
Zen, Kelly dan Kileni saat ini sudah berjalan keluar dari dalam area Timezone dan saat ini mulai menuju area tempat makan. Dengan memilih sebuah kedai makanan cepat saji yang paling populer, keberadaan mereka yang seakan seperti sebuah keluarga utuh saat ini mulai memasuki tempat itu dan siap untuk makan.
Bisa dikatakan jika beberapa pihak yang melihat keberadaan mereka saat ini, akan menganggap mereka merupakan sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia. Apalagi bisa dilihat mereka sudah saling bercanda gurau dan terlihat amat sangat akrab satu sama lainnya pada tempat itu.
Bahkan perilaku mereka sangat mirip seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Hal itu terlihat disaat Zen sangat perhatian kepada Kileni dan Kelly, seolah-olah dirinya merupakan suami yang sangat baik bagi Istri dan Putrinya yang saat ini sedang bersamanya.
"Baiklah, ayo cuci tanganmu dulu" Hingga Zen yang masih menggendong Kileni saat ini membantu gadis kecil itu untuk mencuci tangannya, sebelum mereka menyantap makanan mereka.
Zen dan Kelly dengan telaten merawat sosok Kileni yang saat ini bisa dikatakan harus dibantu untuk melakukan persiapan sebelum mereka akan makan siang di sana. Hingga akhirnya mereka bertiga mulai menduduki tempat dimana mereka akan menyantap makanan mereka ditempat tersebut.
Dan begitulah kegiatan mereka sebelum mereka mulai duduk ditempat mereka dan bersiap untuk menyantap makanan yang sudah mereka pesan. Apalagi Kileni yang terlihat bersemangat saat ini mulai memakan makanannya dengan sangat lahap.
Kelly juga sudah tidak merasa canggung lagi. Bahkan dirinya merasa bahagia saat ini, karena hubungannya dengan Zen bisa dikatakan sudah resmi, hanya tinggal menunggu Vero saja untuk melanjutkan tahap selanjutnya dari hubungan mereka nantinya.
Jadi, sikapnya saat ini sudah menunjukkan bahwa dirinya merupakan wanita dari Zen, bahkan sesekali mereka berdua mulai menunjukkan kemesraan mereka dengan mulai bercanda gurau dan membuat mereka terlihat seperti pasangan yang sangat bahagia saat ini.
"Lalu, apakah Papa tidak berniat membuat Ibu kandung Kileni menjadi Istri Papa juga?" hingga pertanyaan polos dari gadis kecil itu, mulai memecahkan keheningan sesaat yang terjadi pada meja tempat mereka berada, karena memang mereka sedang menikmati makanan mereka masing-masing.
Mendengarnya, tentu Zen hanya tersenyum saja mendengarkan perkataan dari gadis kecil yang dirinya panggil sebagai gadis kecil Pengganggu itu. Apalagi dirinya sepertinya menanyakan pertanyaan itu, karena memang gadis kecil itu sama sekali tidak paham tentang permasalahan sebuah hubungan yang akan terjadi jika Zen benar-benar menikahi Ibu kandungnya.
Memang apa yang dirinya katakan itu tidaklah mudah untuk diwujudkan, jika memang Zen benar-benar menginginkannya. Tentu sebagai seorang yang berambisi, Zen tidak akan menolak jika Ibu dari gadis kecil itu ingin menikah dengan dirinya.
Namun masalahnya, Ibunya sama sekali belum membuka apapun menyangkut tentang perasaannya kepada Zen. Jadi bisa dikatakan Zem tidak akan mempunyai tujuan untuk melakukan hal tersebut, karena menurut Zen akan percuma saja jika dirinya menikah bukan karena memiliki perasaan satu sama lainnya.
Apalagi Zen tidak ingin lagi hidup seperti di Neraka, yang dimana dirinya akan menikah dengan sesuka hatinya. Dan juga, dipastikan Istri-istrinya kelak tidak akan setuju jika Zen menikah dengan sembarang orang, kecuali memang mereka mulai membuka berkah sebuah ikatan atas hubungan mereka dengan Zen.
Maka dari itu, Zen tidak langsung menjawab perkataan gadis kecil itu dan akan memberikan dirinya sebuah pengertian, bahwa akan sangat susah jika memang Zen ingin mewujudkan keinginan gadis kecil menggemaskan itu, karena hal itu tidak akan semudah kelihatannya.
"Ayah tidak tahu. Tetap-" namun belumlah Zen menyelesaikan kalimatnya, dirinya mulai merasakan sesuatu yang aneh saat ini.
Sebuah aura pemilik kekuatan bisa Zen rasakan dengan sangat jelas saat ini. Apalagi pemilik kekuatan itu sepertinya memang sengaja mengeluarkan kekuatan mereka dengan bebas, seakan mereka sedang memberitahu bahwa mereka sedang melakukan tindakan yang buruk di wilayah ini.
