Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Menepati Janji Menjenguk


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu dengan sangat amat cepat. Bisa dikatakan tidak ada sesuatu yang terjadi beberapa hari ini, kecuali Zen yang sudah memastikan bahwa Santi sudah pindah menuju rumah sakit miliknya dan dirawat di sana.


Tentu dirinya melakukan hal tersebut dikarenakan wanita itu saat ini banyak sekali menjadi incaran beberapa pihak akibat perbuatan yang dirinya lakukan. Maka dari itu, cukup beruntung dirinya berada disalah satu tempat yang dijaga langsung oleh seorang malaikat maut.


Dan hal tersebutlah yang membuat dirinya bisa dikatakan cukup aman saat ini dan tidak membuat Zen kerepotan untuk mengurus keberadaan dirinya kembali. Karena saat ini Zen sudah kembali menuju kehidupannya yang normal, yang dimana dirinya masih setia menemani sosok Istrinya yang sedang melakukan sesuatu.


“CUT!!” dan begitulah sebuah teriakan yang terdengar pada sebuah gedung, yang dimana seorang wanita baru saja merampungkan pengambilan gambar dari sebuah series yang sedang dirinya sutradarai.


Bisa dikatakan, hari ini merupakan hari terakhir proses perekaman yang dilakukan oleh Anabelle atas series yang sedang dirinya kerjakan. Maka dari itu Zen, Vero dan Kelly saat ini sedang berada pada tempat yang akan menjadi hari terakhir proses syuting yang saat ini sedang berlangsung.


Tentu beberapa pihak saat ini mulai merayakan proses syuting yang sudah selesai tersebut. Walaupun bisa dikatakan masih ada beberapa tahap lagi sebelum series yang diinginkan oleh Vero untuk rampung, tetapi tetap saja yang terpenting sebuah proses yang harus mereka rampungkan sudah selesai sepenuhnya.


“Hahh... akhirnya. Tahap awal mimpi kita sepertinya sudah kita selesaikan, Ver.” ucap Kelly yang merasa senang bahwa tahap awal dari apa yang mereka produksi akhirnya sudah berakhir sepenuhnya.


“Benar, Kel. Akhirnya apa yang kita susah payah usahakan, saat ini sudah berjalan dengan baik” ucap Vero yang membalas perkataan bawaannya itu.


Semua hal dari apa yang mereka buat ditempat ini, memang membutuhkan waktu lama dan melelahkan untuk mewujudkannya. Jadi, mereka cukup merasa senang bahwa saat ini semuanya berjalan dengan sangat lancar dan membuat mereka cukup bahagia.


Seperti yang diketahui ada saja halangan yang mereka hadapi disaat apa yang akan dilakukan Vero ditempat ini akan dimulai. Dari mundurnya beberapa pihak, hingga permasalahan tentang perusahannya yang terus merosot dalam memperjuangkan semua ini.


Namun semuanya sepertinya sudah terbayarkan sepenuhnya, karena saat ini semua hal yang sudah mereka kerjakan ditempat ini sepenuhnya sudah rampung. Dan semua keinginan yang diinginkan oleh beberapa pihak terutama Vero akhirnya bisa terwujud sepenuhnya.


Beberapa pemeran, para kru dan seluruh pihak yang terkait juga merasa senang bahwa pekerjaan mereka sudah rampung sepenuhnya. Jadi saat ini mereka mulai merayakan dengan sebuah acara sederhana ditempat itu sebagai tanda mengakhiri proses syuting yang sedang terjadi ditempat ini.


Bahkan Vero sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk merayakan itu semua, sehingga penutupan hari itu terasa sangat membahagiakan bagi beberapa pihak yang sudah bekerja keras dalam merampungkan proses tersebut.


“Hahh... akhirnya aku bisa beristirahat” dan begitulah perkataan Anabelle yang memang sudah bekerja keras dalam melakukan proses syuting yang dirinya pimpin.


Anabelle juga bekerja sangatlah keras untuk mewujudkan ini semua. Jadi disaat tahap awal dari proses yang dirinya lakukan sudah rampung sepenuhnya, membuat Anabelle sedikit lega bahwa semua ini sudah selesai dan tinggal menyelesaikan beberapa tahap lagi untuk menyempurnakan hasil kerjanya tersebut.

__ADS_1


“Ya... istirahatlah. Bukankah proses pengeditan membutuhkan pemikiran yang segar. Jadi, lakukanlah apapun yang kamu mau, sebelum proses itu akan dimulai” ucap Vero yang saat ini merasa bangga dengan temannya yang sudah bekerja keras untuk dirinya itu.


