
Santi saat ini sudah melihat sebuah surat perintah yang terletak di atas meja miliknya. Memang dirinya cukup terkejut mendapatkan surat seperti itu, apalagi dirinya juga tidak menyangka tentang isi yang tertulis didalamnya.
Baru dua hari dirinya mengalami hal yang membuatnya sangat terkejut, namun hari ini dirinya kembali dibuat terkejut dengan sebuah surat perintah untuk mengangkat dirinya menjadi kepala kepolisian dari Kota Malet tempat dirinya bertugas saat ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Santi yang masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Memang kepala polisi lama yang menjabat ditempat dirinya berkerja, entah mengapa tiba-tiba saja memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya dan bahkan memutuskan untuk keluar dari satuan kepolisian.
Santi cukup bingung dengan keputusan komandannya itu. Terlebih lagi saat dirinya menyerahkan surat pengunduran dirinya dan akan berpamitan kepada seluruh rekannya, komandannya itu terlihat sangat kacau dan seakan tidak memiliki gairah hidup.
“Apakah semua ini karena perbuatan para mafia itu?” gumam Santi kemudian yang menganggap bahwa semua yang sedang terjadi ini adalah perbuatan dari orang yang bersamanya dua hari yang lalu.
Memang saat ini Santi akan menganggap Zen dan orang-orang yang bersamanya sebagai anggota dari sebuah organisasi mafia karena tindakan mereka tempo hari. Karena dirinya menganggap Zen sebagai mafia, jadi dirinya berfikir apa yang dirinya terima saat ini adalah ulah dari perbuatannya.
“Tidak mungkin. Dirinya tidak mungkin melakukan ini semua bukan?” balas Santi yang mencoba menyangkal semua pemikirannya itu.
Memang posisi Santi ditempat ini cukup tinggi dari anggota-anggota yang lainnya. Namun karena dirinyalah yang mempunyai banyak prestasi, akhirnya dirinya ditunjuk menggantikan kepala kepolisian tempat ini. Jadi pemikiran Santi tentang Zen yang membuat dirinya menjadi kepala polisian adalah salah, kecuali tentang kondisi komandannya.
Sebenarnya Santi cukup senang dengan kenaikan pangkatnya saat ini, namun dirinya masih merasa terganggu dengan keadaan yang membuatnya menjadi seorang pemimpin kepolisian. Apalagi dirinya merasa aneh dengan sikap komandannya yang tiba-tiba bersikap aneh dan keberadaannya sudah tidak bisa ditemukan kembali hingga saat ini.
“Hahh... tetapi mengapa pelantikannya harus di Jakarta” ucap Santi yang merasa kesal bahwa dirinya harus kembali ketempat dirinya menjalani tugas pertamanya saat baru menjadi anggota kepolisian
Santi memang ditugaskan pertama kali di Ibukota dan akhirnya dipindahkan menuju beberapa daerah, hingga dirinya saat ini akan menjabat sebagai kepala kepolisian di Kota Malet ini. Cukup malas memang dirinya untuk kembali ke sana, apalagi saat itu dirinya mempunyai kenangan kelam di kota tersebut.
__ADS_1
“Kuharap saat aku berada di sana, pria brengsek itu sudah dipindah tugaskan” gumam Santi yang merasa kesal saat dirinya mengingat masa lalunya.
Namun saat sedang asik melamun, dirinya dikejutkan dengan seorang anggota kepolisian yang meminta beberapa berkas dari Santi, yang dimana berkas tersebut berisi tentang keterangan kasus yang diselidikinya, termasuk tiga kasus yang berhubungan dengan Zen.
“Sepertinya kejadian ini terbongkar karena keserakahan beberapa pihak. Bukan begitu kapten?” ucap bawahan Santi setelah dirinya membaca sejenak berkas yang diberikan kepadanya oleh Santi.
“Yap... maka dari itu, tidak akan ada kejahatan yang akan menang” balas Santi kemudian.
Memang Santi dengan sengaja membuat beberapa perubahan dari laporan tentang kasus yang diselidikinya dengan membuat orang yang dibantai oleh Zen pada kediamannya yang megah itu untuk menjadi seorang tersangka dari kasus yang diselidiki olehnya.
Santi mengubah kasus itu menjadi sebuah pertikaian perebutan kekuasaan dari beberapa pihak, dan menyebabkan beberapa korban jiwa termasuk apa yang tejadi dari tiga kasus yang diselidiki oleh Santi. Dengan laporan tersebut, akhirnya Santi membuat orang yang dibunuh Zen malam itu menjadi tersangka utama dari semua kejadian yang sudah terjadi.
