Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Sialan


__ADS_3

Aura menekan saat ini bisa dirasakan oleh seluruh pihak yang berada didalam kubah yang mengisolasi sebuah pulau. Untung saja, seluruh pihak yang tidak akan mampu menghadapi aura tersebut, saat ini berada diluar dari kubah tersebut dan membuat mereka tidak bisa merasakan aura yang menekan tersebut.


Berbeda dengan seluruh Dewa yang berada diluar kubah yang menjadi pelindung dan mengisolasi tersebut, saat ini Zen dan adik-adiknya berusaha melawan sebuah tekanan besar yang sedang mereka hadapi. Butuh penyesuaian memang, namun bisa dikatakan mereka bisa menghalau aura tersebut dengan sangat amat mudah.


"MAAA-TIIIIII.... LAAAAAH" ucap raksasa itu, yang saat ini mulai mengayunkan lengannya yang besar dan siap menyerang anak-anak Sang Pencipta itu.


Dengan gerakan yang cepat, Zen dan semua adik-adiknya bersiap untuk menghindar dari serangan yang dahsyat tersebut. Apalagi saat lengan raksasa itu mulai mengayun, sebuah kilatan petir dan muntahan lava mulai muncul pada lengannya dan mulai menyebar sesuai ayunan yang dirinya lakukan, sehingga membuat serangan itu sangat amat mematikan.


"Serang dirinya dari berbagai arah, buat dirinya bingung" Hingga Zen yang melihat serangan tersebut, langsung memerintahkan kepada seluruh adik-adiknya, untuk mulai melakukan aksi mereka dalam melawan pergerakan Titan yang sudah kerasukan itu.


Masalahnya walaupun tubuh Titan itu besar, gerakan raksasa tersebut sangat cepat dan mematikan. Memang tidak secepat yang dibayangkan beberapa pihak karena memang ukuran raksasa itu sangat besar, tapi tetap saja serangan yang dirinya berikan termasuk cepat dan sangat amat merusak area yang dikenai olehnya.


Hal ini dilihat dari energi yang terbentuk dari ayunan pukulan dari raksasa itu, yang mengeluarkan energi kejut dan membuat retak pelindung yang mengisolasi tempat ini, walaupun tebal dari pelindung itu sudah berlapis-lapis jumlahnya.


Seluruh Dewa yang melihatnya tentu sangat terkejut dibuatnya. Apalagi saat ini mereka dengan segera memperbaiki pelindung tersebut agar wilayah ini tetap terindikasi sepenuhnya dari kekacauan yang terjadi didalamnya.


Bahkan saat ini seluruh pemilik kuasa yang berada didalamnya belum sama sekali memberikan serangan balasan kepada sosok raksasa yang saat ini menyerang mereka, yang bisa dikatakan akan memperburuk keadaan dari area peperangan tersebut.


Jadi jika hal itu terjadi, bisa dipastikan intensitas pertarungan yang terjadi didalamnya akan sangat besar, dan membuat pihak Dewa harus berusaha dengan keras melindungi pelindung yang sedang mereka jaga saat ini, agar tidak rusak akibat pertarungan yang terjadi didalam wilayah yang menjadi pusat pertarungan itu.

__ADS_1


"Ingatlah, kalian cukup fokus pada pelindung ini saja!" teriak salah satu Dewa kepada rekan-rekannya.


Didalam kubah tersebut, Zen dan adik-adiknya sudah mulai mengecoh pergerakan Titan yang sedang mencari mangsa untuk diserang itu. Memang ukuran tubuh mereka sangat berbeda, namun hal itu bisa dikatakan menguntungkan pihak anak-anak Sang Pencipta, karena pergerakan dari raksasa itu sangat mudah terbaca.


Pergerakan cepatnya bisa dikatakan bisa dilihat dengan mudah oleh mereka, dan saat ini mereka mulai mengecoh pergerakannya dengan berpencar untuk melawannya. Dan hal itulah strategi yang akan mereka gunakan untuk membuat raksasa itu kebingungan dengan jalannya pertarungan yang sedang mereka lakukan.


"Rasakan ini" Hingga Uriel yang mengumpulkan aura suci pada kepalan tangannya, langsung memukul dengan keras bagian tulang kering dari sosok raksasa tersebut.


Dampak yang diterima oleh raksasa itu tentu tidak melukai dirinya, namun bisa dikatakan sosoknya mulai terpukul mundur dan membuat keberadaannya tidak seimbang. Apalagi sebuah tombak saat ini melesat dengan cepat mengarah kearah ulu hatinya dan membuat tombak dengan kekuatan suci itu langsung memberikan dampak kepada raksasa tersebut.


