
Seorang pria saat ini memang sudah mendarat pada sebuah bandara, setelah pesawat pribadi yang dirinya tumpangi tadi akhirnya tiba di kota tempat tujuannya. Pria itu memang mempunyai sebuah urusan di kota tempatnya berada saat ini, dan hal itulah yang membawa dirinya menuju kota ini.
Dengan ditemani oleh asisten pribadinya, saat ini dirinya mulai bersiap beranjak dari sana, untuk menuju kearah tempat pertemuan yang akan dirinya lakukan di kota ini. Apalagi dirinya hanya tinggal menunggu beberapa pihak yang sedang menaruh barang bawaannya pada bagasi mobil yang ditumpanginya.
“Sepertinya, Nona Veronica juga berada di Jakarta, Tuan Bram” ucap asisten pribadi dari pria tersebut, yang saat ini baru saja mendapatkan sebuah informasi saat dirinya mulai menghidupkan ponselnya.
Tentu informasi sepenting itu, harus dirinya beritahukan kepada atasannya yang sudah duduk di bangku penumpang dari mobil mewah yang menjemput mereka saat ini. Karena siapa tahu, informasi tersebut memang sangat penting bagi atasannya itu.
“Mengapa dirinya bisa berada di Jakarta?” tanya pria bernama Bram itu bingung, karena dirinya cukup terkejut bahwa wanita itu berada di kota yang sama dengan dirinya.
“Mungkin dirinya mencoba menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami oleh perusahaannya, Tuan” balas asistennya yang sedang menebak maksud kedatangan Vero ke kota ini.
“Hm... Coba kamu periksa lebih detail tentang apa yang terjadi kepada dirinya, dan tujuannya datang menuju kota ini. Aku mau semua informasi yang diriku butuhkan itu, akan sampai di tanganku saat pertemuan yang akan aku lakukan nanti sudah selesai” perintah Bram kemudian.
“Baik, Tuan” balas bawahannya itu, menyanggupi perkataan atasannya itu.
Pria bernama Bram yang saat ini baru saja tiba di Ibukota negara ini, merupakan salah satu konglomerat dan pemilik perusahaan tambang paling besar di negara ini, yaitu Gold Rock. Tentu dirinya sangat tertarik dengan keberadaan Vero, karena pria itu mengetahui siapa sebenarnya suami dari wanita yang sedang dirinya perbincangkan dengan bawahannya tadi.
Perusahaan miliknya, memang merupakan perusahaan dimana Zen dan Uriel pernah bertemu sebelumnya. Apalagi saat melihat interaksi yang dilakukan Zen dan Uriel saat itu, membuat dirinya harus berada disisi pria itu apapun yang terjadi, agar dirinya mungkin dapat berkesempatan mempunyai sebuah hubungan baik dengan dirinya.
Memang setelah kepergian Zen setelah melakukan pertemuan dengan Uriel, Bram memutuskan untuk selalu mengawasi gerak-gerik pria tersebut untuk mencari kesempatan untuk mendekati dirinya. Karena dirinya tahu, Zen merupakan sosok yang sangat luar biasa.
Jadi, dirinya mencari kesempatan untuk mencari sela agar bisa selalu berhubungan baik dengan pria itu. Termasuk sebuah kabar tentang Zen sudah menikah dengan Vero juga sudah diketahui olehnya, karena dirinya yang memeriksa sendiri status mereka pada kantor catatan sipil.
“Ya, semoga saja terjadi sesuatu yang bagus” gumam Bram kemudian, yang berharap ada sesuatu yang bisa membuatnya bisa dekat dengan sosok yang dirinya anggap sangat hebat itu.
Dan ternyata, apa yang dirinya harapkan benar terjadi. Bawahannya sudah memberikan semua kabar tentang permasalahan yang terjadi dengan perusahaan milik Vero kepadanya. Tentu hal ini akan dirinya manfaatkan untuk mendekati sosok Zen saat ini.
Apalagi, dirinya harus bergerak dengan cepat, sebelum kesempatan itu memang menghilang dari tangannya. Jadi, saat dirinya baru saja menyelesaikan sebuah pertemuan, pria tersebut sudah bersiap mengambil sebuah langkah untuk membantu situasi dari Vero saat itu juga.
“Lalu, kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit?” tanya Bram kepada asistennya itu, karena memang informasi terbaru yang dirinya dapat, bahwa Vero saat ini sedang dirawat pada sebuah rumah sakit.
“Dirinya terlibat kecelakaan, Tuan” balas bawahannya kembali, setelah memberitahukan sebuah kabar yang saat ini sedang hangat pada sebuah media.
