
Tidak ada satupun yang bisa disembunyikan didepan mata milik Zen. Kemampuan khusus yang dimiliki oleh Deadly Sins itu akan mengungkap semua hal yang tersembunyi pada seluruh sosok yang dilihatnya. Termasuk apa yang sedang dilihat oleh Zen saat ini disaat pandangannya tidak sengaja memperhatikan seorang wanita.
Tentu Zen sama sekali tidak menyangka dirinya malah bertemu sosok yang sedari dulu dicari keberadaannya oleh salah satu adik sepupunya. Bahkan bisa dikatakan dirinya malah tidak sengaja bertemu dengannya ditempat ini disaat Zen sedang melakukan kencan bersama Ha Rin yang mengelilingi kota yang besar ini.
Dan hal tersebutlah, yang membuat Zen sedikit tertarik mendatangi sebuah toko bunga tempat wanita itu berada, dan saat ini dirinya ingin dengan segera menghampirinya dan menanyakan tentang berbagai hal termasuk mengapa dirinya melarikan diri dari hadapan salah satu adik sepupunya dan bersembunyi ditempat ini.
"Kamu ingin membeli bunga, Ha Rin?" tanya Zen kepada wanita yang masih terlihat bingung dengan perilaku dari Zen.
Sebenarnya Ha Rin bukan sedang bingung melihat kelakukan Zen, tetapi ekspresi yang ditunjukkan olehnya yang terlihat seperti itu. Tetapi bisa dikatakan apa yang dirinya rasakan saat ini merupakan rasa kesal, atau bisa dikatakan rasa cemburu karena Zen saat ini sedang fokus menatap seorang wanita yang terlihat sangat cantik.
Ha Rin sudah menumbuhkan sesuatu didalam hatinya, yaitu dirinya sudah menumbuhkan sebuah perasaan cinta kepada Zen. Jadi, dirinya merasa bahwa apa yang dirinya lakukan bersama Zen sedari tadi memang merupakan kesempatan yang sangat baik untuk bisa berdekatan dengan dirinya sebelum mereka berpisah nantinya.
Maka dari itu dirinya merasa sangat cemburu melihat pria itu malah menatap dengan lekat sosok seorang wanita, padahal mereka sedang berkencan berdua saat ini dan Ha Rin mencoba menggunakan waktunya yang tersisa pada hari ini agar bisa bersama dengan Zen.
"Ha Rin?" hingga sebuah teguran saat ini langsung keluar dari mulut Zen kepada dirinya, karena bisa dikatakan Ha Rin sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Zen.
Tentu Ha Rin sedari tadi sedang tidak fokus karena dirinya sedang memikirkan perasaannya. Entah sejak kapan perasaan miliknya ini sudah tumbuh sangat subur, padahal Ha Rin sudah mengetahui bahwa Zen sudah mempunyai Istri, bahkan dirinya mempunyai seorang calon Istri untuk dijadikan Istri keduanya.
Maka dari itu, dirinya berusaha menekan perasannya ini dan meminta Zen untuk menemaninya pada hari ini untuk menghabiskan waktu berdua saja untuk terkahir kalinya. Karena memang nantinya mereka akan berpisah, dan Ha Rin tidak memiliki penyesalan jika nantinya mereka akan berpisah.
Namun disela-sela kebahagiaannya yang dimana ternyata Zen menerima permintaannya, dirinya mulai terganggu dengan sikap Zen yang seakan sangat tertarik dengan sosok seorang wanita, yang terlihat dengan sangat fokus melayani para pelanggan yang sedang membeli bunga pada toko bunga tempat dimana dirinya bekerja saat ini.
Maka dari itu, dirinya sedari tadi mulai memikirkan sikap Zen itu yang bisa dikatakan membuat dirinya sangat cemburu melihat keberadaan wanita yang saat ini menjadi seorang penjaga dari sebuah toko bunga yang saat ini sedang dihampiri oleh mereka berdua.
