
Zen sambil menghela nafasnya saat ini langsung menyudahi panggilan yang sedang dirinya lakukan. Setelah dirinya menyanggupi permintaan dari orang yang menghubungi dirinya barusan, akhirnya dirinya memutuskan untuk menyudahi panggilan tersebut.
Sebenarnya Zen cukup malas untuk membantu kondisi Santi tadi, saat dirinya mengatakan bahwa hal itu masih spekulasi. Namun karena Zen sudah berjanji akan sesekali membantu wanita itu, jadi dirinya akan mencoba membantu permasalahannya keesokan harinya.
“Bisakah aku meminta izin untuk tidak bekerja besok?” tanya Zen, yang saat ini memulai percakapan yang akan dirinya lakukan kepada Vero dan Kelly, setelah dirinya melakukan panggilan telfon tadi.
Tentu mendengar permintaan dari Zen itu, membuat Kelly dan Vero yang sebelumnya sedang mendiskusikan sesuatu mulai menghentikan tindakan mereka, dan saat ini mulai menatap kearah Zen yang saat ini sedang menunggu jawaban mereka.
Apalagi permintaan yang dirinya lakukan itu, sepertinya akan susah untuk mereka kabulkan. Karena besok tenaganya akan sangat dibutuhkan untuk melindungi diri Vero, yang mungkin akan dikerumuni oleh banyak orang pada acara yang akan mereka lakukan besok.
“Memangnya ada apa, Zen?” tanya Kelly kemudian, untuk memastikan mengapa pria itu meminta untuk libur besok.
“Hanya menyelesaikan sebuah masalah pribadi saja. Jadi, apakah aku diizinkan untuk izin besok?” Tanya Zen kembali.
“Bukannya aku tidak ingin memberimu izin Zen. Tetapi besok ada sebuah acara yang sangat penting, yang dimana aku akan membutuhkan keberadaan dirimu untuk melindungi keberadaan diriku besok.” ucap Vero kemudian.
Memang konferensi pers yang akan dilakukan oleh Vero besok, dipastikan akan didatangi oleh banyak pihak. Jadi dirinya membutuhkan keberadaan Zen untuk membantunya dalam hal melindungi dirinya, untuk menjaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Apalagi Vero cukup merasa terlindungi, jika Zen berada disisinya besok. Jadi, jika benar dirinya besok tidak bekerja, maka Vero akan sedikit was-was tentang permasalahan tentang keamanannya, terutama dalam hal menghalau para wartawan yang akan mengerumuni dirinya besok.
“Jadi, aku tidak bisa meminta izin untuk tidak bekerja besok?” tanya Zen memastikan.
“Tentu saja bisa. Tetapi bisakah kamu pergi setelah semua kegiatan konferensi pers besok berakhir?” tanya Vero kemudian.
Tentu Vero bisa saja menyewa beberapa bodyguard untuk melindungi dirinya besok. Tetapi mencari bodyguard yang merupakan seorang wanita dalam waktu yang mepet, akan cukup sulit untuk dilakukan, apalagi mencari sosok yang sangat kompeten dalam melakukan tugasnya.
Jadi, dirinya mengharapkan bahwa Zen untuk bisa menjadi bodyguard untuk dirinya besok. Karena memang Vero belum nyaman berada disekitar Pria asing yang berada didekatnya, apalagi jika dirinya menggantungkan keselamatannya kepada pria asing tersebut.
“Baiklah. Kalau begitu aku bisa bekerja sampai kegiatan konferensi pers yang kamu lakukan selesai, bukan?” tanya Zen memastikan kembali, dan mendapatkan anggukan sebagai jawaban dari apa yang dirinya tanyakan tersebut.
Zen akhirnya merasa puas dengan jawaban yang dirinya terima, dan langsung melanjutkan kembali kegiatannya yaitu menghabiskan semua makanan yang belum sempat dirinya habiskan. Apalagi, memang dirinya sempat menunda kegiatannya itu saat menerima panggilan dari Santi tadi.
“Memangnya, kamu ada keperluan apa besok Zen?” tanya Kelly kemudian, yang sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Zen besok.
“Hmm... temanku hanya meminta pertolongan kepadaku, untuk mengurus sesuatu besok” balas Zen kemudian.