__ADS_1
Tentu kabar tentang Vero yang mengalami sebuah kecelakaan, saat ini menjadi sebuah kabar utama diberbagai media saat ini. Maka dari itu, beberapa pihak akan mengetahui kondisi dari Vero, yang memang didalam pemberitaannya mengatakan bahwa wanita itu sedang dirawat intensif pada sebuah rumah sakit.
“Kalau begitu, apa yang kamu tunggu. Mari kita berangkat untuk menjenguknya” ucap pria bernama Bram itu, dan mengajak asistennya untuk langsung menuju rumah sakit, tempat dimana Vero dirawat.
Memang kabar tentang penyerangan yang dialami oleh Vero, sengaja Zen sembunyikan dari hadapan publik. Karena dirinya tidak mau berurusan dengan sesuatu yang merepotkan atas kejadian tersebut, apabila kabar tentang mereka diserang oleh beberapa pihak bersenjata mulai tersebar.
Apalagi jika memang dirinya tidak menyembunyikan kasus tersebut, dirinya akan ditanyai oleh banyak pihak tentang berbagai hal. Dan itulah yang membuatnya memutuskan untuk menyembunyikan kejadian tersebut dari hadapan publik, dan membuat Vero terlihat seperti mengalami kecelakaan saja.
“Tuan Zen?” namun saat Bram hendak masuk kedalam area rumah sakit dari tempat dimana Vero berada, dirinya tidak sengaja bertemu dengan Zen yang sepertinya akan menuju ruangan dimana Vero dirawat.
“Hm...” Gumam Zen kemudian, yang mulai menatap seseorang yang saat ini memanggil namanya.
“A-Apakah anda masih ingat dengan saya?” tanya pria itu kemudian, setelah dirinya saat ini mulai mendekat kearah Zen.
“Ah... ternyata dirimu. Tentu saja aku mengingatmu” balas Zen kemudian.
Mendengar perkataan Zen, tentu membuat Bram senang. Karena bisa dikatakan pria yang berada dihadapannya saat ini tidak melupakan dirinya dan saat ini dipastikan tidak mempunyai sentimen terhadap dirinya, karena awalnya Bram sebenarnya takut untuk mendekati sosok Zen.
Apalagi ekspresinya datar yang selalu dirinya tunjukan itu, tentu membuat beberapa pihak tidak berani mendekatinya. Apalagi jika mereka mengetahui identitas dari Zen, mungkin mereka juga akan berhati-hati untuk mendekati pria tersebut.
"S-Saya dengar, Istri anda mengalami kecelakaan, Tuan Zen” ucap Bram kemudian, yang mulai mengubah topik karena terlihat Zen tidak menyambut baik perkataan yang dirinya lontarkan barusan.
Namun setelah dirinya mengucapkan perkataan seperti itu, Zen saat ini langsung menatap pria itu dengan tatapan yang tajam. Tentu mendapatkan tatapan seperti itu, Bram langsung menelan ludahnya sendiri karena dirinya tidak menyangka bahwa dirinya mungkin sudah salah bicara.
Karena memang, pihak luar tidak akan mengetahui pernikahan dirinya dengan Vero. Beberapa dari mereka hanya menganggap Zen dan Vero hanya mempunyai hubungan seperti pacaran saja, jika ada yang benar-benar mencurigai hubungan mereka.
Apalagi Vero sudah merahasiakan status pernikahan mereka pada khalayak umum, dan identitasnya yang sudah menikah dengan Zen hanya diketahui oleh beberapa pihak saja. Jadi, cukup aneh jika pihak luar mengetahui mereka sudah menikah, seperti apa yang diketahui oleh pria bernama Bram yang terlihat mulai mengeluarkan keringat dingin saat ini.
“Ah... iya aku lupa. Bukannya dirimu menyuruh beberapa pihak mengikuti diriku, makanya kamu tahu tentang apa yang terjadi dengan keberadaan diriku, bukan?” ucap Zen kemudian.
Tentu mendengar perkataannya sekali lagi, membuat Bram entah mengapa langsung membulatkan matanya karena terkejut. Bahkan asistennya yang menemani Bram sedari tadi, mulai panik saat ini, karena dirinya takut pihak didepannya akan marah kepada mereka.
Apalagi, mereka takut perilaku mereka yang mencoba untuk memata-matai keberadaan Zen, akan membuat pria yang berada didepan mereka murka, karena dirinya menganggap bahwa tindakan mereka sudah berlebihan, dan mengganggu privasi yang dimiliki oleh dirinya.
