
Pada sebuah kediaman sederhana, seorang wanita saat ini mulai menangis tersedu-sedu, saat menyadari bahwa keberadaan putranya tidak diketahui hingga saat ini. Sudah berbagai cara dirinya lakukan untuk mencari keberadaan putranya, namun naasnya semua yang sudah dilakukan olehnya itu tidak membuahkan hasil hingga saat ini.
Bahkan pihak kepolisian yang saat ini sibuk mencari informasi tentang keberadaan putranya dari dirinya, seakan belum menemukan sebuah petunjuk penting atas hilangnya putranya, yang memang semalam berpamitan untuk pergi menuju rumah temannya.
“Hm... lalu apa kata temannya, Buk?” tanya seorang petugas kepolisian, yang mulai mencoba mencari beberapa informasi untuk menemukan keberadaan putra dari Ibu tersebut.
“Temannya berkata bahwa... hiks... dirinya tidak datang kerumahnya tadi malam” balas wanita yang masih menangis itu, sambil menjawab pertanyaan dari petugas kepolisian yang sedang mengorek informasi dari dirinya.
“Lalu, bisakah anda memberitahukan alamat dari rumah teman anak anda?” tanya polisi itu kemudian, agar dirinya bisa menyelidiki dengan detail kasus hilangnya putra dari Ibu itu.
Polisi yang sedang meminta keterangan itu, terus mencatat semua informasi yang dirinya terima. Hingga akhirnya informasi yang dirinya terima sudah terasa cukup, dan dirinya memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan tentang hilangnya putra wanita itu lebih lanjut, menggunakan informasi yang dirinya dapatkan saat ini.
“Aku sudah menyelesaikan mencari informasi, Komandan” ucap polisi yang sudah selesai mengorek beberapa informasi tadi, yang saat ini langsung melaporkan hasilnya kepada komandannya yang berdiri tidak jauh dari sana.
Namun naasnya, dirinya tidak mendapatkan jawaban apapun dari komandannya itu, yang saat ini sepertinya sedang melamun dan sedang memikirkan sesuatu. Hingga dirinya sampai tidak sadar bahwa ada orang yang saat ini sedang menegurnya.
“Komandan?” ucap petugas polisi itu lagi.
Tentu wanita yang dipanggil Komandan itu akhirnya tersadar dari lamunannya, dan saat ini dan langsung menatap bawahannya yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang aneh. Tentu bawahannya itu merasa aneh, karena komandannya itu seakan jiwanya hilang entah kemana, dan raganya saja yang berada ditempat ini sedari tadi.
“Ah... maafkan aku, aku sedang memikirkan kasus yang sedang kita selidiki tadi. Lalu bagaimana hasilnya?” tanya wanita yang dipanggil komandan tersebut, yang merupakan Santi kepada bawahannya.
“Sama seperti kasus yang lainnya, Komandan. Korban saat ini hilang tanpa jejak” ucap bawahannya itu kembali.
Santi saat ini disibukan dengan sebuah kasus baru, yang baru-baru ini terjadi di kota tempatnya bertugas. Saat ini dirinya sedang mengusut hilangnya 4 orang yang keberadaannya lenyap dan tidak diketahui keberadaan mereka.
Tentu kejadian ini cukup aneh bagi Santi, karena memang keberadaan mereka seakan tidak ditemukan di manapun, bahkan saat mereka sudah menyelidiki dengan detail kasus tersebut. Bahkan dirinya mulai menganggap kasus ini sebagai kasus penculikan, tetapi sampai saat ini belum ada bukti yang mengarahkan kasus ini menjadi kasus penculikan.
“Hm... berarti ini korban yang ke-lima bukan?” tanya Santi kemudian.
“Benar komandan” balas bawahannya itu kembali.
Semenjak dua hari yang lalu, pihak kepolisian yang dimana Santi bertugas menerima pengaduan beberapa orang yang hilang. Memang awalnya mereka hanya menerima laporan orang hilang seperti biasanya, namun kasus yang terjadi saat ini cukuplah aneh.
