
Santi cukup terkejut saat dirinya dibawa kesebuah wilayah yang sangat dirinya kenal. Wilayah ini merupakan wilayah yang selalu dirinya awasi untuk setidaknya mencari bukti keikutsertaan orang yang mendiami wilayah tersebut dengan beberapa kasus yang sedang dia jalani.
Semua detail informasi sudah dirinya punya, tetapi tetap saja dirinya tidak bisa menjerat orang yang bertanggung jawab atas beberapa kasus yang sedang diselidiki olehnya, karena mereka selalu saja lepas dari jeratan hukum yang mereka terima.
Walaupun dirinya mengetahui pemimpin kerajaan bisnis bawah tanah tersebut mempunyai beberapa pengawal yang sangat hebat untuk menjaganya, Santi juga tidak menyangka disekitar kediamannya juga dipasangi beberapa pencegahan untuk orang lain menyusup dan mencari informasi pada kediaman dari pria bejat tersebut, termasuk dirinya yang sudah menginjak sebuah ranjau darat saat ini.
“Ya.. bergeraklah. Ranjau itu tidak akan meledak lagi” begitulah perkataan Bari saat sudah selesai menonaktifkan hulu ledak dari ranjau yang diinjak oleh Santi.
Tentu mendengar itu Santi hanya menatap Bari dengan tatapan tidak percaya, karena memang dirinya mengetahui tipe ranjau yang diinjaknya dan tidak mungkin bahwa seseorang bisa menjinakkannya.
“Cepatlah, kita tidak punya waktu. Aku sudah sangat malas saat ini” balas Zen kemudian yang sudah mulai beranjak dari tempatnya untuk melanjutkan mendaki bukit yang saat ini sedang mereka tanjaki.
“Ikutilah langkah kami Nona Santi, agar anda tidak terkena ranjau seperti ini lagi” balas Bari kemudian yang mulai mengikuti Zen.
Marci juga hanya memberikan senyumnya kepada Santi sebelum dirinya pergi mengikuti dua orang rekannya, meninggalkan Santi yang masih terpana dengan apa yang saat ini sedang dia lihat.
“Apakah kalian ingin meninggalkan diriku meledak disini!” teriaknya kepada ketiga orang yang sudah menjauh darinya.
Tentu, siapa yang percaya dengan perkataan dari Bari tadi yang bisa menjinakkan bom yang sedang diinjak oleh Santi. Namun sepertinya teriakannya hanya dianggap angin lalu oleh orang-orang yang sudah menjauh darinya, karena ketiga orang tersebut sudah tidak menghiraukannya dan mulai menanjak tempat itu semakin jauh.
“Sialan.... Hey.... aku masih disini!” teriak Santi sekali lagi, namun tetap saja dirinya dihiraukan.
“A-Apakah aku akan mati disini” gumam Santi kemudian dan dirinya tidak tahu harus melakukan apa.
Pilihannya Cuma satu. Jika benar apa yang dikatakan Bari tadi, dirinya akan selamat atau jika Bari membual dirinya akan tamat. Jadi karena dirinya sudah tidak bisa melakukan apapun, terpaksa dirinya hanya mempercayai takdir yang akan dijalaninya kedepannya, yaitu mati atau selamat.
__ADS_1
“I-Ibu maafkan aku dan aku sangat mencintaimu” gumam Santi yang langsung melompat kearah depan dan melepaskan pijakannya dari ranjau yang diinjaknya tadi.
Santi mulai tersungkur dibawah tanah dengan mata tertutup setelah dirinya melompat dari tempatnya berdiri tadi. Cukup lama memang dirinya menunggu, tetapi sepertinya kematian tidak kunjung datang menghampirinya dan dirinya memutuskan untuk membuka matanya secara perlahan.
“A-Aku selamat?” Ucap Santi yang mulai menyentuh seluruh tubuhnya dan mendapati tubuhnya masih baik-baik saja.
“Benarkah pria itu merupakan ahli bom” gumam Santi kemudian yang menyadari bahwa ranjau yang diinjaknya berhasil dijinakkan oleh Bari.
Disisi lain, kelompok yang dipimpin oleh Zen saat ini sudah berada dipuncak bukit tempat mereka mendaki tadi. Dengan memperhatikan sebuah mansion yang besar di kejauhan, entah mengapa Zen merasakan sesuatu yang tidak semestinya berada didalam mansion tersebut.
“Apakah kalian juga merasakannya?” tanya Zen kepada kedua orang yang bersamanya.