Tentu perkataan Zen itu membuat Vero cukup penasaran dengan kehidupan dari suami bayarannya itu. Apalagi dirinya hanya mengetahui, bahwa pria itu hanya seorang kasir yang jago berkelahi, dan pernah menyelamatkan dirinya saja.
__ADS_1
Memang hingga saat ini, dirinya sama sekali belum mengetahui sepenuhnya tentang kehidupan Zen. Apalagi tentang keluarganya, temannya, atau mungkin mantan pacarnya dan sebagainya. Jadi, setelah mendengar Zen berkata ingin membantu temannya besok, Vero sangat penasaran dengan perihal kehidupan dari suami bayarannya itu.
“Aku kira kamu tidak mempunyai teman, Zen. Karena setahuku, kehidupanmu hanya dihabisi dengan bermalasan saja” canda Vero kemudian.
“Tentu saja aku punya teman. Dan mungkin temanku bisa dikatakan lebih banyak dari pada dirimu” ucap Zen kemudian.
“Hehh... maaf, tetapi temanku cukup banyak asal kamu tahu” Balas Vero kemudian tidak mau kalah, setelah mendengar perkataan dari Zen tentang dirinya itu.
“Lalu, coba kamu sebutkan tiga saja nama temanmu saat ini” kata Zen yang saat ini mulai menantang Vero, atas apa yang dirinya ucapkan tadi.
“Ehm... Kelly, lalu Bibi Leni, lalu...” Kata Vero yang saat ini terlihat mulai menguras otaknya, untuk mencari sebuah nama yang tersisa untuk dijadikan temannya.
Memang Vero merupakan sosok yang bisa dikatakan sangat introvert. Semenjak kematian dari Neneknya, dirinya bisa dikatakan tidak mempunyai waktu untuk mencari seorang sosok yang bisa dikatakan sebagai temannya, karena dirinya harus meneruskan bisnis keluarganya.
Jadi, cukup wajar jika saat ini dirinya bisa dikatakan tidak mempunyai siapapun yang dirinya anggap sebagai teman, karena memang dirinya tidak mempunyainya. Bahkan saat ini otaknya sudah menyerah untuk menemukan sebuah nama yang merupakan teman dari dirinya.
“Cih... kamu hanya bisa menyebutkan satu saja” ucap Zen kemudian.
“Dua... bukankah aku menyebutkan dua?” sanggah Vero yang bersikeras.
“Tentu saja karena Bibi Leni merupakan temanku” balas Vero yang tidak mau kalah.
“Oke... Baiklah. Kalau begitu tetap saja temanmu hanya dua, dan temanku masih lebih banyak dari pada dirimu” balas Zen sambil menunjukan dua jarinya kepada Vero saat ini.
Mendengar perkataan Zen, tentu Vero mulai menatapnya saat ini dengan perasaan kesal. Karena saat ini suami bayarannya itu seakan sedang mengejeknya karena menunjukan bahwa dirinya merasa lebih unggul tentang hal pertemanan yang dimiliki oleh mereka.
“Kalau begitu, coba kamu sebutkan tiga nama temanmu?” tantang Vero kemudian.
“Cih... cukup mudah. Angel, Santi dan Kelly” ucap Zen santai, menjawab perkataan dari Vero.
Mendengar itu tentu Vero tidak menyangka bahwa benar Zen memiliki teman lebih banyak dari dirinya. Apalagi dirinya dengan mudah menyebutkannya, yang menandakan bahwa benar pria itu mempunyai beberapa teman lebih banyak dari dirinya.
“Kelly merupakan temanku, mengapa kamu mengambilnya?” ucap Vero yang merasa tidak terima, bahwa suami bayarannya itu menggunakan sahabatnya, untuk memenangkan perdebatan mereka.
“Memangnya dirimu saja yang boleh berteman dengan Kelly?” balas Zen kembali.
"Tentu saj- tunggu, kenapa kamu tertawa? Coba sebutkan tiga temanmu kalau begitu?" ucap Vero yang semakin kesal, saat mendapati sahabatnya seakan sedang menertawai dirinya saat ini.
__ADS_1
Dan begitulah terjadinya perdebatan receh yang dilakukan oleh Zen dan Vero hingga mereka menyeret Kelly dalam perdebatan tersebut, yang dimana perdebatan itu cukup aneh jika didengar oleh beberapa pihak yang sedang mendengarkannya.
