
Didalam pikiran Santi saat ini bisa dibilang sangatlah kacau. Kejadian yang masih segar didalam benaknya tentang terlukanya bawahannya sangat parah, bahkan beberapa diantara mereka masih dalam kondisi kritis memang masih mengganggu pikirannya.
Dengan mendengar perkataan Zen sebelumnya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa perkataan Zen yang mengatakan dirinya masih terguncang sangatlah benar, karena memang saat ini dirinya mulai berfikir seperti seorang pemula dalam menangani sebuah kasus
“Jangan meremehkan instingku Zen” balas Santi yang merasa tidak terima dengan perkataan Zen yang menyebutkan dirinya masih terguncang atas kejadian yang terjadi tadi.
“Hehh... lalu apakah kamu tidak merasa aneh dengan sikap atasanmu tadi?” tanya Zen yang mencoba memastikan apakah benar bahwa insting Santi sehebat perkataannya.
“Aneh? Apa maksudmu tentang kebohongan yang dirinya katakan sebelumnya?” tanya Santi kembali yang masih merasa bingung dengan apa yang ingin disampaikan oleh Zen.
“Cih.... berarti dirimu benarlah bodoh kalau begitu” gumam Zen.
Santi yang mendengarnya tentu saja merasa kesal karena Zen terang-terangan menghinanya. Namun sebelum dirinya akan membela diri dan menyangkal perkataan Zen tadi, Zen sudah kembali duduk pada tempat dirinya berbaring tadi dan saat ini menatapnya.
“Dengarkan aku Santi. Aku tidak tahu jalannya proses penyelidikan pada hukum yang menurutmu benar itu. Tetapi bagiku saat kita akan menyelidiki sesuatu, bukankah hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari mengapa permasalahan itu bisa terjadi bukan?” Kata Zen yang mencoba mengembalikan insting wanita didepannya.
“Hmmm... perkataan darimu itu tidak salah, lalu apa maksudmu dengan berkata seperti itu?” tanya Santi, yang membuat Zen kembali menggelengkan kepalanya karena sepertinya wanita didepannya belum sepenuhnya paham dengan perkataannya itu.
“Pernahkan kamu mendengarkan bahwa atasanmu tadi bertanya pertanyaan yang menjurus kearah penyelidikan tentang mencari penyebab kasus penembakan yang terjadi pada kediamanku tadi?” tanya Zen kemudian.
Perkataan Zen langsung membuat Santi membulatkan matanya karena menyadari sesuatu. Atasannya yang merupakan komandannya tadi dalam interogasinya kepada Zen, seakan tidak memperdulikan siapa pelaku yang menyerang kediaman Zen dan lebih memfokuskan dalam bertanya seakan mengapa Zen selamat dalam kejadian tersebut.
“Pertanyaannya hanya menjurus mengapa kamu masih selamat dalam kejadian tersebut” balas Santi yang akhirnya menyadari arah pembicaraan dari Zen.
Pertanyaan komandan Santi tadi, hanya menyangkut tentang apa yang dialami oleh Zen saat penembakan itu terjadi, lalu dimana dia sembunyi, mengapa dirinya berada didepan pintu kamarnya, dan lain sebagainya seakan komandan dari Santi ingin mencari cela agar Zen akan dijerumuskan sebagai seorang tersangka yang harus dicurigai.
__ADS_1
“Hm... akhirnya kamu sedikit mulai paham” ucap Zen sambil tersenyum.
“Berarti komandanku selama ini juga merupakan salah satu dari mereka” gumam Santi yang masih tidak percaya dengan fakta yang baru saja dia temukan.
“Kamu baru menyadarinya. Padahal saat dirinya berkata bahwa dia akan menyelamatkan bawahanmu tadi dan terbukti berbohong seharusnya kamu sudah menyimpulkan bahwa dirinya juga seorang yang kotor” balas Zen.
Pemikiran Santi akhirnya mulai terbuka, setelah gangguan psikologi yang dialaminya tadi yang membuatnya tidak berfikir jernih, akhirnya sudah kembali seperti semula yang dimana saat ini instingnya sudah mulai kembali.
“Lalu apa yang harus aku lakukan Zen? Aku tidak mempunyai bukti untuk membuktikan keterlibatan komandanku” balas Santi.
“Sederhana saja” balas Zen yang sudah mengeluarkan sebuah pistol yang seakan diambil dari balik tubuhnya, yang ternyata dirinya keluarkan dari dalam ruang hampa miliknya.
“Mari kita habisi mereka” lanjut Zen yang sudah mulai mengokang senjatanya.
Santi cukup terkejut melihat reaksi Zen yang seakan sudah bersiap menyerang semua musuhnya. Namun Santi kembali menahan Zen karena menurutnya tindakannya itu masihlah sangat salah.
