
Entah mengapa seorang wanita yang sedang terlelap pada sebuah tempat tidur, tidurnya bisa dikatakan sangat nyaman. Jarang memang dirinya bisa tidur seperti itu, apalagi dirinya tidak mengalami sebuah mimpi buruk seperti yang sering dirinya alami beberapa tahun belakangan ini.
Bahkan saat dirinya terlelap, dirinya mengalami sebuah mimpi indah yang sudah lama dirinya tidak pernah alami. Dimana didalam mimpi tersebut, dirinya bisa bercengkrama lagi dengan Nenek, Ibu dan Ayah kandungnya, yang semuanya sudah meninggalkan dirinya sendirian.
“Hoam...” dan begitulah suara menguap dari wanita yang sudah membuka matanya secara perlahan, karena tidurnya yang lelap itu sudah terganggu dengan sinar matahari yang memasuki kamarnya.
Dengan perlahan, kelopak matanya yang sebelumnya tertutup mulai terbuka secara perlahan, dan didalam penglihatannya saat ini dirinya melihat sesosok pria tampan berada dihadapannya. Tentu karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul, dirinya hanya mencoba menikmati pemandangan tersebut sejenak.
Hingga akhirnya wanita itu mulai menyadari bahwa dirinya sedang menjadikan seorang pria yang tidur disebelahnya menjadi sebuah guling. Tentu dengan terburu-buru, dirinya langsung melepaskan pelukannya dari pria itu dan berusaha untuk menjauh dari dirinya.
“Selamat pagi” ucap Zen kepada Vero yang saat ini sedang memperhatikan bagian atas dari kamarnya, dan tidak memperdulikan keterkejutan wanita yang sudah melepaskan pelukannya itu dari dirinya.
Memang saat Vero bangun tadi, dirinya sedang memeluk Zen yang sebenarnya sudah terjaga sedari tadi. Namun anehnya, pria itu seakan tidak memperdulikan tindakannya dan saat ini lebih memilih menatap bagian atas dari kamar hotel yang disewanya.
“A-Aku tidak memeluknya semalaman bukan?” gumam Vero yang entah mengapa mulai merasa malu atas perbuatannya.
Niat awalnya yang mencoba menjauh dan tidak ingin tidur didekat Zen, malah membuat dirinya sendiri yang mendekat kearahnya bahkan memeluknya. Entah sudah berapa lama dirinya melakukan itu, tetapi dirinya mulai merasa canggung karena perbuatan dirinya itu.
“A-Apa yang sedang kamu lakukan Zen?” ucap Vero yang mencoba menghilangkan rasa canggungnya, setelah dirinya tidur sambil memeluk suami bayarannya itu semalaman dan mencoba membuka sebuah percakapan dengannya saat ini.
“Menatap langit-langit” balas Zen singkat.
Zen saat ini entah mengapa terus memperhatikan langit-langit kamarnya seakan sedang melihat sesuatu di sana. Namun apa yang dirinya lakukan itu mendapatkan tatapan aneh dari Vero, karena dirinya merasa apa yang dilakukan oleh Zen sangatlah aneh.
“Ah iya... lain kali jika kamu ingin memelukku, jangan sambil mengigau karena itu sangat menggangguku oke” balas Zen yang mengingat kejadian tadi pagi saat dirinya sedang asik terlelap.
Entah sejak kapan Vero mulai menjadikan Zen sebagai guling miliknya, namun Zen terganggu saat wanita itu mulai mengigaukan sesuatu, seperti memanggil Neneknya, Ibunya bahkan memaki Ayah angkatnya dalam tidurnya.
“J-Jangan mengarang. Aku mana pernah mengigau saat sedang tertidur” balas Vero yang menyangkal semua perkataan dari Zen.
Namun Zen yang masih menatap bagian langit-langit dari kamarnya, mulai mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah video kepada Vero yang masih duduk di sampingnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang dikenakan olehnya.
