
Zen juga merasa senang jika memang Vero merasa senang karena seorang gadis kecil saat ini sudah mampu mengambil hatinya. Tentu Zen sangat paham atas apa yang sedang mereka berdua hadapi dalam rumah tangga mereka yang bisa dikatakan akan susah memiliki seorang anak.
Kehidupan mereka berdua memang merasa sangat lengkap jika memang akan hadir seorang anak diantara mereka berdua. Namun sayangnya, sebuah kenyataan bisa dikatakan cukup membuat Vero harus bersabar, karena keinginannya tersebut sangatlah susah untuk terwujud.
Tetapi dirinya tetap optimis dan bahagia menjalankan hubungannya dengan Zen. Apalagi benar kata Zen, mereka akan hidup abadi di dunia ini dan jika mereka diperbolehkan memiliki anak secara terus menerus, hal itu akan membuat kacau kehidupan pada dunia ini dan terutama kepada kehidupan mereka berdua.
Jadi jika Vero merasa senang dengan kehadiran gadis kecil itu, membuat Zen juga akan senang dengan kehadirannya yang mungkin akan mampu mengobati rasa keinginan Vero yang ingin segera memiliki keturunan dari Zen, yang bisa dikatakan hal itu akan susah dimiliki oleh mereka.
"Kalau begitu, Mama akan berangkat oke. Dan ingat, jangan nakal disaat Mama tidak ada di sisimu" ucap Vero yang saat ini mulai menyerahkan gadis kecil yang ada di gendongannya kepada Zen.
Vero terlihat benar-benar bersikap layaknya menjadi Ibu dari Kileni. Hal terebut bisa dilihat dari perilakunya yang seakan memang merupakan Ibu kandungnya. Maka dari itu, Zen hanya membiarkan saja wanita itu melakukan apapun yang dirinya inginkan, apalagi Zen bisa merasakan Vero sangat bahagia saat ini.
Memang Zen tidak mengetahui sejak kapan Vero memutuskan bersikap seperti sudah menganggap Kileni sebagai putrinya. Karena seperti yang dilihat Istrinya itu seakan sudah sangat dekat dengan gadis kecil tersebut bahkan Kileni sudah mempunyai panggilan sendiri atas dirinya.
Hingga akhirnya Zen yang hanya memperhatikan interaksi mereka sedari tadi mulai mengambil Kileni yang saat ini sudah berada di gendongan dari Istrinya yang akan berangkat itu. Vero sempat mengelus sejenak kepala Kileni hingga akhirnya dirinya mulai fokus kepada Suaminya yang memang sedari tadi dirinya hiraukan keberadaanya.
"Aku akan pergi sekarang, Zen. Ingat jangan melakukan tindakan yang tidak kita sepakati setelah kepergian diriku" ucap Vero yang saat ini mencium singkat bibir Suaminya sebelum dirinya akan beranjak dari sana.
"Aku tahu. Lagipula bukankah aku sudah berjanji untuk mengurus permalasahan dua orang wanita terlebih dahulu" hingga begitulah ucapan Zen yang saat ini berbisik kepada Vero dan mulai mengecup kening Istrinya itu sebelum dirinya beranjak dari tempatnya.
Vero hanya tersenyum saja mendengar perkataan Suaminya itu, hingga akhirnya dirinya beralih menuju Kileni dan mengecup pipinya dan Kileni juga membalas mencium pipi Vero. Dengan mengelus lembut kepala dari Kileni akhirnya Vero sudah siap untuk beranjak dari sana.
Dengan berpamitan sekali lagi dengan Zen dan Kelly yang memang juga berada di sana, akhirnya Vero dan Loa yang akan pergi menuju Jakarta, saat ini mulai memasuki wilayah dalam bandara sambil melambaikan tangan mereka kepada Zen, Kileni dan Kelly yang saat ini memperhatikan kepergian mereka.
Hingga hanya sisa mereka bertiga saja ditempat mereka saat ini, setelah Vero dan Loa akhirnya sudah menghilang dari pandangan mereka. Namun setelah kepergian mereka, suasana aneh saat ini mulai bisa dirasakan ditempat mereka berada, khususnya dari sosok Kelly yang seakan sangat canggung saat ini.
Tentu niat awalnya Kelly hanya akan mengantarkan kepergian sahabatnya. Namun kali ini, dirinya seakan bingung harus bersikap seperti apa kepada suami dari sahabatnya itu, setelah sosok sahabatnya itu sudah menghilang dari pandangan mereka saat ini.
"Ayo kita kembali. Lagipula, kita akan berjalan-jalan saat ini bukan?" hingga ucapan Zen kepada gadis kecil yang berada di gendongannya saat ini, mampu membuat Kelly perlahan bisa keluar dari rasa canggung yang terjadi diantara mereka.
