
Siapa yang menyangka, bahwa salah satu dari pihak yang cukup berpengaruh pada kelompok yang sedang menjalankan tugas mereka, saat ini dikhianati oleh salah satu pihak yang paling dekat dengan dirinya. Bahkan hasil penghianatan tersebut, membuat sebuah organisasi cukup sibuk saat ini.
Tentu hal itu juga yang membuat sebuah organisasi yang cukup sibuk itu, mulai melakukan tindakan pencegahan agar pihak yang berpindah pihak itu, tidak dapat menemukan semua hal yang sudah mereka rencanakan. Apalagi dengan tindakan cepat yang mereka lakukan, mereka berharap semua rencana yang mereka lakukan tidak akan tercium oleh pihak tersebut.
“Apakah anda yakin ini semua cukup, Tuan Loki?” tanya salah satu Vampire, kepada Dewa Nordik yang saat ini keberadaannya sudah dijadikan seorang buronan.
“Ya... aku rasa semua ini sudah cukup, untuk mencegah dirinya mencium keberadaan dan rencana kita” balas Loki.
Tentu siapa yang menyangka seorang yang paling dirinya percayai pada dunia ini akan berpindah pihak. Fenrir yang merupakan salah satu anak angkatnya, saat ini sudah sepenuhnya menjadi musuhnya. Karena bisa dipastikan, anak angkatnya itu sudah bersekutu dengan sebuah pihak, yang sampai saat ini Loki tidak mengetahui siapa sebenarnya pihak tersebut.
Apalagi dari laporan yang dirinya terima, bahwa benar anak angkatnya itu saat ini sedang membantu pihak yang membuatnya berpaling, karena pihak tersebut berhasil menemukan sebuah tempat dimana mereka mengurung beberapa pihak yang mereka culik.
“Apakah aku harus menyelidiki dimana Kakak pergi, Ayah?” tanya sebuah mahluk berbentuk ular, kepada Loki saat ini.
“Tidak perlu. Aku bisa menyelidikinya sendiri” balas Loki kemudian.
Memang sebenarnya merupakan ide bagus mengutus anak angkatnya itu mencari siapa sebenarnya yang membuat Fenrir berpaling darinya. Namun dirinya mulai khawatir jika anak angkatnya yang masih berada disisinya itu, juga akan berpindah pihak jika dirinya mengirimnya.
Apalagi hingga saat ini dirinya tidak memahami mengapa anak angkatnya bisa berpindah pihak dengan mudah, bahkan dirinya tidak mengetahui sosok pihak yang melakukan semua itu. Bahkan pihak itu mulai merusak semua rencananya, mulai dari menemukan markas Vampire dan menghancurkannya, hingga saat ini membuat anak angkatnya berpindah pihak.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ayah?" tanya sosok ular tersebut, kepada Ayah Angkatnya kembali.
“Kita lanjutkan saja rencana kita saat ini, dan pastikan persediaan darah yang kita butuhkan untuk rencana yang sudah aku susun akan tercukupi” balas Loki kemudian.
Disisi lain, bukan saja pihak Loki yang saat ini sudah bersembunyi pada sebuah tempat yang tersembunyi, yang mulai kerepotan dengan salah satu anak angkatnya yang berkhianat. Tetapi beberapa markas Vampire juga sangat sibuk memikirkan rencana mereka pada tempat persembunyian yang mereka tempati saat ini.
Khususnya para Vampire yang baru mendirikan markas baru pada Negara Indonesia. Setelah mereka mengetahui bahwa Fenrir berpindah pihak, mereka langsung tidak melanjutkan rencana mereka dan langsung melarikan diri untuk bersembunyi kembali.
“Untung saja kita meninggalkan para manusia itu, dan langsung kembali menuju tempat persembunyian kita” balas salah satu Vampire yang saat ini memang sedang bertugas pada markas rahasia mereka di Negara ini.
“Ya, aku tidak menyangka pihak sekuat Loki akan dikhianati oleh anaknya sendiri” balas seseorang lagi.
__ADS_1
Memang karena keberadaan Fenrir yang dipastikan berada di negara ini, tentu semua aktivitas Vampire yang dilakukan ditempat ini langsung dihentikan. Bahkan tugas mereka menculik beberapa orang, juga terpaksa tidak mereka lanjutkan kembali.