“Nenek aku merindukanmu”
“Ibu, masakan buatanmu memang yang terbaik”
__ADS_1
“Ayah mengapa kamu meninggalkanku”
“Dasar pria tidak tahu diri, dasar jahanam, bangsat, kamu bukan Ayahku lagi”
Dan begitulah suara yang terus keluar dari ponsel dari Zen, setelah layar ponselnya menunjukan sebuah Video yang dimana seorang wanita terus mengigau berbagai hal saat dirinya sedang memeluk Zen tadi malam.
“Tolong jangan diulangi lagi oke, itu sangat menggangguku” balas Zen yang hendak menyimpan ponselnya kembali.
Namun sebelum dirinya melakukannya, Vero dengan cepat merebut ponsel Zen dari tangannya dan meyaksikan sekali lagi video tersebut, dan memastikan apakah benar wanita yang berada didalam video tersebut merupakan benar dirinya atau tidak.
“I-Ini bukan a-aku. Pasti k-kamu mengeditnya” balas Vero yang masih berusaha menyangkal apa yang dirinya lihat itu, namun dirinya perlahan mulai menghapus Video memalukan tentang dirinya itu dari ponsel milik Zen.
Namun yang dirinya tidak ketahui, saat dirinya mengatakan perkataan seperti itu, dirinya mulai memperlihatkan kepanikannya, seakan sedang menunjukan bahwa dirinya memang benar merupakan seorang wanita yang mengigau sambil memeluk seorang pria yang tidur bersamanya.
Bahkan Zen sempat menghentikan kegiatannya menatap langit-langit, sambil melihat kearah Vero sejenak, sambil menunjukan raut wajah seakan sedang mengejek kearahnya setelah dirinya mengatakan perkataan yang sangat aneh seperti itu.
“K-Kalau begitu aku akan mandi terlebih dahulu” balas Vero yang merasa harus melarikan diri dari sana, karena melihat Zen ingin memojokkan dirinya kembali dengan sebuah ejekan.
Dengan terburu-buru, Vero langsung beranjak dari tempatnya sambil membuang ponsel dari Zen tepat disebelah tempat Zen berada, dan langsung melarikan diri menuju kamar mandi karena dirinya terlanjur malu dengan semua perbuatan yang sudah dirinya lakukan.
“Bodoh... Kamu bodoh Vero. Mengapa kamu harus memeluknya sambil mengigau tadi malam” ucap Vero yang sudah masuk kedalam kamar mandi dari kamarnya, dan sedang menatap wajahnya yang sudah memerah pada sebuah cermin.
Disisi lain, Zen tidak menghiraukan reaksi dari Vero dan kembali menatap dengan serius kearah langit-langit tempatnya berada. Bukan tanpa alasan dirinya melakukan hal itu, karena memang beberapa orang yang tinggal di atas kamarnya merupakan orang-orang yang sedang mengawasi dirinya.
“Hm.. jadi mereka langsung bergerak dengan cepat ya..” gumam Zen kemudian.
.
.
Beberapa saat kemudian, Zen sudah mengenakan sebuah setelan hitam, karena hari ini dirinya akan menjadi bodyguard untuk Vero. Memang dalam perjanjian yang dirinya buat, Zen akan tetap bekerja sebagai bodyguard untuknya walaupun dirinya sudah menjadi suami bayarannya.
“Kamu sudah siap Vero?” tanya Kelly yang sudah membawa berbagai berkas pada tangannya, dan sudah mempersiapkan berbagai hal untuk dirinya bawa untuk menghadiri sebuah pertemuan.
“Hahh... ya aku sudah siap” balas Vero yang entah mengapa sangat berat melakukan sesuatu yang akan dirinya lakukan nanti.
__ADS_1
Namun demi menyelematkan perusahaannya, tentu dirinya harus melakukan apa yang dirinya tidak sukai tersebut, karena memang itulah satu-satunya cara baginya menyelamatkan perusahannya yang sedang berada diujung tanduk saat ini.
“Dan kamu terlihat sangat tampan hari ini Zen” ucap Kelly kemudian yang memuji suami dari sahabatnya itu.