"Belakangmu" namun belum juga raksasa itu mulai bertindak dengan semua sedangan yang dirinya terima, sebuah hantaman keras bisa dirinya rasakan dari arah belakang kepalanya.


"Ini belum berakhir" teriak Mikhael yang dengan kekuatan yang cepat langsung mendaratkan sebuah tendangan keras tepat kearah pipi dari raksasa tersebut.


Sebuah efek kejut tentu langsung membuat Titan itu mulai tersungkur karena saat ini sebuah serangan telak kembali mengenai dirinya yang berusaha mengendalikan dirinya itu.


Hingga dari atas langit Zen dengan mengeluarkan aura kegelapan penuhnya, dengan cepat menebaskan auranya yang ditambahkan dengan kuasa dari pedang Ame no Ohabari yang dirinya pegang mengarah kearah sosok Titan yang berada dalam keadaan tidak siap atas kondisinya.


"GRAAAAAAA" tidak sia-sia memang serangan yang Zen berikan itu kepada sosok Titan tersebut, karena saat ini suara teriakan kesakitan mulai terdengar.

__ADS_1


Walaupun detik terakhir dari serangan yang dirinya berikan itu, Titan itu berhasil menghindarinya. Namun dirinya harus mengorbankan sesuatu untuk menghindari serangan itu, yaitu salah satu tangannya yang sudah putus dan saat ini sudah tergeletak tak berdaya dibawah tanah.


"Musnahkan tangannya, sebelum dirinya kembali menyatukannya" tidak Zen kepada salah satu adiknya.


Gabriel tentu langsung mengeluarkan aura api sucinya untuk memurnikan atau melenyapkan potongan tangan dari Titan tersebut. Hingga pada saat sosok besar itu sudah sadar sepenuhnya, dirinya langsung menyadari bahwa salah satu lengannya sudah tiada, sehingga saat ini dirinya sudah dipastikan kehilangan salah satu tangannya yang berhasil ditebas oleh Zen tadi.


"SIII-AAA-LAAAAN KAAA-LIIII-AAAAN" Teriak raksasa itu yang sepertinya baru mengeluarkan kekuatan pamungkasnya.


Kali ini sepertinya sosok tersebut sudah tidak ingin menggunakan kekuatan fisiknya. Karena dari atas kepalanya, bisa dikatakan sudah muncul berbagai awan gelap dengan kilatan yang memenuhinya. Tentu dengan sebuah aba-aba yang dirinya berikan itu, seluruh petir berbentuk naga saat ini langsung menyambar berbagai pihak yang sedari tadi menyerangnya.


Zen dan adiknya memang ada yang menghindar dan ada yang menghalau serangan tersebut. Namun tiba-tiba saja sebuah bongkahan es yang tajam seakan mulai turun dari awan-awan hitam tersebut seakan menjadi sebuah hujan yang sangat deras mulai turun dari atasnya. Masalahnya, kalau hal itu hanya sebatas es yang jatuh hal itu bukanlah masalah.


Tetapi bisa dikatakan kecepatan jatuh dari bongkahan es besar yang tajam itu bisa dikatakan sangat amat cepat, secepat pergerakan petir-petir yang menyambar tempat ini. Apalagi dengan perlahan berbagai tumbuhan liar seakan mulai tumbuh pada dataran yang tandus ini dan mulai menjalar seakan menangkap semua sosok yang saat ini sedang melawan keberadaan raksasa tersebut.


"Cih... karena sosok hitam itu, membuat serangan dari sosok sampah ini semakin meningkat intensitasnya" balas Zen yang saat ini harus menghindari sebuah tsunami magma yang mengarah kearahnya.


Zen dan adik-adiknya dengan terpaksa harus menghindari semua sedangan sihir yang saat ini mengarah kearah mereka. Apalagi kekuatan dari raksasa yang sedang mereka lawan itu seakan tidak ada habisnya, karena sebuah sosok hitam memang memberikan dirinya kekuatan untuk mengalahkan beberapa pihak yang saat ini sedang dilawannya.


Bahkan berbagai material sihir dari berbagai elemen bisa dikatakan mulai memenuhi area wilayah yang terisolasi itu, dan saat ini semua pihak yang berada disana berusaha menghindari itu semua dan akan menyerang kembali sosok yang bisa dikatakan sedang mengamuk karena kehilangan salah satu tangannya itu.

__ADS_1


"Titan sialan!"


__ADS_2