
Pada sebuah tempat yang berada sebuah gunung es yang berada di kutub utara. Sebuah istana es yang berada di sana saat ini sedang dipenuhi oleh beberapa pihak yang sedang melakukan pertemuan rutin.
Namun sebuah pembahasan yang sangat hangat sedang terjadi ditempat itu, yaitu pembahasan tentang beberapa orang yang mereka tugaskan mencari sebuah mahluk mistik yang mempunyai kekuatan khusus bisa dikatakan sudah tewas.
“Hm... bahkan aura yang aku tanamkan kepada mereka tidak kembali kepadaku saat mereka sudah mati” ucap seorang pria yang saat ini sedang duduk pada sebuah singgasana yang terbuat dari es.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan Hades?” ucap seseorang yang meminta saran dari seorang pria paru baya yang saat ini duduk di atas singgasananya.
“Hem... dipastikan mereka terbunuh oleh Malaikat atau Malaikat maut, karena hanya mereka saja yang bisa membunuh dan melenyapkan berbagai hal yang merusak jiwa dari orang yang akan mereka bimbing. Maka dari itu kita harus mengatur ulang strategi kita” ucap pria yang ternyata merupakan salah satu dari Dewa Olimpus, Hades.
“Tetapi mengapa mereka menyerang anak buah kita Tuan Hades?” tanya salah satu bawahannya kembali.
“Aku tidak tahu. Tetapi didalam catatan yang pernah aku baca, salah satu Deadly Sins menikahi seorang rubah berdarah murni. Tetapi aku tidak tahu Deadly sins yang mana yang menikahinya dan hal tersebut mungkin membuat para malaikat atau malaikat maut melindunginya” ucap Hades yang mulai memikirkan berbagai kemungkinan mengapa bawahannya bisa tewas.
Memang jika para Malaikat dan malaikat maut turun tangan dengan apa yang mereka rencanakan saat ini, akan membuat rencana mereka semakin susah untuk terlaksanakan. Walaupun Hades cukup percaya diri melawan berbagai malaikat dan malaikat maut, tetapi dirinya akan susah melawan para Heavenly Sins.
Mereka tidak seperti dahulu, saat pertama kali turun ke Bumi yang dimana kekuatan mereka saat itu lenyap seutuhnya. Saat ini, para Heavenly sins sangatlah kuat karena memang mereka sudah mengumpulkan kekuatan mereka selama ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.
“Cih.... coba saja aku dan anggota dewa olimpus yang lain menghabisi mereka saat para Deadly Sins yang arogan itu kami habisi dahulu” ucap Hades.
Hades memang salah satu pembunuh seorang Deadly Sins yaitu Lust, karena memang dirinya mendapatkan tugas untuk melakukannya. Apalagi memang Lust saat itu mencoba memperkosa seorang Dewi paling cantik dari Fraksi Dewa Olimpus dan membuat kesal seluruh Dewa Olimpus saat itu.
Walaupun saat itu dirinya bersama beberapa saudaranya melawan Lust dengan sangat susah payah, tetapi mereka berhasil melakukannya karena memang kekuatan dari Lust saat itu belum kembali sepenuhnya.
Memang ada wacana untuk memusnahkan seluruh Deadly dan Heavenly sins sekaligus setelah kejadian itu. Namun karena tidak terlihatnya niat jahat dari para Heavenly Sins, akhirnya rencana itu tidak dilakukan dan para Heavenly sins saat ini hidup berdampingan bersama mereka.
__ADS_1
“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya Tuan Hades?” tanya bawahannya kembali.
“Hm... kita lupakan saja sejenak tentang rubah itu. Sekarang fokus saja untuk mencari pemilik darah murni dari Phoenix. Jika kita sudah mendapatkannya, barulah kita akan berurusan dengan rubah yang sepertinya dilindungi oleh pihak malaikat” ucap Hades kepada bawahannya.
Mendengar perintah tuannya, semua orang yang mengikuti pertemuan tersebut mulai menerima perintahnya, dan akhirnya membubarkan diri dan melakukan tugas mereka masing-masing.
“Kerja bagus Hades...”
Begitulah sebuah bisikan yang didengar oleh Hades setelah anak buahnya sudah keluar dari ruangan dimana dirinya berada. Bisikan yang menenangkan hati itu entah mengapa membuat Hades nyaman dan cukup puas menerima pujian dari bisikan tersebut.