Zen tentu saja membalas wanita itu dengan senyum manisnya, setelah drinya dipuji seperti itu. Tidak dipungkiri Vero juga merasakan hal yang sama, yang dimana dirinya juga merasa bahwa Zen memanglah sangat tampan saat ini.
Setelan khas bodyguard yang dikenakan olehnya sangat cocok untuknya, dan Zen bisa terlihat sangat amat cocok mengenakan pakaian yang seperti itu,dan juga bisa dibilang penampilannya saat ini tidak terlihat seperti seorang bodyguard sama sekali.
Namun tatapan kekaguman yang dipancarkan oleh Vero, tiba-tiba dirinya hentikan karena dirinya mulai mengingat kejadian tadi pagi, saat dirinya terbangun dengan keadaan sedang memeluk Zen.
“Sudahlah, mari kita berangkat” ucap Vero yang memutuskan untuk langsung menuju tujuan mereka saat ini, sambil menyembunyikan rona merah yang terdapat pada wajahnya, karena mengingat kejadian tadi pagi.
Kelly hanya mengangguk saja dan mulai memimpin kedua pasang suami istri tersebut, untuk menuju lobby hotel tempat mereka menginap dan menaiki sebuah mobil yang sudah menjemput mereka, untuk membawa mereka menuju sebuah tempat yang akan mereka tuju.
Tidak ada percakapan spesial saat mereka sudah berada didalam mobil, hingga mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki sebuah kawasan gedung mewah berwarna hitam yang seakan menyambut kedatangan mereka ditempat itu.
Melihat bahwa mereka sudah sampai ditempat tujuan mereka, Vero, Kelly dan Zen yang masih setia mengikuti langkah mereka, mulai memasuki gedung megah itu, menuju kebagian resepsionis dari gedung ini untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka ketempat ini.
“Selamat Pagi Nona Vero. Selamat datang di kantor cabang Darkness Company cabang Jakarta. Perkenalkan saya Putri, asisten pribadi dari Nona Amelia Darkin” balas seorang wanita berpakaian khas kantorannya menyambut kedatangan dari rombongan yang bersama Vero.
Tetapi sebelum mereka melaporkan kedatangan mereka ketempat ini, ternyata seorang wanita yang merupakan asisten dari pemimpin perusahaan ini mulai menyambut kedatangan mereka.
“Ho... jadi ini salah satu kantor milik adikku ya?” gumam Zen yang mulai melihat keseluruhan sudut dari gedung yang cukup mewah tersebut.
Tentu Zen masih belum menyadari bahwa dirinya berada disalah satu perusahaan cabang dari kerajaan bisnis milik adiknya. Jadi dirinya cukup terkejut bahwa dirinya saat ini berada di sana, setelah dirinya mengetahui sosok wanita yang saat ini sedang menyambut Vero.
“Terima kasih Nona Putri atas sambutannya” balas Vero dengan ramah kepada wanita yang menyambutnya itu.
“Kalau begitu, silahkan ikuti saya Nona Vero. Karena anda sudah ditunggu oleh Nona Amelia Darkin diruang pertemuan” balas Putri yang akan membimbing ketiga orang itu menuju ruangan tempat dimana atasannya berada.
Tentu sebelum berangkat, wanita yang bernama Putri itu sempat melirik Zen dan membungkuk sedikit kearahnya, karena tentu saja dirinya mengetahui siapa sebenarnya Zen.
Akhirnya setelah menaiki sebuah Lift, mereka dibimbing menuju ruangan pertemuan yang dimana pemimpin dari perusahaan ini sudah menunggu mereka didalam, untuk mendiskusikan sesuatu yang akan menentukan masa depan perusahaan milik Vero.
Namun sebelum mereka sampai di sana, mereka sempat berhenti pada sebuah ruangan, yang memang dikhususkan sebagai ruang tunggu tamu dari gedung perusahaan ini.
__ADS_1
“Kamu bisa menunggu kami disini Zen, dan ingat jangan berkeliaran kemanapun”