Maka dari itu, Zen saat ini bisa melacak semua korban penculikan para Vampire tersebut yang berada pada sebuah tempat, karena memang mereka meninggalkan para korban yang mereka culik pada tempat tersebut, untuk mengalihkan perhatian Zen sementara, agar mereka bisa bersembunyi saat ini.
“Lalu, belum ada kabar dari wanita bernama Alice itu?” tanya pemimpin mereka kemudian.
“Maafkan kami Tuan. Tetapi bisa dikatakan kita tidak bisa menemukannya. Bahkan aura pelacak yang pernah kita tanamkan didalam dirinya, juga menghilang” balas salah satu bawahannya.
“Cih... sialan!” teriaknya, karena memang semua rencana mereka bisa dikatakan kacau saat ini.
Alice merupakan sebuah pion penting, yang bisa digunakan oleh mereka untuk meraup keuntungan yang mereka dapatkan dari wilayah tempat mereka bertugas saat ini, karena dirinya merupakan salah satu pihak yang sangat terpengaruh di negara ini. Namun naasnya, mereka saat ini belum bisa menemukan keberadaan wanita tersebut.
Sebenarnya mereka bisa saja mengancam para orang-orang kaya dan penting di negara ini, untuk membantu mereka melanjutkan rencana mereka. Namun sayangnya, karena pergerakan mereka sudah terbatas saat ini, membuat mereka cukup kesusahan melakukannya.
Apalagi mereka memang baru datang ke negara ini, setelah markas mereka yang lama sudah dihancurkan oleh seseorang yang sampai saat ini mereka tidak ketahui sosoknya. Jadi, saat mereka ingin memulai kembali, terjadi sesuatu yang membuat mereka harus bergerak dengan ruang yang sangat terbatas saat ini.
“Lalu, bagaimana tanggapan Tuan Draco, Tuan?” tanya bawahannya kembali.
Mendengar nama pemimpin ras mereka disebutkan, orang yang memimpin para Vampire di negara ini mulai memijit keningnya karena dirinya juga mulai pusing menghadapi semua hal yang sedang terjadi. Apalagi pemimpin ras mereka itu, sepertinya mulai abai dengan kewajibannya.
“Sudahlah, lebih baik kita mencoba menemukan wanita itu, karena dirinya memegang kunci penting dari rencana yang kita lakukan di Negara ini” balas atasannya kembali.
“Baiklah, Tuan” balas beberapa bawahannya kemudian.
“Dan ingat, bergeraklah secara tersembunyi” balas atasan mereka kembali, dan mendapat anggukan dari mereka semua.
Bukan hanya organisasi Vampire saja yang sedang kacau, atas perbuatan anak angkat dari salah satu orang yang penting yang berada didalam organisasi mereka. Pada sebuah tempat, terdapat sebuah kekacauan juga, yang membuat pusing beberapa pihak saat ini.
Walaupun kekacauan tersebut tidak disebabkan oleh anak angkat dari Dewa Loki yang sudah mengkhianatinya, tetapi tempat tersebut sudah terasa amat sangat tidak kondusif karena satu dan lain hal. Apalagi seorang pria yang melihat kondisi tersebut, mulai emosi dibuatnya saat ini
“Kenapa kita tidak tabrak saja mereka semua?” tanya Zen yang kesal, saat dirinya menyaksikan beberapa pihak yang membawa kamera saat ini sedang menghadang mobil yang sedang ditumpanginya.
__ADS_1
“Jika kita menabrak mereka, aku yakin nama perusahaan milikku besok akan tinggal sebuah kenangan saja, Zen” balas Vero kemudian, yang mencoba menenangkan suami bayarannya itu saat ini.
Zen dan Vero saat ini sedang menuju perusahaan dimana mereka akan bekerja saat ini. Namun saat mereka akan memasuki area gedung perusahaan milik Vero, mereka saat ini sudah dihadang oleh banyak wartawan yang ingin mewawancarai Vero saat ini.
