
Suara teriakan minta tolong, suara tangisan dan suara beberapa orang yang menggunakan kesempatan yang sedang terjadi ditempat ini untuk mendapatkan popularitas dari media sosialnya mulai terdengar ramai ditempat dimana Zen berada.
Tentu Zen hanya menghiraukan saja apa yang sedang dirinya lihat, karena memang begitulah sebenarnya jalannya nasib yang harus terjadi dan tidak bisa dibantah oleh siapapun dan hal tersebut merupakan hukum yang terikat pada dunia ini.
“Aku adalah kematian, mengapa aku harus repot-repot menggagalkan putaran nasib yang seharusnya terjadi. Lagipula bukankah aku membantumu mengakhiri beberapa nasib beberapa hari yang lalu?” balas Zen setelah mendengar perkataan malaikat yang mendatangi dirinya tadi.
“Maka dari itu saya hanya memastikannya tuan. Karena seorang kematian yang ikut dalam roda nasib akan membuat saya mempunyai tugas rumah yang sangat banyak” balas Malaikat tersebut.
“Tenanglah Marci, aku tidak seperti para saudaraku yang akan mengganggu jalannya roda nasib seorang manusia secara sembarangan” balas Zen kepada wanita tersebut.
“Benar kata anda Tuan, tetapi apa salahnya mencegah bukan?” Balas malaikat yang dipanggil Marci tersebut.
Surga dan Neraka, sebuah tempat yang maya bagi beberapa penduduk di Bumi tetapi keberadaannya jelas ada. Walaupun tempat itu sudah diubah setelah kematian Sang Pencipta, tetapi tempat itu masihlah tetap ada.
Walaupun penjaganya sudah turun dan berbaur pada dunia Manusia, tetap saja tempat itu masih digunakan untuk menghakimi kehidupan seluruh manusia yang berada di Dunia ini.
“Apakah saudaraku yang lain masih suka ikut campur dengan roda nasib seorang manusia?” tanya Zen.
“Memangnya pemberian berkah tak bisa mati dan menggunakan reinkarnasi kepada istri-istri mereka bukan merupakan bentuk ikut campur roda nasib tuan?” tanya Marci kembali.
“Ya... memang, tetapi karena kami yang ikut campur bukannya akan mudah untuk disiasati?” tanya Zen kemudian.
“Tetapi sangat merepotkan tuan. Kami harus memindahkan nasib yang terjadi kearah orang lain, dan harus memperhatikan apakah nasibnya akan mengganggu tatanan dunia atau tidak.” Balas Marci.
Sesaat Sang Pencipta akan meninggal, dirinya menciptakan sebuah sistem baru dalam kehidupan manusia, salah satunya merupakan roda nasib. Dengan dirinya menciptakan semua itu, Manusia saat ini hidup dengan bebas dari tatanan yang sudah dirinya ciptakan.
Menjadi sukses, pembunuh, pemimpin, jahat, dan lain sebagainya, saat ini nasib mereka ditentukan oleh diri mereka sendiri tanpa ikut campur tangan dari pemilik kekuasaan yang mempunyai kuasa atas alam semesta ini.
__ADS_1
Kalau dulu, manusia akan dituntun melalui 14 sifat yang merupakan anak-anak dari Sang Pencipta, namun saat ini para manusia akan memutuskan nasib mereka sendiri dan membuat pemilik kekuatan kuasa di dunia ini hanya menyaksikan saja jalannya nasib mereka dan akan menghakimi mereka atas nasib apa yang sudah mereka pilih.
“Ya... Ya... aku akan menegur mereka kalau aku bertemu dengan mereka” Balas Zen.
“Terima kasih karena mendengar keluh kesah saya Tuan Sloth, apalagi yang paling merepotkan adalah jiwa bebas dari Istri Tuan Azrael” Kata Marci kemudian.
“Ho.... apakah saat ini belum ada satu petunjuk tentang keberadaan jiwanya?” Tanya Zen yang penasaran mengapa seluruh kuasa yang dimiliki semua adiknya tidak bisa mendeteksi keberadaan seorang jiwa yang bereinkarnasi.
“Itulah yang membuat aneh Tuan. Hingga saat ini setitik petunjuk saja tidak bisa kami temukan.” Jawab Marci.
“Hm... cukup aneh memang, Karena seseorang di Dunia ini yang bisa menyembunyikan perihal kehidupan adalah diriku. Apakah aku harus menunggu jiwa itu mati kembali agar bisa ditemukan?” gumam Zen kemudian.