"Ah... apakah kamu ingin membelikan diriku bunga?" hingga pertanyaan Zen tadi malah dijawab dengan sebuah pertanyaan kembali oleh Ha Rin yang berada disebelahnya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kalau begitu, aku akan membelikan dirimu sebuket bunga" balas Zen yang akhirnya memasuki toko bunga tersebut bersama Ha Rin.
Suasana ditempat itu sudah sepi disaat Zen memasukinya. Maka dari itu didalamnya hanya terdapat seorang wanita yang berada dibalik meja kasir dan sosok Zen dan Ha Rin yang baru memasuki tempat itu seolah mereka akan membeli sesuatu dari dalamnya. Sambutan hangat mulai terdengar dari wanita yang menjaga kasir tersebut.
Bahkan dirinya mulai keluar dari balik tempatnya berada dan menghampiri sosok Zen dan Ha Rin yang memasuki toko bunganya dan mencoba melayani mereka dengan sebaik mungkin dan mungkin sekalian memberikan saran tentang bunga apa yang akan dibeli oleh kedua sosok yang seperti pasangan tersebut.
"Lalu, bunga seperti apa yang anda inginkan, Tuan?" tanya wanita itu yang saat ini mulai melayani sosok Zen yang sedang melihat-lihat seluruh bagian dari toko bunga ini.
Bisa dikatakan ada sesuatu yang sangat aneh pada toko bunga ini. Karena Zen bisa merasakan sesuatu yang seharusnya cukup susah untuk dirinya temukan. Tetapi dirinya mulai menghiraukan sejenak itu semua karena mungkin sebentar lagi semua itu akan terjawab.
Jadi, Zen saat ini menjelaskan bunga apa yang ingin dirinya beli dan saat ini langsung memberitahukannya secara langsung kepada wanita yang saat ini sedang melayani dirinya dengan baik. Tentu, wanita yang menjadi penjaga toko ini dengan bergegas menindak lanjuti permintaan dari Zen kepadanya.
Hingga tangannya yang memang sangat cekatan saat ini langsung mengerjakan semua permintaan dari pelanggan yang saat ini mendatangi tokonya. Tetapi masalahnya, sepertinya pandangan Zen memang tidak kunjung lepas diri sosoknya, hingga akhirnya Zen saat ini mulai mendekati sosok wanita yang sedang sibuk itu.
"Ah... saya datang ketempat ini juga ingin menanyakan sesuatu" ucap Zen kemudian setelah dirinya sudah cukup memastikan bahwa wanita yang berada dihadapannya merupakan wanita yang cocok dan sedang dicarinya..
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kamu tidak kembali ketempat Suamimu berada, Adik Ipar?" ucap Zen yang saat ini langsung membuat terkejut wanita yang sebelumnya berekspresi sangat ramah kepadanya itu.
Dirinya yang masih fokus mengerjakan tugasnya mulai menghentikan sejenak pekerjaannya. Apalagi dirinya bisa dikatakan sangat amat terkejut dengan perkataan seorang pelanggan yang saat ini sedang menatapnya, dengan tatapan penuh selidik kearahnya.
Namun disaat dirinya masih merasa terkejut dengan perkataan Zen, wanita yang diajak berbicara oleh Zen itu mulai mengendalikan dirinya kembali karena memang dirinya tidak mengenal pria yang sedang berbincang kepadanya itu dan mungkin dirinya hanya berbicara asal kepadanya saat ini.
Maka dari itu dengan ekspresinya yang kembali ramah, dirinya mulai bersikap seolah tidak terjadi apapun tadi dan melanjutkan merangkai bunga-bunga yang dipesan oleh Zen kepadanya tadi, dan bersikap seolah-olah tidak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan oleh pelanggan yang memasuki toko bunganya itu.
"Maafkan saya, Tuan. Tetapi saya tidak mengerti sama sekali dengan maksud perkataan anda?" ucap wanita itu yang terlihat dirinya sudah kembali bersikap seperti seorang yang sedang melayani pelanggannya dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Benarkah kamu tidak mengerti? Apakah aku harus membawa Azrael ketempat ini, agar kamu paham dengan maksud perkataan yang aku lontarkan tadi?" hingga sebuah kalimat yang keluar dari mulut Zen, langsung membuat wanita itu merubah sepenuhnya ekspresi yang dirinya tunjukan kepada Zen.
