
Dan disinilah mereka. Dua buah insan berbeda kelamin yang sedang duduk bersebalahan menghadap seorang pria, yang saat ini sedang mengurus dokumen tentang pernikahan kedua insan tersebut.
“Tuan Zen Gwillyn. Pasti kedua orang tua anda sangat mengidolakan keluarga kerajaan Vatikan, sehingga memberi nama belakang anda menjadi nama keluarga para bangsawan yang terhormat itu” ucap pria didepannya sambil membaca dokumen dari Zen.
“Lalu, Nona Veronica Safira. Salah satu dari 10 orang terkaya di Indonesia” ucap pria itu kembali yang saat ini membaca dokumen dari Vero.
Kedua orang yang diajak bicara oleh pria yang bekerja di kantor catatan sipil, dan mendokumentasi pernikahan mereka hanya menghela nafasnya saja. Terlebih lagi Zen yang masih tidak mengira bahwa dirinya akan menikah.
Apalagi Vero, yang menganggap perkataan pria dihadapannya sebagai tamparan untuknya, karena sepertinya dirinya tidak akan menjadi orang terkaya nomor 9 kembali karena kekacauan yang terjadi didalam perusahaannya saat ini.
“Silahkan tanda tangani buku nikah kalian” ucap pria itu menyerahkan dua buah buku nikah kepada Zen dan Vero untuk ditandatangani.
Dengan gerakan yang malas, Zen mulai menggunakan pulpen yang disediakan di tempat itu untuk menandatangani semua dokumen yang diserahkan kepadanya. Vero juga melakukan hal yang sama dan saat ini secara resmi, mereka sudah menikah dimata hukum.
Setelah semuanya telah selesai, akhirnya Zen dan Vero sudah keluar dari tempat mereka mendaftarkan diri mereka untuk menikah, dan melihat seorang wanita saat ini sedang melihat kedua pasangan tersebut berjalan bersama.
“Selamat atas pernikahan kalian” ucap wanita itu dengan nada sarkas, karena dirinya merasa kesal bahwa sahabatnya menyembunyikan informasi penting kepadanya.
“Sama-sama Kelly. Dan perkenalkan ini Zen, Suamiku” ucap Vero memperkenalkan Zen dan tidak memperdulikan nada yang dikeluarkan oleh sahabatnya itu, karena ponselnya mulai berbunyi.
“Halo Zen, perkenalkan aku asisten dari istrimu, Kelly Safira” ucap Kelly memperkenalkan diri.
“Halo Kelly” balas Zen seadanya.
Melihat respon yang diberikan oleh Zen, Kelly merasa cukup terkejut karena terlihat Zen saat ini serasa sangat cuek kepadanya. Lalu dirinya mulai melihat kembali sahabatnya yang saat ini sedang mengotak-atik ponselnya, dan dirinya mulai mengerutkan keningnya karena langsung merasakan pusing.
“Hahh... menghadapi satu saja sudah repot, apalagi ada dua saat ini” ucap Kelly yang merasa sifat kedua orang itu sama.
“Pantas saja mereka menikah, karena sepertinya sifat mereka cocok” gumam Kelly kemudian.
__ADS_1
Memang keputusan menjadi suami bayaran dari Vero hanya mereka Zen dan dirinya saja yang tahu. Jadi, semua pihak termasuk Kelly akan menganggap bahwa kedua orang tersebut benar-benar menikah karena saling menyukai satu sama lainnya.
“Dan Vero, kamu berhutang penjelasan kepadaku” ucap Kelly kemudian yang langsung menatap sahabatnya itu.
Zen sebenarnya terpaksa menerima permintaan Vero tadi, karena memang sebenarnya dirinya bersikukuh untuk menjadi bodyguard untuknya saja. Namun karena terus didesak dan Zen merasa jika wanita didepannya tidak diikuti keinginannya, dirinya akan kembali melakukan hal nekat dan berujung kehancuran dunia. Jadi dengan terpaksa dirinya menerima permintaannya saja.
Dan akhirnya disinilah mereka, setelah selesai mengurus semua dokumen pernikahan mereka, setelah Zen akhirnya dengan terpaksa menerima permintaan dari Vero yang menjadikannya suami bayarannya.
“Sepertinya kita harus kembali menuju hotel kita Kelly, karena banyak yang harus kita lakukan tentang perusahaan milikku” ucap Vero kemudian, setelah dirinya selesai berurusan dengan ponselnya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi pihak hotel untuk menjemput kita saat ini” ucap Kelly yang mulai mengambil ponselnya dan menghubungi pihak hotel tempatnya menginap.
“Ini ambilah. Pergilah kembali menuju hotel yang dirimu sewa, lalu ambil semua barang-barang milikmu dan langsung pindah menuju tempat diriku menginap” ucap Vero yang memberikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada Zen untuk dirinya gunakan.