“Terima kasih Tuan. Saya pastikan kegelapan akan bangkit dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik lagi” ucap Hades yang sudah termotivasi melakukan tugasnya dengan baik setelah mendengar bisikan yang diterimanya itu.
.
.
Aura dari cinta yang tulus memang membuat Zen cukup senang mendapatkannya. Namun naasnya kedua wanita yang dirinya kenal bisa mengeluarkan aura tersebut saat ini tidak bisa bersamanya.
“Hahh... padahal cukup menyenangkan untuk membuat mereka senang” gumam Zen yang kembali merasa apa yang membuatnya bersemangat akhirnya meninggalkan dirinya.
Entah sampai kapan Kana pulih. Tetapi menurut perhitungan Zen, mungkin kekuatan Kana akan pulih sekitar satu tahun lagi, karena kekuatan Kana sudah lenyap sepenuhnya setelah segel kehidupan yang menyegel dirinya dibuka secara paksa dari beberapa anggota anomanex yang berhasil menemukan keberadaannya.
Dengan langkahnya yang mantab, akhirnya Zen mulai beranjak dari sana, dan membiarkan mutiara dari Kana menyerap semua aura negatif yang berada ditempat ini hingga dapat membuat Kana untuk pulih.
“Cih... tempat ini berisik sekali” gumam Zen yang cukup kesal mendengar suara jeritan, teriakan, dan minta tolong dari berbagai jiwa yang sedang disiksa ditempat ini.
__ADS_1
Beberapa jiwa yang mengenali Zen sebagai seseorang yang menentukan nasib seseorang yang sudah mati, tentu saja mereka meminta ampun kepadanya dan meminta keringanan dari hukuman yang mereka terima.
Namun Zen tentu saja menghiraukan mereka, karena memang itulah nasib yang mereka pilih dan membuat mereka bisa berada ditempat ini. Entah kejahatan apa yang mereka lakukan, tetapi jika mereka berada disini, pastilah mereka melakukan hal yang sangat buruk.
“Terimalah hukuman kalian, dan lakukan perbuatan yang lebih baik saat kalian selesai menjalani hukuman kalian” ucap Zen menasehati para jiwa yang sedang berteriak kesakitan itu dan meninggalkan mereka di sana.
Walaupun jeritan dan teriakan mereka sangat memilukan jika didengar, tetapi itulah hukuman bagi mereka jika memang dalam kehidupan yang mereka jalani dan pilih bukan merupakan sesuatu yang baik sehingga mereka bisa berada disini.
“Urusan anda sudah selesai tuan?” tanya Tenma yang baru saja keluar dari bilik penyiksaan ditempat ini, setelah mengantarkan tiga orang jiwa yang dibawa oleh Zen tadi.
“Ya... aku sudah menyelesaikannya. Lalu dimana kamu bawa ketiga jiwa itu?” tanya Zen kemudian.
“Mereka ada di sauna magma saat ini Tuan. Dan mungkin mereka sedang menikmati berendam didalam sebuah kolam magma yang sangat panas” ucap Tenma.
“Hm... begitu ya. Lalu bisakah kamu membuka portal kabut milikmu dan membawaku menuju pulau Bali?” ucap Zen kemudian.
Sebenarnya Zen bisa saja menggunakan kekuatannya untuk keluar dari sini. Namun entah mengapa dirinya merasa malas untuk menggunakan kekuatannya setelah dirinya membantu Kana tadi. Jadi dirinya meminta Tenma membukakan portal untuk mengeluarkan dirinya dari sini.
“Baik Tuan” ucap Tenma yang langsung membuka portal kabutnya.
Zen lalu berpamitan kepada Tenma dan beberapa bawahannya yang berada di sana, lalu memasuki portal yang sudah dibuatkan untuknya dan menghilang dari sana.
Akhirnya pemandangan matahari terbit mulai menyambut Zen, karena memang sudah semalaman penuh dirinya melakukan kegiatannya dalam membantu Kana tadi. Dengan langkahnya yang mantab, akhirnya Zen memutuskan untuk kembali menuju sebuah Vila yang dimana beberapa keponakannya berada.
“Ya... setidaknya para keponakanku dapat mengembalikan semangatku”
__ADS_1