Maka dari itu, Zen saat ini mulai memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi, karena aura yang dirinya rasakan itu bisa dirinya rasakan dengan sangat kuat, dan bisa dikatakan ada aura negatif yang mengikuti aura tersebut, sehingga bisa dipastikan secara pasti bahwa pihak yang mengeluarkan aura tersebut memang sedang melakukan sesuatu yang buruk.
__ADS_1
"Ayah..." hingga Zen yang masih menatap kesebuah arah, saat ini mulai dikejutkan dengan tingkah laku Putrinya yang terlihat kebingungan dengan sikapnya, apalagi dirinya menghentikan perkataannya tadi.
Dengan pandangannya saat ini mulai menatap kesebuah arah, saat ini sikap dari Zen itu memang membuat bingung kedua wanita yang saat ini bersamanya. Hingga Zen mulai menepuk ringan kepala Kileni dan seakan ingin beranjak dari sana menuju kesebuah tempat.
"Ayah ada urusan sebentar. Jadi, untuk sementara kamu menghabiskan waktumu bersama Tante Kelly, oke" Ucap Zen yang terlihat buru-buru untuk beranjak dari sana.
Kileni cukup kebingungan dengan sikap Ayahnya. Namun karena pria itu terlihat terburu-buru, membuat Kileni hanya mengangguk saja menjawab perkataan sosok yang sudah dirinya anggap sebagai Ayah tersebut. Apalagi dengan mengusap lembut kepalanya, saat ini Ayahnya itu mulai beranjak dari sana.
Tetapi sebelum pergi, tentu saat ini Zen langsung menatap sosok Kelly yang memang juga cukup kebingungan dengan sikap dari calon suaminya itu. Maka dari itu, dirinya seakan menatap Zen sambil meminta penjelasan kepada dirinya saat ini.
"Kelly, tolong temani dirinya makan. Dan jika dirinya masih ingin berjalan-jalan kamu bisa menemaninya, oke" hingga saat ini Zen mulai berbicara kepada Kelly yang juga cukup kebingungan dengan sikapnya.
"Memangnya kamu mau kemana, Zen?" ucap wanita itu namun hanya dibalas sebuah usapan lembut pada kepalanya saat ini.
"Aku ada urusan. Jika aku belum juga kembali, pastikan untuk mengantarkan Kileni pulang, oke" dan begitulah ucapan Zen yang saat ini sudah menarik kembali tangannya dari kepala Kelly dan mulai beranjak dari tempatnya.
Bisa terlihat Zen mulai terburu-buru keluar dari sana. Dengan sosoknya yang sudah beranjak dan menghilang dari pandangan kedua pasangan Kelly dan Kileni itu, membuat meja tersebut hanya menyisakan mereka berdua saja yang berada di sana.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadamu, Zen" Dan begitulah ucapan Kelly, yang saat ini mulai menemani Kileni untuk menyantap makannya kembali.
Disisi lain Zen yang mulai memasuki salah satu bilik toilet, saat ini mulai menggunakan mode kamuflasenya di sana sebelum dirinya mulai benar-benar beranjak dari sana. Tentu Zen masih bersikap hati-hati saat ini, karena memang akan sangat aneh perilakunya yang akan menggunakan kekuatannya akan dilihat oleh beberapa pihak.
Dengan sudah berada pada mode kamuflasenya, Zen saat ini mulai melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju kesebuah tempat. Hingga akhirnya sebuah mansion besar saat ini sudah menyambut kedatangannya ditempat tujuannya tersebut.
Zen mulai berhenti tepat didepan gerbang dari mansion yang sangat besar tersebut, hingga pandangannya saat ini mulai memandang para penjaga yang menjaga kediaman itu yang sudah tergeletak tak bernyawa di tanah. Melihat itu, tentu Zen mulai menghindari mayat-mayat tersebut dan mulai memasuki mansion yang dirinya datangi tersebut.
Dengan langkahnya yang perlahan dan saat ini mulai mengawasi keadaan sekelilingnya, saat ini dirinya semakin dalam memasuki area mansion yang dirinya datangi itu, hingga Zen mulai merasakan sebuah serangan mulai mengarah kearah dirinya.
Tentu Zen mulai menghindar dari sebuah serangan yang berbentuk anak panah tersebut, hingga saat ini panah tersebut mulai menancap dengan mulus di atas tanah saat ini, dan Zen mulai melihat siapa yang berani-beraninya menembakan sebuah anak panah kearahnya.
Namun tidak sampai di sana saja serangan yang dirinya terima berhenti. Sebuah unsur api dari sebuah skill saat ini mulai menerjang dirinya. Tetapi dengan sigap Zen kembali menghindari serangan tersebut, hingga sebuah sosok manusia dengan kecepatan yang bisa dikatakan sangat cepat mulai mendekat dan akan menyerang Zen secara langsung.
Melihat kedatangannya, Zen hanya memberikan senyum mengejek kepada pihak yang akan menyerangnya itu. Hingga tangannya saat ini mulai menangkap dengan mudah sebuah serangan yang pihak itu arahkan kepada Zen yang masih tersenyum mengejek karena lemahnya serangan yang dirinya terima itu.