Seperti yang dikatakan oleh Zen, dirinya merupakan sebuah entitas kematian. Jadi dirinya yang mengatur tentang kematian dari seluruh manusia yang berada di Dunia ini melalui bawahannya. Sedangkan para saudara sepupunya yang merupakan entitas kehidupan, mereka yang mengatur tatanan kehidupan dari semua manusia yang berada dimuka bumi ini.
“Apakah tuan tidak bisa mendeteksi jiwanya?” tanya Marci kembali.
Yang membuat Zen bingung adalah, sebuah jiwa tidak bisa dengan mudah bersembunyi dari pengawasan para pemilik kekuasaan, kecuali memang pihak kekuasaanlah yang menyembunyikan mereka.
Tetapi yang mempunyai kuasa untuk menyembunyikan kehidupan manusia di Dunia ini hanya Zen, karena dirinya merupakan entitas kematian. Jadi dirinya cukup bingung, mengapa semua saudaranya tidak bisa merasakan jalur kehidupan dari Istri Azrael.
“Sudahlah, pantas saja Azrael sangat senang dengan diriku yang sudah bangun dari tidur panjangku. Karena dirinya tahu bahwa aku bisa mendeteksi Jiwa Istrinya jika dirinya meninggal kelak” balas Zen dan mendapatkan anggukan dari Marci.
Tempat dimana Zen berada masihlah ramai, dimana beberapa manusia tak berotak mulai mengeluarkan ponsel milik mereka dan merekam semua kejadian yang sedang terjadi di sana, dan tidak memperdulikan apa yang sedang terjadi ditempat tersebut. Termasuk para korban yang secara terang terangan mereka sorot menggunakan gawai keluaran terbaru mereka, yang seharusnya membuat mereka bijak dalam menggunakannya.
“Hahh... pantas saja saudaraku yang lain senang mengotak atik nasib manusia. Mereka sangat tidak bermoral” gumam Zen dan dibalas anggukan oleh Marci yang memang sangat setuju dengan perkataan dari Zen.
Bari akhirnya selesai melakukan tugasnya dan saat ini sedang diikuti oleh tiga buah jiwa yang setia mengikutinya. Namun saat sampai didekat Zen, ketiga jiwa itu mulai membungkuk hormat kepada Zen dan hanya dibalas anggukan olehnya.
__ADS_1
“Aku akan membimbing mereka menuju akhirat tuan” balas Bari dan mulai membuat kabut berwarna hitam.
Bari akhirnya mulai menghilang dan meninggalkan Zen dan Marci yang masih menatap kepergiannya saat ini. Zen juga akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sana, karena memang dirinya sudah cukup melihat adegan yang terjadi ditempat ini.
“Apakah kamu pernah mengunjungi neraka yang baru Marci?” tanya Zen sekali lagi kepada Marci sebelum dirinya akan beranjak dari sana.
“Aku belum pernah tuan. Tetapi yang aku dengar, tempat itu hanya berisi hukuman bagi para manusia saja” jawab Marci dan membuat Zen hanya mengangguk mendengar jawabannya itu.
“Baiklah, selamat melanjutkan pekerjaanmu kalau begitu” Kata Zen setelah mendengar jawaban yang diberikan Marci.
“Baiklah Tuan Sloth” jawab Marci sambil membungkuk hormat kepada Zen.
Zen akhirnya mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat yang mulai ramai tersebut, dan berusaha untuk kembali menuju kediamannya. Banyak orang memang yang menghalanginya, karena orang-orang tersebut saat ini sedang menyaksikan kecelakaan yang terjadi ditempat ini.
Namun disisi lain, seorang yang menggunakan ponselnya tidak sengaja menatap keberadaan Zen dan membuatnya sedikit terkejut, karena tidak menyangka Zen saat ini sedang berada ditempat ini.
“Apa maksudmu, bicara yang lebih jelas” balas suara wanita dari balik panggilan yang sedang dilakukan oleh pria tersebut dan membuat pria itu kembali fokus dengan panggilan telfon yang dirinya lakukan.
“Aku bilang sedang terjadi kecelakaan Kapten, jadi aku menunda keberangkatan diriku menuju apartemen Palm Suite” balas pria itu sekali lagi.
“Apa.... Aku tidak bisa mendengarmu, suaramu tertutup oleh suara orang yang sangat berisik” balas wanita itu kembali.
“Kalau begitu aku akan mengirim anda pesan saja” teriak pria itu dan mulai mematikan panggilannya.
Pria tersebut merupakan bawahan dari Santi yang ditugaskan untuk memeriksa kamera pengawas dari apartemen yang ditinggali oleh Zen. Namun saat diperjalanan, dirinya tidak sengaja melihat sebuah kecelakaan dan memaksanya untuk membantu keadaaan tersebut terlebih dahulu.
“Baiklah, mari buat tempat ini kondusif terlebih dahulu”
__ADS_1