
Tiga orang yang sudah membawa koper mereka masing-masing, saat ini sudah memasuki area terminal dari sebuah bandara, karena mereka akan meninggalkan tempat ini untuk menuju kesebuah tempat.
Setelah melakukan proses check-in dan menitipkan barang bawaan mereka pada bagasi pesawat, akhirnya mereka saat ini hanya menunggu panggilan keberangkatan mereka pada sebuah tempat yang sudah disediakan untuk mereka menunggu.
“Katamu dirinya tidak mau melakukannya di atas tempat tidur?” tanya Kelly kepada Zen yang mencoba memastikan kembali perkataan yang barus saja dia lontarkan.
“Benar. Dirinya memaksa bahwa aku harus melakukan hal itu di atas sofa” balas Zen.
Kelly mencoba mencari tahu apa yang dilakukan pasangan baru itu tadi malam, karena terlihat sahabatnya sangat kelelahan dan dipastikan kurang tidur semalam. Karena sangat penasaran, Kelly tentu saja menanyakan kegiatan mereka tadi malam kepada sahabatnya Vero, tetapi Vero tidak ingin membicarakannya.
Karena dirinya sangat penasaran, Kelly akhirnya memutuskan untuk bertanya saja kepada Suaminya, karena Vero saat ini sedang pergi menuju toilet. Awalnya Zen menanggapi dirinya dengan cuek, namun karena dirinya terus memaksa, jadinya Zen mulai menceritakan apa yang terjadi tadi malam.
“Lalu, apakah kalian melakukan ‘Hal itu’ tadi malam?” Dan begitulah sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Kelly, yang menjadi awal mula ke salah pahaman yang terjadi saat ini.
Zen mengira perkataan ‘Hal itu’ merujuk kepada kata tidur, karena Zen tidak mengerti maksud perkataannya. Apalagi karena ujung kalimatnya itu adalah tadi malam, Zen mengira maksud kata yang diucapkan oleh Kelly adalah tentang tidur.
“Benarkah?” tanya Kelly yang tidak menyangka sahabatnya itu mempunyai sifat yang sangat liar, jika menyangkut tentang permasalahan yang sedang dirinya tanyakan itu.
“Yap... tetapi anehnya saat sudah pagi, dirinya sangat marah kepadaku karena dirinya melakukan hal itu di atas sofa” balas Zen dengan nada datarnya.
“Marah? Mengapa dia marah?” tanya Kelly yang penasaran, kenapa sahabatnya itu sangat marah setelah memaksa Zen untuk melakukannya di atas sebuah sofa.
“Mungkin karena dirinya sangat kesal melakukan hal itu di atas sebuah sofa. Padahal aku sudah memaksanya melakukan hal itu bersama di atas tempat tidur” balas Zen kemudian, yang membuat Kelly kembali tercengang mendengar perkataannya.
Setelah mendengar perkataan Zen itu, Kelly tidak tahu harus berkata apa. Karena sampai saat ini dirinya tidak menyangka sahabatnya yang terkenal sangat dingin itu, mempunyai sebuah sifat yang tersembunyi.
Hingga akhirnya percakapan mereka harus berakhir, karena Vero yang tadi pergi menuju toilet sudah kembali dan terpaksa Kelly tidak melanjutkan kegiatannya untuk menjadi seorang detektif yang seolah sedang mencari bukti.
__ADS_1
“Aku tidak tahu kamu akan seliar itu, Ver” bisik Kelly kepada sahabatnya yang saat ini sudah duduk disebelahnya.
Karena Vero tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu, Vero hanya mengabaikannya saja. Hingga akhirnya panggilan dari pesawat yang akan mereka tumpangi akhirnya datang, dan mereka bertiga saat ini sudah naik pada pesawat yang mereka tumpangi itu.
Setelah mereka menemukan kursi yang ditujukan untuk mereka di pesawat yang mereka tumpangi dan menunggu sejenak, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas dari tempatnya. Dari balik jendela, Zen sempat melihat Mira yang ternyata sudah masuk pada landasan pacu dari pesawat yang dirinya tumpangi dan melambaikan tangannya kepada Zen.
Tentu Zen membalas lambaian tangannya, dan merasa cukup tidak enak hati pergi tanpa berpamitan dengan bawahannya itu. Hingga akhirnya pesawat yang dirinya tumpangi sudah lepas landas dan meninggalkan tempatnya.
“Hahh... akhirnya kita berangkat” balas Vero yang duduk disebelah Zen.
Memang saat masuk kedalam kabin pesawat tadi, Zen dan Vero kembali bertengkar karena kedua pengantin baru itu ingin duduk tepat di samping jendela. Zen yang sudah terlebih dahulu duduk ditempatnya, tentu saja tidak ingin membiarkan siapapun mengambilnya dan membuat pertengkaran mereka kembali terjadi.
“Lagipula Vero, apa yang akan kita lakukan di Jakarta?” tanya Zen kemudian yang masih bingung mengapa mereka harus pergi menuju Jakarta, bukannya langsung kembali menuju kota Malet.
