Ex-Harem Lord

Ex-Harem Lord
Pada Saat Itu


__ADS_3

Sebuah istana yang megah yang berada di atas awan saat ini didatangi oleh seorang pria yang memang akan mengunjunginya. Dengan langkah yang terlihat melangkah menaiki tangga menuju istana tersebut, bisa dilihat seorang pria saat ini sangat santai berjalan memasuki area Istana tersebut.


Burung-burung saat ini berterbangan disekitar pria itu seakan sedang menyambut keberadaan dirinya di sana. Hingga akhirnya langkah kaki tersebut sudah tiba didepan pintu dari Istana yang berada di atas awan itu dan saat dirinya sudah berdiri didepannya, pintu istana tersebut tiba-tiba saja terbuka.


Melihat pintu tersebut sudah terbuka, pria yang disambut dengan burung-burung yang berterbangan disampingnya mulai memasuki tempat tersebut, hingga setelah dirinya masuk kedalamnya bisa dikatakan pintu tersebut langsung tertutup dengan rapat sehingga pria itu mulai menghilang dari baliknya.


Pria itu langsung memasuki istana itu semakin dalam, hingga dirinya menuju ke salah satu kamar yang berada pada istana tersebut, dan dirinya sudah tiba tepat didepan pintu kamar yang dirinya tuju. Memang untuk kali ini dirinya tidak langsung masuk kedalamnya, dan mulai berhenti tepat didepan pintu tersebut.


"Ayah, ini aku" dan begitulah ucapan Zen yang saat ini meminta izin Ayahnya untuk memasuki kamar pribadinya.


Namun anehnya, tidak ada jawaban apapun yang dirinya terima dari dalamnya. Tentu hal itu membuat Zen bingung karena tidak seperti biasa Ayahnya tidak menjawab panggilannya. Hingga dirinya mengetuk kembali pintu kamar pribadi dari Ayahnya itu untuk mencoba menunjukan keberadaannya yang sudah tiba ditempat ini.


"Ayah.. ini aku Ze-" namun belum juga Zen menyelesaikan kalimatnya, suara pertarungan bisa dirinya dengar dari dalam ruangan yang dirinya datangi tersebut.


Tentu mendengarnya, Zen langsung mencoba mendobrak pintu kamar pribadi ayahnya. Namun sayangnya, karena pintu itu dilindungi dengan sebuah energi khusus, pintu tersebut tentu saja tidak bisa langsung terbuka. Hingga Zen akhirnya mulai mengeluarkan aura hitamnya dan mencoba menggunakan kekuatannya untuk membuka pintu tersebut.


Sebuah pukulan dengan kekuatan penuhnya, mampu membuat sebuah retakan pada pintu tersebut. Namun tentu hal itu belum cukup untuk membuat Zen bisa mendobrak pintu tersebut, hingga Zen kembali memukulnya dengan sekuat tenaga untuk mencoba mendobrak pintu tersebut dan melihat apa yang terjadi dibaliknya.


Suara benturan keras dari sebuah pukulan bisa didengar dengan jelas disaat Zen mulai menghujani pintu yang sedang dirinya coba terobos. Hingga akhirnya, pukulan pamungkasnya itu langsung menghancurkan sepenuhnya pintu dari kamar pribadi ayahnya dan membuat Zen bisa melihat jelas apa yang terjadi saat ini.


"Ayah!" teriak Zen yang melihat Ayahnya sedang bertarung saat ini.

__ADS_1


Sebuah pemandangan yang sangat luas sebuah hamparan rumput yang luas saat ini mulai menyambut kedatangan Zen. Tentu luas ruangan yang dimasuki Zen sama sekali tidak cocok jika dilihat dari bagian depan dari depan kamar ini, karena bisa dikatakan sangat tidak sesuai ukurannya jika dibandingkan dan dilihat dari bagian depan kamar.


Hingga hamparan yang luas itu, bisa Zen saksikan bahwa Ayahnya yang merupakan Sang Pencipta saat ini sedang bertarung dengan entitas berwarna hitam yang sedang menyerang. Maka dari itu, setelah dirinya melihat pertarungan itu, akhirnya Zen sudah mengeluarkan pedangnya dan siap membantu Ayahnya.


"Siapa kamu sebenarnya?!" teriak Zen yang saat ini mendaratkan sebuah tebasan tepat kearah sosok hitam itu.


Namun sayangnya pedangnya saat ini berhasil ditangkap sosok hitam tersebut. Tentu hal itu membuat Zen terkejut apalagi dirinya sangat mengenal dengan serangan yang digunakan oleh sosok itu dalam menghalau serangannya saat ini, dan hal tersebut langsung membuat Zen kebingungan setelah dirinya mengalaminya.


"Siapa dia Ayah?" tanya Zen kepada Entitas berwarna putih yang merupakan Ayahnya atau Sang Pencipta.


