Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Keputusan Yang Diambil


__ADS_3

Semua hal pada hari itu akhirnya benar-benar berakhir. Dari mulai berbagai acara prosesi panjang dari pernikahan Zen dan Vero yang sudah terjadi, hingga pembahasan tentang penglihatan dari Mikhael yang sudah memutuskan sebuah keputusan akhirnya sudah selesai sepenuhnya.


Ada rasa kepuasan dari semua pihak yang sudah menjalani semua proses tersebut, karena bisa dikatakan acaranya sangat amat meriah bagi beberapa pihak yang sangat menikmati berbagai acara yang sudah terselenggara sedari tadi.


Bahkan pihak yang menjadi karakter utama dari acara tersebut, bisa dikatakan cukup bahagia dengan semua hal yang sudah mereka jalani tadi. Apalagi, perasaan bahagia juga menyelimuti mereka yang sudah sah dimata semua pihak merupakan sepasang suami istri yang diakui oleh mereka.


"Aku punya sesuatu yang ingin aku diskusikan kepada dirimu, Zen" dan begitulah ucapan Vero disaat dirinya dan suaminya sudah naik di atas tempat tidur mereka saat ini.


Bisa dikatakan sepasang suami istri itu saat ini seakan masih ingin menyelesaikan sebuah permasalahan rumah tangga mereka, yang dimana sang wanita ingin menjelaskan sesuatu tentang masa depan rumah tangga yang akan mereka jalani nanti.


Karena menurutnya mereka harus mendiskusikan hal ini terlebih dahulu, agar kehidupan rumah tangga mereka kelak bisa dijalani dengan sangat baik dan tidak ada halangan serius yang akan mampu untuk menghalangi kebahagiaan rumah tangga mereka kelak.


"Lalu, apa yang ingin kamu diskusikan?" tanya Zen yang mulai menumpuk bantalnya agar dirinya bisa bersandar diatasnya dan mulai menghadap kearah Istrinya yang saat ini ingin mendiskusikan sesuatu dengan dirinya.


Memang Vero ingin mendiskusikan sesuatu dengan Zen atas permasalahan sesuatu yang membuat kepalanya pusing dari kemarin. Apalagi, kenyataan yang dirinya harus terima tentang beberapa wanita yang berada didekat suaminya tentu saja memusingkan dirinya.


Maka dari itu, saat ini dirinya ingin mendiskusikan itu semua dan menjelaskan bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga mereka, yang bisa dikatakan rumah tangga mereka tidak seperti rumah tangga berapa pihak pada umumnya di dunia ini.


Apalagi dirinya ingin dengan jelas untuk menemukan sebuah solusi agar mereka berdua bisa hidup dengan bahagia, seperti yang sangat ingin dijalani oleh Vero saat dirinya berhubungan dengan Zen yang notabennya merupakan pihak yang sangat dirinya cintai di dunia ini.


"Ini masalah wanita lain yang bisa mengeluarkan berkah sebuah ikatan, Zen" ucap Vero membuka pembahasannya tentang permasalahan tersebut.


Vero akhirnya memutuskan untuk mengambil keputusan tentang permasalahan tersebut. Karena dirinya harus menegaskan semua hal dalam hubungan rumah tangga mereka terlebih dahulu, sebelum hal tersebut mengganggu keharmonisan rumah tangga mereka kelak.


Dengan sudah mengobrol dengan saudari barunya kemarin, akhirnya hal tersebut membantu Vero dalam mengambil keputusannya yang bisa dikatakan dirinya akan terapkan pada rumah tangganya bersama sosok yang sangat besar seperti Zen.


“Hm... baiklah. Katakan apa yang kamu inginkan tentang hubunganku dengan mereka, dan aku akan mengikuti semua keputusanmu itu” ucap Zen yang saat ini masih menatap Istrinya yang berbaring disebelahnya.


Vero juga bisa dikatakan sudah menghadap kearah sosok suaminya, sehingga mereka saling berhadapan saat ini. Apalagi, Zen sudah mengulurkan tangannya agar Istrinya itu bisa bersandar pada lengannya tersebut, agar membuat perbincangan mereka akan terlaksana dengan sangat nyaman.


Apalagi karena jalannya sebuah perbincangan yang serius itu, membuat dirinya ingin mereka berdua merasa nyaman dalam mengungkapkan sesuatu yang mengganggu dari diri mereka masing-masing. Jadi, Zen saat ini mulai mendengarkan dengan seksama perkataan dari Istrinya tersebut, setelah memastikan posisi mereka berdua sudah sangat nyaman.


"Untuk itu, aku sudah mempunyai keputusan atas permasalahan itu" ucap Vero yang saat ini sudah bersandar dengan nyaman pada lengan dari Zen.

__ADS_1


"Oh... benarkah. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyudahi itu semua?" tanya Zen sekali lagi, atas keputusan dari Istrinya tersebut.