Kileni hanya mengangguk bersemangat mendengarkan perkataan dari sosok yang dirinya anggap sebagai Ayah tersebut. Karena memang akhirnya dirinya bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Ayahnya yang memang sudah dirinya impikan beberapa hari ke belakangan ini.
__ADS_1
Apalagi Kileni merasa bersemangat karena saat ini keinginannya itu bisa terkabul dan Zen akan membawanya menuju kemanapun gadis kecil itu mau. Dan juga Zen sudah memutuskan untuk memperlakukan gadis kecil itu dengan baik, karena bisa dibilang dirinya merupakan aset kebahagiaan bagi Istrinya sendiri.
"B-baiklah, kalau begitu aku juga akan kembali menuju kantor saat ini" ucap Kelly yang memutuskan kembali untuk menuju tempat kerjanya, karena tidak ada lagi yang bisa dirinya lakukan ditempat ini.
Namun sebelum dirinya akan beranjak dari sana, Zen yang melihatnya akan pergi langsung menggenggam tangannya dan menariknya dengan lembut untuk mengikuti langkahnya dan Kileni. Tentu Kelly cukup bingung dengan sikap suami sahabatnya itu hingga akhirnya dirinya berusaha untuk menahan tindakannya tersebut.
"Kenapa, kamu tidak mau ikut? Bukankah ajakan tadi juga aku tujukan kepadamu?" tanya Zen yang saat ini melihat Kelly mencoba menahan langkahnya.
"B-bukan begitu, Zen. Tetapi aku haru bekerja saat ini" ucap Kelly yang menolak dengan halus ajakan dari Zen saat ini.
Didalam benaknya, sebenarnya Kelly sangat ingin ikut dengan Zen dan berduaan dengan dirinya. Namun masalahnya dirinya masih merasa canggung dengan kedekatan mereka berdua, apalagi setelah pembicaraannya dengan Vero tempo hari setelah dirinya mengaku bahwa dirinya juga sangat menyukai Zen.
Kelly sebenarnya sudah mendapatkan lampu hijau atas permalasahan itu, namun masalahnya dirinya cukup kebingungan dengan tindakan apa yang harus dirinya lakukan untuk mendekati Zen. Apalagi bisa dikatakan dirinya sangat canggung berdekatan dengan Zen saat ini dan dirinya tidak tahu harus melakukan apa didekatnya.
Namun sepertinya Zen seakan tidak memperdulikan kecemasannya itu. Bahkan Zen semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan wanita tersebut dan mulai menariknya dengan perlahan agar dirinya mau mengikuti langkahnya.
"Sudah ikutlah denganku. Apakah perkataan dirimu kepada Istriku tempo hari hanya sebuah kebohongan?" ucap Zen yang langsung membuat Kelly langsung tertunduk malu mendengar perkataannya.
Siapa yang tidak malu menurut Kelly, apalagi pihak yang sangat dirinya sukai ternyata sudah mengetahui perasannya. Jadi dirinya cukup kebingungan untuk menghadapi situasi yang semakin membuat dirinya canggung saat ini, setelah mengetahui fakta tersebut.
"T-Tapi bagaimana dengan mobil yang aku tumpangi ketempat ini, Z-Zen?" ucapnya yang sebenarnya masih mencari alasan menolak ajakan Zen, karena dirinya masih kebingungan dengan menyikapi keadaannya saat ini.
"Sudahlah, lagipula kalian datang bersama sopir yang mengantar kalian bukan? Suruh saja dirinya kembali sendiri. Dan untuk permalasahan perusahaan, kamu bisa tenang karena sudah ada pihak yang mengurusnya" ucap Zen yang mulai kembali membujuk wanita itu untuk ikut dengannya.
"Benar Tante Kelly. Ayo ikut bersama aku dan Ayahku untuk berjalan-jalan" hingga akhirnya Kileni juga ikut serta membantu Ayahnya membujuk wanita yang terlihat sedikit malu-malu tersebut.
Tentu Zen sangat mengapresiasi tindakan dari gadis kecil yang ada di gendongannya. Karena dipastikan, ulahnya yang sangat menggemaskan itu akan mampu menggoda pihak yang sedang Zen paksa untuk ikut dengan mereka untuk bersama-sama pergi berjalan-jalan.
Kileni yang polos tentu tidak akan mengetahui permasalahan kedua orang Dewasa tersebut. Namun menurutnya akan menyenangkan jika ada pihak lain yang ikut bersenang-senang dengan dirinya bersama Ayahnya saat ini. Jadi dirinya langsung mengajak teman dari Mamanya yang baru itu untuk mengikuti mereka.
"B-baiklah kalau begitu" ucap Kelly yang saat ini dengan terpaksa menuruti kedua pasangan Ayah dan Putrinya tersebut.