Tentu mereka ingin meminta tanggapan dari wanita tersebut, setelah sebuah wawancara ekslusif yang dilakukan oleh seorang pria, kembali membuat heboh beberapa pihak saat ini. Apalagi pemburu berita akan menggunakan hal tersebut, untuk mendapatkan sebuah keutungan. Maka dari itu, mereka ingin secara langsung mendapatkan sebuah tanggapan dari Vero saat ini.
“Hahh... aku tidak tahu, efek dari apa yang aku lakukan kemarin akan seheboh ini” ucap Vero kemudian.
“Cih... kalau begitu aku akan turun, dan menghalau orang-orang ini agar mereka bisa memberikan jalan pada mobilmu” ucap Zen kemudian, yang sudah merasa muak berdiam didalam mobil yang ditumpanginya sedari tadi.
Vero tentu ingin menghalangi Zen untuk melakukan itu, karena memang para wartawan yang sedang menghalangi mobil yang ditumpanginya memang bisa dikatakan sangat sadis. Mereka akan menggunakan berbagai cara agar mereka bisa mendapatkan liputan ekslusif terhadap Vero saat ini.
Jadi, dirinya tidak mau akan terjadi sesuatu yang buruk kepada Zen, saat mencoba menghalangi tindakan mereka. Namun Zen yang sebenarnya sudah muak berdiam diri didalam mobil, membuat tindakannya itu tidak sempat dihalangi oleh Vero karena dirinya sudah keluar dari dalamnya.
“Nona Veronica, beri tanggapan anda tentang perkataan Tuan Daniel?”
“Nona Veronica, apakah yang dikatakan Tuan Daniel benar?”
“Tolong beri tanggapan anda, Nona Veronica!”
Dan begitulah suara-suara yang bisa didengar oleh Zen, saat dirinya keluar dari dalam kendaraannya. Namun tanpa menghiraukan teriakan yang terus mereka lontarkan dan terkesan memaksa itu, Zen mulai memaksa balik kerumunan itu untuk beranjak dari kendaraan yang ditumpangi oleh Vero.
Tentu sebuah dorongan yang dilakukan oleh Zen saat ini, mampu membuat beberapa pihak mulai mundur sesaat. Walaupun setelah mereka mendapatkan dorongan dari Zen, mereka akan langsung mendekat lagi kearah mobil dari Vero. Tetapi untung saja pria yang mendorong kerumunan itu, entah mengapa seperti sebuah pagar yang menghalangi tindakan mereka saat ini.
Keberadaannya seakan tidak bisa digoyahkan. Bahkan banyaknya orang yang berada di sana tidak mampu membuat pria itu pindah dari tempatnya dan sedang melakukan tugasnya untuk menghalau keberadaan mereka. Bahkan saat ini kerumunan wartawan itu akhirnya mulai terbelah keberadaan mereka, hingga membentuk sebuah ruang.
“Majulah secara perlahan!” teriak Zen, kepada supir yang membawa mobil dari Vero, karena ruang yang dirinya ciptakan mampu untuk membuat mobil Vero untuk beranjak dari tempatnya.
Dengan perlahan mobil dari Vero mulai maju sedikit demi sedikit, untuk memasuki area parkir basemen dari perusahaan milik Vero. Bahkan para wartawan saat ini tidak bisa menghalanginya mobilnya lagi, karena keberadaan Zen saat ini cukup dominan untuk menghalangi mereka.
Apalagi petugas keamanan yang sedari tadi juga ikut kesulitan menghalau mereka, juga mulai membantu Zen agar kendaraan Vero bisa beranjak dari sana. Bahkan bisa dikatakan apa yang mereka lakukan saat ini, sudah membuahkan hasil, karena sedikit lagi mobil yang ditumpangi oleh Vero bisa terbebas dari tempatnya berada.
__ADS_1
Namun saat sedang asik menghalau orang-orang tersebut, Zen langsung menyadari sesuatu dan mencoba menghalangi sesuatu yang mencoba mendekati dirinya itu. Namun naas, karena memang dirinya cukup kerepotan menghalau kerumunan wartawan yang sedang dirinya halangi, membuat sebuah pisau saat ini sudah menancap dengan mulus pada bagian ulu hatinya.
“Ada yang tertusuk Pisau!”