Ya, wanita yang ditemui oleh Zen saat ini merupakan sosok yang selama ini dicari oleh Adiknya, Azrael. Wanita ini merupakan Istri dari Azrael yang memang tidak mencari keberadaan suaminya setelah mengalami siklus reinkarnasi berkali-kali, sehingga Azrael terus mencari keberadaan dirinya hingga saat ini.
Namun ternyata tidak perlu menunggu dirinya mati untuk menemukan sosoknya yang memang terus dicari keberadaannya oleh Azrael, karena saat ini Zen sudah berhasil menemukan dirinya yang bersembunyi dengan baik dan berada ditempat dimana mereka berada saat ini.
Maka dari itu, dirinya langsung mendatanginya dan ingin menanyakan secara langsung mengapa wanita itu tidak mencari keberadaan adik sepupunya tersebut, apalagi dirinya juga cukup susah ditemukan keberadaannya oleh seluruh keluarganya yang masih setia mencari keberadaannya.
"S-Siapa kamu? Kamu bukanlah keluarganya?" hingga wanita yang saat ini sudah sadar bahwa pria didepannya mengenali dirinya, langsung ingin mencari tahu siapa sebenarnya dirinya.
Wanita itu tentu mengetahui semua saudara dari Suaminya termasuk para Deadly Sins. Namun dirinya tidak familiar dengan sosok yang berada dihadapannya itu karena dirinya sama sekali tidak mengetahui dirinya. Maka dari itu dirinya mulai bersikap waspada dengan sosoknya yang bisa terlihat mengetahui dengan pasti rahasia yang dimiliki olehnya.
"Tenanglah. Aku bukanlah Kakak Ipar yang kejam dan langsung menyeret dirimu menuju adikku. Yang aku ingin tahu, mengapa kamu meninggalkannya?" tanya Zen yang saat ini berusaha bersikap ramah kepada wanita yang terlihat ketakutan itu.
Mendengar perkataan Zen semakin membuat wanita itu kebingungan. Karena pria itu baru saja mengatakan bahwa dirinya merupakan Kakak Iparnya, atau bisa dikatakan Kakak dari Suami yang dirinya tinggalkan. Maka dari itu, dirinya semakin bingung dengan keadaan yang terjadi ditempat ini, dan tentu saja semakin membuatnya panik.
Tentu Zen sebenarnya tidak ingin menekan sosok wanita yang dirinya temui itu, karena memang dirinya ingin menanyakan sesuatu kepadanya dengan cara baik-baik. Maka dari itu, dirinya berusaha menenangkan wanita yang terlihat mulai panik itu.
"Cih... sudah kubilang tenanglah. Aku hanya ingin mem-" namun belumlah Zen menyelesaikan kalimatnya, dirinya mulai merasakan sesuatu yang saat ini sedang mendatangi dirinya.
Sebuah anak panah saat ini dengan cepat mengarah kearah dirinya. Tentu dengan sigap, Zen langsung menangkap anak panah tersebut yang diarahkan tepat menuju kepalanya. Namun ternyata bukan satu saja anak panah yang mengarah kearahnya, melainkan ada beberapa yang mencoba untuk menyerang keberadaan dirinya.
Zen tentu langsung melindungi sosok Ha Rin yang hanya diam memperhatikan percakapan dirinya saja sedari tadi, karena panah itu terus berdatangan kearahnya. Apalagi Zen juga mulai berusaha melindungi sosok wanita yang merupakan adik iparnya itu, karena anak panah yang mengarah kearah Zen saat ini semakin liar arah bidiknya.
Hingga akhirnya, entah mengapa serangan panah itu tiba-tiba terhenti menyerang kearah dimana tempat Zen berada. Namun setelah kejadian itu terhenti, tiba-tiba saja wanita yang merupakan adik ipar dari Zen itu terlihat sangat panik melihat serangan panah itu akhirnya berhenti ditembakkan.
__ADS_1
"Nona Axillia!"