Terbukti perjudian yang dilakukan Vero bisa terlihat bahwa dirinya sangat sukses atas perjudian itu. Sosok Anabelle yang dicap bermasalah, bisa dikatakan cukup sukses mengeksekusi keinginan Vero dengan cara yang amat sempurna.


Jadi, Vero cukup senang dengan hasil kerjanya yang melebihi ekspetasi yang diberikan oleh Vero, karena hal itu terlihat dari seluruh proses yang sudah dilakukan olehnya yang terbilang cukup baik dan sangat amat sempurna menurut Vero.


“Akan aku pastikan bahwa pikiranku benar-benar segar agar aku tidak mengecewakanmu, Vero” dan begitulah jawaban yang diberikan Anabelle yang menjawab perkataan dari Vero yang memang saat ini datang menyemangati dirinya.


Acara yang terjadi di sana memang tidak berlangsung cukup lama, karena memang semua pihak sudah cukup kelelahan dengan semua hal yang sudah terjadi. Jadi setelah mereka sudah menyelesaikan makanan yang sudah disediakan untuk mereka, akhirnya mereka semua mulai membubarkan diri.


Zen, Vero, Kelly, Anabelle dan asisten dari Vero yang baru yaitu Loa juga akhirnya pulang menuju kediaman mereka masing-masing. Namun saat ini, Zen dan Vero memutuskan untuk singgah pada sebuah tempat terlebih dahulu sebelum mereka kembali pulang menuju kediaman mereka.


"Sepertinya, walaupun aku sudah memindahkannya tetapi sepertinya masih ada pihak yang mencoba untuk menyusup dan akan menghabisi dirinya" gumam Zen, setelah dirinya disambut dengan pemandangan dari gedung yang bisa dikatakan sangat tidak asing bagi dirinya.


Zen dan Vero saat ini akhirnya tiba pada sebuah rumah sakit yang cukup dikenal oleh mereka berdua. Dengan supir pribadi yang membawa mereka dan  menurunkan tepat didepan pintu masuk rumah sakit tersebut, mereka berdua akhirnya turun dari dalam kendaraan yang mereka tumpangi tadi dan berniat untuk masuk kedalam gedung yang mereka datangi itu.


“Hahh... aku bingung, sudah berapa kali aku datang ke tempat ini” ucap Zen yang saat ini mulai menggandeng tangan Istrinya dan memasuki tempat itu.


Maka dari itu, Zen saat ini mulai seakan malas untuk sekedar menginjakkan kakinya ditempat ini lagi, karena bisa dikatakan apa yang selalu dirinya lakukan ditempat ini sangatlah merepotkan bagi dirinya, apalagi bisa dipastikan apa yang dirinya lakukan ditempat ini sering kali adalah untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.


Namun mau bagaimana lagi, karena sebuah janji yang sudah dirinya lakukan dan harus dirinya tepati, saat ini dirinya bersama Istrinya sudah mengambil sebuah langkah untuk memasuki gedung rumah sakit tersebut dan langsung menuju kearah ruangan yang akan mereka kunjungi ditempat tersebut.


“Nak Zen?” Hingga akhirnya langkah mereka harus terhenti, disaat seseorang saat ini mengenali sosok Zen dan memanggil namanya.


Seorang wanita paru baya saat ini bisa dikatakan menghalangi langkah mereka yang akan menuju kesebuah ruangan. Vero tentu saja kebingungan dengan sosok yang menyapa mereka tersebut, karena bisa dikatakan dirinya sama sekali tidak mengenalnya. Namun berbeda dengan Zen, yang sepertinya bisa dikatakan cukup mengenalnya, karena dirinya mulai menyapa balik wanita tersebut.


“Halo Bibi.” Balas Zen yang membalas sapaan dari wanita itu.


Vero yang masih cukup kebingungan dengan sosok yang disapa suaminya itu, akhirnya juga mulai menyapanya karena sepertinya suaminya mengenalinya. Namun, disaat dirinya menyapanya wanita tersebut, entah mengapa wanita itu malah menatapnya dengan tatapan yang penuh selidik kearahnya.

__ADS_1


“Ah... Ini Istriku, Bibi.” Dan begitulah tingkah wanita yang sedang menyelidiki sosok Vero terhenti, setelah Zen memperkenalkan sosok Istrinya tersebut.


