
Beberapa media saat ini sudah disibukan dengan pemberitaan bahwa Raja dari sebuah kerajaan akhirnya tiba pada kerajaan miliknya. Tentu, karena pemberitaan tentang pernikahannya mulai tersebar, membuat beberapa media seluruh dunia ingin mencari berita yang terbaru terhadap sosok Raja tersebut.
Walaupun bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk merekam secara langsung keberadaan sang Raja, tetapi bandara internasional dari Ibukota dari Kerajaan tersebut, saat ini sudah dipenuhi oleh beberapa pihak yang ingin memberitakan keberadaannya di sana.
Kerumunan tersebutlah yang saat ini semakin membuat tempat dimana Raja itu mulai mendarat menggunakan pesawat pribadinya, semakin terlihat kacau karena beberapa media berusaha mencari cela agar bisa setidaknya meliput pada area yang dilarang untuk mereka, seperti contohnya area dalam badara tempat Raja tersebut mendarat.
“Kita akan menuju King Palace menggunakan Helikopter, Tuan.” Dan begitulah jawaban yang Zen terima dari bawahannya, disaat mereka baru saja mendarat pada bandara tempat mendarat.
Melihat kekacauan yang terjadi, tentu hal pertama yang ingin Alfred hindari adalah kekacauan tersebut. Maka dari itu, helikopter Kerajaan menjadi pilihan yang baik untuk membawa Zen beserta seluruh pihak yang bersamanya, agar bisa beranjak dari sana dengan aman.
Bisa dikatakan perjalanan yang sangat panjang itu, memang sangat amat membuat beberapa pihak kelelahan. Karena bisa dibilang, Kerajaan milik Zen terletak pada samudra pasifik yang jaraknya cukup jauh dari Indonesia yang dimana mereka tinggal.
Apalagi, ribuan wartawan dan beberapa pihak yang ingin mencari kesempatan untuk melihat sosok Zen yang sampai saat ini keberadaannya masih disembunyikan, mulai mengerumuni area bandara tempat dimana dirinya baru saja mendarat di sana.
Jadi, Alfred sudah memutuskan untuk pergi menuju ke istana milik Raja yang akan ditempuh menggunakan helikopter yang akan membawa mereka. Bisa dikatakan selain mereka bisa tiba dengan cepat, mereka juga bisa menghindari semua permasalahan yang akan mereka dapatkan jika melalui jalur biasa.
Maka dari itu, pemilihan transportasi itulah yang saat ini sangat disarankan oleh Alfred kepada Zen, untuk membawa mereka semua keluar dari tempat yang bisa dikatakan sudah sangat kacau, karena beberapa pihak memang ingin mencuri kesempatan untuk bertemu dengan sosok Zen.
“Ya.. yang terpenting kita bisa tiba dengan selamat” ucap Zen yang menyetujui saran bawahannya tersebut.
Zen masih duduk dengan nyaman ditempatnya. Apalagi, Istrinya saat ini masih tertidur pulas ditempatnya karena perjalanan jauh yang mereka lewati cukup melelahkan. Karena bisa dikatakan walaupun mereka menaiki sebuah pesawat yang nyaman, hal itu tidak menjamin bahwa mereka tidak kelelahan dalam perjalanan yang memakan waktu sangat lama itu.
Tentu Zen tidak ingin mengganggu tidur Istrinya yang terlihat sangat lelap. Maka dari itu, pesawat yang mereka tumpangi dan sudah tiba sedari tadi, penumpangnya belum ada yang turun dari sana karena mereka masih menunggu Vero untuk bangun dari tidurnya.
Apalagi, Bibi Leni juga masih terlelap dengan nyaman ditempatnya. Maka dari itu Zen memutuskan menunda untuk turun dari pesawat yang dirinya tumpangi walaupun mereka sudah tiba sedari tadi, samapi kedua orang tersebut mulai bangun dari tidur mereka.
“Kalau begitu, kami akan menyiapkan helikopter kerajaan untuk menjemput keluarga anda, Tuan” ucap Alfred yang langsung menghubungi seluruh anak buahnya.
Kedatangan Zen pada Kerajaan sendiri tentu membuat seluruh rakyatnya senang. Karena memang, selain para malaikat maut yang tinggal di kerajaannya, beberapa manusia memang juga tinggal didalamnya setelah Pride mengambil alih sepenuhnya wilayah ini menjadi Kerajaannya.
Apalagi, Pride juga dahulu berhasil mengambil alih seluruh kepulauan wilayah Hawaii dari Amerika dan menjadikan wilayah tersebut menjadi wilayah kerajaan miliknya. Maka dari itu, tidak heran beberapa manusia akan tinggal pada wilayah yang dipimpin oleh Zen saat ini.
