangan pebisnis yang terang-terangan membantu Hendra dalam mencoba menjelek-jelekan Vero tadi, bisa dikatakan mulai ketakutan saat ini.
__ADS_1
Niat awal mereka yang ingin mencari muka dimata Hendra yang merupakan pria terkaya di negara ini, ternyata menjadi bumerang bagi mereka. Karena seperti yang bisa dilihat, pihak yang mereka jadikan objek untuk mencari muka tadi, merupakan orang yang seharusnya mereka tidak singgung.
Apalagi, jika pihak tersebut memang benar-benar membuka identitasnya dimata umum, dipastikan mereka akan langsung berlutut dan berharap bahwa apa yang mereka perbuat tadi untuk dimaafkan, karena bisa dikatakan jika pihak tersebut benar-benar tersinggung, maka bisa dikatakan hidup mereka akan langsung tamat.
“Untung saja kita sangat mengenal dirinya, sayang” ucap Istri dari Bram, yang dimana dirinya merasa santai dan mencoba menikmati waktunya berada ditempat ini.
Tidak seperti kebanyakan pihak yang berada ditempat ini, Bram bisa dikatakan merasa menikmati jamuan dari acara yang sedang diselenggarakan ditempat ini. Apalagi perilaku mereka bisa dikatakan cukup berbeda dengan para pencari muka tadi, karena bisa dikatakan mereka masih was-was dengan keadaan mereka.
Sebenarnya, mencari masalah dengan Vero saja, merupakan satu hal yang bisa membuat bisnis mereka hancur. Namun karena ada pihak yang lebih kaya dari Vero dan mereka melihat kesempatan untuk bisa dekat dengan pihak tersebut, langsung membuat mereka mencoba untuk menjilat pihak tersebut.
Namun naas, Karena bisa dikatakan sosok Vero saat ini sedang bertemu dengan pihak yang paling berpengaruh di dunia ini, dan langsung membuat mereka cukup takut karena mungkin Vero akan mulai mempermasalahkan permasalahan tadi kepada mereka.
“Tentu saja. Apalagi, aku dan dirinya bisa dikatakan sudah seperti sahabat, sayang” ucap Bram yang juga merasa beruntung selalu memperlakukan Zen dengan sangat baik.
Bram memang merupakan pebisnis pada umumnya. Tentu dirinya ingin selalu memperkaya dirinya menggunakan berbagai cara. Tetapi perbedaannya dengan beberapa pebisnis lain, Bram selalu menggunakan cara yang benar untuk melakukannya.
Walaupun dirinya sering sekali menggunakan kelicikan untuk mewujudkannya, tetapi bisa dipastikan cara yang dirinya gunakan dalam berbisnis selama ini, bisa dikatakan tidak terlalu membuat kerugian dari beberapa pihak yang ingin dirinya manfaatkan.
“Tuan Bram” namun saat dirinya sedang asik menikmati waktunya dengan Istrinya saat ini, dirinya dikejutkan dengan sosok pria paling kaya di negeri ini mulai memanggil namanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Hendra” jawab Bram yang menyahuti perkataan pria itu.
“Begini, aku ingin menanyakan sesuatu kepada anda. Ini tent-” namun belum juga pria bernama Hendra itu menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan tempat dimana Alfred dan Vero melakukan pertemuan akhirnya mulai terbuka.
Kemunculan sosok Alfred yang keluar dari dalamnya, tentu langsung menjadi pusat perhatian dari tempat tersebut. Bahkan Hendra yang sebelumnya ingin menanyakan sesuatu kepada Bram, saat ini mulai membatalkan niatnya dan langsung bergegas kearah pria tersebut.
Sosoknya yang terlihat sangat berwibawa itu, saat ini mulai bersalaman dengan sosok Zen dan Vero setelah mereka keluar dari ruangan tempat mereka bertemu tadi, dan seakan mulai berpamitan kepada mereka karena dirinya ingin langsung beranjak dari tempanya berada.
__ADS_1
“Apakah anda sudah menyelesaikan urusan anda, Tuan Alfred?” tanya Hendra yang saat ini sudah menyambut kembali kemunculan pria itu.