"Benarkah? Bibi kira kamu hanya berbohong kepada Bibi bahwa kamu sudah mempunyai Istri.” Dan begitulah balasan yang mereka terima dari wanita itu, yang bisa dikatakan cukup terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh Zen kepadanya.


Wanita itu merupakan Ibu dari Santi yang saat itu datang ke ruangan rawat inap putrinya. Pada awalnya, dirinya mengira bahwa Zen merupakan pacar dari Santi pada saat itu. Bahkan mereka berdua pada saat itu sangat susah meyakinkan kepada Ibu dari Santi bahwa mereka bukanlah sebuah pasangan.


Bahkan Zen yang notabennya sudah mempunyai Istri dan sudah menjelaskan statusnya tersebut kepada Ibu dari Santi tetap saja tidak dipercayai oleh dirinya. Karena dirinya menganggap bahwa Zen dan Santi saat itu sedang menyembunyikan hubungan mereka didepannya.


Maka dari itu, sangat wajar jika wanita itu cukup terkejut bahwa perkataan Zen merupakan kebenaran, karena dirinya masih mengira bahwa Zen merupakan pacar dari Santi dan menganggap mereka menyembunyikan hubungan mereka hingga saat ini terhadapnya.


“Kalau begitu, kami mohon pamit Bibi. Karena kami harus menjenguk seseorang saat ini” Hingga akhirnya Zen yang sudah berbincang ringan dengan wanita itu, memutuskan untuk berpamitan kepada dirinya, karena saat ini Zen akan menjenguk seseorang ditempat ini.


“Ya... Bibi juga ingin keluar mencari makan. Kalau begitu sampai jumpa lagi” ucap wanita itu yang akhirnya membuat mereka mulai berpisah saat ini.


Vero yang sedari diam saja tentu langsung menanyakan tentang siapa sebenarnya sosok wanita tersebut kepada suaminya. Hingga akhirnya Zen mulai menjelaskan siapa sebenarnya dirinya dan membuat Vero mulai menatap dirinya dengan tatapan yang sangat tajam.


“Cih... apakah kamu mulai mendekati beberapa wanita dengan membabi buta, Zen?” dan begitulah ucapan yang keluar dari mulut Vero saat dirinya mendengarkan penjelasan dari suaminya itu.


“Tentu saja tidak. Sudah kubilang, aku hanya menjenguknya hanya karena dirinya merupakan kenalanku. Namun tiba-tiba saja Ibunya datang dan salah mengira tentang hubungan kami” balas Zen yang menjelaskan tentang situasinya pada saat itu, namun tatapan Istrinya masih menyeramkan kearah dirinya.


“Ingat, jangan asal membuat wanita jatuh hati kepadamu dengan cepat. Dan juga, pastikan memberitahukan diriku terlebih dahulu, jika ada yang mulai mengeluarkan aura ketulusan kepadamu” ucap Vero yang mewanti-wanti suaminya tentang permasalahan tersebut.


Tidak dipungkiri Vero ingin membatasi tingkat keserakahan dari Zen yang notabennya jika tidak diawasi dirinya akan bersikap dengan liar untuk mewujudkan keinginannya. Maka dari itu dirinya memperjelas statusnya dimata suaminya, agar pria itu tidak asal mengambil keputusan diluar sepengetahuan dirinya.


“Tenanglah. Akan aku pastikan mendengarkan perkataan Istriku yang cantik ini” ucap Zen yang saat ini mencubit sedikit pipi Istrinya yang menggemaskan, saat dirinya sedikit menunjukan ekspresi kesal kepadanya.


Sebenarnya Vero cukup kesal dengan sikap suaminya tadi, namun sikap dari suaminya itu mampu meluluhkan setiap kekesalan yang dirinya alami. Jadi dirinya hanya menghela nafasnya hingga mereka berdua mulai menelusuri lorong rumah sakit yang mereka datangi semakin dalam.


Hingga akhirnya mereka sudah sampai disebuah bangsal yang dikhususkan untuk perawatan anak-anak. Dengan sudah menemukan ruangan yang tepat, akhirnya pasangan suami istri itu mulai memasuki salah satu ruangan yang memang mereka tuju.

__ADS_1


Seorang wanita dan seorang gadis kecil mulai melihat kedatangan mereka. Sang Wanita yang dipastikan merupakan Ibu dari gadis kecil itu merasa senang dengan kedatangan mereka, apalagi sang gadis kecil itu yang langsung merasa bersemangat melihat sosok Zen yang saat ini sudah muncul di pandangannya.


“Ayahhhhhh!”


__ADS_2