Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pengintai


__ADS_3

Vero menyempatkan diri untuk menjenguk keadaan Ibu dari sahabatnya, disaat dirinya sudah pulang dari perusahaannya. Tentu dirinya saat ini datang bersama Zen, yang dimana pria itu sudah dua kali datang ketempat ini pada hari ini.


"Kalau begitu, aku akan datang besok untuk menemanimu." ucap Vero kepada sahabatnya itu, karena dirinya akan berpamitan kepadanya.


"Terima kasih, Ver. Dan hati-hati dijalan" balas Kelly kepada sahabatnya itu, yang akan beranjak dari tempatnya. Tentu dirinya juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada Zen juga, yang saat ini menjenguknya bersama Vero.


Zen dan Vero akhirnya mulai beranjak kembali menuju kediaman mereka, setelah sebelumnya Vero menyempatkan diri untuk menjenguk kondisi sahabatnya. Tentu kedua sahabat itu saling menguatkan, hingga akhirnya Vero memutuskan kembali dan akan datang lagi keesokan harinya saat jadwal operasi dari Ibu Kelly akan dimulai.


Seperti biasa, kedua pasangan itu tidak melakukan sesuatu yang menarik dalam perjalanan mereka kembali menuju kediaman mereka, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman milik Vero dan mulai turun dari kendaraan mereka.


“Ah... lelahnya” ucap Zen setelah turun dan membuat Vero langsung menyipitkan matanya mendengar perkataan suami bayarannya itu.


“Perasaan dirimu hanya tiduran saja sedari tadi, mengapa kamu sangat lelah?” tanya Vero kemudian.


Memang setelah Zen kembali dari membantu Kelly untuk memindahkan Ibunya menuju rumah sakit Light Hope, Zen yang sudah berurusan dengan pria yang mengintainya tadi, memang kembali menuju perusahaan milik Vero dengan niat untuk melakukan pekerjaannya.


Namun seperti biasa, karena tidak ada kegiatan yang harus dirinya lakukan. Terpaksa Zen hanya berbaring hingga tertidur pada ruangan milik Vero, karena memang dirinya bosan menunggu kegiatan dari Vero yang menurutnya terkesan tidak menarik atau bisa dikatakan monoton itu.


“Tentu saja sangat melelahkan. Kamu bisa mencobanya sendiri kalau tidak percaya.” ucap Zen kemudian.


“Hahh... memang tidak ada yang mengalahkan dirimu tentang sesuatu yang berhubungan dengan kata malas, dan makan Zen” ucap Vero kemudian yang mulai melanjutkan langkahnya memasuki kediamannya.


Saat ini, kedua pasangan suami istri itu akhirnya menyapa seluruh penghuni kediaman yang mereka masuki, sebelum mereka masuk kedalam kamar yang sama. Walaupun kegiatan mereka akan dilakukan pada ruangan yang berbeda, saat ini akhirnya mereka mulai menyelesaikan urusan mereka masing-masing.


Zen yang tidak sabar untuk menyantap makan malamnya, akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya. Tentu dirinya akan selalu lupa dengan perintah Vero untuk mengetuk terlebih dahulu pintu kamarnya, dan langsung keluar dari dalamnya.


“Apakah kamu tidak bosan menonton acara itu?” tanya Zen kemudian, yang sudah keluar dari kamarnya dan saat ini sedang melihat Vero sedang menonton sebuah drama korea kesukaannya.


Cukup aneh memang melihat wanita yang sifatnya tampak dingin itu kepada siapapun, tetapi dirinya sangat menyukai tontonan yang bisa menyebabkan dirinya tertawa sendiri, bahkan hingga menangis. Jadi, Zen sangat kebingungan dengan sikapnya itu.


Bahkan sebenarnya Vero cukup malu bahwa apa yang disukai oleh dirinya yang hanya dirinya lakukan dikediamannya, terekspose oleh seorang pria yang hidup bersamanya pada kediamannya ini. Tetapi karena Zen sudah berkali-kali melihatnya seperti itu, akhirnya Vero tidak sungkan lagi menunjukan sisi berbeda darinya itu kepada dirinya.

__ADS_1


“Sudah aku bilang. Jika ingin keluar kamarmu, ketuk lah pintunya terlebih dahulu” Kata Vero yang kebahagiannya saat ini sudah terhalangi, oleh seorang pria yang kembali tidak mendengar perkataannya.


“Aku sudah mengetuknya, tetapi tidak ada jawaban” ucap Zen beralasan.


“Cih... aku tahu kamu berbohong” ucap Vero kemudian, yang mulai kesal dengan sikap Zen itu.


Memang saat ini mereka akan memulai perdebatan mereka kembali. Namun sebelum mereka melakukannya, ternyata kegiatan mereka itu harus ditunda karena memang Bibi Leni sudah memanggil kedua pasang suami istri itu untuk turun dan makan malam.


Tentu Zen dan Vero langsung mengehentikan aktivitas mereka setelah panggilan yang mereka dapatkan, dan saat ini mereka mulai turun dari kamar mereka berdua untuk menuju meja makan dari kediaman mewah ini. Dengan langkah yang bersemangat, tentu Zen tidak sabar untuk sampai di meja makan dari kediaman ini.


Namun sedang asik melakukan kegiatannya itu, dirinya mulai merasakan sesuatu yang membuatnya mulai menghela nafasnya. Tentu dirinya tidak menyangka, bahwa saat ini orang yang harus dirinya lindungi ternyata memiliki banyak sekali musuh.


"Hahh... mengapa semakin banyak orang yang mengawasi tempat ini” gumam Zen yang sudah merasa kelelahan, dikarenakan permaslahan dari wanita yang harus di lindungi oleh dirinya, ternyata sangat banyak.


