Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Goa


__ADS_3

Tentu Amaterasu harus beranjak dari sana, karena memang terlihat sebuah pedang terkutuk bagi para Dewa, saat ini sudah berpindah tangan. Apalagi Amaterasu tahu, bahwa pria yang memegang pedang itu mungkin mempunyai sentimen terhadap para Dewa.


“Sial, sepertinya barier yang mengisolasi tempat ini, membuat jalur teleportasi kita terputus Dewi” ucap anak buah Amaterasu kepada dirinya, setelah mereka gagal untuk membuka portal teleportasi mereka ditempat ini.


Tentu Zen menyuruh Bari untuk tidak membiarkan seorangpun berhasil melarikan diri dari tempat ini, termasuk Amatersu beserta anak buahnya. Maka dari itu, saat ini semua orang yang berada ditempat ini akan terisolasi dan tidak bisa berbuat apapun untuk melarikan diri dari tempat ini.


Sebenarnya barier yang dibuat oleh Bari seharusnya bisa dihancurkan dengan mudah oleh Amaterasu. Tetapi karena barier itu sudah disempurnakan oleh Zen saat Bari selesai membuatnya, membuat semua pihak yang berada di sana tidak dapat menghancurkannya, apalagi melarikan diri dari barier yang masih mengurung mereka ditempat mereka berada saat ini.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan Dewi?” tanya bawahannya yang saat ini sudah sangat kebingungan dengan situasi yang sedang mereka alami.


“Cih... aku juga tidak tahu harus melakukan apa” Balas Amaterasu yang juga mulai kebingungan dengan situasi yang sedang dirinya hadapi bersama bawahannya itu.


Memang Amaterasu hanya berharap, bahwa pria yang menyerang para Vampire dengan membabi buta tersebut, tidak akan mencari masalah dengannya. Apalagi bisa dilihat salah satu dari mereka dipastikan bisa mengalahkan dirinya dengan sangat mudah.


Tentu saja karena sebuah pedang pemusnah Dewa yang sudah berpindah tangan, membuat dirinya saat ini dan bawahannya was-was, karena dirinya tidak mengetahui apakah pria yang memegang pedang tersebut merupakan musuhnya atau tidak.


“Tetapi siapa pria itu Dewi, apakah anda mengenalnya?” tanya bawahannya kembali.


“Sepertinya” balas Amaterasu singkat, yang kembali menatap pertarungan yang sedang terjadi itu.


Disisi lain, saat ini Bari sedang melawan beberapa pihak dengan sangat amat ganas. Tentu melawan Vampire rendahan dan beberapa pemilik setengah darah dari mereka cukup mudah bagi Bari. Jadi pertarungan itu dapat dimenangkan dengan mudah oleh dirinya.


Sedangkan Zen, saat ini pedang yang baru saja dirinya rebut tadi dari tangan musuhnya, sudah menebas dengan mulus seseorang lagi, yang merupakan pemimpin Vampire ditempat ini. Memang karena pedang yang dirinya pegang saat ini merupakan pedang yang sangat bagus, membuatnya lebih mudah mengalahkan mereka.


Bahkan dirinya cukup puas dengan senjata yang saat ini akan menjadi miliknya itu, karena tanpa mengeluarkan kekuatan yang banyak, dirinya dengan mudah mengalahkan beberapa musuh yang sedang dilawannya saat ini.


“Baiklah, sisa dirimu sendiri saja sepertinya” ucap Zen kemudian, yang menatap seorang Vampire yang sudah berdiri tidak bedaya pada tempatnya.


Rencananya sepenuhnya gagal, lalu kedua adiknya sudah tewas yang dimana salah satunya tewas melindungi dirinya tadi. Dan saat ini seluruh tubuhnya sudah terluka parah, dan pria didepannya sudah menatapnya dengan tatapan seakan sudah bersiap mengambil nyawanya.


“Mark Talon, mengapa kamu mencari masalah dengan monster seperti ini” ucapnya, disela-sela kematiannya yang akan tiba sebentar lagi.

__ADS_1


Tentu, siapa yang menyangka bahwa ada seorang pria yang sebenarnya tidak masuk dalam radar orang yang harusnya mereka waspadai, sekarang malah sudah menghancurkan hampir seluruh kaum Vampire yang berada ditempat ini.


