
Tidak dibutuhkan waktu yang lama oleh Zen dan Bari yang mulai meratakan tempat tersebut. Apalagi mereka bisa dengan leluasa melakukannya, tanpa khawatir keributan yang mereka sebabkan itu menjalar kemana-mana, seperti halnya kehancuran yang terjadi ditempat ini dan disebabkan oleh mereka berdua.
Tentu pelindung yang dibuat Bari tadi, saat ini mengisolasi sepenuhnya kegiatan brutal mereka ditempat ini. Bahkan pihak Kultivator yang seakan salah mencari musuh dan ingin melarikan diri, bisa dikatakan perbuatan mereka itu sia-sia, karena keluar dari tempat ini bisa dikatakan sangatlah mustahil untuk dilakukan.
Maka dari itu, Zen dan Bari dengan leluasa melakukan apapun yang mereka inginkan ditempat ini, tanpa khawatir apa yang mereka lakukan itu menyebabkan keadaan sekitar ikut hancur akan ulah mereka, yang bertindak sangat amat brutal dalam menghancurkan semua hal yang ada ditempat ini.
"Cih... mengapa mereka menyukai memasang tehnik peledak pada tubuh mereka." hingga begitulah gumaman Zen yang saat ini mulai diselimuti api dari ledakan yang baru saja mengenai dirinya.
Seperti yang diketahui para Kultivator menggunakan tehnik yang sama dengan Vampire. Walaupun kekuatan tehnik peledak tubuh yang mereka gunakan tidak sekuat tehnik Para Vampire, tetapi tetap saja apa yang mereka lakukan itu sangatlah mengganggu sosok Zen yang notabennya saat ini mulai membantai keberadaan mereka satu persatu.
Apalagi serangan para Kultivator juga bisa dikatakan lebih bervariasi. Jika Vampire lebih sering menggunakan kemampuan tubuh mereka, para Kultivator sekarang malah banyak menggunakan berbagai tehnik skill yang sangat amat mengganggu untuk melawan keberadaan Zen ditempat ini.
Namun sayangnya, apa yang mereka lakukan itu sangatlah tidak berguna. Tentu dengan kekuatan perlawanan mereka saat ini, mungkin Dewa cukup kewalahan untuk melawan mereka. Namun tidak dengan Zen yang saat ini seakan kebal dengan semua hal yang mereka lakukan untuk mengalahkan sosoknya.
Walaupun menurut Zen serangan mereka cukup bervariasi, tetapi tetap saja menurut Zen serangan mereka yang diarahkan kepadanya untuk membunuhnya, bisa dikatakan sama saja atau tidak berguna sama sekali untuk menaklukan sosok Zen yang dengan mudah menghalau dan membalas serangan mereka.
"Tuan Muda Tian Xin, bukankah anda berkata musuh yang akan kita hadapi adalah sosok yang lemah?" hingga bawahan dari pria yang memimpin pada Kultivator ketempat ini mulai protes dengan kabar palsu yang mereka terima.
Memang mereka mau datang ketempat ini, karena mereka ditawarkan sebuah bayaran yang besar dengan menghabisi sosok yang bisa dikatakan cukup lemah. Maka dari itu, mereka dengan senang hati mengikuti pihak yang mengajak mereka ketempat ini untuk menghabisi sosok Zen.
Pada awalnya mereka tidak curiga sama sekali tentang tawaran yang mereka terima itu, apalagi yang membuat tawaran tersebut adalah anak dari pemimpin perguruan Kultivator terbesar di Kekaisaran China, sehingga mereka sangat mempercayai informasi yang dirinya berikan.
Pria bernama Tian Xin memang salah satu tetua dari sebuah perguruan ternama di Kekaisaran China. Umurnya yang masih muda, membuat dirinya seakan menjadi sosok yang sangat amat terkenal, karena diusianya semuda itu dirinya sudah menjabat sebagai tetua karena dirinya merupakan keturunan langsung pemimpin perguruan tersebut.