“Ya... bisa dikatakan seperti itu. Dan terima kasih kepada anda, yang sudah menyediakan sebuah tempat untuk kami. Kalau begitu, saya mohon pamit undur diri kalau begitu” ucap Alfred yang langsung membuat semua pihak mulai terkejut dengan perkataannya itu.
Alfred memang sudah tidak mempunyai urusan lagi ditempat ini. Karena niat awalnya untuk datang ketempat ini sudah terwujud. Jadi, untuk apa lagi dirinya harus berada ditempat ini, sehingga membuat dirinya memutuskan untuk beranjak dari sana.
Namun pemikirannya itu tentu tidak disetujui oleh beberapa pihak yang masih berada di sana dan menantikan sosoknya itu. Karena sosoknya yang hadir di sana saja merupakan sebuah kesempatan besar bagi beberapa pihak untuk mencari sesuatu yang mungkin akan menguntungkan bagi diri mereka.
Maka dari itu, Hendra saat ini mulai memutar otak bagaimana caranya agar dirinya bisa diberikan kesempatan yang sama, seperti sosok Vero yang melakukan pertemuan pribadi dengan sosok yang sangat besar namanya itu di muka bumi ini.
“Tetapi, bukankah sebaiknya anda menikmati waktu anda sejenak pada acara yang saya selenggarakan saat ini, Tuan Alfred?” ucap Hendra yang mencoba menahan kepergian dari pria tersebut.
“Hm.. sebenarnya saya ingin. Tetapi, saya masih ada keperluan lain, jadi saya akan undur diri kalau begitu” ucap Alfred yang sudah mengambil langkahnya dan bersiap beranjak dari sana.
Tentu Hendra yang melihat kepergiannya tidak tinggal diam. Karena bisa dikatakan, dirinya juga ingin sekali sekedar mengobrol dengan sosok Alfred. Hingga dirinya mencoba untuk meraih tangan dari pria itu, dan mencoba mencegah kepergiannya kembali.
Namun naas, sebelum kedua tangannya yang saat ini hendak menyentuh tangan dari Alfred itu berhasil menyentuhnya. Sosok pihak yang merupakan asisten dari Alfred langsung menghalangi tindakannya itu dan meraih tangannya yang dirinya anggap sangat lancang atas perbuatannya yang akan dirinya lakukan itu.
Tentu tanpa pikir panjang, asisten dari Alfred yang sudah meraih tangan dari Hendra, langsung menghempaskan dirinya dan membuat tubuhnya mulai tersungkur. Apalagi, tindakan itu sangat amat mengejutkan dirinya yang saat ini sosoknya bisa dipastikan tidak akan bisa menggapai lagi keberadaan Alfred yang sudah menjauh dari hadapannya.
“Tolong jaga sikap anda, dan jangan berperilaku yang lancang” begitulah ucapan yang keluar dari asisten milik Alfred tersebut, sebelum dirinya mulai beranjak mengikuti langkah dari Tuannya.
Hendra yang tersungkur, memang membuat dirinya merasakan sangat amat malu dengan kejadian tersebut. Apalagi, sebuah hal yang membuatnya kesal dari kejadian tersebut, bisa dikatakan karena keberadaannya yang sedang tersungkur itu tidak dipedulikan oleh beberapa pihak yang berada di sana.
Tentu tamu undangan dari acara yang dirinya selenggarakan, saat ini lebih memilih memfokuskan diri mereka untuk memperhatikan sosok Alfred dan mungkin mendapatkan kesempatan bagus untuk menunjukan sikap ramah mereka, yang saat ini mulai menyapa keberadaannya yang akan beranjak dari acara ini.
Jadi, seorang pria yang sangat penting itu saat ini sudah tersungkur dengan kondisi beberapa pihak yang tidak menghiraukan keberadaannya kembali, karena mereka lebih fokus dalam mencari perhatian dari sosok yang lebih tinggi statusnya dari dirinya.
__ADS_1
Perasan terabaikan itulah yang membuat pria bernama Hendra itu merasa sangat menyadari rendahnya statusnya dari pihak yang baru saja beranjak dari tempat ini itu. Bahkan statusnya sebagai orang terkaya di negara ini, bahkan tidak dipedulikan oleh sosok tersebut yang sudah menjauh dari keberadaan dirinya.
“Cih... mengapa malah menjadi seperti ini?”