Memang Zen hanya mengikuti saja kemanapun Vero pergi, karena saat ini tugasnya harus melindunginya dari apapun, untuk mencegah sesuatu yang ada didalam dirinya keluar dan membuat bencana pada dunia ini.
“Hm... baiklah” balas Zen dan akhirnya perjalanan mereka itu hanya ditemani dengan kesunyian antara mereka berdua.
Tidak ada yang spesial dari perjalanan yang mereka lakukan saat ini, kecuali dimana Vero yang akhirnya mendaratkan kepalanya pada bahu milik Zen dan sudah terlelap. Sampai akhirnya perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itu mulai berakhir.
“Kita sudah sampai?” ucap Vero yang akhirnya membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya sedari tadi menyandarkan kepalanya pada bahu milik Zen.
“Cih... katamu tadi kamu tidak bisa tidur di atas sebuah sofa. Mengapa kamu bisa terlelap sangat nyenyak ditempat ini?” tanya Zen kemudian.
Vero yang awalanya ingin berterima kasih kepada pria yang meminjamkan bahunya saat perjalanan mereka, akhirnya membatalkan niatnya. Apalagi setelah dirinya kembali dibuat kesal dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Zen.
“Cepatlah, ayo kita keluar dari tempat ini” ucap Vero ketus, yang saat ini sudah memimpin perjalanan mereka keluar dari dalam pesawat yang membawa mereka sampai di tujuannya.
__ADS_1
Saat perjalanan keluar, Vero dikejutkan dengan sahabatnya yang saat ini mengejar keberadaannya, karena memang tempat duduk mereka di atas pesawat tadi cukup berjauhan. Memang perjalanan mereka menuju Ibukota tidak direncanakan, dan Kelly untung saja masih mendapatkan tiket keberangkatan mereka walaupun mereka harus duduk terpisah.
Saat ini sahabatnya itu mendapatkan sebuah kabar penting, setelah ponsel yang sedari tadi dia nonaktifkan saat perjalanan yang dirinya tempuh, sudah dia hidupkan kembali. Apalagi pesan yang dirinya terima sangat amat penting, dan dirinya langsung mencari keberadaan sahabatnya tersebut.
“Vero, ayahmu menjual seluruh sahamnya” ucap Kelly kepada sahabatnya, setelah dirinya berhasil menyusul keberadaannya.
Vero yang mendengar perkataan sahabatnya menghentikan langkahnya, dan mulai menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang terlihat cukup terkejut. Tentu dirinya tidak menyangka Ayahnya yang ingin mengambil alih seluruh perusahaan miliknya, akan menjual saham yang susah payah dia dapatkan.
“Lalu, kamu tahu siapa yang membelinya?” tanya Vero kemudian. Namun Kelly menjawabnya dengan sebuah gelengan karena memang Kelly tidak mengetahui siapa yang membeli saham perusahaan Vero dari Ayahnya.
“Tetapi aku punya kabar baik. Yang memegang saham ayahmu itu, menyerahkan seluruhnya keputusan perusahaan kepadamu dan dirinya mendukung keputusan apapun yang diambil oleh dirimu 100 persen” balas Kelly.
Mendengar hal itu, tentu Vero merasa senang. Siapa yang tidak senang mendapatkan dukungan dari seorang pemegang saham terbesar di perusahaan miliknya, dan membuat semua rencananya yang sudah dia rencanakan kedepannya tentang perusahaan miliknya akan dapat dilaksanakan dengan mudah.
“Tetapi, cari lebih detail siapa yang membeli saham perusahaan milikku, karena aku tidak mau dimasa depan terjadi sebuah masalah karena itu” Perintah Vero kepada sahabatnya.
Kelly hanya mengangguk saja dan akhirnya mereka mulai mencari taksi untuk menuju hotel yang mereka sewa untuk bermalam di kota ini. Sekali lagi, karena Kelly yang ditugaskan oleh Vero memesan kamar hotel, dirinya sekali lagi harus sekamar dengan Zen.
“Ho... mereka melakukan hal yang sama dengan kamar kita yang ada di Bali” balas Zen yang melihat dekorasi honeymoon kembali terpampang saat mereka memasuki kamar yang akan mereka tinggali.
“Cih.... mengapa harus seperti ini lagi” gumam Vero yang kesal melihat semua dekorasi itu.
Zen tidak memperdulikannya dan memasuki kamar yang sudah dipesankan untuknya. Dengan menata isi kopernya kedalam lemari dari kamar hotel mewah tempat dirinya tinggal itu, Zen tidak memperdulikan gumaman kesal yang terus keluar dari mulut Vero.
Hingga akhirnya, sebuah aura akrab mulai kembali dirasakan olehnya dan membuat Zen cukup terkejut dibuatnya saat merasakannya, karena memang dirinya sudah lama tidak merasakannya.
“K-Kak Zen... Tolong aku”
__ADS_1