Namun sebelum Zen membalas perkataan Santi, pintu mobil ambulan tempat mereka berada mulai terbuka. Tetapi bukan pintu bagian belakang yang terbuka, melainkan dari pintu kemudi ambulan ini yang sudah terbuka dan sesosok pria sudah masuk kedalamnya.
“Saya sudah mengetahui lokasi kelompok penyerang kediaman anda Tuan, jadi apakah kita akan langsung menuju ke sana” balas seorang yang baru saja masuk kedalam ambulan tersebut.
Bukan hanya pria tersebut yang masuk kedalamnya, seorang wanita juga mulai duduk disebelah kemudi dari pria yang baru saja masuk kedalam mobil ambulan tersebut dan duduk dengan tenang di sana.
“Tentu, kita harus langsung ke sana. Aku juga sudah tidak sabar untuk menyiksa mereka karena berani-beraninya menghancurkan kediamanku” balas Zen dan membuat pria yang merupakan Bari langsung menghidupkan mobil ambulan yang dikendarainya dan langsung melesat dari sana.
“Kita akan kemana? Dan juga bukankah anda Tuan Bari Darkin” kata Santi yang cukup terkejut bahwa mobil ambulan tempatnya berada sudah beranjak.
__ADS_1
“Benar Nona Santi, nama saya Bari Darkin” balas Bari sambil tersenyum ramah.
Siapa tidak mengenal Bari Darkin, seorang pengusaha pemimpin perusahaan cabang keluarga Darkness yang dipimpin oleh Alfred Darkness di kota ini. Kedatangannya di kota ini cukup membuat heboh, walaupun hingga saat ini dirinya tidak pernah menunjukan dirinya dimuka umum dan hanya memimpin perusahaan cabang yang ditugaskan kepadanya dengan sangat baik dari balik bayangan.
Kedatangannya di kota ini sebenarnya untuk menggantikan pemimpin perusahaan cabang itu sebelumnya, yaitu Tuan Tenma Darkin yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaannya di negara ini dan memutuskan untuk pindah. Namun tetap saja reputasinya juga sangat terkenal dan membuat beberapa pihak pastilah mengenalnya.
“A-Apakah keluarga Darkness semacam mafia?” gumam Santi kemudian karena sepertinya mereka terlihat seperti itu.
Namun pandangan Santi langsung menuju kearah Zen, karena dirinya mendengar sendiri bahwa pemimpin sebuah perusahaan besar di kota ini memanggil Zen dengan sebutan Tuan. Jika seperti itu siapa sebenarnya Zen Gwillyn yang saat ini sudah berbaring kembali dengan tenang ditempatnya.
“Mengapa kamu mengikuti kami Marci, bukankan orang sepertimu tidak boleh ikut campur dengan apa yang akan kami lakukan nanti?” kata Zen yang cukup terkejut bahwa Marci saat ini sedang mengikuti mereka.
“Saya hanya ingin mengamati saja Tuan Zen.” Balas Marci yang masih duduk ditempatnya dengan tenang.
Memang berbeda dengan malaikat maut, seorang malaikat seperti Marci akan bertugas mengawasi jalannya nasib seluruh manusia yang berada diwilayahnya. Dirinya hanya memastikan bahwa nasib yang dialami manusia tidak kacau dan memastikan nasib di dunia ini tetap seimbang untuk menjaga keseimbangan hukum dunia.
“Oh... kalau begitu baiklah” balas Zen.
Santi sampai saat ini hanya terpana saja dengan apa yang terjadi. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa karena sepertinya orang-orang tersebut sudah terbiasa melakukan hal seperti ini, karena mereka terlihat cukup tenang dengan keadaan yang akan mereka lakukan nanti.
“Benarkah kalian akan membantai akar dari kelompok yang menyerang kediaman milikmu itu Zen?” tanya Santi sekali lagi.
“Seperti yang kamu lihat” balas Zen sambil menunjukan bahwa ambulan yang mereka kendarai sudah melaju menuju tempat tujuan mereka.
Sebenarnya Santi merasa dirinya harus menghalangi kegiatan mereka. Tetapi menurutnya, dirinya hanya harus mengikuti mereka dan mencari tahu semua bukti yang dibutuhkan olehnya, barulah dirinya akan menghalangi Zen beserta kedua orang yang bersamanya untuk membunuh.
__ADS_1
Lagipula menurut pendapatnya, Zen merupakan orang yang akan mendengar pendapat seseorang sebelum bertindak. Jadi dirinya akan memutuskan untuk tenang dan memperhatikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
“Kita hampir sampai tuan”