"Bawalah, serahkan semuanya berkas ini kepada jaksa yang akan mengusut lebih lanjut kasus ini" ucap Santi kepada bawahannya.
“Mark Talon, siapa menyangka pengusaha seperti dirinya akan melakukan semua hal yang keji ini” kata bawahannya itu kembali setelah membaca sejenak berkas yang diterima olehnya.
“Ya.. dan juga berhati-hatilah dalam menjalani tugasmu, karena ada seorang lagi yang lebih berbahaya dari pria keji tersebut” ucap Santi kemudian yang mulai menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang dia duduki.
“Berbahaya? apakah ada orang yang lebih keji dari orang ini Kapten?” tanya bawahannya itu kembali.
“Ya. Dan dirinya sangat-sangat berbahaya” gumam Santi kemudian.
Santi memang sudah memutuskan untuk menyembunyikan semua fakta tentang keikutsertaan Zen dalam ketiga kasus tersebut, dan membuat pria yang dibunuh Zen dimalam saat dirinya membantai seluruh orang pada sebuah mansion bersama Santi, menjadi kambing hitam dari ketiga kasus tersebut.
__ADS_1
Bukannya Santi tidak ingin menjerat Zen kedalam hukum, tetapi nampaknya dirinya akan kesusahan melakukannya setelah melihat tindakan Zen dua hari yang lalu. Tentu dirinya tidak mau mencari masalah yang sangat serius kepada Zen dan mengakibatkan beberapa orang akan menjadi korban dari tindakan yang diambil olehnya.
“Lagipula, orang berbahaya itu hanya akan bergerak jika memang ada yang mengusik ketenangannya. Jadi kita masih bisa tenang saat ini” gumam Santi kemudian.
Walaupun Santi tidak membenarkan tindakan dari Zen, tetapi entah mengapa Zen seperti orang yang akan selalu melindungi siapapun yang ingin dilindungi olehnya, dan tidak asal melakukan kejahatan karena dirinya suka.
Apalagi Zen sudah menceritakan semua kebenaran tentang kejadian yang sebenarnya dari ketiga kasus yang dilakukannya. Walaupun Santi hanya menerima saja perkataannya, karena memang Santi masih bingung cara membedakan Zen berbohong atau tidak.
“Ya.. setidaknya kalau aku membutuhkan bantuan, dirinya akan membantuku” Ucap Santi kemudian yang mulai beranjak dari kursinya dan hendak mencari angin segar.
Disisi lain, orang berbahaya yang sedang dibicarakan oleh Santi, saat ini merasakan bahwa telinganya sedikit gatal. Namun karena dirinya sedang melayani pelanggan, akhirnya dirinya urungkan untuk menggaruknya dan mencoba menahan rasa gatalnya itu.
“Terima kasih sudah berbelanja ditempat kami” begitulah perkataan Zen setelah pelanggan yang baru saja membayar semua belanjaannya mulai beranjak dari tempatnya.
“Hahh... mengapa sedari tadi telingaku sangat gatal” gumam Zen kemudian yang mulai menggaruk telinganya dan mulai duduk di kursinya lalu bersiap melakukan ritualnya.
Hening, begitulah yang sedang dirasakan oleh Zen saat ini. Walaupun suara televisi yang sedang menayangkan sebuah acara gosip bisa didengar dengan sangat jelas ditempat itu, namun Zen tetap merasa tempat ini cukup hening.
Memang saat ini hanya Zen saja yang bekerja dibalik meja kasir pada tempatnya bekerja, karena beberapa rekannya saat ini bertugas untuk mengatur persediaan dan perlengkapan barang pada mini market tempat dirinya berkerja.
Apalagi, pihak mini market tempat Zen bekerja belum memperkerjakan beberapa pegawai baru untuk menggantikan tugas dari Angel, dan memang tidak berniat mencari pegawai lain lagi, karena pemilik mini market ini memperkerjakan Angel sebenarnya karena dirinya merasa kasihan dengan keadaannya.
“Ah... benar juga, bukankah seminggu lagi aku harus berada di Bali?” gumam Zen yang sudah mengingat janjinya kepada adiknya yang memintanya untuk pergi ke Bali dan memeriksa sesuatu di sana.
__ADS_1
“Hmmm... kalau begitu aku akan meminta cuti saat pulang kerja nanti”