Zen tentu saja akan mendengarkan semua perkataan dari Istrinya. Bahkan dirinya rela untuk tidak melanjutkan mengejar pihak yang mengeluarkan tahap awal berkah ikatan, seperti keinginannya yang bisa dikatakan akan menyempurnakan berkah itu kepada pihak yang memilikinya.


Karena bisa dikatakan, setelah Zen mengetahui sepenuhnya tentang berkah tersebut, Zen berniat untuk menyempurnakan sepenuhnya berkah tersebut dari pihak-pihak yang yang memilikinya agar menjadi sebuah berkah yang sempurna.


Tetapi, Zen tidak akan melakukan itu jika memang Vero tidak menginginkannya. Zen tentu saja dapat menahan keserakahannya yang merupakan bawaan sifat negatifnya, jadi dirinya akan memutuskan mendengarkan saja keputusan yang diambil oleh wanita yang sudah menjadi Istrinya itu.


“Aku akan mengijinkan dirimu memiliki Istri yang lain, tapi...” ucap Vero yang menghentikan perkataan sejenak, karena memang dirinya cukup berat untuk mengambil keputusan tersebut.


“Tapi?” balas Zen yang cukup penasaran dengan lanjutan perkataan dari Istrinya itu.


“Tapi, Aku sendiri yang memutuskan apakah wanita yang akan dinikahi olehmu, boleh menjadi Istrimu atau tidak” ucap Vero mengakhiri perkataannya.


Memang Vero ingin kendali penuh dalam menyeleksi setiap wanita yang ingin mendekat kearah Suaminya. Karena bisa dikatakan, dirinya tidak mau Zen akan asal dalam memilih seorang wanita yang akan dinikahinya karena dirinya merupakan seorang Deadly Sins.


Atas pembicaraan yang dirinya lakukan dengan seluruh saudarinya, dipastikan Zen akan membangun Kerajaan Haremnya sendiri jika tidak diawasi, karena bisa dikatakan dirinya sangat serakah mengikuti naluri sifatnya yang bisa dikatakan sangat amat berambisi untuk mewujudkannya.


Dengan sebuah keuntungan yang akan dimiliki oleh Zen jika dirinya berhasil mencapainya, tentu saja sifat ambisi miliknya dipastikan akan kembali bangkit, jika Vero tidak mengawasi secara langsung tindakan suaminya dan mungkin akan malah membawa mereka kedalam hubungan yang sangat amat berantakan.


Apalagi seluruh saudarinya juga melakukan hal yang sama dengan dirinya. Karena disaat mereka memutuskan untuk menjadikan seseorang menjadi Istri suami mereka, mereka juga akan memegang kendali penuh apakah mereka bersedia untuk membuat wanita itu boleh menikah dengan suami mereka atau tidak.


“Kamu bisa tenang, Istriku. Aku akan memberitahukan semua pihak yang memang sudah mengeluarkan tahap awal dari berkah sebuah ikatan kepadamu, dan kamu bebas memutuskan apakah kamu mau menerimanya menjadi Istriku atau tidak” ucap Zen menjawab perkataan dari Istrinya.


Mendengar bahwa Zen bisa mengejar ambisinya, tentu saja dirinya sangat senang. Namun tetap saja, dirinya harus menghormati perasaan Istrinya yang sudah dinikahi. Jadi, Zen dipastikan akan mengormati semua keputusan yang akan diambilnya dalam hubungan mereka.


"Apalagi, aku tidak pernah sama sekali mengejar sosok wanita selama ini" ucap Zen yang melanjutkan perkataannya tadi.


Apa yang dikatakan oleh Zen bisa dikatakan sebuah kebenaran. Dirinya sama sekali belum pernah melakukan inisiatif untuk mendekati sosok wanita manapun. Bahkan sejak dirinya tinggal di neraka hingga saat ini, semua wanita yang menjadi Istrinya bahkan menyukai dirinya, bisa dipastikan mereka sendirilah yang mendekati sosok Zen.


Vero juga mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya itu merupakan sebuah kebenaran. Jadi, hal itulah yang membuat Vero bisa merasa sedikit tenang bahwa mungkin suaminya memang tidak akan sembarangan dalam memulai sebuah hubungan.


“Kalau begitu, coba jelaskan satu persatu wanita yang sudah mengeluarkan aura kebahagiaan untukmu, Zen” ucap Vero yang mulai menuntut Zen memberitahukan dirinya, karena Vero akan menjalankan kewajibannya dalam menjadi Istri pertama yang baik untuk suaminya itu.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, bagaimana jika akan aku mengurutkannya dari pihak pertama yang mengeluarkan aura tersebut?” tanya Zen kepada Istrinya itu.


“Baiklah. Kamu bisa mengurutkannya seperti itu” balas Vero yang saat ini mulai menantikan jawaban suaminya.