Maka dari itu, sifatnya yang arogan dan kepercayaan diri berlebihan, membawanya ketempat yang seharusnya tidak boleh dirinya datangi. Apalagi datang ketempat ini dan mencari sosok Zen untuk dihabisi, merupakan sebuah keputusan bunuh diri jika dirinya tahu Zen akan sekuat ini.
Tentu sebagai orang penting dirinya seharusnya bisa menyuruh beberapa orang untuk membereskan apa yang dirinya inginkan itu. Namun karena sebuah skandal yang dirinya buat, mau tidak mau janji yang dirinya buat dengan sosok yang mempunyai skandal dengan dirinya akan dikabulkan permintaannya oleh pria bernama Tian Xin tersebut.
Dan begitulah dirinya mulai mengumpulkan berbagai pihak untuk membantunya membunuh sosok Zen. Apalagi dari laporan yang selama ini dirinya terima tentangnya, membuat Tian Xin cukup percaya diri untuk mengalahkannya karena walaupun dirinya berlindung dibawah nama orang tuannya, tetapi kekuatannya juga cukup kuat.
"Tuan Muda!" hingga sebuah suara teriakan bawahannya yang terlihat kesakitan, mulai membuyarkan lamunan Tian Xin yang masih menyesali keberadaannya ditempat ini.
Kekuatan yang tidak terbayangkan saat ini seakan mulai mereka lawan ditempat ini. Bahkan kesadisan yang dilakukan oleh pihak yang seharusnya mereka bunuh, membuat Para Kultivator yang datang ketempat ini mulai ketakutan karena tidak seharusnya mereka mencari masalah dengan sosok tersebut.
__ADS_1
Pada awalnya, memang mereka juga tidak ingin asal mengikuti sosok dari Tian Xin. Karena pihak Kekaisaran China mulai menarik kembali seluruh Kultivator yang tersebar di seluruh dunia untuk menuju kembali ke kekaisaran mereka, dan melarang mereka untuk keluar dari Kekaisaran China apapun yang terjadi.
Tetapi karena Tian Xin menawarkan bayaran yang besar untuk melanggar perintah tersebut dan mengikuti dirinya, mereka yang tergoda dengan bayaran tersebut mulai mengikutinya. Apalagi menurutnya musuh yang mereka lawan akan sangat mudah ditaklukan.
Namun naas, nasi sudah menjadi bubur saat ini. Keputusan yang mereka ambil itu, seakan tidak bisa mereka batalkan setelah mereka akhirnya menyadari, bahwa saat ini mereka seakan sebuah gerombolan domba yang sedang dibantai satu persatu oleh dua ekor serigala yang sedang memburu mereka.
"Tenanglah. Jika kita bersama-sama menyerangnya, aku yakin kita bisa mengalahkan mereka berdua" ucap pria yang dipanggil Tian Xin tersebut, yang berusaha mengendalikan situasi yang terjadi saat ini.
Tian Xin tentu juga mukai merasa takut saat ini. Niatnya ingin membuktikan keseriusannya dalam melaksanakan permintaan dari pihak yang memerintahkannya ketempat ini, malah membuatnya berada pada situasi hidup dan mati. Apalagi bawahan yang datang bersamanya satu persatu mulai tewas ditangan Zen dan Bari.
Mereka tidak bisa melarikan diri lagi. Apapun yang mereka lakukan bisa dikatakan sia-sia, dan terpaksa cara mereka untuk selamat dari semua kejadian ini adalah membalas serangan dari Zen dan Bari dan membunuh mereka berdua, agar mereka semua bisa selamat dari kekejaman yang terjadi ditempat ini.
Hingga cela untuk mengalahkan sosok Zen mulai terlihat oleh mereka saat ini. Kekuatan Zen seakan mulai melemah, dan dirinya terlihat mulai kesusahan dalam melawan beberapa pihak yang menyerangnya. Maka dari itu, Tian Xin menganggap bahwa ini adalah waktu yang tepat, untuk membunuh pria yang seharusnya mereka habisi itu.
