
Zen tentu langsung menatap Ayahnya saat ini. Tatapan itu tentu lebih kearah mengejek dirinya, karena bisa-bisanya dirinya tidak memikirkan terlebih dahulu tentang hukum yang dirinya buat, sehingga Ibunya atau Istri dari Ayahnya itu malah lenyap dan dihapuskan keberadaannya pada semesta ini.
Ada perasaan kesal melihat kecerobohan Ayahnya itu, karena memang sepertinya sifatnya itu tidak berubah dan membuat Zen sedikit jengkel dengan semua kelalaian yang dilakukan oleh pria itu, sehingga berkali-kali dirinya membuat masalah yang tidak perlu dan menyebabkan berbagai permasalahan.
"Hahh.. ternyata Ayah dari dulu sama sekali tidak berubah" balas Zen yang saat ini dengan terang-terangan langsung mengejek Ayahnya.
"Apa maksudmu? Bukankah Ayah berkata Ayah tidak sengaja?" balas Sang Pencipta yang membela diri atas permalasahan tersebut.
Zen tidak habis pikir memang dengan sikap Ayahnya itu. Memang walaupun dirinya merupakan Sang Pencipta, sosoknya sering lalai akan sesuatu. Zen bahkan beberapa kali harus menyelesaikan permasalahan yang diciptakan oleh dirinya, sehingga Zen sangat tahu dengan pasti sifat dari Ayahnya yang ternyata tidak pernah berubah itu.
"Lalu, kenapa membutuhkan waktu lama untuk membangkitkan sosok Ibu kembali?" tanya Zen, karena memang Ibunya sepertinya baru muncul kembali.
"Karena jiwanya seakan dihukum oleh hukum semesta yang Ayah ciptakan, sehingga jiwanya baru bereinkarnasi lagi disaat sebelum dirimu dan adik-adikmu terlempar ke salah satu dunia ciptaan Ayah" balas Sang Pencipta.
Alasan Sang Pencipta memutuskan pensiun tentu bisa dikatakan karena munculnya kembali jiwa Ibu kandung Zen yang akhirnya bereinkarnasi. Maka dari itu, dengan memalsukan kematiannya dihadapan Zen, akhirnya Sang Pencipta memiliki waktu untuk memulai kembali dari awal kehidupannya dengan wanita yang paling dirinya cintai di dunia ini.
"Dan, Ayah dan Ibu memutuskan untuk tinggal di dunia ini sendirian?" tanya Zen kembali, karena memang dunia tempat tinggal kedua orang Tuanya hanya ditinggali mereka berdua.
"Tentu saja tidak Putraku. Kami sesekali berkeliling mengunjungi dunia lain untuk sekedar menghabiskan waktu berdua. Walaupun memang dunia ini merupakan kediaman kami, karena ini adalah dunia dimana Ibu tinggal dahulu" balas Ibu dari Zen menjawab perkataannya.
Tentu sebagai dunia awal mula, dunia ini sudah hancur dan mulai berevolusi. Semua yang tinggal pada dunia ini tentu sudah punah dengan berbagai bencana yang dialami oleh dunia ini, karena umur dunia ini sudah sangat tua. Hingga dunia ini hanya menyisakan perairan, dan pulau yang mereka tempati ini merupakan pulau yang diciptakan oleh Sang Pencipta sebagai tempat tinggal dirinya dan Istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah, kita akan berbincang lagi nanti. Karena takutnya masakan Ibu malah sudah dingin, dan tidak enak untuk disantap lagi" ucap Rafaela yang mengentikan perbincangan mereka.
Entah kenapa ada rasa kehangatan disaat sosok wanita yang baru diketahui oleh Zen sebagai Ibunya, saat ini menghidangkan dirinya berbagai makanan untuk dirinya santap. Bahkan dengan telaten, wanita itu mulai menuangkan berbagai makanan kedalam piring dari Zen dan memberikan kepadanya.
Melihat hidangan lezat, tentu Zen langsung mencicipinya. Hingga setelah dirinya mencicipi rasa masakan Ibunya, Zen tentu langsung membulatkan matanya karena terkejut, karena memang rasanya sangat lezat. Tentu dirinya tidak tahu apakah makanan itu memang lezat, atau dirinya hanya terbawa karena itu masakan Ibunya.