Dengan pulau yang saat ini menjadi Ibukota Kerajaannya dan seluruh wilayah Hawaii sudah dimiliki olehnya, saat ini Kerajaan Gizeweith menjadi Kerajaan yang sangat makmur dengan memiliki berbagai wilayah yang sangat amat populer di seluruh dunia.
__ADS_1
“Oh... kita sudah tiba” tetapi disaat Zen sedang asik melihat keberadaan wilayah yang seharusnya dirinya pimpin, Istrinya ternyata sudah terbangun dari tidurnya karena bisa dikatakan suara helikopter yang menjemput mereka mengganggu tidurnya.
“Yap... kita sudah tiba sedari tadi” ucap Zen yang saat mulai mengusap kepala Istrinya yang baru bangun tersebut.
“M-Maafkan Bibi karena ketiduran, Tuan Zen.” Bibi Leni juga mulai bangun dan merasa bersalah karena dirinya ketiduran, sehingga mereka tidak kunjung beranjak dari tempat mereka saat ini.
“Tidak apa-apa Bibi. Kalau begitu, mari kita turun” ucap Zen dan mendapat anggukan dari Vero dan Bibi Leni yang sudah sadar sepenuhnya dari kondisi mengantuk yang mereka alami.
Sambutan sudah disediakan oleh beberapa pihak yang saat ini menyambut kedatangan Zen pada kerajaan miliknya. Bahkan, pihak yang menyambut kedatangan mereka saat ini, membuat Vero dan Bibi Leni mulai tercengang melihatnya.
Beberapa pebisnis ternama yang memegang seluruh perusahaan Darkness Company mulai berbaris untuk menyambut kedatangan mereka. Bahkan yang lebih mencengangkan, Perdana Menteri Kerajaan ini bersama Istrinya sudah berada pada barisan paling depan dari barisan penyambutan tersebut.
Dengan keberadaan mereka yang sudah berbaris rapi pada bagian bawah tangga dari pesawat yang ditumpangi oleh Zen, mereka semua mulai tersenyum melihat kedatangan sesosok pihak yang sangat mereka hormati dan dirinya sudah datang bersama seorang Istri yang juga sangat mereka nantikan keberadaannya.
“Misa... sudah alam aku tidak bertemu denganmu” ucap Zen yang saat ini langsung memeluk bawahannya yang bisa dikatakan sangat dekat dengan dirinya itu.
“Selamat datang, Tuan Zen. Saya juga sangat senang menyambut Anda yang datang bersama Istri Anda” ucapnya ramah kepada sosok Tuannya tersebut.
“Hmm... Margaret, kamu ternyata bertambah cantik” ucap Zen yang saat ini berpindah menuju ke salah satu bawahannya yang juga bisa dikatakan paling dekat dengan dirinya.
Posisi kedudukan mereka di Neraka bisa dikatakan berada dibawah Alfred secara langsung. Maka dari itu, bisa dikatakan mereka masihlah petinggi dari semua malaikat maut milik Zen. Apalagi, ketiga malaikat maut tersebut memanglah paling dekat dengan sosok Zen saat dirinya masih memimpin Neraka.
Alfred bisa dikatakan tangan kanan Zen saat masih di Neraka. Misa, merupakan asisten pribadi dari Zen dalam menjalankan seluruh wilayah Neraka. Sedangkan Margaret sendiri, merupakan kepala pelayan dari sosok Zen yang dahulu tinggal di Neraka.
Maka dari itu, mereka bisa dikatakan sosok-sosok yang paling dekat dengan Zen, dari semua malaikat maut yang berada dibawah Zen. Namun tetap saja, seluruh bawahan Zen sangat dirinya sayangi, apapun yang terjadi maupun status apapun yang mereka punya.
“S-Suamimu saat ini bersikap sangat santai dengan Pemimpin negara ini, Nona Vero” ucap Bibi Leni yang sangat amat terkejut dengan pemandangan yang sedang dirinya lihat.
Vero juga merasakan hal yang sama dengan Bibinya. Dirinya tidak menyangka, bahwa hubungan Zen dengan pihak sepenting itu sangatlah dekat. Bahkan, saat ini keterkejutannya bisa dikatakan sama dengan keberadaan Alfred yang dirinya ketahui merupakan bawahan dari Zen.
Karena sepertinya yang dirinya lihat, pihak yang sangat berkuasa itu seperti sangat menghormati keberadaan suaminya, yang dengan hangat menyapa mereka seakan mereka merupakan seorang yang sangat amat dekat dengan dirinya.
“Jadi, anda yang bernama Veronica Safira?” tanya Misa yang saat ini menjulurkan tangannya dan ingin meraih tangan Vero yang masih diam ditempatnya.