"Ayo serang!" dan begitulah teriakan Tian Xin yang melihat Zen masih terlihat cukup kesusahan menahan serangan yang datang kearahnya, dan saat ini mereka menganggap bahwa Zen tidak mampu untuk memprediksi serangan yang datang kearahnya karena masih fokus menahan serangan yang dirinya terima.
Namun yang mereka tidak tahu, sebuah senyum yang licik saat ini sudah ditampilkan oleh Zen. Tentu dirinya cukup malas mengejar satu-persatu musuh yang dilawannya, apalagi dirinya cukup malas untuk sekedar beranjak dari tempatnya untuk membantai pihak-pihak yang ingin mencari masalah dengannya.
Tentu setelah mereka melihat Zen yang dengan mudah membantai rekan-rekan mereka, membuat semua pihak tentu saja mulai menyebar dan berusaha menghindari sosok Zen, yang saat ini dengan bringas mulai mencari keberadaan mereka untuk dibantai oleh dirinya.
Dengan dirinya seakan mulai terlihat kerepotan dalam pertarungan yang sedang dirinya lakukan, Zen bermaksud untuk memancing musuh yang melihat keadaannya, agar mereka langsung menyerang sosoknya yang mereka kira sudah mulai kelelahan dengan pertarungan yang sedang dirinya lakukan.
Hingga akhirnya apa yang dirinya lakukan itu bisa terlihat cukup sukses. Bahkan saat ini senyum menyeramkan yang terukir diwajahnya itu, mulai meneror beberapa pihak yang saat ini datang menyerang dirinya, apalagi mereka sama sekali tidak menyangka bahwa saat ini mereka sudah masuk kedalam sebuah perangkap.
"Giliran diriku" hingga dua kata yang keluar dari mulutnya, menjadi pertanda sebuah pembantaian yang baru saat ini akan dirinya lakukan kembali.
Ame no Ohabari yang sedari tadi dirinya simpan, saat ini sudah dirinya keluarkan dan mulai dibawanya untuk menyerang beberapa pihak yang akan menyerangnya. Dengan kecepatan yang cukup cepat, sebuah lambaian pedangnya saat ini langsung memutuskan salah satu kepala dari Kultivator yang menyerangnya.
Tentu melihat Zen yang membalas serangan mereka, semua pihak seakan mulai berhenti untuk melanjutkan niat mereka dan ingin kembali mundur dan melarikan diri kembali. Namun sialnya, apa yang mereka lakukan itu bisa dikatakan sudah sangat terlambat.
Zen dengan langkah ringannya yang terbilang sangat cepat, mulai membantai satu persatu pihak yang saat ini dipimpin oleh pria bernama Tian Xin tersebut. Bahkan kematian dari beberapa bawahan dari pria bernama Tian Xin itu, bisa dikatakan hanya berlangsung hanya secepat kedipan sebuah mata saja.
Tentu dengan berkumpulnya semua pihak yang sebelumnya menyebar, membuat Zen bisa dengan mudah mengalahkan mereka secara sekaligus. Jadi tidak heran, jika apa yang dirinya lakukan itu bisa diselesaikan dengan sangat cepat, karena mereka sudah mengantarkan nyawa mereka sendiri dihadapannya.
__ADS_1
Tian Xin sendiri disaat melihat Zen sudah membantai anak buahnya dengan mudah, tentu semakin membuat pria itu ketakutan. Potongan bagian tubuh, darah, bahkan organ tubuh dari bawahannya saat ini mulai melayang dan mendarat dengan berantakan di sekitarnya.
Tentu dirinya sama sekali tidak membayangkan sesuatu seperti ini akan terjadi kepadanya. Apalagi dirinya sama sekali tidak pernah memperkirakan keadaan seperti ini terpampang dengan jelas didepan matanya, terlebih lagi bukan dirinya sendiri yang melakukan semua itu melainkan sosok yang mungkin akan membunuhnya.
