
Sebuah langkah yang baru saat ini mulai ditapaki oleh seorang pria yang saat ini sudah berada di wilayah baru. Dengan suasana yang bisa dikatakan baru, pria itu saat ini mulai melihat berbagai hal yang menurutnya baru dan berniat mencoba menikmati pemandangan yang baru tersebut.
Namun ada sesuatu yang saat ini tidak terlalu disukainya ditempat ini. Perbedaan iklim di wilayah ini cukup berbeda dari tempat dirinya tinggal, sehingga dirinya merasa sedikit tidak nyaman berada disini, apalagi ditempat ini sudah memasuki musim dingin yang sangat dibenci oleh pria itu.
Selama ini dirinya tinggal di wilayah yang sangat amat panas. Jadi, disaat dirinya berada ditempat dengan suhu yang dingin seperti ini, membuat dirinya sedikit tidak menyukainya karena memang tubuhnya seakan tidak terbiasa dengan tinggal ditempat yang seperti ini.
Maka dari itu, dirinya bisa dikatakan tidak terlalu merasa senang untuk bisa berada ditempat ini. Namun tetap saja, dirinya harus melakukan sesuatu dengan janjinya kepada adiknya, dan disinilah dirinya berada yang mulai mengembuskan uap panas tubuhnya dari dalam mulutnya.
"Selamat datang di Seoul, Tuan Zen" hingga seseorang saat ini mulai menyambut kedatangannya ditempat ini, yang dimana Zen baru saja keluar dari kabut hitam dari kediamannya ketempat ini.
"Hoo... jadi disinilah tempatmu bekerja Mick" balas Zen yang saat ini menyapa salah satu malaikat maut yang bertugas ditempat ini, sambil Zen mencoba menghangatkan tubuhnya karena dirinya merasa cukup kedinginan.
"Benar, Tuan. Kalau begitu, bagaimana jika saya mengantarkan Anda menuju kediaman anda yang hangat?" ucapnya dan mendapatkan anggukan semangat dari Zen.
Zen akhirnya sudah tiba pada Ibukota Korea Selatan, untuk memenuhi undangan yang dirinya terima. Tentu saja dirinya harus hadir, karena bisa dikatakan wanita yang mengundangnya merupakan sosok yang ada didalam penglihatan adiknya. Maka dari itu, dirinya sangat ingin tahu tentang maksud dari penglihatan tersebut.
Tetapi masalahnya sebelum dirinya mengambil langkahnya untuk beranjak dari tempatnya, saat ini sebuah aura yang mengganggu dirinya mulai dirinya rasakan. Dengan menghentikan langkahnya sejenak, Zen saat ini mulai menatap kesebuah arah untuk memastikan lagi apa yang sedang dirinya rasakan saat ini.
"Hmmm... aku baru menyadari sesuatu. Apakah kamu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini, Mick?" tanya Zen yang memang barulah merasakan beberapa hal yang ada di kota ini.
"Oh... maksud anda tentang banyaknya keberadaan Dewa ditempat ini, Tuan?" ucap Mick dan membuat Zen mulai menganggukkan kepalanya.
Zen mulai merasakan sesuatu disaat dirinya mulai memeriksa keadaan sekitar dari wilayah ini. Namun dirinya dikejutkan dengan banyaknya keberadaan Dewa yang bisa dirinya rasakan di wilayah ini, dan dirinya tidak tahu mereka sedang melakukan apa ditempat ini.
Namun satu hal pasti yang bisa Zen pikirkan dengan berkumpulnya mereka ditempat ini. Yaitu keberadaan Loki yang akhirnya ditemukan atau memang keberadaannya dicurigai berada ditempat ini, makanya para Dewa saat ini sudah berada ditempat ini dan mungkin sedang mencari keberadaannya.
Dan hal itulah yang membuat Zen sangat penasaran dengan semua hal yang sudah terjadi ditempat ini. Karena memang bukan sebuah kebetulan sesuatu akan terjadi ditempat ini, ataukah mungkin bisa dikatakan semuanya berhubungan dengan penglihatan yang dilihat oleh Mikhael sebelumnya.
"Tunggu, apa mungkin penglihatan Mikhael memang mengarah kearah lokasi kejadian bencana itu terjadi?" gumam Zen karena memang yang membuat dirinya bisa berada disini adalah karena penglihatan yang dilihat oleh Mikhael sebelumnya.
__ADS_1
Tetapi Zen masih dibingungkan dengan satu hal. Apa hubungannya keberadaan Loki dengan dirinya akan menjalani sebuah pertemuan dengan seorang penyanyi terkenal yang saat ini mengundang dirinya ditempat ini. Apalagi penglihatan Mikhael bukanlah sesuatu yang acak dan tidak berhubungan.