__ADS_1
"Hehh... para Kultivator ya..." dan begitulah gumaman Zen disaat tangannya mulai menangkap sebuah serangan tendangan dari sosok tersebut dan bersiap memberikan sebuah serangan balik kepadanya.
Tentu pihak yang menyerang Zen cukup terkejut melihat serangannya dengan mudah dihentikan oleh Zen. Namun yang lebih membuat terkejut atas kejadian itu, tanpa pandang bulu saat ini Zen langsung memutuskan kaki dari pihak yang menyerangnya itu.
Pria itu tentu langsung tersungkur, karena pijakan yang dirinya gunakan untuk berdiri sudah terpisah dari tubuhnya. Bahkan tanpa pikir panjang, Zen langsung menginjak kepala dari sosok yang menyerangnya itu, yang baru saja tersungkur atas perbuatannya dan langsung menghancurkan kepalanya.
Melihat itu, beberapa pihak yang memang akan mengepung Zen dan akan menyerang dirinya mulai menghentikan tindakan mereka. Apalagi melihat sosok Zen yang seakan sangat mudah untuk membunuh seseorang yang berani-beraninya mencari masalah dengannya.
Semua pihak yang berada di sana tentu saja terkejut, namun mereka lebih terkejut disaat sebuah kubah tak kasat mata saat ini mulai mengisolasi wilayah dari mansion tersebut. Memang bukan Zen yang melakukan semua itu, hingga akhirnya sosok berpakaian serba hitam saat ini mulai mendekat kearah sosok Zen.
"Hahh... sepertinya aku harus lembur lagi Tuan. Karena ada banyak kematian yang bukan dari tatanan nasib saat ini terjadi ditempat ini" ucap sosok tersebut yang ternyata merupakan Bari, yang menyusul sosok Zen karena dirinya juga merasakan aura yang dirasakan oleh Tuannya tadi.
"Yang sabar, Bari. Memang kecoa-kecoa ini harus kita musnahkan menggunakan rasa kekesalan yang sedang dirimu rasakan saat ini." balas Zen yang menyemangati bawahannya yang harus menyelesaikan sebuah tahap kematian tidak wajar yang terjadi ditempat ini.
Memang saat ini kematian beberapa pihak yang berada ditempat ini disebabkan oleh pihak yang seharusnya tidak melakukan pembunuhan dengan asal. Apalagi mereka seakan percaya diri untuk membunuh beberapa pihak tanpa takut konsekuensi dari apa yang mereka lakukan itu akan mendatangi mereka.
Tentu pemilik kekuatan tidak boleh asal menggunakan kekuatan mereka dengan sembarang, khususnya untuk membunuh manusia. Karena jika mereka melakukan itu, beberapa pihak boleh ikut campur dalam membasmi mereka seperti apa yang akan dilakukan oleh Zen saat ini.
Apalagi mereka seakan menunjukkan kekuatan mereka secara terang-terangan dalam membunuh beberapa pihak yang berada disini. Tidak seperti beberapa pihak yang memang menggunakan kekuatan yang mereka gunakan untuk bertindak, dengan cara menyembunyikan kekuatan mereka agar tidak ketahuan saat menggunakannya.
"Dan berhati-hatilah, Bari. Didalam kediaman itu sepertinya ada pihak yang cukup kuat didalamnya" dan begitulah ucapan Zen yang memperingati bawahannya kembali.
Tentu Zen belum mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh para Kultivator ditempat ini. Apalagi mereka sampai membantai beberapa pihak membabi buta, hingga mengeluarkan aura yang bisa memancing beberapa pihak datang ketempat ini, termasuk salah satunya Zen dan Bari yang sudah berada ditempat ini.
Hingga saat ini di sekitar area mansion tersebut yang bisa dikatakan luas, Zen dan Bari saat ini mulai dikepung dengan beberapa pihak yang merupakan Kultivator, apalagi setelah Zen membunuh salah satu rekan mereka dengan sangat mudah tadi dan saat ini mereka mulai waspada.
Memang mereka sempat menghentikan tindakan mereka sementara, setelah Zen membunuh salah satu rekan mereka dengan mudah. Namun sepertinya kepercayaan diri mereka mulai kembali lagi, dan saat ini mereka mulai mengepung keberadaan Zen dan Bari yang masih berdiri dengan tenang ditempat mereka berada.
Namun sebelum pertarungan yang akan terjadi di sana antara Zen dan bari melawan semua Kultivator yang mengepung mereka akan dimulai, dari dalam kediaman besar yang berada dihadapan mereka, saat ini beberapa pria mulai keluar dari sana.
Salah satu dari mereka, bisa dikatakan sudah menyeret seseorang yang kondisinya sangat mengenaskan saat ini. Dengan dirinya menyeretnya dengan menjambak rambut dari sosok yang dirinya seret itu, pria itu mulai menghadapkan pandangan pria yang dirinya seret itu kearah sosok Zen yang masih berdiri dengan tenang ditempatnya itu.
"Apakah dia?"
__ADS_1