Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Sedikit Lagi


__ADS_3

Gelapnya sebuah tempat saat ini menjadi saksi dari beberapa pihak yang sedang menikmati sebuah tontonan ditempat itu. Dengan pencahayaan yang hanya berasal dari layar besar yang berada didepan mereka, beberapa pihak mulai menertawai tingkah konyol dari sebuah adegan yang sedang mereka tonton pada layar tersebut.


Tak terkecuali sepasang suami istri yang juga ikut tertawa terbahak-bahak setelah melihat sebuah adegan yang sangat lucu bagi mereka. Bahkan sang pria saat ini sempat melirik kearah wanita yang duduk disebelahnya, dan sangat senang bisa melihatnya tertawa dengan lepas disebelahnya.


Sebuah perasaan hangat mulai mengalir memenuhi hatinya, disaat mereka mulai saling pandang karena ingin melihat ekspresi pasangan mereka masing-masing. Bahkan pencahayaan yang minim ditempat itu seakan menjadi saksi, bahwa wajah mereka saat ini sedang berseri-seri karena menikmati waktu mereka bersama.


Tanpa perlu mengatakan sesuatu untuk menyatakan kebahagiaan yang mereka rasakan, tangan mereka yang sudah saling bersatu sama lainnya sudah bisa menunjukan isi hati mereka yang sangat bahagia, apalagi setelah mereka mulai saling tersenyum saat saling berpandangan saat ini.


“I Love You” dan begitulah adegan konyol yang sedang diperhatikan oleh beberapa pihak mulai berakhir, dimana seorang pria tiba-tiba saja mulai menyatakan perasaannya pada pasangannya.


Tentu perkataannya itu memang mewakili perasaan sepasang suami istri yang saat ini sedang saling menatap dan tersenyum. Bahkan adegan yang berada didepannya, bukan lagi prioritas utama mereka saat ini, karena mereka sudah sangat terbawa sihir pemikat dari pandangan yang mereka lakukan kepada pasangan mereka masing-masing.


Namun, ternyata sang Istri yang akhirnya mengambil tindakan terlebih dahulu. Bisa dilihat, wajahnya yang masih bersemu merah muda itu mulai didekatkan kepada wajah suaminya yang masih menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa kasih sayang yang amat dalam.


Bahkan wajah mereka semakin mendekat saat ini, seakan sudah terbawa suasana yang sangat cocok untuk menunjukan ekspresi dari cinta mereka masing-masing ditempat tersebut. Dengan degup kencang suara jantung mereka yang seakan mulai terdengar, apa yang ingin mereka lakukan itu sepertinya akan terjadi.


Tetapi disaat apa yang mereka lakukan itu akan mencapai garis akhir, tiba-tiba saja ruangan yang sebelumnya gelap mulai berubah sepenuhnya menjadi sangat terang, setelah layar didepan mereka sudah menunjukan susunan baris tulisan yang menandakan film yang mereka tonton sudah selesai.


Dengan menunjukan rupa wajah mereka yang sangat dekat, bisa terlihat sebuah semu merah muncul pada wajah sang wanita yang bisa dikatakan sangat amat malu dengan tindakannya. Apalagi, bisa dikatakan tujuan mereka yang akan mereka lakukan tadi, sepertinya harus diurungkan niatnya.


“A-Ah... ma-maafkan aku, Zen” ucap Vero yang langsung memundurkan wajahnya, dan saat ini mulai bersandar lagi pada kursinya dan mencoba menyembunyikan rasa malunya yang sedang dirinya rasakan saat ini.


Suara degup jantungnya yang seakan mengeras suaranya, saat ini dicoba untuk ditenangkan oleh Vero. Bahkan dirinya cukup bingung, mengapa dirinya mulai berinisiatif untuk melakukan sebuah tindakan yang sangat memalukan untuk dirinya itu.


Bahkan dirinya mulai bingung, bagaimana dirinya harus bersikap kepada suaminya setelah kejadian itu. Apalagi, entah dari mana munculnya keberanian dirinya yang akan mencium bibir Zen tadi, yang membuat dirinya mulai merasa malu sudah bertindak seperti itu.


Namun disisi lain, Zen hanya tersenyum senang melihat ekspresi dari Vero yang terlihat sangat panik itu. Bahkan bisa dikatakan seluruh wajahnya sudah berubah menjadi merah sepenuhnya, apalagi Zen bisa melihat dengan jelas warna kulit daun telinganya yang sebelumnya putih, sudah berubah menjadi merah padam.


“Bukankah kita harus keluar sekarang?” Namun tindakan Vero yang berusaha keras untuk menenangkan dirinya harus pupus, karena suara suaminya saat ini mulai mengejutkan dirinya.