__ADS_1
Zen dan Kileni hanya tersenyum saja mendengar perkataan dari Kelly yang mulai menerima permintaan mereka. Hingga akhirnya mereka mulai beranjak menuju kendaraan yang akan ditumpangi oleh mereka untuk menghabiskan waktu mereka seharian ini.
Namun anehnya, Zen mulai kebingungan saat ini karena dirinya tidak bisa menemukan sosok-sosok yang memang sedari tadi mengikuti keberadaannya. Tentu dirinya mulai mencari keberadaan mereka, namun bisa dikatakan hanya menemukan dua orang pihak saja yang tersisa untuk mengikutinya.
Memang sedari tadi sangat banyak yang mengikuti keberadaannya. Tetapi sepertinya mereka sudah kembali dan tidak melanjutkan tindakan mereka itu terhadap Zen, namun saat ini hanya menyisakan satu pihak saja yang memang masih setia mengikuti langkahnya di tempat ini.
"Hm... sepertinya ada kecoa yang lebih liar saat ini?" gumam Zen yang saat ini sudah memastikan bahwa beberapa pihak sudah menghilang dari pengawasannya.
Sebenarnya ada beberapa pihak yang memang setia mengikuti Zen, salah satunya adalah orang suruhan dari Bram. Zen tidak tahu mengapa pria itu menyuruh beberapa pihak mengikuti dirinya, namun karena Zen tidak merasakan aura permusuhan dari mereka Zen hanya membiarkannya saja.
Namun sepertinya ada beberapa kecoa yang menyusup pada pihak-pihak yang memang sedari awal mengikuti sosok Zen. Bahkan sepertinya mereka mengikuti langkah Zen dengan cara agresif, tidak seperti pihak-pihak yang mengikutinya yang bisa dikatakan hanya mengawasi keberadaannya saja dan lalu kembali.
Tentu sebenarnya Zen ingin langsung menghabisi pihak yang masih mengikutinya itu secara langsung. Namun keadaannya saat ini bisa dikatakan kurang tepat untuk langsung menyelesaikan permasalahan itu. Jadi, Zen memutuskan untuk mencari waktu yang tepat untuk mengurus pihak yang masih mengikutinya itu.
"Baiklah, silahkan masuk" hingga Zen saat ini mulai membukakan pintu kendaraannya agar bisa dimasuki oleh Kelly yang masih mengikuti langkahnya.
Melihat perilaku Zen tentu membuat Kelly terkejut, apalagi dirinya tidak menyangka bahwa saat ini Zen memperlakukan dirinya seperti itu. Maka dari itu dengan perasaan yang masih canggung yang dirinya rasakan, dirinya mulai masuk dan duduk di kursi penumpang dari kendaraan yang dibawa oleh Zen.
Zen hanya tersenyum saja melihat tingkah laku wanita itu. Hingga setelah wanita itu sudah duduk dengan nyaman pada kursi penumpang sebelah kemudi tempatnya duduk itu, Zen mulai menyerahkan Kileni menuju pangkuannya, sebelum Zen mulai memutari kendaraan tersebut dan masuk dari pintu penumpang yang lain.
"Lalu, Kileni mau berjalan-jalan kemana?" ucap Zen kepada gadis kecil itu, setelah dirinya sudah masuk kedalam kendaraan yang dirinya tumpangi.
"Kileni ingin menuju Timezone" ucapnya riang dan membuat Zen hanya mengangguk dan mengikuti saja kemauannya.
Kelly juga hanya bisa diam saja mendengar percakapan mereka, karena seperti yang dilihat dirinya masih merasa canggung dengan semua keadaan yang sedang dirinya alami saat ini. Bahkan dirinya bingung harus bertindak seperti apa, padahal saat ini Kileni sudah duduk di pangkuannya.
Namun tiba-tiba saja dirinya merasakan bahwa saat ini Zen yang duduk disebelahnya semakin mendekatkan tubuhnya kearahnya. Tentu Kelly sangat terkejut dengan tingkah laku pria itu hingga akhirnya dirinya mulai menyadari bahwa dirinya belum mengenakan sabuk pengaman sama sekali.
Tentu karena dirinya masih bingung dalam bersikap, Kelly lupa untuk memasangkan sabuk pengamannya. Hingga Zen yang melihatnya langsung mengenakan sabuk pengaman untuk dirinya dan memastikan bahwa sabuk pengaman itu sudah sangat erat terpasang pada tubuhnya.
Kelly hanya diam saja menerima perlakuan Zen yang seperti itu, hingga jantungnya yang sedari tadi berdebar itu mulai memperhatikan Zen sudah menyelesaikan tindakannya itu. Hingga Zen yang sudah selesai memasang sabuk kepada pengaman kepada Kelly saat ini langsung menatap dirinya.
__ADS_1
"Kamu tidak keberatan bukan, jika kita akan menuju Timezone?"