__ADS_1
Memang pasti ada saja pihak yang melaporkan tentang hilangnya beberapa orang. Tetapi tidak mungkin bukan terjadi sebuah kasus dalam dua hari ini, yang dimana laporan hilangnya mencapai lima orang sekaligus. Dan hal itulah yang membuat kasus ini sangatlah aneh menurut Santi.
Apalagi semua kasus dari kelima orang yang sedang diusutnya saat ini cukup membuatnya kebingungan, karena memang sepertinya mereka seperti hilang tanpa jejak dan tidak ada informasi apapun yang mereka dapatkan saat mencoba mengusutnya lebih jauh.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Komandan?” tanya bawahannya itu kembali.
Tentu ini merupakan kasus yang langka, yang dimana menurut perkiraan Santi saat ini dipastikan ada seorang atau kelompok berbahaya sedang berkeliaran di kota Marlet ini. Jadi Santi mulai mencoba memikirkan sesuatu untuk dapat menyelesaikan kasus ini.
Walaupun sebenarnya dirinya masih menduga-duga, tetapi sepertinya dirinya harus bertindak dengan cepat untuk menangani kasus ini. Karena mungkin akan terjadi lagi kasus seperti ini, yang dimana jumlah korban nanti mungkin akan bertambah banyak.
“Coba kamu selidiki latar belakang dari kelima orang tersebut. Mungkin dengan itu kita bisa mendapatkan sebuah petunjuk” perintah Santi kepada bawahannya.
“Baiklah Komandan. Aku akan memeriksanya” balas bawahannya itu yang mulai beranjak dari tempatnya, dan mulai mengerjakan perintah yang dirinya terima itu.
Setelah melihat bawahannya pergi, Santi saat ini mulai memijit keningnya karena memang otaknya saat ini dipenuhi dengan berbagai hal. Tentu permasalahan masa lalunya yang saat ini paling mengganggu pemikirannya saat ini.
Bukannya dirinya tidak mau melupakannya. Tetapi saat dirinya mengetahui penyebab kematian dari tunangannya, semakin membuat pemikirannya sangat kacau. Bahkan dirinya sudah mencoba mengalihkannya pemikirannya keberbagai tempat, tetapi tetap saja pemikiran itu tidak kunjung menghilang dari dalam kepalanya.
“Hahh... apa yang harus aku lakukan?” gumam Santi yang mulai menatap ke langit ditempatnya berada, sambil mencoba sekali lagi membuang semua pemikirannya itu.
.
.
Disisi lain, saat ini Vero dengan perasaan yang cukup bahagia mulai memasuki kediamannya. Dengan menggunakan pakaian olahraganya, dirinya sudah keluar dari kediamannya pagi-pagi sekali, dan baru kembali saat ini.
Cukup aneh memang dirinya mengenakan pakaian seperti itu, karena memang dirinya sangat jarang bahkan hampir tidak pernah mengenakannya. Tetapi berbeda dengan hari ini, karena sepertinya apa yang dirinya lakukan hari ini akan menjadi rutinitas hariannya untuk kedepannya.
“Akhirnya sampai Fenrir” ucap Vero setelah membuka tali pengikat pada anjing peliharaannya, dan melepaskannya setelah mereka sampai dikediaman miliknya.
Anak anjing yang ditemukan oleh Zen kemarin, memang diberi nama Feniri olehnya. Sebenarnya Vero sempat menolak bahwa Zen akan memberikan namanya seperi itu. Namun karena Zen berkata bahwa dirinyalah yang membeli anak anjing itu, membuat dirinyalah yang berhak memberikan dirinya nama.
“Oh... anda sudah kembali Nona?” tanya Leni setelah melihat Nona Mudanya sudah kembali dari mengajak peliharaannya untuk berjalan-jalan.
__ADS_1
“Ya... aku sudah kembali Bibi” balas Vero yang saat ini sepertinya keadaan hatinya sedang baik.