__ADS_1
Vero dan Bibi Leni memang mengikuti langkah kaki dari Zen. Pada awalnya, Zen mulai turun dengan menggandeng tangan Vero pada tangannya, namun Vero memutuskan untuk melepaskannya disaat Zen mulai menyapa semua pihak yang menyambutnya, dan mulai menemani Bibi Leni yang merasa canggung dengan semua keadaan yang terjadi.
Hingga akhirnya, saat ini sebuah sapaan mulai didengar oleh dirinya, disaat pihak yang merupakan salah satu pihak yang paling berpengaruh di dunia ini mulai mendekati dirinya, dan menyapa dirinya yang masih diam terpaku ditempatnya saat ini.
“A-Ah... iya... Saya Veronica Safira” ucap Vero yang menyambut tangan dari pria yang menyorongkan tangannya kepadanya itu.
Misa mulai berlutut saat meraih tangan dari Vero, untuk menunjukan rasa hormatnya kepada wanita itu sambil meraih tangannya. Dan seperti yang diketahui, Vero cukup terkejut dengan tingkahnya dan dirinya tidak tahu harus melakukan apa setelah mendapatkan perlakuan seperti itu.
“Bersikaplah seperti biasa, Misa. Istriku bukanlah seseorang yang senang diperlakukan seperti itu” Namun untung saja Zen langsung menghentikan tindakan dari bawahannya itu.
Pihak yang menjadi Perdana Menteri di Kerajaan yang dirinya datangi mulai berlutut dihadapannya. Tentu saja hal itu membuat Vero cukup bingung hingga semakin terpaku ditempatnya, karena dirinya sama sekali tidak mengharapkan sesuatu seperti itu terjadi kepada dirinya.
“Ah... maafkan saya kalau begitu” ucap Misa yang langsung melepaskan tangan dari Vero dan mulai berdiri kembali.
“T-Tidak apa-apa, Tuan Misa. S-Saya hanya terkejut saja tadi” ucap Vero yang akhirnya bisa bernafas lega, karena bisa dikatakan dirinya akhirnya bisa keluar dari situasi yang membingungkan tersebut.
Melihat Vero yang cukup bingung membuat Zen cukup senang melihatnya. Apalagi, ekspresinya yang terlihat kikuk itu, seakan sangat menggemaskan dimata Zen hingga akhirnya salah satu bawahan pentingnya saat ini mulai memeluk Istrinya itu.
“Akhirnya, hari dimana Tuan Zen memiliki Istri yang tulus akhirnya tiba” ucap Margaret yang merasa senang dengan kemunculan Vero yang datang bersama Tuannya.
Seluruh bawahan Zen tentu saja mengharapkan hari ini akan tiba. Hari yang dimana Tuan mereka membawa seseorang yang mencintai dirinya dengan sangat tulus, dan menjadikan mereka sebuah pasangan yang sangat amat sempurna.
Hal itu bisa mereka rasakan dari sosok mereka berdua, yang bisa dikatakan saling mencintai satu sama lainnya. Karena selain terlihat dari berkah ikatan yang sudah mengikat mereka, tingkah mereka juga bisa dikatakan terlihat saling mencintai satu sama lainnya.
“A-ahh.. T-Terima kasih...” ucap Vero yang mulai membalas pelukan wanita yang tiba-tiba memeluknya, dan tentu dirinya masih sangat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi ditempat ini.
Margaret tentu sangatlah senang, karena sudah berjuta-juta tahun lamanya dirinya melihat beberapa wanita hanya memanfaatkan status Tuannya saja, dan akhirnya muncul sesosok wanita yang tidak seperti wanita yang pernah Zen nikahi sebelumnya.
Dengan terus memeluk sosok Vero dengan perasaan yang sangat amat senang, tentu dirinya berharap hubungan mereka akan selalu harmonis. Dan dalam kehidupan baru Tuan yang dirinya layani saat ini, akan berubah sepenuhnya dan dirinya bisa bahagia dalam menjalankan kehidupan barunya di dunia ini.
"Ya... saya cukup senang anda yang menjadi pendamping Tuan yang saya layani, Nyonya Vero" dan begitulah akhir dari perkataan Margaret yang menyambut sosok Vero yang masih kikuk dengan keadaan yang terjadi.
Penyambutan itu terus berlangsung, yang dimana Bibi Leni yang juga bersikap sama dengan Vero karena mulai mendapatkan sambutan yang sama. Apalagi, bukan hanya Misa dan Margaret saja yang berada di sana, tetapi beberapa orang juga mulai menyambut kedatangan Zen ditempat itu.
__ADS_1
“Kalau begitu, mari kita langsung menuju King Palace karena seluruh keluarga anda sudah menunggu anda di sana, Tuan Zen.”