Namun semakin dirinya memasukan sendok demi sendok makanan itu kedalam mulutnya, dirinya baru menyadari bahwa memang masakan Ibunya sangat amat lezat. Bahkan ini makanan terenak yang pernah dirinya santap dan membuat Zen langsung bersemangat memakan makanannya dengan sangat amat lahap.
"Pelan-pelan saja. Ibu memasak banyak makanan, jadi kamu bisa makan sepuasnya" ucap Ibunya yang juga ikut menikmati santapan makanannya.
Zen tanpa menjawab hanya mengangguk saja menawan perkataan Ibunya, sambil terus menyantap makanan yang sedang dirinya santap. Hingga akhirnya meja makan itu menjadi saksi sebuah keluarga kecil saat ini sedang menikmati waktu mereka bersama ditempat ini, dan sedang menikmati setiap detiknya.
Seminggu kemudian
Berbagai tanaman sayuran dan sebagainya tumbuh subur ditempat ini. Bahkan Ayah dari Zen, yaitu Sang Pencipta memelihara berbagai hewan ternak ditempat ini. Maka dari itu, Ayah dan Ibunya seakan tidak akan kekurangan apapun dalam hidup pada wilayah yang sangat kecil pada dunia yang sangat luas ini.
"Ini sayurannya, Ibu" hingga setelah selesai memanen beberapa sayuran permintaan Ibunya, Zen langsung menyerahkannya kepada Ibunya.
"Terima kasih Putraku." dan begitulah Ibu dari Zen mulai melanjutkan aktivitasnya dalam memasak makanan untuk mereka.
Zen sendiri tentu kembali menuju area belakang dari kediaman milik kedua orang tuannya. Namun kali ini dirinya mulai membantu Ayahnya dalam mengurus seluruh hewan ternak miliknya, yang saat ini disibukkan dengan memanen beberapa hasil ternak untuk santapan mereka untuk siang ini.
__ADS_1
"Kali ini, bagaimana kalau kita makan Ikan?" Ucap Sang Pencipta yang sudah menangkap beberapa ekor ikan untuk santapan mereka siang ini.
"Tentu saja. Kalau begitu, biar aku bersihkan" balas Zen yang langsung mengambil ikan yang ditangkap oleh Ayahnya dan mulai memberitahukannya.
Zen dengan telaten melakukannya, karena memang setelah seminggu dirinya tinggal ditempat ini, dirinya sudah mempelajari banyak hal. Banyak tugas memang yang harus dirinya lakukan, tapi semua itu membuatnya bahagia karena dirinya bisa hidup dengan kedua orang tuannya ditempat ini.
"Lalu, bagaimana tanggapan dirimu tentang pembicaraan kita tempo hari, Putraku?" hingga Sang Pencipta saat ini mulai mendekat kearah Zen yang sedang membersihkan ikan dan mulai menanyakan tentang apa yang mereka diskusikan beberapa hari ini.
"Kalau memang itu adalah takdirku, bukannya aku hanya bisa menerimanya saja, Ayah?" balas Zen yang menjawab perkataan Ayahnya.
"Memang benar Putraku. Ayah hanya takut kamu merasa terbebani dengan semua tugas baru yang akan kamu emban nantinya" balas Ayahnya.
"Tenanglah Ayah. Aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati tugas baru yang akan aku jalani nantinya" dan begitulah jawaban Zen dengan yakin membalas perkataannya.
Akhirnya hari mulai berlalu dengan cepat. Setelah makan siang, hari yang memang menyedihkan bagi Zen akhirnya tiba juga, yang dimana hari ini merupakan hari perpisahan dirinya dengan kedua orang tuannya, karena dirinya harus kembali lagi menuju ke dunia tempatnya tinggal.
"Nanti aku akan membawa seluruh adikku ketempat ini. Dan juga tentu aku juga membawa semua cucu dan menantu kalian ketempat ini" balas Zen yang mulai memeluk Ibunya dengan erat sebelum kepergiannya.
"Pokoknya Ibu menunggu kalian disini. Ingat jangan ingkar janjimu untuk membawa mereka" balas Ibunya yang memperingatkan Zen lagi atas janjinya.
Tentu Zen juga mulai memeluk Ayahnya, sebelum dirinya kembali menatap Ibunya dan menganggukkan kepalanya menjawab perkataannya. Apalagi dirinya sudah berjanji kepada mereka untuk membawa mereka semua ketempat ini nantinya. Maka dari itu, bisa terlihat ada raut wajah tidak sabar tersirat pada raut wajah mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku Pergi dulu, Ayah, Ibu"