
Posisi dari Indra bisa dikatakan serba salah saat ini. Semua yang sudah dirinya rencanakan bisa dikatakan gagal sepenuhnya. Bahkan semua rencana yang sudah dirinya rencanakan dengan niat untuk menyerang sebuah pihak, bisa dibilang mulai berbalik dan akan mengancam keberadaannya saat ini.
Semua pihak yang dulunya sudah dijanjikan berbagai hal agar mengikuti rencananya, seakan mulai menuntut hasil dari bantuan mereka kepada Indra. Apalagi kabar bahwa tidak ada perkembangan dari rencananya sudah mulai tersebar dengan luas, karena bisa dilihat perusahaan dari Vero baik-baik saja hingga saat ini.
Bahkan dirinya juga bingung, bagaimana Vero bisa terlepas dari semua jeratan jahat yang sudah dirinya lakukan, atas bantuan beberapa pihak yang sudah dirinya bayar dengan sangat mahal, untuk membantunya menghancurkan perusahaan Vero dan akan datang sebagai pahlawan kepada dirinya.
Namun naas, bukan Vero sendirilah yang saat ini membutuhkan bantuan, karena bisa dikatakan Indra saat ini sudah berada diujung tanduk. Bisa dikatakan seluruh pihak yang menanti keberhasilan rencananya mulai menekan dirinya, karena janji yang dirinya berikan kepada mereka tidak kunjung diberikan hingga saat ini.
"Apakah aku harus memakai rencana itu?" gumam Indra yang saat ini semakin terdesak, dengan buah hasil semua rencananya selama ini.
Rencana yang dirinya pikirkan itu, merupakan sebuah rencana yang akan melewati sebuah batas yang sudah dirinya buat untuk tidak dilewati. Karena selama ini, dirinya sudah memutuskan untuk sama sekali tidak melewati batas itu apapun yang terjadi.
Maka dari itu. bisa dibilang dirinya sama sekali tidak ingin menggunakan rencana yang bisa membawanya menuju kearah seorang kriminal. Namun sepertinya keadaannya saat ini mulai memaksanya untuk melakukannya, apalagi dirinya semakin terdesak dengan semua kegagalan dari rencananya.
Memang Indra sama sekali tidak ingin menodai citranya dalam berbisnis dan selalu melakukan sesuatu yang bersih dalam menjalani bisnisnya. Apalagi dirinya takut hal jahat yang dirinya lakukan itu akan berdampak buruk dimasa depan, jika perbuatannya itu akan ketahuan dan diketahui beberapa pihak.
"Cih... sepertinya aku terpaksa melakukannya" ucap pria itu yang mulai membuat keputusan, dengan melanggar semua keyakinan yang dirinya lakukan selama ini.
Berat memang dirinya memutuskan, tapi mau tidak mau dirinya harus melakukan hal ini. Walaupun dirinya sedikit takut, namun saat ini dirinya sudah memutuskan untuk melanjutkan rencananya yang bisa dikatakan mulai berubah kearah yang sangat keji menurutnya.
Dan begitulah bagaimana Zen saat ini sudah disekap dengan seluruh tubuhnya terikat sepenuhnya. Aneh memang dengan apa yang dirinya lakukan saat ini, karena memang biasanya dirinyalah yang mengikat seseorang dan menyiksanya kelak.
Tetapi untuk menjalankan rencananya dalam mencoba mengumpulkan seluruh kecoa pada tempat yang sama, tentu Zen berusaha menjadi sebuah umpan yang baik. Maka dari itu, Zen mulai bersabar ditempatnya sambil menunggu semua pihak yang mempunyai niat jahat kepada dirinya ataupun Vero, yang akan berkumpul ditempat ini.
"Sialan, kenapa wanita itu tidak mengangkat panggilan Video dariku?" ucap Indra dengan kesal, karena memang sambungan panggilan video kepada Vero selalu ditolak oleh wanita itu.
Memang sudah sedari tadi dirinya mencoba menghubungi Vero, untuk mencoba mengancamnya. Namun sayangnya, wanita itu seakan mencoba menolak panggilannya, hingga akhirnya Indra menuliskan pesan kepada wanita itu terkait tentang dirinya yang sudah menyekap sosok Zen, dan akan menggunakan dirinya sebagai sandera.
Tentu Vero awalnya tidak percaya, namun setelah dirinya kembali mengirimkan foto suaminya yang sedang terikat, akhirnya membuat Vero mengangkat panggilannya. Tentu Indra sudah menyuruhnya untuk mengangkat panggilan itu sendirian, sebelum sambungan panggilan video mereka itu mulai tersambung.