Walaupun memang bisa dikatakan keberadaanya sudah menunjukkan bahwa ditempat ini mungkin akan terjadi sebuah kekacauan besar, tetapi sosoknya yang muncul pada penglihatan Mikhael merupakan sesuatu yang sangat aneh, karena dipastikan ada hubungan sesuatu tertentu dari penglihatan tersebut.
"Apakah wanita itu wujud dari Dewa Loki?" gumam Zen yang mulai menerka-nerka siapa sebenarnya sosok wanita tersebut, karena dirinya mulai merasa kebingungan dengan semua hal yang sudah terjadi saat ini.
Tetapi masalahnya, jika dirinya merupakan wujud Dewa Loki dipastikan Mikhael akan langsung mengetahuinya, karena tentu dirinya bisa melihat sesuatu dari wanita tersebut disaat dirinya melihatnya pada penglihatan yang dirinya terima. Jadi, Zen masih bingung dengan penglihatan tentang wanita tersebut pada penglihatan Mikhael.
Apalagi munculnya wanita itu pada penglihatan Mikhael juga menurut Zen sangat aneh. Tidak mungkin keberadaannya hanya sebatas sosok yang lewat atau figuran, karena fokus penglihatan tersebut memang mengarah kepada wanita tersebut.
Jadi, saat ini bisa dipastikan ada sesuatu yang janggal dan harus diusut dengan tuntas oleh Zen tentang apa yang terjadi. Apalagi keberadaan wanita itu entah mengapa sangat mengenal sosok Zen, hingga dirinya mengundang Zen secara pribadi ketempat ini.
"Hahh... sudahlah. Lebih baik aku mencari tempat yang hangat dulu, baru memikirkan semua ini" ucap Zen yang memang tidak merasa nyaman untuk tetap berada ditempat yang cukup dingin untuk waktu yang lama.
Wajar saja jika Zen tidak menyukai tempat yang dingin. Karena memang dirinya selama berjuta-juta tahun lamanya tinggal disebuah tempat yang disebut Neraka. Jadi, Zen tidak menyukai sama sekali tempat yang cukup dingin, karena memang dirinya tidak terbiasa untuk tinggal ditempat yang seperti itu.
"Ini kediaman anda, Tuan. Dan kami sudah memasangkan penghangat yang bisa membuat anda hangat didalam kediaman anda" ucap Mick yang saat ini mempersilahkan Zen untuk masuk kedalam kediamannya yang akan dirinya tinggali ditempat ini.
Dengan merasakan rasa dingin yang menyelimutinya perlahan menghilang, Zen dengan bersemangat memasuki kediaman tersebut dan mulai membenamkan dirinya pada sebuah sofa yang empuk didalam kediaman yang akan menjadi kediamannya di negara ini.
"Hahh... akhirnya tempat yang hangat" dan begitulah tanggapan Zen yang merasa bahagia, bahwa saat ini dirinya bisa bersantai dengan tenang dengan kondisi yang sangat hangat.
Tidak dipungkiri Zen sangat membenci sesuatu yang membuatnya kedinginan, kecuali memang hal itu menyangkut tentang metode penyiksaan. Karena selain dirinya tidak terbiasa karena dulunya dirinya tinggal di neraka, Zen juga cukup malas untuk menggunakan berbagai pakaian tebal yang menurutnya sangat tidak nyaman untuk digunakan.
Seperti tadi, dirinya sudah memakai banyak sekali jaket untuk menghalangi udara dingin mengenai tubuhnya. Walaupun begitu, tetap saja udara dingin itu mampu menembus jaket yang dirinya kenakan tadi dan dirinya tetap merasa kedinginan berada ditempat ini pada awalnya.
Maka dari itu, selain dirinya merasa tidak nyaman menggunakan berbagai pakaian yang tebal dan mengganggu pergerakannya, dirinya juga menganggap pakaian tebal sama sekali tidak membantunya merasa hangat sama sekali, jadi dirinya menganggap hal itu sangatlah percuma untuk dirinya gunakan.
"Tapi, Tuan. Saya mengira anda akan datang bersama Istri Anda. Jadi, saya sudah menyiapkan berbagai hal untuk Anda berdua. Tetapi sepertinya hanya Anda sendirilah yang datang ketempat ini" ucap bawahannya itu kembali.
