Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Malam Pertama


__ADS_3

Sepasang suami istri yang merupakan pengantin baru, saat ini sudah memasuki sebuah kamar yang sudah dihias secara khusus sesuai status yang baru saja mereka dapatkan. Bahkan pengantin baru itu sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini, setelah mereka memasuki kamar tersebut.


Ribuan kelopak bunga yang sudah ditata dengan indah, lalu dua buah angsa yang terbuat dari handuk yang sudah membentuk sebuah lambang cinta dan berbagai tulisan ucapan selamat mulai memenuhi kamar tempat pasangan baru menikah itu berada.


“Tunggu... bukankah aku akan menjadi suami bayaranmu?” ucap Zen yang memperhatikan dekorasi kamarnya yang sudah diubah menjadi dekorasi bulan madu dari seorang pasangan baru.


“Cih... ini pasti ulah Kelly” ucap Vero yang merasa kesal bahwa sahabatnya itu melakukan sesuatu tanpa memberitahukan dirinya terlebih dahulu, saat dirinya sedang menunggu Zen sedari tadi.


“Hm... apakah suami bayaran hanya kedok karena kamu sebenarnya sangat mencintaiku dan ingin menikah denganku?” balas Zen kemudian yang langsung membuat Vero membulatkan matanya mendengar perkataan Zen, dan langsung menatapnya tajam.


“Cih... aku menikahi dirimu karena aku butuh sebuah perlindungan dan sebuah status. Jadi jangan harap aku untuk mencintai orang sepertimu” Balas Vero dengan nada dinginnya, untuk membuat Zen mengetahui statusnya saat ini.


“Hm... benarkah?” balas Zen yang mulai menarik kopernya dan meletakkannya pada sebuah lemari yang berada dikamar yang mewah itu.


Memang kamar yang dimana mereka berdua berada merupakan kamar hotel yang paling mewah pada hotel ini. Apalagi kamar ini sebelumnya merupakan kamar yang disewa oleh Vero untuk tempat dirinya menginap.


Namun saat ini, kamar tersebut sudah diubah menjadi sebuah kamar dari seorang pasangan baru yang akan melakukan hal romantis mereka ditempat ini, karena suasana dan dekorasinya sudah diatur sedemikian rupa agar menjadi seromantis mungkin.


“Tentu saja. Lalu cepat bersihkan semua ini, karena aku sudah capek menunggumu seharian dan ingin segera beristirahat” Perintah Vero kepada suami bayarannya itu.


“Aku yang membersihkannya? Bukankah katamu sahabatmu yang melakukannya, lalu mengapa aku yang harus membersihkannya? Dan juga apa maksudmu dengan ingin segera beristirahat? Apakah kamu akan tinggal pada kamar yang sama denganku?” cecar Zen dengan berbagai pertanyaan kepada Vero.


“Tentu saja karena dimata orang lain kita suami istri, jadi kita harus berada didalam satu kamar yang sama. Dan juga bukankah aku sudah membayar dirimu, tentu saja kamu harus mendengarkan semua perintahku” balas Vero.


“Hah? Bukankah aku dibayar sebagai suami bayaran, mengapa aku harus menjadi pesuruh bagimu?” tanya Zen yang saat ini mulai mengeluarkan handuknya dari dalam kopernya dan hendak membersihkan diri.

__ADS_1


“Bukankah sudah jelas bahwa tugasmu salah satunya adalah menuruti semua perkataanku?” balas Vero yang saat ini mulai kesal, mendengar balasan yang dilontarkan oleh Zen sedari tadi.


“Bukankah katamu tadi kamu hanya membutuhkan perlindungan dan sebuah status. Jadi tenanglah, kelopak-kelopak bunga mawar itu tidak berbahaya dan tidak akan melukaimu. Jadi aku tidak perlu untuk melindungi dirimu dari mereka bukan?” balas Zen yang tidak memperdulikan Vero dan akan masuk kedalam kamar mandi dari kamar tersebut.


Tentu mendengar perkataan Zen membuat Vero semakin kesal dibuatnya. Vero tidak menyangka bahwa seorang pria yang sudah dirinya bayar dengan bayaran yang tinggi berani menolak perintahnya.


“Tetapi bukankah kita sudah menandatangani sebuah kontrak, jadi kamu harus menuruti semua perkataanku!” teriak Vero yang menyusul Zen saat dirinya hendak memasuki kamar mandi.


“Bukankah didalam kontrakmu tidak ada klausul tentang diriku yang menjadi pesuruh untukmu?” tanya Zen balik.


Memang Zen dan Vero sudah membuat kontrak perjanjian pernikahan mereka. Banyak poin-poin penting yang terdapat dalam surat perjanjian tersebut, namun memang sebagian besar dibuat untuk melindungi Vero jika Zen berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya kepadanya.