Apalagi, mereka memang tidak mengetahui identitas asli dari pria yang menyerang mereka saat ini, karena memang pria itu menyembunyikan dengan rapi identitasnya, hingga siapapun tidak akan mengetahui tentang dirinya, kecuali jika memang dirinya yang memberitahukannya secara langsung kepada mereka.


Bahkan mereka tidak bisa mengenali jenis aura yang dikeluarkan oleh monster tersebut, dan membuat mereka tidak mengetahui apakah pihak itu pemilik kekuatan, dewa atau sebagainya, karena memang auranya sangat susah diidentifikasi oleh mereka.


“Baiklah, karena aku sangat sibuk, mari akhiri pertempuran ini” ucap Zen yang sudah mengangkat pedangnya, dan mulai menebaskannya tepat dileher dari pria yang menatapnya dengan tatapan yang pasrah.


Dan begitulah suara kepala yang mulai menggelinding mulai terdengar, setelah Zen selesai melakukan pembantaian yang dilakukan olehnya. Setelah suara tubuh tanpa kepala juga mulai terdengar, akhirnya Zen mulai menatap area sekitar dan menemukan bawahannya juga hampir selesai melakukan tugasnya.


“Kamu sangat lama Bari” ucap Zen kemudian yang mulai mendekat kearah bawahannya itu, sambil menatap seorang Vampire yang selalu dirinya awasi, sudah terkapar tak berdaya di atas tanah.


“Maafkan saya Tuan. Tetapi saya bertarung sambil menonaktifkan tehnik yang mereka gunakan, dan hal itu yang membuat saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mengalahkan mereka” balas Bari.


Memang Zen sudah memberitahu tehnik peledak darah yang dirinya lihat pada tubuh para Vampire yang berada disini kepada Bari. Jadi Bari sudah mewaspadai tehnik tersebut, dengan menonaktifkan tehnik tersebut, setelah dirinya mengalahkan para musuh yang dilawannya.


“Lalu, apakah pria ini kita lepaskan kembali Tuan?” tanya Bari sambil menatap manusia setengah Vampire yang sudah terluka sangat parah, dan sudah terbaring tidak berdaya di atas tanah.


“Sudahlah, habisi saja dirinya” balas Zen.


"Baiklah Tuan" Balas Bari yang saat ini sudah meletakkan telapak kakinya di atas tubuh dari Vampire yang sudah tak berdaya tersebut.


Bari tanpa basa-basi langsung membunuh Vampire yang sudah tidak berdaya itu dan menewaskannya seketika, dengan langsung menginjak bagian dadanya dan langsung menghancurkan jantungnya menggunakan kakinya. Hingga begitulah akhir dari organisasi Vampire di Negara ini berakhir.


“Mereka sudah menghabisi para Vampire yang berada disini Dewi” ucap salah satu dari bawahan Amaterasu yang melihat semua Vampire yang seharusnya mereka lawan ditempat ini, semuanya sudah tewas mengenaskan.


Amaterasu juga hanya diam saja mendengar perkataan bawahannya, karena dirinya saat ini masih berfokus untuk melihat gelagat dari Zen, untuk mengetahui apakah dirinya akan menyerang dirinya atau tidak. Apalagi dirinya tahu, semua adik-adiknya telah dibunuh oleh para Dewa, termasuk Dewa dari faksi miliknya.


Tetapi apa yang dirinya bayangkan itu tidak terjadi, karena memang Zen dan bawahannya seakan tidak memperdulikan keberadaan mereka saat ini. Karena sepertinya, pria tersebut seakan hanya memfokuskan dirinya dalam menyelesaikan urusannya dengan para Vampire yang berada ditempat ini saja.


“Lalu, apakah kita kembali sekarang Tuan?” tanya Bari kemudian, setelah dirinya sudah tidak merasakan lagi aura Vampire yang ada ditempat ini.

__ADS_1


“Jangan dulu. Lebih baik kita porak-porandakan tempat ini terlebih dahulu” balas Zen.


Memang beberapa bangunan yang berada ditempat dirinya berada masih berdiri dengan kokoh, karena tidak masuk dalam wilayah pertempuran. Jadi Zen memutuskan untuk meluluhlantahkan tempat ini, dan meratakannya menjadi abu.