"Ho... apa kamu tidak mengenali sosok Ayahmu ini, Zen?" hingga pertanyaan Zen itu malah dijawab oleh sosok hitam yang menjadi lawan Ayahnya saat ini.


"Aku akan menjawab pertanyaan dirimu nanti anakku. Mari kita fokus mengalahkan sosok ini" hingga Ayah Zen yang asli saat ini mulai memerintahkan Zen untuk membantunya.


"Jangan dengarkan perkataannya, Zen. Kamu yang seharusnya berada di sisiku" ucap entitas hitam itu yang malah menyahuti perkataan Ayahnya.


Namun Zen yang lebih memilih mendengarkan perkataan Ayahnya, dan saat ini mulai menggunakan kakinya yang bebas untuk menyerang sosok yang terlihat sudah cukup kesusahan menahan serangan dari Zen dan Ayahnya. Sosok itu langsung terkena serangan Kaki Zen dan langsung mengenai tubuh dari sosok hitam itu.


Hingga tubuhnya yang hanya sebatas aura berwarna hitam itu mulai terpental cukup jauh atas serangan yang diberikan oleh Zen kepadanya. Namun, sepertinya entitas hitam itu malah kembali bangkit setelah menerima serangan Zen, dan saat ini membuat Zen kembali bersiap untuk menyerangnya.


"Jangan beri dirinya ruang, Zen" Hingga begitulah perintah yang Zen terima dari Ayahnya dan membuat dirinya langsung mengangguk mendengarkannya.

__ADS_1


Zen dengan pedang yang ditangannya langsung berlari dengan sangat amat cepat untuk menyerang sosok hitam yang mulai bangkit dari ditempatnya. Hingga sebuah tebasan mulus saat ini langsung mengarah kearah tubuh sosok tersebut yang baru saja bangkit pada rerumputan dari ruangan ini.


Naas, pedang Zen saat ini malah membelah tanah yang dikenai olehnya, karena sosok hitam itu dengan segera menghindari serangan yang datang kearahnya. Tentu Zen tentu tidak tinggal diam, dirinya mulai terus menyerang sosok hitam itu dan benar-benar tidak memberikan dirinya ruang.


Memang serangan Zen saat ini bisa dengan mudah sosok hitam itu hindari. Namun tetap saja, saat ini Zen berhasil mengubah fokus sosok yang dirinya lawan itu agar berfokus kepadanya. Hingga akhirnya mereka berdua mulai saling bertarung dengan serius saat ini dan mencoba saling mengalahkan.


Suara benturan pedang saat ini bisa didengar, disaat sosok itu juga mulai mencoba melawan Zen menggunakan pedangnya. Apalagi Zen saat ini berusaha dengan keras untuk mengimbangi permainan pedang musuhnya itu, karena bisa dibilang dirinya cukup hebat dalam pertarungan yang mereka lakukan.


"Hahahaha... Ayolah Putraku, bisa dilihat aku lebih hebat dari dirimu, jadi bergabunglah denganku dan kita bisa menguasai semuanya" ucap sosok itu yang saat ini berbalik menjadi pihak penyerang dalam pertarungan yang dirinya lakukan dengan Zen.


Tentu saat ini Zen masuk kedalam mode bertahan untuk melawannya karena bisa dibilang kemampuan mereka berbeda jauh dan Zen bisa dikatakan kalah telak. Namun tetap saja, Zen berusaha untuk melawan pria tersebut dengan kekuatan yang dirinya miliki dan masih berusaha mengimbangi dirinya.


Hingga sebuah tebasan saat ini dengan telak mengarah kearah dada Zen dan saat ini sudah menebas mulus dadanya sehingga membuat luka tebasan pada dadanya. Tentu menerima serangan tersebut membuat Zen kehilangan sedikit fokus dalam pertarungan itu atas serangan yang dirinya terima.


Hingga sebuah tendangan telak langsung mengarah kearah Zen dan malah membuat dirinya tersungkur. Zen tentu berusaha untuk bangkit, namun naasnya sebuah ujung pedang saat ini sudah menempel dengan telak dilehernya dan langsung mematikan langkah Zen saat ini.


"Sudah kubilang, bergabunglah dengank-" namun belumlah sosok yang berhasil membuat Zen tersungkur itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah tali berbentuk cahaya saat ini dengan cepat melesat kearahnya, dan mulai mengekang tubuhnya sepenuhnya.


Melihat itu Zen tentu tidak tinggal diam. Dirinya yang masih menggenggam pedangnya langsung memutuskan kaki dan tangan dari sosok tersebut agar membuat sosok itu tidak berdaya. Hingga sebuah teriakan saat ini bisa terdengar dengan jelas, karena Zen berhasil memutuskan seluruh tangan dan kaki dari entitas berwarna hitam tersebut.


"Kerja bagus Ayah"

__ADS_1


__ADS_2