__ADS_1


Tentu Vero merasa kaget dengan suara lembut yang diucapkan oleh suaminya kepadanya, yang akan mengajaknya keluar dari tempat ini. Apalagi, dirinya semakin merasa malu, karena sepertinya suaminya masih bersikap seperti biasa kepadanya, seakan mereka tidak pernah melakukan apapun ditempat ini tadi.


Lucu memang bisa dikatakan apa yang dilakukan oleh kedua pasangan itu. Karena bisa dilihat tindakan mereka saat ini sangat berbeda dengan niat awal mereka saat masuk kedalam tempat ini tadi. Apalagi sang wanita saat ini berusaha dengan keras untuk tidak ingin menatap sang pria yang saat ini bersamanya.


Karena bisa dibilang, rasa cinta yang memenuhi diri mereka tadi seakan mulai meluap sepenuhnya, disaat bibir mereka akan bersatu. Namun anehnya, disaat rasa cinta itu mulai tumpah sepenuhnya karena kegagalan dari apa yang akan mereka lakukan tadi, membuat mereka seakan mulai bersikap canggung saat ini.


“S-Sabarlah sebentar, Zen. A-Aku akan memakai maskerku terlebih dahulu” ucap Vero yang mulai mengambil masker dari dalam tasnya dan akan memakainya saat ini.


Tentu Vero memakai maskernya bukan hanya untuk menyembunyikan rupanya dari khalayak umum. Tetapi saat ini Vero ingin menyembunyikan rasa malunya dihadapan Zen. Apalagi tindakan yang dirinya lakukan tadi, bisa dikatakan dirinya lakukan secara tidak sadar.


Berondong jagung yang tumpah dibawah kaki mereka menjadi saksinya. Yang dimana Vero yang awalnya memegang cemilan itu untuk dirinya santap bersama Zen, tidak sadar malah menumpahkannya saat mereka akan melakukan sesuatu yang membuat Vero merasa malu saat mengingatnya.


Apalagi, semu merah yang memenuhi wajahnya saat ini, sama sekali tidak ingin dirinya tunjukan kepada Zen. Karena bisa dikatakan, disaat suaminya itu melihatnya akan membuat Vero bertambah malu, dan mungkin dirinya tidak akan sanggup lagi untuk menatap wajah suaminya nanti.


“Baiklah” balas Zen singkat sambil masih menunjukan senyum menawannya kepada wanita yang sangat dirinya cintai itu.


Inilah yang selama ini Zen cari. Sebuah perasaan nyata yang ingin dirinya miliki. Sesuatu yang akan menjadi cikal bakal keinginannya yang akhirnya bisa dirinya rasakan, karena bisa dikatakan inilah tahap awal dalam dirinya mempunyai sebuah keluarga yang utuh.


Karena memang, genggaman salah satu tangan mereka seakan tidak ingin terlepas satu sama lainnya, bahkan untuk sekedar memasang sebuah masker pada wajahnya yang cantik itu sejenak. Namun, yang membuat Vero terkejut, bahwa tangan Zen yang bebas, saat ini mulai membantu dirinya dalam memasangkan masker tersebut pada wajahnya.


Tentu dengan degup jantungnya yang semakin berdebar dengan keras, karena sentuhan tangan Zen yang mulai menyentuh daun telinganya untuk mengaitkan tali dari masker yang akan dirinya gunakan, semakin membuat Vero semakin merona mendapatkan perhatian seperti itu.


Apalagi wajahnya yang sepenuhnya sudah tertutup oleh masker yang dirinya gunakan, tidak mampu menghalangi pandangannya kepada wajah suaminya yang saat ini menatapnya sambil menunjukan senyum manisnya kepadanya, dan membuat jantung Vero seakan ingin lepas saat melihatnya.


“Sudah selesai, kalau begitu mari beranjak dari tempat ini” ucap Zen yang akhirnya selesai membantu Vero memasangkan masker kepada dirinya, dan membuat wanita itu masih sangat terpana melihat tindakan Zen itu kepadanya.


Vero hanya mengangguk dengan malu-malu menjawab perkataan dari Zen yang mengajaknya beranjak. Hingga akhirnya mereka berdua mulai beranjak dari tempat itu sambil bergandengan tangan, dan mulai meninggalkan sebuah ruangan bioskop yang sudah mulai sepi, karena memang mereka merupakan orang terakhir yang keluar dari dalamnya.