“Hahh... baiklah” balas Zen yang hanya mengambil uang milik Vero dan beranjak dari tempatnya.
Sebenarnya, Vero merasa kesal saat melihat tindakan Zen sedari tadi yang seakan tidak berniat menikahi dirinya. Jujur, perbuatan Zen itu cukup melukai harga diri dari Vero, yang dimana dirinya menganggap bahwa Zen sama sekali tidak merasa senang menikah dengannya.
“Pergi kemana suamimu?” tanya Kelly yang selesai menghubungi pihak hotel tempat dirinya menginap, kepada sahabatnya yang saat ini terlihat sedang memandang kesebuah arah.
“Menyelesaikan urusannya. Lalu dimana jemputan kita?” tanya Vero kemudian.
.
.
Ditempat lain, seorang wanita saat ini sedang menjalani upacara kenaikan pangkatnya. Dengan keadaan yang tegap, saat ini pangkat baru sedang disematkan di atas bahunya dan membuatnya sedikit bangga menerimanya.
Dengan perasaan yang tidak bisa diartikan, saat ini Santi sudah menjabat tangan satu persatu orang yang menyalaminya dan mengucapkan selamat kepadanya, atas naiknya pangkatnya menjadi seorang pemimpin kepolisian pada sebuah wilayah.
__ADS_1
“Selamat atas kenaikan pangkatmu Santi” kata seorang pria yang saat ini akan menyalami Santi.
Sebenarnya Santi tidak berniat menyalami pria yang sudah menyodorkan tangannya itu kepadanya. Apalagi dirinya merasa sangat muak dengan keberadaannya ditempat ini, yang awalnya dirinya tidak mengira bahwa pria itu masih bertugas ditempat ini.
Namun karena ini ditempat umum dan disaksikan banyak orang, jadi Santi mau tidak mau menerima salam dari pria itu dengan terpaksa. Dengan langsung menarik kembali tangannya, Santi saat ini langsung menghiraukannya dan menyalami beberapa pihak yang juga ingin menyelamati dirinya.
“Akhirnya selesai juga” ucap Santi kemudian, setelah dirinya sudah berada disebuah ruangan khusus tempatnya berada saat ini.
Tanpa pikir panjang, Santi langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Seorang yang sangat dirinya cintai itu tentu langsung mengangkat panggilannya, dan Santi langsung berbincang dengan bahagia dengannya.
“Upacara pelantikan kenaikan pangkatku baru saja selesai Ibu” ucap Santi yang menghubungi Ibunya, yang memang tidak bisa hadir dalam upacara pelantikan putrinya, karena dirinya sedang sakit setelah mengurus kebun miliknya.
Memang Santi berasal dari keluarga petani, dan tentu saja membuat Ibunya sangat bangga bahwa putrinya saat ini menjadi seorang kepala kepolisian suatu wilayah. Apalagi dengan pencapaian seperti itu, Santi sempat memaksa Ibunya untuk berhenti bekerja.
Tentu saja, permintaan Santi itu ditolak dengan tegas oleh Ibunya karena dirinya sudah terbiasa melakukan hal tersebut. Mau tidak mau Santi hanya membiarkan saja Ibunya itu melakukan apapun yang dirinya mau, tetapi dirinya terus mengirimkan sebagain dari gajinya untuk orang yang paling dirinya cintai di dunia ini.
“Kalau begitu, sampai bertemu lagi Ibu. Mungkin aku akan pulang setelah beberapa tugas tentang pengalihan kepemimpinan sudah aku selesaikan” ucap Santi kepada Ibunya.
Santi langsung menutup panggilannya dan cukup senang bisa setidaknya berbincang dengan Ibunya. Hingga akhirnya dirinya bingung harus melakukan apa. Namun sedang asik melamun, dirinya dikejutkan dengan suara pintu terbuka dan memunculkan sesosok pria yang masuk kedalam ruangannya.
“Ayo, mari merayakan kenaikan pangkatmu Santi” ucap pria tersebut.
“Tidak usah sok akrab dengan saya Pak Gio” ucap Santi ketus dan ingin beranjak dari tempatnya.
“Tenanglah, aku yang akan mentraktir dirimu” balas pria yang dipanggil Gio itu, yang mulai meraih tangan dari Santi untuk mencegah dirinya pergi.
“Cih... aku tahu siasat dirimu Pak Gio. Lebih baik anda lepaskan tangan saya, sebelum saya melakukan sesuatu yang tidak anda inginkan” ucap Santi kesal.
Memang dimasa lalu Santi mempunyai kenangan buruk dengan pria itu. Jadi dirinya sangat kesal bisa bertemu dengannya kembali ditempat ini, dan bahkan pria itu seakan lupa dengan kejadian buruk yang pernah dirinya lakukan kepada Santi.
__ADS_1
“Baiklah, aku tidak akan memaksa”