
Pada sebuah ruangan yang terlihat sangat bersih, saat ini seorang wanita sedang terbaring dengan nyaman pada sebuah tempat tidur pada ruangan tersebut. Dirinya tidak sedang tertidur di sana, melainkan memperhatikan seseorang sedang melakukan sesuatu terhadapnya.
Dengan senyum yang mulai terukir dari wajahnya yang cantik, akhirnya wanita itu merasa lega bahwa akhirnya hari ini dirinya akan bebas, karena sudah hampir seminggu lamanya dirinya berada ditempat ini dan sudah sangat amat kebosanan.
“Saya sudah melepaskan infus anda, tetapi diharapkan anda harus tetap beristirahat, Nona Vero” ucap seorang perawat, yang baru saja memisahkan sebuah selang infus pada pergelangan tangan dari wanita yang sedang berbaring tersebut.
Memang ruangan yang terlihat dipenuhi beberapa perabotan yang khas, saat ini sedang merawat sosok Vero yang memang mengalami masalah kesehatan beberapa hari ini. Tentu dirinya tidak tahu mengapa dirinya bisa seperti itu, dan membuatnya harus mengabiskan waktu untuk dirawat ditempat ini.
Beberapa hari yang lalu, dirinya tiba-tiba saja mulai tak sadarkan diri saat mengalami momen yang sangat penting pada dirinya. Dirinya tidak tahu mengapa dirinya bisa dengan tiba-tiba langsung jatuh pingsan, apalagi penjelasan dokter atas kondisinya menurutnya tidak memuaskan baginya.
Tentu dirinya merasa frustasi bisa pingsan pada momen yang penting bagi dirinya, yang dimana pria yang sangat spesial baginya menyatakan cintanya pada sebuah tempat yang sangat indah dan sudah susah payah dirinya persiapkan untuk hal tersebut.
Karena bisa dibilang, Vero merasa menyia-nyiakan semua kerja keras yang dilakukan oleh suaminya untuk membuatnya wanita paling bahagia saat itu. Apalagi, momen tersebut harus diakhiri dengan hal yang tidak diinginkan terjadi oleh mereka berdua.
"Terima kasih, doker" dan begitulah ungkapan yang diberikan Vero, saat dokter yang merawatnya ditempat ini sudah menyelesaikan tugasnya.
Tentu Vero merasa senang bahwa dirinya akan segera keluar dari tempat ini. Apalagi, dirinya setidaknya harus membayar semua hal yang sudah dilakukan oleh suaminya, atas pernyataan cinta yang dirinya lakukan secara indah tempo hari.
Apalagi, hari-hari yang membosankan yang dirinya jalani ditempat ini bisa dikatakan cukup membahagiakan bagi dirinya. Karena bisa dibilang, yang membuatnya bahagia tentu saja kehadiran orang yang spesial bagi dirinya yang masih setia menemaninya ditempat ini.
Bahkan pria itu selalu berada disampingnya dan terus merawat keadaannya yang bisa dikatakan kurang sehat beberapa hari ini. Dan itulah yang membuat Vero tidak terlalu merasa bosan berada ditempat ini, karena orang yang dirinya cintai ada disini bersamanya.
Maka dari itu, dirinya ingin segera keluar dari tempat ini, dan akan membalas semua perbuatan dari suaminya yang hingga saat ini masih setia berada disisinya, dan merawatnya dengan sangat amat baik.
“Terima kasih, Dokter” ucap Zen yang ikut membalas perkataan dokter yang baru saja memeriksa keadaan Vero saat ini.
Dokter yang merawat Vero hanya mengangguk mendengar ucapan terima kasih dari pasangan suami istri yang berada di ruangan tersebut. Hingga akhirnya dirinya mulai keluar dari sana setelah dirinya juga sudah berpamitan kepada kedua pasangan suami istri tersebut.
Tentu melihat kepergian dokter yang memeriksa keadaan Vero, saat ini Zen mulai beranjak dari tempatnya berada tadi dan mulai berdiri disebelah tempat tidur dari Istrinya yang sedang dirawat, lalu mulai meraih tangannya yang baru saja terbebas dari sebuah saluran infus yang sudah menempel pada pergelangan tangannya itu beberapa hari belakangan ini.
“Tapi, aku mau langsung pulang, Zen” ucap Vero yang merengek agar suaminya itu cepat mengurus permasalahan kepulangannya.
__ADS_1
“Dokter belum mengizinkan dirimu pulang, Vero. Jadi, bersabarlah oke. Lagipula infusmu sudah dilepas dan kata dokter mereka hanya ingin memastikan bahwa dirimu benar-benar sehat saja. Jadi, dipastikan kepulangan dirimu tidak akan lama lagi” ucap Zen, yang langsung mengecup dengan lembut kening dari Istrinya itu dan mencoba menenangkannya.