Memang biasanya dirinya sendirilah yang membuat kekacauan seperti itu diberbagai tempat. Namun sayangnya, saat ini Tian Xin seakan sedang menatap sebuah cermin, yang saat ini sedang memantulkan tindakan kejam yang pernah dirinya lakukan, dan saat ini seakan mulai berbalik kearahnya.
"Sialan! Siapa sebenarnya dirinya!" ucap Tian Xin yang tanpa dirinya sadari kakinya mulai mundur selangkah demi selangkah melihat perbuatan dari Zen.
Tanpa dikomandoi, Tian Xin seakan menjadi sosok yang tidak harus melakukan apa. Bahkan langkah kakinya yang berjalan mundur dengan perlahan itu, seakan bergerak dengan sendirinya mengikuti naluri yang sedang dirinya rasakan setelah melihat kejadian yang sangat mengenaskan tersebut.
"Tuan Muda Tian Xin... tolong kami!"
"Tuan Muda... tolonglah"
"Ampuni kami...."
"Tolonggggg"
Hingga suara-suara anak buahnya sebelum kematian menjemput mereka mulai terdengar. Namun Tian Xin seakan tidak bisa mendengar teriakan-teriakan tersebut. Karena teriakan anak buahnya itu seakan sebuah teror yang sangat amat nyata, karena hal itu menjadi bukti kekejaman seorang pihak yang tanpa pandang bulu menyerang mereka.
Bahkan sebuah suara nyaring dan keras mulai menghalangi teriak-teriakan dari bawahannya itu, seakan dirinya tidak mampu lagi mendengar perkataan dan teriakan mereka, yang sedang meminta tolong dan meminta ampun atas kejadian yang terjadi kepada mereka.
"Dan akhirnya, sisa kamu seorang" Hingga sebuah suara jelas dari Zen yang sudah mencabut pedangnya dari tubuh seorang Kultivator yang baru saja dirinya bunuh, mulai terdengar dengan jelas oleh pria yang sudah mulai gemetar ketakutan melihat sosoknya tersebut.
Melihat sosok Zen yang mulai menatapnya, Tian Xin yang berjalan mundur kebelakang mulai tersandung pada sebuah gundukan batu dan mulai tersungkur saat ini. Suara langkah mundur kakinya yang sedari tadi dirinya dengar, saat ini mulai berubah dengan suara langkah kaki kematian yang mendekati dirinya.
Sosok Zen yang menggenggam pedang yang sudah membantai seluruh anak buahnya, saat ini semakin mendekat dengan perlahan kearah dirinya. Tian Xin tentu mulai mencoba merangkak mundur, hingga akhirnya apa yang dirinya lakukan mulai terhalangi dengan putusnya salah satu kakinya yang sudah ditebas oleh Zen.
Langkahnya langsung berhenti seketika setelah potongan kakinya yang sudah terputus itu, saat ini mulai tergeletak tak berdaya pada tanah dan dilumuri oleh darah yang terus keluar dari pangkal pahanya yang sudah memisahkan diri dari bagian kakinya yang terputus.
Teriakan saat ini mulai terdengar ditempat itu, namun Zen tidak sampai di sana saja melakukan aksinya, karena setelah dirinya menebas kaki dari Tian Xin, Zen langsung menebas dan memutuskan salah satu tangannya kembali dan membuat pria yang diserangnya itu mulai terkapar tidak berdaya ditempatnya.
Teriakan kesakitan mulai terdengar saat ini. Aliran darah yang cukup deras saat ini mulai mengalir dari pangkal bagian tubuh yang barus saja dipotong oleh Zen. Bahkan dengan langkahnya yang ringan, saat ini Zen yang melangkahi aliran darah yang diinjaknya itu, mulai berjongkok dan menatap sosok yang saat ini masih kesakitan itu.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus aku lakukan kepadamu?"