__ADS_1
"Hahaha... akhirnya kamu mengangkatnya" ucap Indra yang merasa senang, bahwa wajah wanita yang dicintainya saat ini sudah muncul pada layar ponsel pintarnya.
"Apakah kamu mencoba menipuku, Tuan Indra?" Tanya Vero yang langsung menghubungi pria bernama Indra itu, setelah dirinya mendapatkan sebuah pesan dari dirinya.
"Silahkan kamu melihatnya sendiri" ucap Indra yang dimana hal tersebutlah yang membuat kejadian Vero menangis hingga menyatakan cinta Zen mulai berlalu.
Seperti yang diketahui, sebenarnya Zen bisa saja melepaskan dirinya dari jeratan ikatan dan perlakuan yang dirinya terima saat ini. Namun entah mengapa, dirinya merasakan sesuatu yang membuatnya menghentikan tindakannya itu, padahal seluruh pihak yang ditunggunya untuk berkumpul ditempat ini sudah tiba semuanya.
Perasaan itu, sama seperti sebuah perasaan yang tulus, yang pernah dirinya rasakan dari Bibi Leni. Apalagi, didalam hati Zen seakan ingin menerima perasaan tulus itu dan mengakuinya. Entah apa sebenarnya yang dirinya rasakan itu, namun dirinya mencoba memastikannya saat ini.
Hingga akhirnya semua hal sudah terjadi, yang dimana Zen sudah tersungkur saat mendengarkan pengakuan cinta dari Vero tadi. Sebelumnya Zen cukup bingung bagaimana cara menerima perasaan tulus itu yang diberikan oleh Vero kepada dirinya.
Tetapi perkataannya yang mengakui perasaannya kepada Zen, entah mengapa membuat dirinya baru saja mengikrarkan sebuah kontrak terhadap Zen, yang berisi apakah Zen akan menerimanya atau tidak. Dan seperti yang sudah diketahui, bahwa Zen akhirnya menerima rasa cinta yang tulus itu, sehingga mereka mulai saling menerima perasaan mereka saat ini.
"Baiklah, kalau begitu mari kita membalikkan situasi yang terjadi" Ucap Zen, yang saat ini merasa tindakannya yang terus mengalah sedari tadi sudah lebih dari cukup, karena dirinya sudah menerima sepenuhnya rasa cinta Vero kepada dirinya.
Dengan melepaskan tali yang mengikatnya secara paksa, saat ini Zen dengan gerakan cepatnya langsung merebut senjata yang digunakan pria yang saat ini sedang menodongkan senjatanya tepat dibelakang kepalanya. Dengan gerakan cepat dan tidak terduga dari Zen, dirinya langsung bisa merebut senjata yang saat ini sudah berada ditangannya.
Hingga akhirnya, sebuah tembakan yang tepat sasaran, mulai menembus kepala dari pria yang saat ini tidak menyangka, bahwa pria yang dirinya todong itu berhasil merebut senjatanya dan membuatnya tewas seketika dengan sebuah timah panas mulai menembus kepalanya.
"Baiklah, siapa selanjutnya" Ucap Zen, yang saat ini mulai berdiri dari tempatnya dan bersiap membantai semua pihak yang berada ditempat dimana dirinya berada saat ini.
Dengan kemampuannya yang sangat cepat dalam hal menembak, Zen saat ini mulai membunuh satu persatu pihak yang mencoba melawan dirinya. Bahkan tidak ada satupun yang dirinya lepaskan dari pembantaian yang dirinya lakukan secara brutal tersebut.
Bahkan beberapa pihak yang merasa takut dan hendak melarikan diri dari kebengisan yang dilakukan oleh Zen. Terpaksa harus mengikhlaskan bahwa nyawa merekalah yang melarikan diri terlebih dahulu dari tubuh masing-masing dari mereka, karena saat ini kejaran peluru yang ditembakkan Zen bisa dikatakan lebih cepat dari pelarian mereka.
"Ah... apakah sisa dalangnya saja saat ini?" gumam Zen yang saat ini mulai menatap Indra yang berdiri terpaku ditempatnya, karena dirinya sedang menatap kejadian yang baru saja terjadi kepada beberapa pihak yang sudah dirinya bayar.
Pada ruangan tersebut, memang hanya bisa didengar sebuah suara tangisan dari sambungan panggilan Video yang dilakukan oleh Indra. Dan juga, suara tersebut dipastikan berasal dari Vero, yang saat ini masih menangis histeris karena dirinya masih menangisi keputusan yang dirinya lakukan sebelumnya.