Zen sendiri saat ini sudah berada dimeja makan dari kediaman ini. Dirinya tidak memperdulikan kegiatan wanita tersebut, apalagi sudah ada berbagai makanan berada dihadapannya. Walaupun memang dirinya juga tidak menyangka bahwa sifat Vero akan berubah drastis, saat dirinya memberikan Vero sebuah anak anjing.
“Hmm... kalau kamu suka anjing, kenapa kamu tidak membelinya sedari dulu? Bukannya dirimu sangat kaya?” ucap Zen, yang saat ini juga mulai menyambut kedatangan wanita yang mejadi Istri bayarannya itu dengan sebuah pertanyaan.
“Entahlah. Mungkin karena pemikiran ku kemarin-kemarin hanya tentang pekerjaan saja. Jadi aku tidak sempat berkeinginan memelihara sebuah anjing” ucap Vero sebelum dirinya meneguk habis air putih yang dirinya ambil tadi.
Memang Vero selalu saja disibukan dengan berbagai hal, dalam mencoba memajukan bahkan mengeluarkan perusahaannya dari ambang kebangkrutan selama ini. Jadi selama ini dirinya tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal yang lainnya.
Bahkan Leni sangat mengetahui itu. Jadi saat melihat Nona mudanya saat ini sudah menikah, dan terlihat bahwa saat ini dirinya sudah sedikit menikmati waktunya. Membuat Leni cukup senang dengan perubahan dari Nona mudanya itu.
Walaupun sebenarnya sifatnya yang selalu sibuk itu masih ada. Tetapi setelah dirinya menikah, Vero lebih terlihat tidak terlalu sibuk dan memikirkan permasalahan perusahaannya seperti biasanya. Jadi, Leni cukup senang dengan perubahan dari Vero saat ini.
“Kalau begitu, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu” ucap Vero kemudian, yang memutuskan untuk menyegarkan diri setelah dirinya mengajak Fenrir berjalan-jalan pagi.
Zen hanya mengangguk saja mendengar perkataan dari Vero, karena memang saat ini dirinya lebih memilih untuk menyantap makanan yang sudah terhidang didepannya dengan lahap, daripada menghiraukan Vero yang saat ini sudah kembali masuk kedalam kamarnya.
“Ah.. Tuan, bisakah aku mengatakan sesuatu?” ucap Fenrir melalui sambungan telepati miliknya kepada Zen.
“Tentu saja. Apa yang ingin kamu tanyakan?” balas Zen, yang sempat melirik kearah Fenrir sejenak sebelum kembali memfokuskan dirinya memakan makanannya.
“Begini Tuan. Sepertinya Ayah Angkatku sudah mengetahui bahwa aku sudah berpindah pihak. Jadi dirinya sudah mengganti aura dirinya untuk penciuman yang aku lakukan, yang diriku gunakan untuk melacak keberadaannya dan beberapa pihak yang pernah aku temui” ucap Fenrir.
Memang Ayah Angkat dari Fenrir, Loki. Bisa menghapuskan jejak bau dan membingungkan Fenrir dengan mengacak bebauan yang pernah dirinya cium. Tentu Zen bisa melakukannya juga, jadi Zen langsung paham dengan apa yang dikatakan oleh Fenrir.
Apalagi memang dewa licik tersebut, langsung bergerak dengan cepat untuk membuat keberadaannya tidak lagi bisa dicium oleh anak angkatnya. Karena memang, dirinya tidak mau bahwa keberadaannya akan diketahui, dan rencana yang sudah dirinya rencanakan akan gagal.
“Hahh... dirinya sudah bergerak cepat ya” gumam Zen, setelah mendengar penuturan dari Fenrir tadi.
Tentu Zen tahu bahwa Fenrir mendapatkan sebuah tugas tanpa sebuah detail yang harus dia pahami dari tugas yang dirinya lakukan selama ini. Jadi hingga saat ini, Fenrir tidak mengetahui rencana besar dari Ayah Angkatnya yang sudah dirinya rencanakan dan mungkin sudah dirinya kerjakan saat ini.
“Sudahlah, lagipula ada waktunya semua itu akan terungkap”
__ADS_1