Selain para pelayan yang mencoba memata-matai aktivitas Vero, saat ini Zen bisa merasakan beberapa pihak juga sedang mencoba mengawasi tempat ini dari kejauhan. Tentu hal ini semakin membuat Zen bingung, karena memang sepertinya wanita yang menyuruh dirinya menjadi suaminya itu, mempunyai banyak orang yang tidak menyukainya.


“Sepertinya benar kata Uriel. Pemilik kekacauan yang berada didalam diri mereka, tidak luput dari namanya marah bahaya” ucap Zen.


Namun, Zen saat ini merasa sangat kesal, karena memang banyak sekali orang yang sepertinya mempunyai niat jahat kepada wanita tersebut. Apalagi dirinya mulai bingung saat ini, apakah dirinya langsung melenyapkan mereka semua sekaligus, atau menunggu waktu yang tepat saja.


“Hahh... lebih baik aku makan malam dulu, baru memikirkan langkahku selanjutnya” ucap Zen.


Tentu Zen tidak ingin membunuh seorang pion, karena jika dirinya melakukan hal itu, sang raja tidak akan pernah ditemukan. Jadi, Zen masih memerlukan beberapa penyesuian cara menghadapi mereka. Apalagi dirinya tidak akan menggunakan kekuatannya terlalu banyak, jika dirinya akan berurusan dengan manusia.


Tentu dirinya bisa saja menangkap mereka dan langsung mengintrogasi mereka, dengan cara psikopat yang pernah dirinya lakukan. Tetapi karena memang dirinya benar-benar malas untuk melakukannya, akhirnya dirinya memilih untuk memutuskan untuk melakukannya nanti.


“Akhirnya kalian turun, jadi mari kita makan” ucap Leni kepada kedua pasangan yang baru turun dari kamarnya itu.


Zen dengan senang hati menyambut baik perkataan Bibi Leni tersebut, dan mulai bersiap menyantap makanannya dan tidak menghiraukan beberapa pihak yang mencoba untuk mengawasi gerak-gerik dirinya maupun Vero. Apalagi dirinya juga membutuhkan waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Tetapi belum juga dirinya duduk pada meja makan yang sudah tersedia banyak sekali makanan diatasnya, dirinya mulai terganggu dengan suara bel pintu yang mulai terdengar, yang menandakan ada yang mencoba bertamu pada kediaman milik Vero saat ini.

__ADS_1


“Coba kamu bukakan, Zen dan lihat siapa yang datang” perintah Vero kepada Zen.


“Mengapa diriku yang membukakannya, bukankah dirimu bisa melakukannya sendiri?” tanya Zen kembali, yang menolak dengan tegas perintah dari Vero.


“Dirimu yang paling dekat dengan pintu utama kediaman ini, jadi cepat lihat siapa yang datang” ucap Vero kemudian, dengan nada memaksanya.


“Cih... padahal jarak kita hanya berjarak satu langkah saja” ucap Zen yang terpaksa mengikuti perkataan wanita itu, untuk membukakan pintu kediaman milik Vero dan melihat siapa yang sedang bertamu.


Dan terjadilah adegan dimana orang yang bertamu itu, cukup terkejut dengan keberadaan Zen yang saat ini sedang membukakan pintu kediaman milik Vero. Bahkan saat ini tamu yang mendatangi kediaman Vero tidak tahu harus berkata apa, setelah melihat keberadaan Zen ditempat ini.


Memang kejadian kemarin masih membekas pada ingatan dari orang yang sedang bertamu itu. Apalagi sepertinya pria yang sedang mereka temui saat ini, terlihat sedikit kesal dengan kedatangan mereka ketempat ini. Karena memang Zen merasa kesal karena waktu makan malamnya harus tertunda saat ini.


“Ah... ada om jahat!” teriak seorang anak kecil sambil menunjuk Zen, saat melihat sosoknya muncul dibalik pintu.


Kedua orang yang sedang bertamu itu, merupakan dua orang pasangan Ibu dan Anak yang Zen selamatkan kemarin. Saat ini mereka mencoba menyapa para tetangga dari komplek perumahan tempatnya tinggal, untuk memperkenalkan diri sebagai tetangga baru dari komplek tersebut.


“M-Mengapa kamu berada disini Tuan?” tanya wanita itu kemudian, yang masih terkejut bertemu lagi dengan sosok Zen saat ini.


“Ini kediamanku” ucap Zen dan membuat wanita itu mengerutkan keningnya, karena yang dirinya tahu bahwa kediaman ini merupakan kediaman kenalannya.


“Apakah dirinya sudah pindah?” gumam wanita itu kemudian.


Tentu tidak ada percakapan lagi antara mereka, karena memang tatapan datar Zen membuat wanita didepannya mulai merasa sedikit takut, karena dirinya kembali mengingat kejadian kemarin saat dirinya hampir tewas ditangannya.


Akhirnya wanita itu memutuskan untuk berpamitan kepada Zen, dengan berniat memperkenalkan dirinya secara langsung sebelum dirinya pergi. Namun sebelum wanita itu melakukan hal tersebut, sebuah suara dari belakang Zen mulai menghentikan tindakannya.


“Siapa yang datang Zen?” tanya suara yang muncul dibelakang Zen.


“Ehm... tetangga Baru katanya” balas Zen yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.


Tentu suara itu merupakan Vero, dan saat ini ingin melihat siapa yang sedang berbincang dengan suami bayarannya. Apalagi setelah dirinya melihat sosok wanita yang saat ini berdiri didepan kediamannya, dirinya cukup terkejut dan entah mengapa langsung memeluk lengan dari Zen saat ini.

__ADS_1


“Nona Alice?”


__ADS_2