“Baiklah. Yang pertama mengeluarkannya, adalah Angel. Dirinya rekan kerjaku dahulu dan saat ini sedang berkuliah di Jakarta. Kedua Kana, Mantan Istriku dari Neraka. Ketiga sahabat baikmu, Kelly. Keempat dirimu sendiri. Dan kelima seorang Dewa yang mempunyai aura yang sangat merepotkan.” Ucap Zen menjelaskan.


Untuk saat ini memang baru lima orang saja yang mengeluarkan atau yang mampu menunjukan tahap pertama berkah sebuah ikatan kepada Zen. Namun disaat mendengarnya saja, sudah membuat Vero menghela nafasnya saat mengetahui semuanya.


Tentu dengan dibarengi dengan penjelasan singkat tentang bagaimana wanita-wanita itu akhirnya memiliki tahap pertama dari berkah tersebut, saat ini Vero mulai mendengarkan dengan seksama penjelasan Suaminya itu tentang sosok-sosok wanita yang mungkin akan menjadi saudarinya tersebut.


Tentu bisa dikatakan jumlah itu akan bertambah menurutnya, karena Vero tahu beberapa wanita yang tidak disebutkan oleh Zen, ada yang bisa dikatakan sangat dekat dengannya. Jadi, bisa saja daftar itu akan bertambah lagi dimasa depan.


“Lalu, bagaimana dengan Santi? Kepala kepolisian itu tidak mengeluarkan aura kebahagiaan untukmu?” tanya Vero dan mendapatkan gelengan dari Zen.


Santi salah satunya yang Vero kira memiliki aura tersebut. Namun dipastikan tidak lama lagi wanita itu akan bergabung, karena betapa intensnya wanita itu bertemu dengan suaminya, karena bisa dikatakan wanita itu sangat bergantung dengan keberadaan Zen.


Belum lagi Anabelle yang bisa dikatakan juga sering dibantu oleh Zen berkali-kali. Lalu ada Alice yang anaknya diselamatkan oleh Zen. Dan Vero masih belum tahu, apakah Zen pernah bertemu dengan siapa lagi dan membuatnya mulai pusing memikirkannya.


“Baiklah. Saat ini dipastikan ada Empat selain diriku yang memilikinya. Jadi, cobalah untuk tidak menambahnya sebelum aku benar-benar memastikan kelayakan keempat pihak tersebut, oke” kata Vero yang mewanti-wanti Zen atas tindakannya tersebut.


“Oke. Aku akan berusaha bersikap merendah dan memastikan menunjukan sikap cuek kepada orang asing yang aku temui” ucap Zen yang meyakinkan Istrinya itu atas perintah yang dirinya berikan.


“Jangan bersikap cuek. Hal itu akan membuatmu semakin diminati oleh beberapa wanita yang melihatmu. Lebih baik, kamu menghindari mereka secara langsung, mengerti?” ucap Vero yang sangat tegas dengan perkataannya agar suaminya itu tidak sembarangan dalam bertindak didepan para wanita.


Vero memutuskan menggunakan berbagai cara agar jumlah wanita yang mengeluarkan aura kebahagiaan untuk Zen tidak bertambah jumlahnya. Maka dari itu, dirinya mulai memikirkan berbagai hal untuk mencegah semua itu terjadi.


Masalahnya akan susah untuk dirinya melakukannya. Karena bisa dikatakan, suaminya saja bisa dikatakan sangat amat tampan. Jadi, dirinya bingung harus bagaimana mengatasi hal tersebut, yang bisa dikatakan dapat memicu beberapa pihak tertarik dengan dirinya.


Apalagi, statusnya yang sangat amat besar di dunia ini semakin membuat pusing Vero untuk mencegah beberapa pihak menyukai sosok suaminya. Jadi, hal pertama yang dirinya lakukan adalah memastikan bahwa identitas suaminya itu benar-benar tidak diketahui oleh siapapun.


“Oke. Jika ada pihak yang melihatku, akan langsung aku hindari” balas Zen atas perkataan Istrinya tersebut.


Banyak hal yang akhirnya pasangan suami istri itu diskusikan di atas tempat tidur mereka. Karena bisa dikatakan, Vero ingin mengetahui dengan pasti semua pihak yang benar-benar menyukai suaminya dari mata pria tersebut, dan berbagai hal tentang hubungan yang dirinya miliki dengan wanita lain selain mereka.

__ADS_1


Apalagi dirinya benar-benar ingin tahu, apa yang Suaminya pikirkan itu tentang para pihak yang mengeluarkan aura kebahagiaan untuk dirinya. Hingga akhirnya, pembicaraan mereka itu benar-benar berlangsung hingga sangat larut untuk menemukan solusi yang pasti dalam menghadapi kehidupan rumah tangga mereka kelak.


“Lalu, ada pertanyaan lagi?”


__ADS_2