“Vampire” gumam Bari yang ikut merasakan keberadaan asing selain manusia yang berada didalam mansion tersebut.
Memang beberapa hari yang lalu, Zen sering merasakan aura Vampire yang sedang bertarung dengan antek dari Dewa-Dewa Sinto. Tetapi karena dirinya malas ikut campur dengan urusan mereka, jadi Zen membiarkannya saja.
“Tentu saja, mau Dewa atau siapapun yang berani mengacak-acak kediamanku mereka harus musnah” balas Zen yang membuat Bari mengangguk paham.
“Siapa yang harus musnah?” Ucap Santi kemudian yang baru saja tiba di atas puncak dari bukit yang dirinya tanjaki.
“Baiklah, karena seseorang tidak akan bisa bertarung, jadi Marci akan bertugas menjaganya dan mengawasi tempat ini” Perintah Zen tanpa membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh Santi tadi.
“Baik Tuan Zen” balas Marci sambil tersenyum
Melihat Marci sudah paham, akhirnya Zen dan Bari langsung menuju kearah mansion besar yang berada dibawah bukit yang mereka tanjaki. Tentu saja Santi ingin kembali menghalangi mereka, namun saat ini tangannya langsung dirangkul oleh Marci dan menyuruhnya untuk tetap berada ditempatnya.
__ADS_1
“Apakah kamu ingin membiarkan rekanmu mati?” Ucap Santi yang langkahnya sudah dihalangi oleh Marci, dan dirinya cukup terkejut dengan kekuatan dari Marci yang bisa menghentikan langkahnya, bahkan gadis itu tidak bergeming sama sekali saat Santi mencoba melepaskan rangkulannya.
“Walaupun ada beberapa orang yang mungkin bisa membunuh mereka, tetapi orang-orang yang berada di mansion tersebut tidak akan ada yang bisa membunuh kedua orang tersebut” Jelas Marci yang membuat Santi semakin tidak mengerti tentang jalan pikiran dari ketiga orang yang bersamanya itu.
Zen dan Bari sudah mendekat kearah mansion yang sangat besar tempat mereka akan membantai orang-orang yang ada didalamnya. Dengan melihat beberapa pagar pelindung mengelilingi area dari mansion tersebut, saat ini mereka sudah berada tepat didekatnya.
“Buatlah pembatas agar orang-orang yang berada ditempat ini tidak bisa melarikan diri Bari” perintah Zen kepada Bari.
“Baik Tuan” balas Bari yang mulai membuat sebuah kubah transparan untuk mengisolasi area dari mansion yang akan mereka musnahkan.
Setelah memastikan Bari sudah melakukan tugasnya, Zen langsung menendang dan menghancurkan pagar yang berada didepannya agar hancur. Tentu saja tindakannya itu membuat beberapa suara peringatan mulai terdengar namun kedua orang yang membobol pagar yang sangat besar itu masuk kedalamnya dengan santai.
“Baiklah, musnahkan mereka semua Bari” ucap Zen yang sudah mengokang senjatanya dan siap menembakkannya.
Suara tembakan dari pistol yang dipasangi silencer oleh Zen mulai terdengar. Beberapa penjaga yang mendatangi tempat mereka mulai tumbang satu persatu karena terkena tembakan telak dari Zen.
Memang Zen saat ini lebih memilih menggunakan sebuah senjata yang berasal dari dunia manusia. Karena jika Zen mengeluarkan senjatanya, dirinya akan menggunakan beberapa kekuatannya yang sebenarnya dan Zen sangat tidak ingin menggunakannya untuk saat ini.
“Siapa kal-”
Namun salah satu pria yang belum mengucapkan satu kalimat itupun juga ikut tewas terkena tembakan Zen yang selalu tepat sasaran. Zen dan Bari saat ini benar-benar memusnahkan seluruh orang yang mendatanginya dengan cepat dan mulai memasuki wilayah mansion itu semakin dalam.
Disisi lain, seorang pria gemuk yang baru saja menikmati gunung kembar dari seorang wanita yang sudah ditindihnya, harus menghentikan tindakannya karena suara berisik yang selalu dirinya dengar sedari tadi.
Dirinya cukup emosi karena semua anak buah yang sudah dibayarnya dengan harga yang mahal, tidak bisa menghentikan suara tembakan yang terus terdengar yang terdengar seperti seakan sedang terjadi peperangan ditempat ini.
__ADS_1
“Cih... siapa yang berani-beraninya mengganggu kesenanganku”