“Memang, tetapi bukankah seharusnya kamu mendengarkan semua perintahku?” ucap Vero lagi.


“Tentu saja aku akan mendengarkan semua perintah darimu. Jika kamu berada didalam kesulitan aku akan dengan segera menolong dirimu” balas Zen yang mulai membuka pintu kamar mandinya.


“Wah.... apa kamu yakin tidak ingin mandi bersamaku? Akan sangat disayangkan jika cuma diriku saja yang menikmati semua ini” ucap Zen yang mulai masuk kedalam kamar mandi tersebut dan membuka bajunya.


“Cih... tidak sudi” teriak Vero dan langsung menutup pintu kamar mandi tempat Zen berada, karena dirinya kesal melihat pria itu sepertinya bersikap seenak dirinya sendiri, bahkan sudah membuka pakaiannya didepan dirinya.


Dengan perasaan kesal, saat ini Vero kembali menatap hiasan yang berada di atas tempat tidur dari kamar hotel yang disewanya, dan langsung meraih kedua angsa yang terbuat dari handuk yang berada di atas tempat tidur tersebut dan melemparkannya kearah pintu kamar mandi tempat Zen berada karena kesal.


“Masuklah, tidak perlu untuk mengetuk karena pintunya tidak aku kunci” teriak Zen dari dalam kamar mandi tempatnya berada, karena dirinya mengira Vero mengetuk pintu kamar mandinya.


Memang hasil benturan handuk berbentuk angsa itu dengan pintu kamar mandi yang dimasuki oleh Zen terdengar seperti sebuah ketukan. Jadi Zen mengira Vero ingin ikut dengannya untuk masuk kedalam dan ikut membersihkan diri bersama.

__ADS_1


“Siapa yang ingin masuk ke sana!” teriak Vero kemudian yang merasa semakin kesal, mendengar perkataan Zen itu.


Dengan perasaan kesal, Vero lalu meraih selimut dari tempat tidur yang masih terdapat banyak sekali kelopak bunga di atasnya dan mengebaskannya untuk membuat seluruh kelopak bunga yang berada diatasnya terjatuh kebawah, agar dirinya bisa beristirahat dan menenangkan dirinya karena cukup merasa kesal saat ini.


“Apakah menikahinya merupakan pilihan yang salah?” Ucap Vero yang mulai memikirkan sekali lagi keputusan yang sudah diambilnya, sambil mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah bersih dari kelopak bunga yang memenuhinya.


Hingga beberapa waktu kemudian, seorang pria yang sedari tadi membuat Vero kesal mulai keluar dari kamar mandi, setelah selesai membersihkan dirinya. Tentu Vero sempat terpana sejenak melihat Zen saat baru keluar dari tempatnya berada tadi.


Tidak dipungkiri, Zen sebenarnya sangat tampan. Tetapi statusnya yang membuat Vero menyayangkan kehidupan pria yang dianggap sangat tampan tersebut. Namun saat masih mengagumi ketampanan dari Zen, Vero dibuat terkejut dengan tindakan Zen selanjutnya.


“Apa yang kamu lakukan!” teriak Vero yang mulai duduk di atas tempat tidur tempat dirinya berbaring, karena melihat Zen sudah menaiki tempat tidur tempatnya berada.


“Kenapa?” tanya Zen kebingungan, yang saat ini dirinya sudah menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur yang ditempati oleh Vero, sambil mencoba mengeringkan rambutnya yang masih basah.


“Mengapa kamu naik ketempat tidurku?” tanya Vero kemudian.


“Untuk tidur?” balas Zen dengan nada bingungnya, karena masih bingung dengan arah pembicaraan wanita yang sedang berada di ranjang yang sama dengannya itu.


“Apa kamu sudah gila? Tentu saja kamu harus tidur di sofa dan aku tidur disini!” teriak Vero yang kembali merasa kesal dengan perilaku dari Zen.


“Mengapa aku harus tidur di sofa? Bukankah sofa tempat untuk duduk dan bersantai, bukan tempat untuk tidur?” balas Zen yang kembali membuat Vero semakin kesal dibuatnya.


“Tentu saja karena aku tidak mau tidur seranjang denganmu!” teriak Vero yang sudah terlihat emosi, mendengar Zen selalu menyahuti perkataannya.


“Mengapa? aku tidak keberatan tidur seranjang denganmu” balas Zen yang masih mengeringkan rambutnya, yang masih terlihat basah itu.

__ADS_1


Tentu mendengar perkataan Zen, membuat Vero merasa semakin kesal dan menganggap menikahi dirinya adalah pilihan yang salah. Bahkan Zen saat ini seakan tidak merasa bersalah dengan tindakannya dan membuat Vero semakin kesal dibuatnya.


“Zen Gwillyn!”


__ADS_2