
Zen hanya tersenyum saja melihat ekspresi dari Santi yang saat ini terlihat jelas sangat kebingungan, walaupun wanita itu saat ini mencoba menutupinya. Hingga akhirnya Santi memutuskan menyudahi sesi pemeriksaan saksi yang sedang dirinya lakukan bersama Zen, yang dimana Zen saat ini sudah dipersilahkan untuk pulang.
“Terima kasih atas waktu anda Tuan Zen” ucap Santi saat dirinya sedang mengantarkan Zen untuk menuju arah keluar dari kantor kepolisian tempatnya bekerja.
“Sama-sama Nona Santi, dan juga bukankah ini tugas warga negara yang baik untuk memenuhi panggilan dari pihak kepolisian” jawab Zen sambil tersenyum.
Santi hanya mengangguk saja mendengar balasan dari Zen, hingga akhirnya Zen dan dirinya sudah berpisah tepat didepan pintu masuk dari gedung kepolisian tempat Santi bekerja. Zen yang sudah keluar dari sana, memutuskan untuk langsung pulang menuju kediamannya.
“Bagaimana Kapten?” namun saat Santi memperhatikan Zen yang saat ini sudah menjauh dari pandangannya, seorang bawahannya atau rekannya mulai menanyakan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Santi.
“Aku tidak tahu...” balas Santi sambil bergumam.
“Anda tidak tahu? Apa maksud anda kapten?” tanya bawahannya itu yang bingung mendengar gumaman dari Santi.
“Ah... maafkan aku. Bisakah kamu kembali menuju Kawasan apartemen Palm Suite untuk meminta beberapa rekaman kamera pengawas kepada mereka” tanya Santi kepada bawahannya itu.
Tentu Santi yang belum memeriksa tentang kebenaran alibi Zen tadi, tidak akan membuang kesempatan untuk memeriksanya, karena dirinya juga penasaran apa yang dikatakan Zen tadi benar atau tidak. Walaupun dirinya sendiri merasakan bahwa Zen tidak berbohong tentang alibinya tersebut.
“Baiklah Kapten, lalu rekaman pada waktu dan hari apa yang anda ingin saya minta kepada mereka” jawab Bawahannya kembali.
Angel langsung memberitahukan untuk menyalin semua rekaman pada hari kejadian yang dimana terjadi pembantaian dan meminta rekaman kamera pengawas dari semua area dari apartemen tempat tinggal Zen. Tentu bawahannya itu mendengarkan Santi dengan serius dan mencatat perintahnya.
“Baiklah, aku akan berangkat sekarang” balas bawahannya itu setelah mencatat semua pesanan dari Kaptennya.
“Ya... kalau bisa lakukan dengan cepat” ucap Santi dan mendapatkan anggukan dari bawahannya itu.
Bawahannya itu langsung beranjak dari sana dan mulai mengambil mobil dinas yang akan digunakannya untuk pergi menuju area apartemen milik Zen. Sedangkan Santi saat ini masih memikirkan semua informasi yang dia dapatkan dan tentu saja membuatnya sangat bingung saat ini.
“Hahh... mengapa saat ini kasus yang aku kerjakan sepertinya mulai menemui jalan buntu” gumam Santi dan memutuskan untuk kembali menuju ruangannya untuk memeriksa sekali lagi bukti yang dia dapatkan.
__ADS_1
Disisi lain, Zen saat ini sedang berjalan dengan santai untuk kembali menuju kediamannya. Namun saat Zen yang sedang berjalan dengan santai dan melangkah pada sebuah area trotoar, dirinya tidak sengaja bertemu dengan Bari yang saat ini berdiri tepat di samping trotoar tempatnya sedang berjalan.
Tentu Zen langsung menuju kearah pria yang dia kenal itu dan mencoba menyapanya. Disisi lain Bari saat ini belum menyadari bahwa tuannya mulai mendekat kearahnya dan masih fokus untuk menunggu sebuah kejadian yang akan terjadi ditempat ini.
“Yo.. Bari” kata Zen yang tentu saja membuat Bari terkejut
“T-Tuan Zen” balas Bari tergagap karena memang dirinya tidak menyangka bahwa tuannya akan muncul ditempat dirinya berada saat ini.
“Apa yang sedang kamu lakukan ditempat ini?” tanya Zen kemudian sambil memperhatikan sekitar area dirinya berdiri.
Mendengar perkataan Zen, tentu saja Bari mulai mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannya.
“Sebentar lagi ditempat ini akan terjadi kematian” Balas Bari yang saat ini sudah menenangkan dirinya karena terkejut dengan kedatangan tuannya itu.
“Berapa nama?” tanya Zen kemudian.
Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataan Bari dan dirinya memutuskan untuk menunggu dan melihat kejadian apa yang akan terjadi ditempat ini. Yang dimana ditempat ini sebentar lagi akan terjadi kematian dari tiga orang.
“Bagaimana dengan pemeriksaannya Tuan?” tanya Bari yang memutuskan untuk mengobrol bersama tuannya sebelum dirinya melakukan tugasnya.
“Ya... untung saja wanita itu belum mempercayai sepenuhnya kepekaan yang dimiliki olehnya” balas Zen.
“Memangnya jika dirinya mempercayai kepekaannya, dirinya bisa mengelabuhi anda Tuan Zen?” gumam Bari yang membuat Zen langsung tersenyum.
Kepekaan adalah sebuah kemampuan khusus yang bisa merasakan keadaan sekitar dengan baik. Tentu pria seperti Zen beserta saudara-saudaranya mempunyai kemampuan tersebut. Maka dari itu Zen dengan mudah mengelabuhi Santi selama ini.
Jarang memang jika seorang manusia mempunyai sebuah kemampuan khusus, namun hal itu sudah biasa karena memang dunia ini mempunyai sebuah hukum, yang dimana kemampuan tersebut diberikan kepada beberapa orang yang mempunyai jasa kepada dunia ini pada kehidupan terdahulunya.
“Lalu, apakah anda masih dicurigai Tuan?” tanya Bari kemudian.
__ADS_1
“Untuk wanita itu iya, sedangkan dimata hukum negara ini tentu saja kecurigaan terhadap diriku akan terhapuskan” jawab Zen dan membuat Bari mengangguk.
Sedang asik berbincang bersama Bari, akhirnya apa yang ditunggu-tunggu untuk terjadi ditempat ini akhirnya datang. Sebuah mobil box saat ini sedang melaju dengan cepat yang dimana terlihat sopirnya berusaha dengan keras mengendalikan mobil yang dibawanya yang saat ini terlihat sudah tidak bisa dikendalikan.
Mobil itu mulai menabrak beberapa kendaraan didepannya, dan untung saja hanya menyebabkan lecet pada kendaraan yang ditabraknya. Namun saat semakin menjauh, rem yang sedari tadi coba diinjak oleh sopir dari mobil box itu tetap saja tidak berfungsi.
Namun saat masih berusaha mengendalikan mobilnya, seorang pengendara ojek online yang saat ini melaju menggunakan motornya, tidak menyadari dengan apa yang terjadi dibelakangnya karena dirinya mengemudi sambil fokus kepada ponsel yang berada di atas stang motornya.
“Sepertinya tugasku akan dimulai Tuan” balas Bari yang mulai mengeluarkan pulpen yang terbuat dari bulu elang dari dalam kantong jasnya.
“Ya... selamat bekerja” balas Zen yang menantikan adegan yang akan terjadi selanjutnya.
Mobil Box itu tentu memencet klaksonnya berkali-kali, namun karena pengemudi ojek online itu menggunakan earphone miliknya dan fokus dengan ponselnya, tentu membuat dirinya tidak mendengar klakson dari mobil box tersebut.
Namun karena kendaraan mobil box itu semakin tidak bisa dikendalikan oleh kemudinya, akhirnya tabrakan yang tidak bisa terhindarkan itu mulai terjadi. Dampak yang terjadi setelah kejadian tersebut membuat pengemudi ojek online itu sudah terpental, sedangkan mobil box tersebut mulai oleng kearah samping dan saat ini melaju menuju arah trotoar yang penuh dengan pejalan kaki.
Semua orang yang melihat kedatangan mobil box itu tentu saja langsung melarikan diri, namun seorang wanita yang juga fokus dengan ponselnya tidak menyadari kedatangan mobil itu, hingga dirinya akhirnya terbawa oleh mobil yang sedang melaju tanpa rem itu yang saat ini sudah menabrak sebuah ruko.
“Aku pergi dulu Tuan” balas Bari yang mulai menghampiri jiwa yang akan dibimbingnya itu satu persatu setelah Zen mengangguk kepadanya.
“Keluarlah, jangan bersembunyi” ucap Zen.
Mendengar teriakan Zen itu, Tiba-tiba saja seorang wanita dengan sayap pada punggungnya mulai keluar dari tempat persembunyiannya dan muncul didekat Zen berada saat ini.
“Maafkan diriku karena mengawasi anda Tuan Sloth” kata wanita tersebut yang merasa bersalah atas tindakannya.
“Ya.. tetapi jangan diulangi lagi. Kamu bisa menghampiriku saja jika melihatku. Lagipula apa yang dilakukan malaikat ditempat ini?” tanya Zen kemudian.
“Maafkan aku sekali lagi Tuan Sloth, tetapi aku hanya takut anda akan ikut campur dalam lingkaran nasib”
__ADS_1