Tetapi ditengah-tengah perdebatan mereka, saat ini Kelly memutuskan untuk menyaksikan perdebatan mereka saja, karena memang namanya sudah tidak terseret lagi. Tetapi entah mengapa, saat dirinya sedang menyaksikan interaksi mereka, dirinya merasakan sesuatu yang tidak nyaman didalam hatinya.
Tentu jika pihak luar yang menyaksikan perdebatan tersebut, terlihat kedua pasangan suami istri itu seakan sedang saling menggoda satu sama lainnya. Apalagi perdebatan mereka bukanlah sebuah perdebatan yang menjerumus kearah pertengkaran. Jadi, karena hal itulah yang membuat Kelly cukup iri melihat interaksi kedua orang yang sedang bersamanya itu, karena mereka terlihat semakin akrab.
“Sadarlah Kelly, pria itu suami sahabatmu” Kata Kelly didalam hatinya, agar membuang jauh semua perasaan yang sudah tumbuh didalam hatinya itu.
Akhirnya perdebatan tentang siapa memiliki lebih banyak teman diantara mereka mulai berakhir, yang dimana perdebatan itu dimenangkan oleh Zen. Jadi, saat ini suasana hati dari Vero bisa dikatakan cukup panas, setelah dirinya merasa kalah atas perdebatan tersebut.
Namun rasa kesalnya itu memang tidak bertahan lama, karena saat ini dirinya sudah mulai melanjutkan pekerjaannya yang tertunda kembali. Apalagi, saat ini bawahannya yang dirinya suruh untuk mencari kandidat sutradara, saat ini sudah membawakannya beberapa nama kepadanya.
“Kurasa orang ini tidak akan cocok, untuk membuat sesuatu yang akan kita garap” ucap Vero sambil menunjuk salah satu data seorang sutradara yang diberikan bawahannya.
“Hmm... kalau begitu sisa orang ini saja, Nona Vero” ucap bawahannya yang mulai menunjukan data sutradara terakhir yang dirinya bawa kepada Vero.
Vero tentu langsung memperhatikan datanya terlebih dahulu, dan cukup kagum dengan CV dari sutradara yang dirinya sedang perhatikan tersebut. Apalagi yang membuatnya tertarik adalah, karena dirinya merupakan seorang wanita.
“Mengapa tidak banyak yang merekrut dirinya, dengan mempunyai CV seperti ini?” tanya Vero kepada bawahannya itu kembali.
Walaupun data wanita yang dirinya lihat saat ini bisa dikatakan seorang sutradara baru. Tetapi dari data dirinya bisa terlihat, bahwa wanita tersebut merupakan lulusan terbaik dari sekolah penyutradaraan terbaik di dunia ini.
Jadi, Vero merasa aneh namanya belum menanjak naik karena memang Vero yang sering menjadi produser dari beberapa karya film dan series yang diproduksinya, tidak pernah mendengar namanya.
"Nona Vero tidak mengenali dirinya?" tanya bawahannya itu kembali, yang cukup bingung bahwa atasannya itu tidak mengenali siapa pihak yang sedang dirinya lihat data dirinya saat ini.
"Memangnya, siapa dirinya?" tanya Vero kemudian.
Tentu bawahannya itu tidak langsung menjawab perkataan dari atasannya itu, dan saat ini meminta izin kepadanya untuk menghidupkan televisi yang berada di ruangan atasannya itu. Tentu Vero hanya memperhatikan tindakan bawahannya itu saja.
Hingga akhirnya sebuah acara infotainment saat ini mulai muncul pada layar televisi yang sedang ditunjukan oleh bawahannya itu. Vero cukup terkejut melihatnya, karena wanita yang dirinya pegang data dirinya, saat ini sedang berada disaluran televisi yang sedang dirinya tonton tersebut.
“Berita tentang dirinya sedang hangat saat ini, Nona Vero” kata bawahannya itu.
Vero hanya mengangguk saja sambil menyaksikan acara itu lebih detail, untuk mencari tahu mengapa sang sutradara yang membuat Vero sangat penasaran, saat ini berada pada acara infotainment tersebut. Namun saat dirinya menyaksikan dan memahami tentang apa yang terjadi dengan wanita tersebut, dirinya mulai mendapatkan sebuah ide.
"Hmm... sepertinya aku bisa menggunakan dirinya juga, bagaimana menurutmu?"
__ADS_1