__ADS_1
Tetapi yang membuat mereka berdua bingung, mengapa Zen mengetahui bahwa ada beberapa pihak yang mereka suruh menyelidiki tentang dirinya. Apalagi mereka sudah menyewa orang-orang yang berpengalaman untuk melakukan hal tersebut.
“Maafkan kami, karena melakukan hal tersebut, Tuan Zen” ucap Bram kemudian, yang saat ini sudah merasa takut bahwa pria itu akan marah kepadanya.
“Sudahlah. Lalu, apa yang ingin kamu lakukan disini?” tanya Zen kemudian.
Zen memang tidak mempermasalahkan bahwa beberapa pihak sedang memata-matai dirinya. Bahkan dirinya tahu, bahwa mata-mata yang dikirimkan oleh Bram, beberapa kali membantu dirinya dalam mengurus beberapa pihak yang memang mempunyai niat jahat kepada dirinya dan Vero.
Jadi, dirinya membiarkan saja beberapa pihak yang diutus oleh Bram itu untuk memata-matai dirinya. Karena dirinya menganggap bahwa keberadaan mereka, bisa membantu sedikit tugasnya dalam menjaga Vero yang memang banyak sekali mempunyai musuh.
Tetapi disisi lain, tentu mendengar bahwa Zen tidak mempermasalahkan tindakan mereka itu, membuat Bram dan asistennya merasa lega. Apalagi bisa terlihat bahwa Zen sudah bersikap seperti biasa saja, dan mulai melanjutkan perbincangan mereka saat ini.
“Ahh... kami hanya ingin menjenguk kondisi Istri anda, dan mungkin menawarkan kerja sama dengan dirinya, Tuan Zen” ucap Bram kemudian.
Tentu Zen bisa merasakan beberapa aura negatif setelah pria itu mengutarakan maksud kedatangannya ditempat ini. Namun aura negatif yang dikeluarkan olehnya masih dianggap wajar oleh Zen. Apalagi dirinya tahu pria yang berada dihadapannya hanya ingin mencari muka saja didepannya.
Tetapi Zen tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting dirinya tidak melakukan sesuatu yang buruk dan akan merugikan diri Zen secara langsung. Jadi, saat ini hanya mengangguk saja setelah mendengar perkataannya, dan tidak terlalu merisaukan apa yang sedang dirinya lakukan saat ini.
“Hm... baiklah. Tetapi bisakah kamu kembali lagi nanti? Karena Istriku belum makan sedari tadi. Kamu tahu sendiri bukan, sifatnya jika menyangkut pekerjaan. Karena dirinya dipastikan akan lupa segalanya.” Ucap Zen kemudian.
“Tentu saja, Tuan Zen. Yang terpenting, keadaan Istri Anda baik-baik saja saat ini” ucap Bram yang menyetujui perkataan Zen yang baru saja dirinya lontarkan tadi.
Zen hanya mengangguk saja mendengar jawaban dari Bram, hingga akhirnya Zen memtuskan beranjak dari sana dan kembali menuju ruangan dari Vero. Namun sebelum dirinya melakukan hal tersebut, Zen mulai membalikan badannya dan menghadap kearah Bram sekali lagi.
“Ah... dan juga, pastikan kalian tidak menyebarkan identitas milikku kepada Istriku. Dan, anggap saja kalian tidak mengenal denganku, oke?” ucap Zen kemudian.
“B-Baik Tuan” balas Bram kemudian, dan langsung menyaksikan Zen yang saat ini sudah beranjak dari tempatnya, setelah mengangguk mendengar tanggapan yang dirinya berikan itu.
Awalnya memang Bram cukup bingung, mengapa pihak seperti Zen akan membiarkan perusahaan milik Istrinya saat ini menuju ke ambang kehancuran. Namun dirinya sedikit paham dengan apa yang dilakukan oleh pria itu, setelah melihat sikapnya tadi.
Tentu Zen ingin menyembunyikan identitasnya untuk mencari tahu ketulusan hati dari Vero, menurut Bram. Apalagi Zen tidak benar-benar menghiraukan Vero, karena memang beberapa kali Bram menyaksikan perusahaan milik bangsawan Vatikan sering membantu Vero dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami olehnya.
Jadi, Bram menganggap bahwa saat ini Zen melakukan hal tersebut, karena dirinya ingin mengetahui dan melihat ketulusan beberapa pihak yang ingin mendekati dirinya, dan tidak menganggap keberadaannya hanya karena dirinya mempunyai sebuah status yang hebat yang berada dibelakangnya.
__ADS_1
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mencari barang yang akan kita bawa, dalam menjenguk Istri dari Tuan Zen, Tuan?”