__ADS_1
Ruangan yang sebelumnya dipenuhi suara gelak tawa oleh beberapa pihak, memang sudah berganti dengan suara tembakan yang terus terdengar. Hingga akhirnya saat ini bisa dikatakan ruangan itu mulai sunyi, dan suara tangisan Vero melalui sambungan panggilan video yang dirinya lakukanlah yang saat ini memenuhi tempat ini.
Apalagi wanita itu semakin terisak, setelah mengetahui bahwa keadaan suaminya saat ini sudah baik-baik saja. Ada perasaan lega disaat dirinya melihat kondisinya, dan membuat dirinya tidak bisa berhenti menangis akibat perasaannya yang mulai bercampur aduk saat ini.
Indra yang sebelumnya terus menunjukan sebuah senyum kemenangannya sedari tadi, entah mengapa raut wajahnya mulai berubah menjadi raut wajah yang dipenuhi dengan teror. Karena bisa dikatakan, disaat dirinya melihat sesuatu yang baru saja terjadi ditempatnya, membuat pria itu langsung terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.
Bahkan akhirnya sebuah suara tangisan Vero mulai bercampur dengan suara kaki dari Zen, yang saat ini mulai mendekat kearah Indra dan merebut ponsel yang dirinya gunakan untuk menghubungi Vero. Setelah berhasil merebut ponselnya, Zen saat ini mulai melihat sejenak rupa wanita yang dirinya akui cintanya itu.
"Mengapa kamu menangis? apakah kamu mengira pria yang sangat kamu cintai ini, akan kalah dengan mudah?" ucap Zen yang mencoba menenangkan Vero yang masih menangis pada panggilan tersebut.
Tentu Vero merasa bersyukur melihat keadaan Zen baik-baik saja saat ini. Bahkan dirinya tidak menjawab perkataan Zen, dan terus memperhatikan kondisinya untuk memastikan apakah benar suaminya itu baik-baik saja keadaanya saat ini
"A-Apakah kamu be-benar baik-baik saja, Zen?" tanyanya, yang ingin memastikan kondisi dari orang yang sangat dicintainya tersebut.
"Aku baik-baik saja. Kamu tunggulah aku kembali, dan pastikan kamu menenangkan dirimu, oke. Karena seperti yang kami lihat, aku ingin membereskan kecoa yang saat ini cukup mengganggu pemandangan ditempat ini." Ucap Zen yang akan mengakhiri panggilan tersebut karena dirinya ingin mengurus permasalahan yang terjadi ditempat ini.
Dengan memastikan Vero mulai mengerti dengan perkataannya, akhirnya Zen mulai mengakhiri panggilan yang sedang dirinya lakukan itu. Dengan membuang ponsel yang dirinya gunakan tadi, akhirnya Zen mulai menatap pria yang saat ini tubuhnya mulai otomatis berlutut pada tempatnya.
"M-Maaafkan a-aku Tu-" namun belum juga dirinya mengungkapkan permintaan maafnya secara menyeluruh, sebuah suara tembakan saat ini mulai terdengar.
Tentu ruangan yang sebelumnya terdengar berbagai suara yang selalu berganti, saat ini akhirnya mulai terdengar suara teriakan yang terdengar dari sana. Hal itu dikarenakan, saat ini Zen mulai menembakan pistolnya kearah paha dari pria yang meminta pengampunan dari dirinya tadi.
"Maafkan aku... maaflan ak- AHHHHHHH" namun suara teriakan kembali terdengar, disaat Zen mulai menginjak bekas luka tembak yang dirinya berikan kepada pria itu, menggunakan kakinya saat ini.
"Maaf, tetapi cobalah untuk bertahan dari semua perlakuan yang akan aku berikan nanti" ucap Zen yang saat ini mulai menodongkan pistolnya lagi kearah Indra yang masih berusaha menahan rasa sakit yang dirinya rasakan.
Suara tembakan kembali terdengar, yang dimana suara teriakan Indra semakin keras terdengar. Karena bisa dikatakan, Zen baru saja menghilangkan daun telinga dari pria tersebut, menggunakan peluru yang berhasil memutuskan daun telinganya.
Namun, setelah Zen mendengar bahwa suara dari Indra semakin mengeras, Zen langsung memukul wajah pria itu dengan keras, menggunakan gagang pistol yang dirinya pegang untuk membuat dirinya pingsan. Bukan tanpa sengaja Zen melakukan hal itu, karena sepertinya ada kecoa baru yang saat ini sedang mendatangi dirinya.
__ADS_1
"Lalu, mengapa kalian para Kultivator bisa berada ditempat ini?