Apalagi dirinya tidak ingin tempat ini menjadi sebuah tempat baru, dari beberapa kriminal yang akan memanfaatkan tempat ini dimasa depan dan akan membuatnya kembali kerepotan untuk memusnahkan mereka kembali.


"Baiklah Tuan" ucap Bari yang sudah bersiap melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.


Tetapi disisi lain, Amaterasu yang mendengar percakapan dari Zen dan Bari cukup bingung, karena sepertinya pria itu benar-benar tidak menghiraukannya, bukan seperti yang diperkirakan oleh Amaterasu. Namun pemikirannya itu terpaksa harus dirinya hentikan, karena saat ini dirinya mulai menyadari sesuatu dan mencoba untuk mencegah tindakan dari Zen dan Bari selanjutnya.


“Tunggu Tuan Sloth!” teriak Amaterasu kemudian yang menyusul keberadaan Zen yang memberanikan dirinya, setelah dirinya tidak sengaja mendengarkan percakapannya dengan bawahannya tadi.


Tentu bawahan dari Amaterasu juga kebingungan dengan perilaku Dewi mereka, yang berani-beraninya menghampiri seorang yang menurut mereka bisa saja melenyapkan Dewi mereka saat itu juga. Bahkan saat ini Dewi mereka sudah berdiri dihadapan dari pria yang mereka maksud tersebut.


Zen yang tindakannya kembali dihalangi oleh seseorang mulai menghentikan tindakannya, karena seorang wanita kembali menghalangi langkahnya. Tentu dirinya sangat jengkel sekarang, karena merasa semua tindakan yang akan dilakukan oleh dirinya, seakan terus dihadang oleh seorang wanita.


“Bisakah biar kami saja yang membereskan tempat ini, Tuan Sloth?” ucap Amaterasu kepada Zen, setelah dirinya berhasil menghalangi tindakan yang akan dirinya lakukan pada tempat ini.


Tentu bukan tanpa alasan Amaterasu menghalangi apa yang ingin dilakukan oleh Zen pada tempat ini. Karena sebenarnya dirinya juga sedang menyelidiki seluruh organisasi Vampire yang sedang membuat masalah dengan pihak Dewa Sinto.


Jadi saat dirinya melihat bahwa Zen tidak ingin mencari masalah dengannya seperti apa yang dirinya pikirkan, dirinya memutuskan agar dirinya bisa menyelidiki tempat ini lebih jauh untuk mencari semua informasi yang dirinya butuhkan, untuk menemukan beberapa markas cabang dan markas pusat dari organisasi Vampire di dunia ini.


Apalagi cukup sulit memang menemukan markas cabang yang lainnya, dan membuat mereka memutuskan untuk mencari informasi apapun yang berada disini, untuk setidaknya mendapatkan informasi apapun yang mereka butuhkan untuk dapat menemukan keberadaan markas mereka.


“Hm.. siapa dirinya Bari? Aku hanya bisa merasakan bahwa dirinya merupakan salah satu Dewa” balas Zen yang memang tidak mengenali wanita yang menghalanginya.


Memang Zen masih bisa merasakan aura Dewa yang dikeluarkan oleh wanita didepannya. Tetapi tentu saja dirinya tidak bisa untuk mengidentifikasi identitas dari wanita yang sedang menghalangi langkahnya tersebut. Karena memang Zen hanya mengetahui bahwa wanita didepannya mempunyai sebuah aura Dewa saja.


“Ah... dirinya merupakan Dewa dari Faksi Dewa Shinto, Dewi Amaterasu Tuan” balas Bari menjawab pertanyaan Tuannya.


Tentu Amaterasu cukup terkejut bahwa dirinya tidak dikenali oleh pria yang dirinya hadang itu. Karena memang, selain dirinya merupakan seorang Dewa, dirinya juga merupakan seorang Putri dari Kerajaan Jepang.

__ADS_1


Wajahnya juga sering muncul dimana-mana, jadi cukup aneh jika beberapa orang saat ini tidak mengenali dirinya, yang merupakan seorang tuan putri dari sebuah kerajaan yang cukup besar di dunia ini.


“Anda tidak mengenali saya?”


__ADS_2