“Hahh.. tapi aku sangat bosan. Apalagi, aku belum memeriksa keadaan Kelly dan Anabelle atas hasil kerja mereka” ucap Vero kembali kepada suaminya itu.
“Cih... bukankah kamu selalu menghubungi mereka? Bagaimana bisa kamu tidak tahu keadaan mereka?” tanya Zen yang saat ini mulai mengambil sebuah kursi, dan duduk disebelah tempat tidur dari Istrinya yang sedang berbaring pada tempatnya itu.
"Tapi, aku ingin melihatnya secara langsung" ucap Vero yang beralasan, karena memang niatnya yang utama adalah ingin keluar dari tempat ini secepatnya.
Memang pada saat pernyataan cintanya dan mengesahkan hubungan mereka dimata hukum dunia, Vero bisa dikatakan langsung kehilangan kesadaran pada saat ini. Tentu hal itu membuat Zen panik dan dengan segera membawanya ketempat ini.
Zen sangat kebingungan saat itu, karena dirinya sudah menggunakan kekuatannya tetapi dirinya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Istrinya pada saat itu. Maka dari itu, dirinya dengan bergegas langsung membawanya ketempat ini untuk mendapatkan perawatan.
Apalagi, setelah Zen membawa untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit miliknya ini, Zen tentu langsung menghubungi adiknya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Istrinya. Karena memang, dirinya masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Vero saat itu.
“Tubuhnya mulai menyesuaikan dengan semua hal baru yang dirinya terima. Jadi, wajar dirinya tidak sadarkan diri, Kak” begitulah ucap salah satu adiknya, saat memeriksa keadaan dari Vero.
Bisa dikatakan, sedikit kekuatan dari Zen mulai berpindah kepada Vero saat mereka mulai melakukan pembuktian cinta mereka dimata hukum dunia beberapa hari yang lalu. Maka dari itu, tubuh Vero yang bisa dikatakan merupakan manusia biasa, mencoba untuk menyesuaikan sesuatu yang baru tersebut.
Maka dari itu, Vero langsung kehilangan kesadaran pada saat itu, karena selain tubuhnya mulai menyesuaikan dengan hal baru yang memasuki tubuhnya, hukum dunia juga mulai melepaskan dirinya dari beberapa hukum yang selama ini mengikatnya saat hidup menjadi seorang manusia biasa pada umumnya.
“Percayalah kepada mereka. Bukankah kamu selama ini selalu melakukan itu? Jadi, fokus saja untuk pemulihan dirimu saat ini” balas Zen yang saat ini mulai mengelus ringan kepala dari wanita yang dirinya cintai tersebut, agar dirinya bisa bersabar atas kepulangan dirinya.
Memang sangat aneh saat Zen terkesan sangat peduli dengan Vero saat ini. Bahkan saat dirinya melihat tingkah adiknya dulu yang sangat amat perhatian kepada Istrinya masing-masing, Zen sempat ingin mengejek mereka pada saat itu karena terlihat mereka terlalu manja dengan Istri mereka masing-masing.
Namun saat ini dirinya sudah merasakannya sendiri. Bahwa memiliki orang yang memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, dan menerima ketulusan cinta darinya, membuatnya menjadi seperti adik-adiknya yang bisa dikatakan sangat amat menyayangi pihak yang saat ini mereka cintai dengan sangat tulus kepada dirinya.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan berusaha berisitirahat agar kondisiku cepat pulih” ucap Vero yang akhirnya hanya mengikuti perkataan suaminya saja, namun bisa dikatakan dirinya menjawab perkataan dari suaminya dengan nada yang terlihat cukup kesal.
Zen tentu hanya tersenyum saja melihat ekspresi dari Istrinya yang terlihat kesal saat permintaannya tidak dikabulkan itu. Namun berbeda dengan ekspresi yang dirinya tunjukan, bahasa tubuh Vero bertindak sangat berbeda dari apa yang sedang dirinya tunjukan saat ini.
Karena tangannya, masih menggenggam dengan erat tangan dari Zen, dan tidak melepaskannya walaupun bisa dikatakan dirinya amat kesal. Hingga akhirnya, tangan yang masih menggenggam tangan suaminya itu, tidak sengaja menyentuh cincin yang terdapat pada jari manis miliknya.