__ADS_1
Memang sangat tidak bisa dibayangkan bahwa sosok Zen yang sangat mencintai Istrinya Vero meninggalkan sendirian dan tidak mengajaknya ketempat ini. Maka dari itu, bawahannya itu cukup kebingungan dengan sikap atasannya itu tentang mengapa dirinya tidak datang bersama Istrinya ketempat ini.
"Ya... dirinya pada awalnya bersikeras untuk ikut. Namun karena aku akan menyelidiki sebuah kekacauan secara langsung, jadi aku memutuskan untuk tidak mengajaknya" balas Zen yang menjawab perkataan bawahannya itu.
Tentu Vero juga mengerti mengapa Zen ingin datang ketempat ini sendirian. Karena mungkin, bencana yang dilihat oleh Mikhael akan terjadi pada tempat dimana Zen berkunjung dan suaminya harus berusaha untuk menghentikannya secara langsung jika hal itu memang benar-benar terjadi.
Masalahnya, Jika Vero ikut dengan Zen ke negara ini, ditakutkan dirinya akan membuat repot sosok Zen jika memang kekacauan akan terjadi ditempat ini. Maka dari itu, dirinya menyetujui usulan Zen yang tidak mengajaknya ke Negara ini bersamanya.
Apalagi Zen dipastikan tidak akan fokus untuk untuk menyelesaikan permasalahannya nanti, jika memang dirinya mengajak Istrinya ketempat ini. Karena bisa dipastikan, Zen akan fokus bersenang-senang bersama Istrinya saja dan bahkan tidak memperdulikan semua hal yang akan terjadi. Maka dari itu, Vero memutuskan untuk tidak mengikuti suaminya.
Walaupun bisa dikatakan bahwa Vero sedikit khawatir dengan pertemuan yang akan dilakukan oleh Zen dengan wanita yang akan dirinya temui itu, apalagi mungkin akan membuat sebuah permasalahan baru yang harus dirinya selesaikan menyangkut tentang sesuatu yang mungkin keluar dari dalam sosok wanita itu kepada Zen.
Namun Vero juga harus bersikap pengertian karena memang niat Suaminya datang ketempat ini bukanlah untuk bersenang-senang. Jadi, Vero memutuskan membiarkan Zen menyelesaikan permasalahan yang sedang dirinya selidiki dengan baik, dan hanya bisa berharap apa yang tidak dirinya inginkan itu tidak terjadi.
"Baiklah kalau begitu, Tuan. Karena saya harus mengantarkan beberapa jiwa, jadi saya akan undur diri terlebih dahulu" dan begitulah akhirnya malaikat maut yang menjemput Zen tadi akhirnya berpamitan kepada Zen, karena ada tugas yang harus dirinya selesaikan.
"Ya... selamat bekerja kalau begitu" balas Zen yang memang kondisinya masih tengkurap pada sofa tempat dimana dirinya berada saat ini, yang sedang menikmati kehangatan dari tempat tersebut
Akhirnya malaikat maut yang menjemput dan mengantarkan Zen ketempat ini, mulai keluar dari kediaman ini dan meninggalkan Zen sendirian. Dengan memastikan bahwa memang tidak ada yang diperlukan lagi oleh Tuannya tersebut, akhirnya malaikat maut itu benar-benar menghilang dari sana dan mulai melanjutkan tugasnya.
Namun setelah kepergiannya, Zen yang masih tengkurap ditempatnya, saat ini mulai menengok kesebuah arah seakan sedang memperhatikan sesuatu dari arah yang sedang dirinya tatap tersebut. Dengan terus menatapnya, Zen akhirnya memutuskan untuk memberitahu sosok yang bersembunyi itu, bahwa sebenarnya dirinya sudah ketahuan.
"Keluarlah, aku tahu kamu sedang bersembunyi disitu" ucap Zen kepada seorang pihak yang memang sepertinya mengikuti keberadaannya sedari tadi hingga akhirnya dirinya berada ditempat ini.
Dari arah luar jendela tempat Zen menatap, saat ini seroang wanita yang sangat cantik mulai melepaskan wujud kamuflasenya dan mulai memasuki tempat dimana Zen berada. Apalagi dirinya bisa dikatakan juga sangat senang melihat sosok Zen yang berada ditempat ini.
Dengan langsung menerobos masuk kediaman Zen, dirinya langsung melemparkan tubuhnya menuju tubuh dari Zen dan wanita cantik itu mulai memeluk sosoknya dengan sangat amat erat, karena memang dirinya merasa sangat senang bahwa Zen juga berada ditempat ini.
"Halo, Zen. Aku tidak menyangka kamu juga berada ditempat ini"
__ADS_1