Tetapi bisa dikatakan tindakan Vero sangatlah berbeda dari apa yang dirinya lakukan saat datang ketempat ini. Apalagi, bisa dilihat saat mereka berjalan keluar, Vero lebih asik melihat langkah kakinya sendiri, yang sedang melangkah mengikuti langkah kaki suaminya, yang masih menggandeng tangannya dengan sangat erat.

__ADS_1


Karena bisa dibilang, disaat dirinya akan menonton sebuah film dan memasuki tempat ini, Vero terlihat sangat amat bersemangat melakukannya. Namun tindakannya itu bisa dikatakan sangat berbeda saat ini, karena dirinya terlihat seperti seorang yang sangat pemalu.


“Lalu, kita akan kemana setelah ini?” tanya Zen kembali kepada wanita yang saat ini sudah berubah sepenuhnya menjadi wanita yang sangat pendiam.


“A-Aku hanya mengikuti kemana dirimu pergi, Zen” ucap Vero yang masih merasa malu dengan tindakannya tadi, dan menjawab pertanyaan Zen dengan terbata-bata.


Tentu mendengarnya, Zen hanya mulai menunjukan senyum senangnya melihat perilaku dari Istrinya itu. Apalagi tindakannya yang menurut Zen sangatlah menggemaskan itu, membuat Zen merasa sangat senang dan berusaha untuk membuat wanita itu menjadi sangat bahagia hari ini.


Maka dari itu, dengan mendengarkan perkataanya yang ingin mengikuti kemana dirinya pergi, membuat Zen saat ini mengajaknya untuk beranjak dari tempat mereka berdua, menuju sebuah lift yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Dengan hanya mereka berdua saja yang memasukinya, Zen saat ini mulai menekan tombol untuk menuju kearah lantai paling atas dari gedung ini, untuk membawa Vero menuju sebuah tempat yang sudah dirinya persiapkan untuk mereka.


Vero sendiri memang tidak sadar kemana Zen akan membawanya. Karena saat ini dirinya hanya fokus memperhatikan pantulan rupa mereka pada sebuah cermin yang terdapat pada lift yang mereka naiki saat ini, dan mencoba melihat sekali lagi pantulan dirinya bersama sosok suaminya itu yang saling bergandengan tangan.


Apalagi melihat pantulan mereka yang dimana dirinya sudah berdiri dengan sejajar dengan sosok dari suaminya, membuat jantung Vero semakin berdebar dengan keras. Karena bisa dikatakan, pantulan dirinya dengan Zen pada cermin itu seakan menunjukan bahwa mereka saat ini memang menyerupai sebuah pasangan yang sebenarnya.


Hingga akhirnya Vero harus menghentikan tindakannya itu setelah pintu lift yang dirinya naiki bersama Zen, akhirnya mulai terbuka. Tetapi anehnya, disaat pintu itu mulai terbuka sepenuhnya, pemandangan sebuah taman bunga yang sangat amat indah saat ini mulai menyambut penglihatannya.


“Ini dimana, Zen?” ucapnya yang sangat amat takjub dengan pemandangan yang dirinya lihat itu.


Berbagai bunga dengan beraneka ragam jenis dan warna, saat ini menyambut kedatangan dirinya bersama Zen ditempat ini. Bahkan pemandangan itu sangatlah indah, dengan sebuah penerangan yang cocok untuk menyinari tempat tersebut.


Lilin-lilin yang sudah menghiasi setiap inci dari jalan setapak yang akan menjadi jalur mereka melewati tempat itu, semakin membuat tempat itu sangatlah indah. Apalagi, Vero seakan merasa jalan itu dikhususkan untuk dirinya, yang saat ini masih memandangi tempat itu dengan perasaan yang sangat takjub.


Apalagi dengan kelap-kelipnya bintang yang menyinari langit yang gelap dan menemani sebuah bulan dengan bentuk sabitnya, langsung membuat tempat itu sangat amat sempurna, disaat kedua pasangan suami istri itu mulai mengambil langkah mereka untuk keluar dari lift yang mereka naiki tadi.


“Bagaimana? Apakah indah?” tanya Zen yang saat ini mulai membimbing Vero untuk terus berjalan melewati jalan setapak yang berada ditengah-tengah beragam bunga yang berada di sana.


Hembusan angin yang sejuk mulai bertiup kearah mereka. Bahkan entah mengapa, angin yang sedikit dingin itu tidak mampu membuat kedua pasangan yang sedang melangkah itu kedinginan. Karena memang, bisa dikatakan rasa hangat yang keluar dari lubuk hati mereka masing-masing, masih saling menghangatkan kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta tersebut.

__ADS_1


“Ya... Ini sangat indah, Zen”


__ADS_2