__ADS_1
“Ah... ngomong-ngomong, apakah keluargamu tidak keberatan jika kita kita menggunakan cincin yang cantik ini sebagai cincin pernikahan kita, Zen?” tanya Vero yang saat ini memperhatikan cincin perkawinan mereka yang terbilang sangat amat cantik, dan sudah melupakan rasa kesal yang dirinya rasakan saat dirinya melihat cincin tersebut.
Sebuah cincin dengan warna perak keemasan, dengan ornamen sebuah berlian yang menawan yang mengkilat seperti bintang, bahkan sekelilingnya terdapat sebuah tulisan yang tidak dimengerti oleh Vero namun membuatnya sangat elegan.
Sekarang cincin itu sudah tersemat pada jari manis mereka masing-masing sebagai tanda cinta mereka, yang disematkan oleh hukum dunia, sebagai tanda bahwa mereka merupakan sepasang suami istri yang diakui oleh dirinya.
Zen tentu mengatakan bahwa cincin itu dirinya dapatkan dari keluarganya, dan berniat memakaikannya untuk Vero pada saat pernyataan cintanya tempo hari. Namun sayang, Vero terlanjur pingsan dan tidak sempat memperhatikan prosesi pemberian cincin tersebut, yang memang dikarang oleh Zen kepadanya.
“Kamu akan tahu nanti. Apalagi, keluargaku akan menemui dirimu nanti” ucap Zen, yang langsung membuat Vero sangat terkejut mendengar perkataannya.
“K-Keluargamu akan menemui diriku?” ucap Vero panik, karena memang dirinya sama sekali belum pernah bertemu dengan keluarga dari Zen hingga saat ini.
“Yap.. mereka akan menemui dirimu. Tetapi aku juga tidak tahu kapan mereka akan melakukannya” balas Zen jujur.
Tentu perkataan Ramiel beberapa hari yang lalu disaat mereka bertemu, akan dipastikan terlaksana. Yang dimana, pihak adik-adik Zen akan menjemput Vero dan akan menjelaskan semua asal-usul mereka kepada keluarga baru mereka tersebut.
Apalagi, Vero akan menjalani beberapa pelatihan, karena dirinya dipastikan akan menjadi seorang bangsawan dari sebuah kerajaan yang tidak pernah dirinya bayangkan, bahwa suaminya merupakan berasal dari kerajaan tersebut dan bahkan merupakan Raja dari kerajaan tersebut.
Dan juga, Zen memutuskan untuk memberitahukan semua asal-usulnya kepada Vero, saat utusan adiknya nanti akan menjemput Vero dan akan membawanya menuju Vatikan, untuk bertemu dan mengenal satu sama lainnya dari seluruh keluarga barunya nanti.
“L-Lalu, bagaimana jika mereka tidak menyukaiku, Zen?” Kata Vero yang menunjukan raut wajah cemasnya saat ini, setelah mendengar perkataan suaminya itu.
Tentu siapa yang tidak khawatir dengan bertemu keluarga dari suaminya yang tidak pernah dirinya temui. Apalagi dirinya takut bahwa keluarga dari Zen tidak menyukai dirinya, karena bisa dikatakan mereka dari kalangan yang sangat amat berbeda.
Memang hingga saat ini, Vero masih menganggap bahwa Zen masih merupakan seorang dari kalangan yang sangat sederhana. Yang dirinya takutkan, keluarga Zen nanti akan beranggapan bahwa Zen tidak akan pantas bersanding dengan seseorang yang bisa dikatakan sangat jauh dari status sosial mereka.
"Mengapa kamu beranggapan seperti itu?" tanya Zen, setelah dirinya merasakan kecemasan dari nada Istrinya tersebut.
"A-Aku hanya takut Zen." balas Vero jujur, karena memang dirinya sangat takut keluarga dari Zen akan menganggap bahwa kehidupan Zen tidak akan nyaman jika dirinya tinggal dengan Vero.
Bukan tanpa alasan dirinya berfikiran seperti itu. Karena menurut Vero, pihak keluarga suaminya akan beranggapan bahwa Vero yang akan menjadi sangat dominan dalam rumah tangga mereka, karena status dirinya yang merupakan seorang konglomerat.
__ADS_1
Vero juga beranggapan bahwa, mungkin keluarga Zen juga tidak akan setuju karena mereka akan segan dengan dirinya, yang notabennya sangat amat kaya dibandingkan dengan mereka. Tetapi yang Vero tidak tahu, mungkin apa yang dirinya pikirkan itu akan mulai berbalik kepada dirinya, disaat dirinya mengetahui jati diri suaminya yang sebenarnya.
“Tenanglah. Semua keluargaku tidak ada yang berani mengganggu semua keputusanku”